Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 9


__ADS_3

Dimana lagi dia!!!"


Gerutu Brian dipagi hari setelah mendapati Delia tidak ada dikamarnya.


Dia langsung mengambil Ponselnya dan memonitor CCTV,,dan lagi-lagi Delia sedang sholat di Kamar Tamu.


Selesai sholat Delia langsung membantu bi Ijah dan bi Ani di dapur. Mereka berbincang-bincang,keberadaan mereka sedikit menghibur Delia.


"Bi,bibi sudah lama ya disini..?"


"Iya non,kurang lebih sudah 10 tahun."


jawab bi Ani.


"Kalau saya sudah 15th non..."


Jawab bi Ijah yang sudah berumur 45tahun.


"Emmmm...kalian betah disini bi?"


"Wah,betah banget non..tuan besar dan tuan muda sangat baik kepada kami."


"Baik???"


"Iya non,setiap kami cuti pulang kampung pasti mereka membelikan oleh-oleh untuk keluarga kami disana..setiap ada kesulitan pasti mereka membantu kami,mereka tidak pernah memaksakan apapun..tapiiii..."


"Tapi apa bi?" Tanya Delia penasaran.


"Em..bukan apa-apa non.." bi Ani hampir saja keceplosan. Akhirnya dia mengalihkan pembicaraan karna dia tau disetiap sudut ada CCTV.


"Tapi apa bi??jangan bikin aku penasaran.." desak Delia.


"Tapi tuan muda dan tuan besar sering sebuk diluar jadi kami sering berdua saja dirumah segedhe ini..jadi ngeri..hihihi.."


Bi Ijah mencari alibi.


"Owwww...oiya bi,masakan kesukaan Brian apa c bi?"


tanya Delia.


"Tuan paling suka sama Udang asam manis,sayung lodeh,atau Rendang. Selama kuliah di Amerika makanan itu yang selalu dia rindukan Non.."


Jawab bi Ijah.


"Owh..trus hari ini kita buat apa?"


"Em..kita bikin sarapan seadanya saja non,semenjak nyonya besar meninggal,mereka tidak pernah makan siang dirumah,,"


"Owwwh...ya sudah saya bikinkan sarapan ya bi.."


"Jangan non..bibi saja,,"


"Trus aku ngapain dong..." delia memanyunkan bibirnya. Dia tidak terbiasa bangun pagi hanya duduk manis..biasanya Delia membantu bibi Mira di dapur.

__ADS_1


"Tuan kan biasa minum infus water kalau pagi,,jadi..mohon maaf ni non..bagaimana kalau nyonya mengantar kan infus water ini kekamar tuan"


"Oke bi..siap..." Delia sebenarnya enggan mendekati kamar itu lagi,karna baginya itu seperti ruangan terkutuk.


Dengan langkah ragu,cemas dan gemetar, Delia pergi kekamar Brian.


Pintu kamar baru terbuka,tatapan mata tajam Brian langsung menghardiknya.


"Ngomong apa kamu sama bibi?"


"Eenggaaa...bbbu-bu-bukan apa apa"


"Awas kalau kamu berani menceritakan apa saja yang kamu alami disini dan kamu berani mengorek-ngorek kehidupanku aku akan segera mengirim rekaman vidio itu ke ayahmu!"


"Jjaangan!"


"Bagus,saya rasa kamu sudah paham!!! Sekarang siapkan air panas untukku dan siapkan pakaian kerjaku!"


"Bbbaik" Delia terus menunduk,dia meletakan infus water ke meja dan langsung menjalankan perintah suaminya.


"Ssssudah.."


"Bagus" Brian langsung masuk kekamar mandi. Sedangkan Delia mengambil pakain untuk Brian dan dirinya.


Hari ini Delia ingin tetap berangkat bekerja,karna dia sama sekali tidak mengambil cuti. Ijab qobul kemarin dia hanya ijin sehari dengan alasan ada kepentingan keluarga.


Brian terkejut ketika keluar dari kamarmandi mendapati Delia sudah berpakaian rapi.


"Aku mau kerja?siapa yang menyuruhmu bekerja hah!siapa yang jamin kalau kamu tidak kabur dari sini!!"


Brian mengerutkan kedua alisnya menatap Delia dengan kecurigaan.


"Aku bekerja untuk ayahku,aku tidak akan lari dari sini juga demi ayahku."


