Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 121


__ADS_3

Ketika sedang asyik menyendiri,Delia melihat sosok Hans yang juga sedang memesan minuman dikampus.


Delia merasa kebingungan bagaimana dia harus bersikap.


Disisi lain,Delia ingin sekali berterimakasih padanya.


Disisi lain,dia takut kalau dia mendekatinya dan ada yang mengetahuinya,Brian akan kembali murka.


Saat tatapan mereka bertemu dari kejauhan.


Hans tau,Delia tersenyum tipis,Hans pun membalas.


Hans tau,saat ini ada batasan tinggi diantara mereka. Ia sengaja tidak mendekat karna tidak ingin wanita yang dia sayangi kembali menderita karna suaminya yang over protectif.


Ia tahu benar bagaimana Delia saat menghadapi suaminya yang saat itu sedang kalut karena kesalahpahaman diantara mereka.


"Terimakasih" dari jarak jauh Delia mengucapkan terimakasih atas bantuan Hans menemukan siapa yang memfitnah mereka.


Hans pun mengangguk pelan mengiyakan.


"Mungkin seperti ini akan lebih baik Del" batinnya.


Delia pun pergi menjauh dari area kantin.


Ia kembali mengurus administrasi kuliah lalu menelpon Mang Jajang untuk menjemputnya .


Ia menunggu cukup lama didepan kampus.


Delia mengirim pesan untuk suaminya,dia meminta izin pada suaminya untuk mengantar oleh-oleh kerumah Oma.


Awalnya Brian menolak,karna dia takut Delia akan menjadi bulan-bulanan Oma dan Ayahnya.


Tapi Delia meyakinkan suaminya bahwa dia akan baik-baik saja. Lagi pula saat ini Atmajaya pasti sedang dikantor.


Akhirnya Brian mengijinkan,dengan catatan dia harus dikawal mang Jajang sampai kedalam rumah untuk memastikan tidak ada Atmajaya didalam.


Sebelum sampai kerumah Atmajaya,ia membelikan buah-buahan untuk Oma.


15 menit kemudian,Delia pun sampai dirumah Atmajaya.


Body guard yang didepan menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Hem,selalu saja begitu! Emangnya gue mau maling apa? Kasihan hidupnya ga berwarna."gerutu Delia mengejek bodyguard setia Atmajaya.


Delia pun mengetuk pintu dan bi Ijah membukanya.


"Selamat siang bi Ijah..." Delia langsung memeluk bi Ijah.


"Siang non...non Delia kemari dengan siapa?" Bi Ijah menoleh kesekitar.


"Sendirian bi,cuma sama mang Jajang."


Mang Jajang menyusul Delia masuk kedalam.


"Maaf,bi,,saya disuruh tuan untuk mengikuti non Delia masuk kedalam"


Ucap Mang Jajang.


"Ya udah mang,nanti saya buatkan kopi ya mang,,,oiya Non Delia mau ketemu oma?belio ada dihalaman belang non,sedang duduk di bangku taman" bi Ijah menjelaskan pada Delia.


"Makasih ya bi,,aku akan kesana,,mang Jajang ngopi aja disini atau dimeja makan dapur,aku bisa jaga diri kok mang.."

__ADS_1


"Tapi non,kalau tuan tau gimana..."


"Tenang,,masa iya,mang Jajang mau buntuti aku terus...hehehe...orang masih disini juga.."


"Baik non"


Mang Jajang memilih meminum kopi di meja makan yang ada di dapur,dari sana Mang Jajang bisa mengawasi Delia saat di taman bersama Oma.


Delia berjalan berlahan dengan membawa paper bag berisi oleh-oleh.


Ia mendekati Oma yang sedang duduk sendiri.


"Selamat siang Oma,,,"sapa Delia lembut.


Seketika Oma menoleh kearah Delia,lalu dengan segera membuang muka lagi.


"Mau apa kamu?" Ketus Oma.


"Oma,sudah hampir siang,oma sedang apa?ini Delia bawakan oleh-oleh dari Dubai" Delia lebih mendekatkan dirinya pada Oma,dia duduk disamping Oma sembari memberikan paper bag.


"Untuk apa ini! Aku tidak butuh apapun darimu!!"


Oma bangun dan memilih pergi meninggalkan Delia.


Deliapun tidak mau kalah,ia terus membuntuti Oma yang hendak masuk kedalam dengan terus menenteng bawaanya.


"Oma,,tunggu oma..."


Oma terus berjalan tanpa mempedulikan Delia.


Ia naik ke atas menuju kamarnya.


Oma berdiri ingin menutup pintu kamarnya namun Delia mencegahnya.


"Oma,aku mohon,,terimalah oleh-oleh dari kami.."


"Aku tidak sudi menerima apapun dari anak seorang pembunuh!!"


"Oke,anggap saja ini bukan dariku,,ini dari mas Brian Oma,dia sengaja membelikan ini dengan penuh kasih sayang,untuk oma. Dia yang memilihkan untuk oma,,please,setidaknya jangan kecewakan cucu kesayanganmu Oma,,aku mohon..." Bujuk Delia,ia menyatukan kedua tangannya memohon pada Oma.


Oma terdiam,lalu merebut kasar paperbag yang dipegang Delia.


"Baiklah! Sudah aku terima! Sekarang kamu pergi dari rumahku!! Wanita tidak tahu malu!"


"Oke oma,saya pamit ya,,oma jaga kesehatan ya oma,,jangan lupa makan dan minum obatnya,,Assalamu'allikum oma.." Delia tetap saja bersikap manis pada Oma.


