
"Aku baaa..."
Tiba-tiba ponsel Delia direbut dari belakang oleh Atmajaya. Tangan Delia dipelintir kebelakang,membuatnya kesakitan.
"Hallo Yosep...lama ya kita gak ngobrol...Anakmu baik-baik saja disini,kami tidak akan sampai hati membunuh anakmu,jadi tenang lah dan nikmati hari tuamu..."
"Jaya!berikan ponselnya pada anakku,aku ingin berbicara dengannya.Kau apakan anakku!!"
"Tenang-tenang...anakmu cuma tergores sedikit saja...hahahaha...anakmu terlalu cengeng disini!anakmu payah..."
"Lepaskan anakku Jaya!!"
Yosep mendengar rintihan Delia,Yosep merasa khawatir dengan anaknya.
"Hahahaha...teriaklah sekuat tenaga,anakmu sekarang sudah ada dalam genggamanku!!"
"Apa maumu yang sebenarnya!!!"
"Aku mau bersenang-senang dengan mautmu...itu saja..dan serahkan apa yang aku minta padamu!"
"untuk kesekian kalinya aku tegaskan aku tidak tahu soal itu!!Lepaskan anakku"
"Hahahahaha...."
"Jaya!!!!!!!"
Tut tut tut
Atmajaya mematikan ponsel Delia dan melempar ponselnya.
Plak plak plak
"Berani-beraninya kamu enak-enakan disini menelpon keluargamu!!"
"A.aw...a,a,aku tadi sudah membersihkan rumah sepulang kerja tuan.."
"Hah!!kamu yakin!! lihat itu " Atmajaya menunjuk ke lantai yang sebenarnya sudah bersih.
Dia mendorong Delia hingga tersungkur.
"Kamu apakan anakku sampai dia berani melawanku!! kamu beri dia apa hah!!!" Atmajaya menjambak rambut Delia.
" Ayah!!!!!" terdengar teriakan Brian didepan pintu.
"Lepaskan dia Ayah!!!"
Brian langsung berlari melepaskan tangan Atmajaya dari rambut Delia.
"Delia!masuk lah!" Brian menyuruh Delia masuk kamarnya.
"Biarkan dia disini!!" teriak Atmajaya.
"Masuk aku bilang!!!" Brian menatap Delia yang tengah kebingungan melihat Brian dan ayahnya.
Akhirnya Delia mengikuti perintah Brian untuk masuk kekamarnya.
"Apa yang ayah mau!!"
"Aku mau hari ini kamu serahkan Vidio itu pada Yosep!! "
"Yah,sudah cukup balas dendam ayah,apakah ayah tidak mempunyai sedikit hati nurani? Delia itu wanita yah!!"
"Ayah,tidak peduli dia wanita atau pria,ayah tidak menyukai ada yang menghalangi rencana ayah untuk Yosep!! kamu sudah dibuat lemah olehnya! jadi biarkan ayah yang bekerja!! dasar payah!!"
__ADS_1
Atmajaya menatap anaknya dengan penuh amarah. Begitu juga dengan Brian yang sudah tidak tahan melihat keegoisan ayahnya. Saat ini Brian sudah mengikhlaskan kepergian ibu dan adiknya. Tapi entah apa yang membuat Atmajaya masih saja menyimpan kemarahan yang begitu besar pada keluarga Yosep.
"Apa yang membuat ayah begitu membenci mereka selain karna alasan kematian ibu?"
"Tidak ada!!ayah benci dengan penghianatan Yosep!ayah benci karna dia diam-diam mencintai ibumu dan memaksanya meninggalkan ayah! membuat ibumu tertekan!!"
"Bukananya ayah sudah cukup membuat Yosep menderita dengan kebangkrutannya dan dia kini juga sama-sama kehilangan seorang istri!! apa lagi yang ayah mau!!"
"Kematiannya!!!"
"Itu sudah pasti!semua yang ada disini akan mati yah!! tapi jangan sakiti mereka yang tidak bersalah!!'
Armajaya bertepuk tangan di hadapan Brian.
"Wah wah wah...baru beberapa hari semenjak kamu dirumah sakit denganya,kamu kini sudah berubah...ajaib sekali anak itu!!bisa mengubah pola pikirmu dalam waktu singkat!! dimana amarahmu yang menggebu-gebu itu??dimana Yan!! apa kamu melupakan dendamu?apa kamu mulai menyukai anak pembunuh itu!!Anak sialan itu memang harus diberi pelajaran!!"
"Ayah!!!jangan sentuh dia!!aku saja yang bekerja!baiklah,aku akan membunuh Yosep!!ayah puas!! sekarang ayah pergi!!"
"Bagus!!!aku tunggu kabar darimu!!" Atmajaya menupuk-nepuk pundak Brian.
Brian duduk tertunduk lemas di sofa ruang tengah. Dia mengacak-ngacak rambutnya dan melempar remot TV ke sembarang arah.
"Ayah..kenapa ayah seperti ini?Ayah menjadikanku pecundang!!" Brian menangis kesal.
Dikamar Delia menangis menjadi-jadi.
"Bagaimana dengan ayah ya Allah...lindungi dia ya Allah,,jangan biarkan Atmajaya dan Brian menyakitinya.."
