
Delia memeluk manja Oma.
"Oma,Aku berharap,Allah menunjukan jalan agar Brian dan adik-adiknya bisa bersatu",
"Aamiin,,Oma pun berharap seperti itu,karena menjadi anak tunggal itu menyedihkan. Oma dan Ibu mertuamu,kami sama-sama anak tunggal,,dimasa tua seperti ini,ketika sahabat dekat kami sudah disibukan dengan kehidupannya,kami bingung,akan melewati masa tua dengan siapa..mau curhat sama siapa,,coba kalau ada saudara,pasti enak kumpul bareng,apa lagi kalau hari raya,,pasti sangat menyenangkan kumpul dengan saudara."
"Iya Oma,"
"Oiya Oma,Delia kekamar dulu ya,Delia mau bersih-bersih dan ganti baju."
"Hemmmm....pantesan tadi meluk Oma kaya ada yang asem asem gitu..hehehehe"goda Oma.
"Aaahh Omaaa..." Rengek Delia.
Semenjak Oma menerimanya,Delia merasa memiliki Ibu baru,Oma sekarang justru sangat memanjakan cucu mantunya itu.
"Udah gih,mandi..Oma udah enggak kuat" ucap Oma seraya menutupi hidungnya.
Cup...
Oma mendapat ciuman dipipinya .
"Dah Oma..." Delia berlari kekamar.
*Di kamar*
Terlihat Brian tengah memejamkan matanya,ia berbaring dikasur hanya mengenakan singlet dan celana kolornya.
Delia tidak berani membangunkannya.
Delia meletakan tas nya dengan hati-hati dan langsung duduk didepan meja riasnya.
Ia menghapus make up dengan make up remove,kemudian lanjut dengan face toner.
Kemudian ia melangkah mendekati almari.
Saat ia sibuk mencari pakaian,suaminya memeluknya dari belakang.
"Mas!" Delia terkejut.
"Aku kira kamu tidur"lanjutnya.
"Aku belum bisa tidur jika kamu belum memaafkanku"
Delia memutar badannya,menghadap Brian.
"Memangnya kenapa mas?ada apa dengan kita?" Pura-pura Delia.
"Aku tahu,selama persidangan kamu menahan amarahmu,aku tahu saat aku bersaksi atas kematian ibumu,ada yang lain dari tatapan matamu, kamu sempat kecewa denganku kan?" Rupanya Brian sudah paham dengan istrinya,tanpa harus istrinya berbicara.
"Jadi,sebelum kamu memprotes ku dengan bertubi-tubi ,aku akan meminta maaf atas segalanya,," Brian mencium tangan Delia dengan lembut.
"Iya mas,aku memang sempat kesal denganmu! Kok bisa ya,,kamu tahu akan ada orang yang celaka,kamu malah acuh! Terlepas dari persoalan dendam,harusnya ada sisi kemanusiaan darimu sedikit saja. Oke,dulu kamu diselimuti perasaan dendam,karena yang kamu tahu keluargaku penyebab kematian ibumu. Tapi,apa kamu tidak memandangku mas,,kita kenal dari kecil,kamu kok bisa ya,,membiarkan aku hidup tanpa ibu. Mungkin lebih baik,saat kecelakaan itu terjadi,kami bertiga tiada. "
"Ssst! " Brian membungkam mulut Delia.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu lagi! Saat itu aku tidak tahu kalau ayahku bertindak sejauh itu. Saat itu aku juga sedang dipuncak kemarahanku. Aku kehilangan ibuku,dalam keadaan hamil,bayangkan,,dua nyawa yang hilang. Kita sudah sama-sama paham bagaimana kondisi kita saat itu,jadi aku berharap,kesaksianku tidak akan mempengaruhi hubungan kita kedepannya.
Kamu sendiri yang bilang,yang lalu biarlah berlalu,,jangan rusak masa depan dengan masa lalu. Jadi ,aku mohon jangan pernah membenciku karena itu"
Delia sebenarnya juga sudah memaafkan Brian. Ekspresinya tadi dipersidangan adalah refleks respon kekecewaanya.
Tapi dia juga tidak lantas membenci suaminya yang kini sangat ia cintai.
"Emmm,,,gimana ya...maafin engga ya..."Delia melewati suaminya yang tengah menunggu jawabannya.