Dengan keras Oma membanting pintu kamarnya,membuat Delia terkejut lalu ia kembali ke dapur menemui bi Ijah.


"Bi,bagaimana perkembangan kesehatan Oma?"


"Alhamdulillah non,oma baik-baik saja,,kemarin baru saja kontrol dengan tuan Atmajaya."


"Syukurlah,,jaga terus pola makannya ya bi,,Kebetulan sahabatku adalah ahli gizi disebuah rumah sakit ternama disini,ini aku tuliskan resep makanan sehat untuk Oma. Emmm,,bibi punya kertas dan pulpen?"


"Oh,,ada non...sebentar bibi ambil"


Bibi Ijah mengambil alat tulis di laci dapur.


"Ini non"


"Terimakasih bi..."

__ADS_1


Delia mulai menyalin pesan dari sahabatnya,yang ia simpan di ponselnya.


"Oke,selesai bi...pokoknya jangan sampai lupa ya bi..."


"Iya non,,"


Setelah menerima kertas itu,bi Ijah menempelkan nya di depan kulkas.


"Ya sudah bi,,saya pamit pulang ya bi,,"


"Mari saya antar non,," Bi ijah mengantar Delia sampai diruang tengah.


Saat hendak membuka pintu,tiba-tiba Atmajaya dan Widodo muncul dibalik pintu dari arah luar.


Delia terkejut begitu juga Atmajaya dan Widodo.


"Apa yang kamu lakukan disini!! Ini rumahku! seenaknya saja kamu masuk!"


Ketus Atmajaya.


"Oh ya??bukannya ini rumah nyonya Lidia??aku berhak masuk karna aku menantunya!"jawab Delia santai.


"Silahkan saja masuk ke liang lahatnya karna itu rumahnya! Ini rumahku! Aku tidak menerimamu sebagai menantuku!"


"Oh,,,jadi anda menolak ku! Lalu jika didepan Brian anda berpura-pura menerimaku! Wah wah wah waaahhh...rupanya anda bermuka dua ya..wow..." Delia bertepuk tangan kecil.


Mang Jajang merasa khawatir melihat pertengkaran mereka.


"Berhenti menghinaku!! Dasar anak tidak tahu diri!" Atmajaya semakin geram dengan ulah Delia.


"Lebih baik tidak tahu diri dari pada tidak tahu dosa! Aku tahu semua tentangmu! Aku tahu kalian dengan mudahnya memfitnahku dengan sahabatku ! Dengan mudahnya kalian memfitnah keluargaku! Dengan mudahnya kalian menghilangkan nyawa orang banyak demi apa? Demi Am- bi- si !! Menjijikan!! Silahkan menikmati dunia yang hina ini tuan tuan yang terhormat..."


"Jaga mulutmu atau aku akan!!" Widodo mulai terpancing emosi.


"Atau apa? Akan apa? Akan mencelakai ku?" Delia mendekatkan dirinya pada Widodo tatapannya menantang Widodo.


"Ah..iya iya ya...aku curiga,jangan-jangan kecelakaan di Dubai itu ulah mu atau anak gadis mu ya?? Karena siapa lagi di dunia ini manusia yang lebih picik dirimu!! " Delia mengecilkan matanya menatap tajam Widodo. Dia sebenarnya hanya menerka-nerka saja. Tapi melihat ekspresi wajah Widodo yang terkejut,Delia semakin mencurigai Widodo.


"TUTUP MULUTMu!!! " Widodo membentak Delia dengan keras.


"Coba saja kalian menutup mulutku!!! Aku akan diam jika kalian sudah menyusul kedua orang tuaku!! Aku akan diam setelah orang-orang yang telah kalian lukai mengikhlaskan segalanya. Tapi sayang..mereka yang sudah kalian lukai terus mendoakan kematian kalian!!"


Delia mengingat tangisan para keluarga korban kebakaran pabrik dan kecelakaan bus yang disebabkan oleh ulah mereka.


Atmajaya hendak menampar Delia namun mang Jajang mencegahnya.


"Maaf Tuan!! Jangan sentuh nona Delia!! Aku disini untuk menjaganya!! Ayo non,kita pergi!" Mang Jajang menghempaskan tangan Atmajaya,lalu menuntun Delia keluar.


Di mobil mang Jajang menasehati Delia agar tidak seberani tadi.


"Maaf non,sebaiknya jangan menghadapi mereka sendiri,mereka itu berbahaya non,,kalau ada apa-apa dengan non Delia,tuan pasti akan marah."


"Maaf mang,setiap kali melihat mereka aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri mang,ingin rasanya aku mencabik-cabik kedua orang itu!! Melihat ekspresi Widodo aku justru mencurigai kecelakaan kemarin di Dubai itu memang ulahnya." ucap Delia.


"Sudah non,biar tuan saja yang selesaikan semua,,saya khawatir dengan non Delia,karna mereka itu benar-benar tidak pandang bulu."


"Iya,tapi entah kenapa aku yakin kalau kecelakaan kemarin bukan murni ulah Kris,Widodo ikut andil didalamnya. Mang Jajang lihat perbedaan ekspresinya kan,dia terlihat sangat terkejut dan takut aku membongkarnya dihadapan Atmajaya"


"Iya,tapi tetap saja non,itu berbahaya,,,"


"Iya deh,,aku gak lagi-lagi mang..."

__ADS_1


__ADS_2