
Delia segera mengambil tasnya. Saat menuruni tangga ia melihat Tania yang terus menggoda Brian,meskipun Brian terlihat risih dengan keagresifan Tania tetap saja dia tidak bisa menolak.
"Mau kemana kamu!"
"Mau pergi sebentar tuan,saya mohon ijin"
Delia terus tertunduk dihadapan Brian dan Tania yang sedang duduk diruang tengah bersama Atmajaya dan Widodo.
"Pergilah bersama supir,aku tidak mau kau lari dari sini!!"
"Tidak perlu tuan,biar saya sendiri saja,saya janji akan segera pulang."
Tania merasa curiga dengan hubungan Delia dan Brian.
Setelah kepergian Delia,Tania mulai menanyakan pada Brian.
"Sayang,sebenarnya,,dia itu pembantu atauuu..."
"Dia istriku"
"Apa!!!" Tania terkejut begitu juga dengan Widodo.
"Jelaskan ini pada kami Brian,apa-apaan ini,kamu menikahi anak pembunuh?"
Tuan Widodo berdiri dihadapan Brian dengan tagapan tajam.
Kemudian Atmajaya menyusulnya menyuruh Widodo untuk duduk dan tenang.
"Baik akan aku ceritakan semua.."
Atmajaya menceritakan semua rencana dibalik pernikahan Delia dan Brian.
"Syukurlah kalau itu maksud kalian..dengan pernikahan Tania dan Brian mungkin itu akan bisa menambah penderitaannya." Jawab Widodo sengit.
"Sebagai seorang wanita,aku tau benar cara yang lebih menyakitkan yah.."
jawab Tania.
"Apa itu nak" Atmajaya penasaran dengan ide Tania.
"Mungkin saat ini tidak ada efek apa-apa pada Delia karna dia sendiri hanya mencintai Ayahnya,seberapa besar penderitaannya disini dia akan sanggup menjalaninya,itu demi ayahnya. Dia akan hancur jika orang yang ia cintai hancur,kehancuran ada jika adanya cinta..so buatlah Delia mencintaimu Brian. Setelah itu campakan dia,karna pemilik cinta yang sesungguhnya hanya aku..hanya aku yang akan memilikimu iya kan sayang..." Tania memeluk Brian manja.
Brian sama sekali tidak bergeming.
"Bagaimana ide anakku tuan Atmajaya?"
Tanya Widodo.
"Baik,aku setuju...tidak ada kebahagiaan besar selain menyaksikan kematian Yosep pelan tapi pasti."
Atmajaya langsung menyetujuinya.
"Bagaimana denganmu nak,apakah kamu setuju?" tanya Atmajaya pada Brian.
"Terserah kalian saja" Brian menjawab tanpa mempedulikan mereka. Saat itu Brian hanya fokus pada kepergian Delia
"Mau kemana gadis bodoh itu,dengan siapa dia akan pergi!!awas saja kalau dia berani macam-macam dibelakangku " ucap Brian kesal dalam hati.
***
"Maaf aku membuatmu menunggu lama"
"Tidak apa-apa kak,aku tau kakak pasti sibuk"
"Silahkan diminum kak"
Delia sudah memesankan minuman untuk Brian sesui yang Brian pesan melalui chat.
__ADS_1
"Ada apa Del"
"Ini kak,aku diberi ini oleh bi Ijah"
Roby segera membaca surat yang Delia berikan.
"Baiklah,kita mulai pencarian dari tempat ini,ayo kita pergi sekarang."
"Tapi apakah ini tidak akan menyita waktumu?"
"Jangan khawatir Del,sema sudah aku handle. Ayo,alamat ini tidak jauh dari sini kita butuh 1jam untuk sampai disana"
"Baiklah."
Delia dan Roby pergi bersama menuju alamat Catering Delicios.
***
"Permisi apakah benar ini tempat Catering Delicios?"
"Oh..itu dulu mbak,,sudah lama pindah dari sini mbak."
"Kira-kira ibu tahu tidak kemana mereka pindah?" tanya Roby.
"Saya tidak tahu mas,soalnya ini hanya ruko yang dikontrakan,aku kesini juga ruko sudah kosong,hanya ada bekas benner yang menempel di dinding bertuliskan Catering Delicios itu."
"Oh,ya sudah..maaf ya mba sudah mengganggu."
Delia dan Roby masuk kedalam mobil.
"Aghhhh...aku lupa,aku punya nomer ponsel si pemilik nih..siapa tahu masih aktif."
"Haduh..kenapa gak dari tadi ngomong Del.." Roby menepok jidatnya.
"Maaf,lupa..habisnya aku terburu-buru." Delia tersenyum.