"Bagus lah,jadi pengobatan ayahmu tidak membebaniku.!! Anaknya saja sudah merepotkanku".


"Aku tidak akan meminta uangmu sepeserpun,jadi jangan khawatir."


"Kamu cukup pintar,jadi aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar."


"Saya rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi,ini bajumu juga sudah aku siapkan,sarapanmu juga sudah aku siapkan jadi aku permisi,"


Delia pergi meninggalkan Brian yang masih berbalut handuk setengah badan.


"Aku akan sesak jika berlama-lama dengan laki-laki sepertimu" batinya geram.


***


Fan,aku sudah dikantin,kalau kamu sudah sampai kemari ya..


Delia mengirimkan pesan pada Fani.


Delia makan dengan lahapnya di kantin kantor,maklum dari semalam dia sama sekali tidak makan apapun dirumah Brian.

__ADS_1


Matanya sendu karna Brian tidak membiarkan dirinya tidak menangis setiap saat.


"Laperrrrrrrr apa doyaann.." tiba-tiba Fani mengagetkan Delia dari arah belakang.


"Subahanallah...Fani!!ih..kaget tau..."


Jawab Delia dengan mulut yang masih berisi makanan.


"Hehehe...eh,kok kamu brangkat c,bukanya kamu ambil cuti?"


Delia menelan makananya dan meminum segelas air putih.


"Ga Fan,satu-satunya tempat paling aman saat ini adalah kantor ini. Lagian aku tidak ambil cuti Fan,,"


Fani mengerutkan alisnya,menyadari mata sahabatnya lebam seperti habis menangis semalaman.


"Del,kamu baik-baik aja kan?"


"Aku baik-baik aja kok" Delia mencoba bersikap seperti biasa.


"Matamu?"


"Iya,nanti saja aku ceritakan,,sebentar lagi jam kerja Fan,"


"Ga Del,cepet ngomong ke aku,bagaimana suamimu?oiya,maaf aku kemarin tidak menghadiri akad nikahmu karna aku ga bisa ambil cuti."


Delia tak tahan lagi menahan tangisnya,dia langsung memeluk erat Fani.


"Fan..aku gak kuat fan,,tolong bantu aku fan,kuatkan aku fan,,kalau gak inget ayah mungkin aku lebih baik mati saja khee khee kheee...kamu tau kan,aku berkorban demi ayah,itu artinya aku harus kuat kan fan?tapi kenapa rasanya ini berat buatku..Faaaaannnn..."


"Sudah...tenang tenang...kamu harus critain semua sama aku..dari awal oke..ni minum dulu Del.." fani memberikan segelas air putih pada Delia yang sudah menangis.


Deliapun menceritakan semua dari awal ijab qobul sampai terakhir dia sebelum berangkat bekerja.


"Hah??berarti suamimu itu Brian?sepupu Pak Roby?Gak mungkin dia sejahat itu Del..dari tampangnya dia seperti laki-laki baik..masa bisa sekasar itu?"


"Iya Fan,aku gak bohong...ini lihat.."


Delia menunjukan beberapa luka bekas cengkraman tangan Brian.


"Baru sehari dia menjadi suamimu dia bisa sejahat itu Del..ya Allah...kamu harus bertahan dan kamu harus segera menyelidiki kebenaran kasus kematian ibunya Brian,agar ayahmu tidak dituduh dan kamu mungkin bisa lebih cepat mengakhiri pernikahan ini"


"Ingin sekali aku Fan..aku ingin berlari,aku ingin menjauh dari mereka,tapi aku tidak mau kehilangan ayahku. Meskipun mereka sudah membuat surat pernyataan tidak akan menuntut apapun lagi kepada ayahku,tapi tetap saja aku khawatir..kana mereka orang licik,semua bisa saja terjadi."


"Sabar Del,suatu saat nanti pasti akan ada jalan...Kamu coba saja dulu untuk mencari bukti-bukti bahwa ayahmu tidak bersalah"


"Iya,tapi aku bingung harus mulai dari mana Fan,dirumah semua penuh dengan CCTV,baru saja aku mulai bertanya pada asistenrumah tangganya tapi udah ketahuan duluan.."


Fani nampak kebingungan bagaimana membantu sahabatnya itu.


Dari kejauhan Roby mendengar semua yang dikatakan Delia.


"Ternyata Delia yang Kak Brian nikahi...kenapa harus dia kak??" Roby berbalik menuju ruanganya dengan wajah memerah,menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2