Sambil masuk kekamar mandi,Delia menjawab ketus sambil mengejek menjulurkan lidahnya.
"Ogah!!!"
Seketika Brian paham bahwa sebenarnya istrinya hanya menggodanya.
"Awas saja kamu!!" Gerutu Brian gemas.
Brian memasang badan didepan pintu kamar mandi,dengan kedua tangannya menghalangi pintu saat terdengar Delia hendak membuka pintu kamar mandi.
Delia terkejut dengan keberadaan suaminya.
"Plok!!Astaga mas!!" Delia refleks menabok lengan suaminya.
"Hee....makanya jangan suka mancing-mancing!"
"Mancing apaan,,emang situ paus dipancing!"
"Idih! Mana ada mancing paus"
"Enak aja!!"
"Ko enak aja!kamu si enak udah tiduran,,aku??"
"Makannya,jangan bikin aku takut kaya tadi!"
"Siapa yang bikin kamu takut wey,,"
"Kamu! Aku kira kamu marah,taunya engga! Tau gitu buat apa aku ngomong panjang lebar!"
"Buat olah raga mulut! Biar kamu ga cool cool amat mas,,,kali kali liat suami sok cool susis!!"
"Oh! Kamu ngatain aku susis!! Awas kamu ya,,"
Brian tiba-tiba menyerang Delia dengan c**man dan langsung membopongnya ke area peraduan.
Meskipun sebenarnya Delia sangat kelelahan,tapi ia tetap meladeni suaminya,karena beberapa hari ini suaminya sudah dibuat setress karena kasus itu,jadi mungkin dengan ini dia bisa sedikit melupakan masalah yang dari kemarin menimpanya.
Setelah kurang lebih satu jam.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
"Ian,,,ian,,"panggil Oma.
Brian dan Delia terkejut,Brian langsing menutupi tubuh polos istrinya dengan selimut.
__ADS_1
Brian segera memakai boxer dan membuka setengah pintunya.
"He,,hallo Oma,,"
"Hallo hallo!! Kamu ,,kamu lagi ngapain,,kok?" Oma mendapati cucunya yang amburadul dan nafasnya terengah-engah.
"Em,,engga oma,,engga ngapa-ngapain..oiya ada apa oma?"jawab Brian salah tingkah.
"Delia mana?"
"Lagi tidur oma.."
"Owh,,," Oma tersenyum tipis,sepertinya dia tahu apa yang telah terjadi didalam kamar cucunya.
"Ya tadinya si Oma mau ajak kalian refresing ke Puncak,,mengingat beban kalian selama ini cukup berat selama kasus ini berlangsung. Tapiiii...oma rasa,,kalian sudah enjoy sendiri..."lanjut oma seraya menggoda dan menjewer telinga Brian.
"Aaahhh..Oma..."
Oma pun melepas jewerannya.
"Iya Oma,,nanti sore kita berangkat ke Puncak,,aku akan hubungi penjaga villa kita disana"
"Bagus!! Silahkan lanjutkan kejar setorannya"
Oma pergi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya ...
"Dasar anak nakal,siang bolong main gitu an!!hemmm..heran heran.."gerutu oma.
Brian masuk dan akan kembali menyerang istrinya.
"Mas!! Udah agh,,aku mau mandi,,aku kan jadi malu sama Oma ni.."
"Hehehe,,,ga papa,,Oma kan juga pernah muda."
"Kamu tu ya...bener-bener nyebelin.."
16.30
Brian,Delia dan Oma beserta Bi Ani dan bi Ijah sudah sampai Villa di Puncak.
Mereka melepas kepanatan dari segala permasalahan di Jakarta.
Terkhusus bagi Delia dan Brian,Oma merasa kasihan dengan keduanya.
Karena sejak awal mereka menikah,masalah terus saja menghampirinya.
"Ian,Del,,Untuk sementara liburannya disini dulu,engga papa kan?"
tanya Oma saat menikmati pemandangan perkebunan teh dari atas balkon.
"Iya Oma,,tidak apa-apa...ini sudah lebih dari cukup,,karena ada yang special disini.."ucap Delia.
"Memang apa yang special?"tanya Brian.
"Satu,,ada Oma disini,,yang kedua,,baru kali ini kita pergi ponselmu aman dari suara dering yang menganggu hehehe"
__ADS_1
Sengaja Brian mematikan ponselnya selama liburan.