Delia mengambil kertas bertuliskan nomer telpon dari pemilik Catering.
"Hallo"
"Ya hallo mbak,disini Catering Delicios,ada yang bisa saya bantu "
"Oh..mbak saya mau mengadakan acara,niatnya mau order makanan sama catering Delicios,kira-kira alamatnya dimana ya?Soalnya tadi saya ke alamat yang lama tapi sudah sepi."
"Oh,,iya mbak,kami pindah ke ruko baru..nanti saya kirim alamatnya via Chat."
"Terimakasih ya mba"
"Oiya dengan mbak siapa ya biar saya save nomernya"
"Saya mbak Ninik" Delia sengaja menyamarkan namanya.
"Terimakasih ya mbak,saya tunggu kedatanganya."
" Iya mbak,ini saya sudah lagi dijalan,ya sudah ya mba tunggu saya disana Assalamu'allaikum"
"Wa'allaikumsalam"
Delia mengakhiri telponya.
"Dimana?"
"Dia akan mengirimkan alamatnya via chat,jadi tunggu saja "
"Oke"
"Nah,ini dia Alamatnya"
__ADS_1
Delia memberikan ponselnya pada Roby.
Mereka segera menuju ke lokasi dengan panduan google map. Karna lokasinya cukup jauh,Roby belum.begitu hafal dengan jalanya.
"Permisi.."
"Silahkan masuk mbak.."
"Saya Ninik yang tadi barusan telpon"
"Oh,,saya Erni mbak,owner di sini."
"Gini mba,saya mau mengadakan acara syukuran dikantor,jadi saya mau pesan catering,biar gak ribet."
"Owh..untuk berapa orang ya mba?"
"Emmm,kira-kira ada 300 orang,untuk minggu depan."
"Silahkan pilih menunya mba"
Erni memberikan buku menu pada Delia.
Tadinya mereka kebingungan mencari alasan agar bisa memesan catering.
Tapi Roby memutuskan untuk mengadakan syukuran di kantor atas keberhasilan tandernya,meskipun awalnya tidak berencana untuk mengadakan syukuran itu.
"Oiya mbak,biasanya untuk catering ada berapa orang yang membantu?"
"Kira-kira besok saat hari H kami sediakan 5 orang untuk melayani catering disana mbak."
"Kalau untuk acara besar sampai berapa orang"
"Kalau acara-acara besar kami memakain 8 karyawan..tapi saat ini yang tersisa di sini tinggal 5 orang saja."
"Apakah ibu juga pernah menerima order dari Keluarga Atmajaya.?"
"Iya mbak,,kok mbak nya tau itukan sudah lama sekali mbak"
"Iya,kebetulan dulu aku juga pernah menghadiri acara tuan Atmajaya..aku juga paham dengan orang-orang yang ada difoto itu.
Delia menunjuk salah satu pas foto berukuran besar yang terpajang di dinding.
Dalam foto tersebut ada bu Erni si pemilik catering beserta para karyawanya. Dua diantaranya adalah saksi saat kejadian itu.
"Hehee...itu foto lama kami..ya buat seru-seruan aja.."
Jawab Erni dengan senyuman manis berlesung pipi. Umurnya kurang lebih sudah 40tahun tapi masih terlihat muda dan glowing.
"Oiya bu,maaf jadi lupa ini...mbak sama mas nya mau minum apa?"lanjut bu Erni.
"Apa aja deh bu..." Delia tersenyum.
"Baiklah,tunggu sebentar ya mba,saya kedapur dulu"
"Maaf ya bu jadi merepotkan.."
"Santai saja mba.."
Sementara bu Erni kedapur. Roby memotret pas photo yang tadi ditunjuk oleh Delia.
Roby ingat benar wajah kedua saksi yang saat itu memberikan kesaksian bahwa ayah Delia lah yang sengaja mendorong bibinya.
Delia waktu itu tidak menghadiri acara tersebut. Jadi Delia sama sekali tidak paham dengan kejadiannya. Yang dia tau,ayah dan ibunya pulang dengan keadaan yang tidak biasa,seperti mendapat tekanan. Sepulang dari acara itu,hidup Delia berubah drastis dr segi ekonomi.
Robi mengirim pesan gambar pada Delia.
"Yang aku lingkari itu adalah mereka,para saksi.Mungkin kita akan bisa mencari informasi dari karyawan yang lain." Tulis Roby pada chatnya.
__ADS_1
Setelah mereka berbincang-bincang dengan bu Erni mereka berpamitan. Roby langsung mengantar Delia ke rumah Brian. Tapi hanya mengantar di persimpangan jalan. Karna Delia tidak mau Brian tahu.