Delia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya.
Selesai sholat,dia kembali berbaring sembari melihat foto ayah ibunya didalam dompet.
Dia terus menangis mengkhawatirkan ayahnya,dia terus menangis hingga tertidur.
"Del...Del....Deliaaaaaaaa....banguuunnn...Delll...."
Ting tong Ting Tong
Brian yang tertidur di ruang tengah terbangun mendengar pintu rumahnya digedor-gedor.
Dia mengusap-usap matanya dan berjalan membuka pintu.
"Paman Heri,,ada apa paman?"
"Dimana Delia!!" Paman Heri mencekram kerah baju Brian.
"Dikamarnya!Lepaskan aku paman!" Brian menghempaskan tangan Paman Heri.
"Panggil dia!!"
"Tunggu!" Brian kebingungan dengan kedatangan Paman Heri.
Dari mana dia tau alamat rumahku??Delia bodoh.!!
"Del del...bangun..ada pamanmu!"
Delia terbangun dengan kepala yang sedikit pusing karna semalaman menangis.
"Apa kak?"
"Pamanmu datang"
"Apahhh!!!" Delia langsung berlari menuruni tangga,rasa sakit dikakinya sudah ia abaikan.
__ADS_1
Delia langsung menangis memeluk pamannya.
"Pamaaaannnn...tolong ayah paman..mereka ingin membunuh ayah..paman..aku takut....paman..tolong ayah paman..."
"Sabar nak,sabar,,,paman kemari ingin mengajakmu pergi dari sini..ayo ikut paman.!!"
"Tunggu!!apa apaan ini...dia masih istriku! paman tidak boleh membawanya pergi!!"
"Jangan berlaga bodoh!!ini semua karna kalian!!!sekarang Delia harus ikut denganku!!" paman Heri merangkul Delia.
Sementara Brian memegang tangan Delia.
"Tidak!! aku tidak akan mengijinkan paman!! hidupnya akan bahaya diluar sana!"
"Tau apa kamu!!hidupnya kini sedang diujung tanduk!ini semua karna kamu dan ayahmu!!jangan berlaga bodoh!!ini rencana kalian kan!!ayo Del,kita tidak punya banyak waktu!!"
"Maksud Paman??" ucap Delia dan Brian bersamaan.
"Ikut paman sekarang Del,paman mohon"
"Katakan dulu paman..ada apa ini?apa ayahku...ayahku baik-baik saja kan paman..?jawab paman!"
Paman Heri tetap diam,dia tidak ingin Delia panik.
"Ikut paman dulu nak..ayo,paman akan membawamu pada ayahmu"
Delia berlari mengambil tas dan ikut dengan pamannya mengendarai motor.
"Del!!tunggu!!!" Delia dan paman Heri tidak mempedulikan Brian.
Brian yang penasaran,akhirnya mengikuti mereka dengan mobil.
Mereka berhenti disebuah rumahsakit.
Sampai didepan Rumahsakit lutut Delia lemas,yang dia pikirkan hanya ayahnya.
Paman Heri menompang tubuh Delia yang lemas,,
"Ayah...ayah...ayah..." Delia terus bergumam lirih pandangannya kosong,pikiranya jauh melayang membayangkan bagaimana jika hal buruk menimpa ayahnya.
"Sabar nak,ayahmu akan baik-baik saja..."
Sampailah ia diruang ICU,,dari kaca pintu Delia melihat tubuh ayahnya sudah tak berdaya terpasang banyak alat.
Delia langsung memeluk Bibi Mira dan Fani.
"Ada apa dengan ayah bi...bibi bilang kondisi ayah tadi sudah membaik tapi,tapi kenapa seperti ini...?"
"Setelah mendapat telpon darimu ayahmu jatuh,,dan pukul 21.30 tadi ada yang mengirimkan ini pada kami.." Bi Mira memberikan Flash disk pada Delia.
"Flash disk apa ini Bi??"
"Bibi...bibi tidak tau bagaimana bisa kamu menyembunyikan pendeeitaanmu sendiri?bagaimana bisa kamu membohongi bibimu sendiri..." Bibi Mira menangis membayangkan apa yang dia lihat dalam Flash disk tersebut.
"Maksud bibi apa??"
"Selama ini kamu menderita disana kan!!mereka benar-benar biadab,Brian Brian itu laki-laki memang pecundang!!yang beraninya menyakiti wanita dengan melecehkan harga dirimu! Dan kamu!!bagaimana bisa kamu hanya diam menerima semua ini!! Deliaaaaa..."
"Maafkan aku bi..maafkan aku paman,,aku hanya ingin menjaga ayah,aku bertahan demi ayah,aku bertahan hingga aku bisa menemukan kebenarannya."
"Kebenaran apa??kenyataanya sekarang ayahmu kritis. Coba kalau kamu bisa jujur pada Bibi,pasti bibi akan ikut membantumu agar vidio itu tidak sampai pada ayahmu"
"Sudah,sudah maah...sekarang kita berdoa saja untuk kesembuhan kakakmu,,dan kamu Del,kamu harus tenang dang terus mendoakan ayahmu juga,,"
__ADS_1
paman Heri mencoba menenangkan istrinya yang juga shock melihat vidio saat Delia masih dirumah Atmajaya.