
Apa kamu yakin! Awas kalau kamu berani menyembunyikan semua dariku! Aku tidak akan meneruskan pengobatan anakmu!"ancam Brian melalui ponselnya.
"Siapa mas?pagi-pagi kok ngomel!" Tanya Delia yang tiba-tiba masuk kekamar,melihat suaminya dibalkon sedang menelpon seseorang dengan raut wajah sangar.
"Agh..bukan siapa-siapa,dia orang kantor."jawab Brian singkat.
"Semoga saja dia tidak mendengarnya,kalau dia tahu pasti aku akan diprotes olehnya!"batin Brian.
"Owh..ayo mas,kita sarapan,oma dan Ayahmu sudah menunggu dibawah"
Delia tidak pernah mau menyebut ayah mertuanya dengan sebutan ayah untuknya.
Dia masih belum bisa menerima kalau kedua orang tuanya meninggal karna ulah Atmajaya.
"tunggu!" Brian menghampiri Delia yang tengah merapikan tas Brian.
"Ada apa mas?"tanya Delia.
"Harusnya aku yang tanya!apa yang istri lakukan saat sebelum suaminya berangkat kekantor!" Brian menatap Delia tajam.
Dengan polosnya Delia menjawab.
"Em,,tadi pagi aku udah nyiapin infused water,sarapan,dan menyiapkan pakaian kantormu kan?apa lagi?"
Brian menarik tubuh Delia dalam dekapannya.
"Cium aku!"
"Hah?"
"Hah!!cium aku!"nada Brian memerintah keras.
"Ih,kan udah semalam pas kita.."
"Apa?itu aku yang selalu melakukanya dulu!cepat! Mulai sekarang,biasakan tiap pagi kamu yang menciumku!"
"Mas,gak lucu agh..,kamu lebay mas..udah om om juga." Delia merasa salah tingkah dengan sikap suaminya.
"Om?sekali lagi ngatain aku om,seharian enggak bakalan aku lepasin!" Brian menguatkan dekapannya.
"lepasin mas,kalau oma masuk gimana?"
"ya makanya cepetan!!"
"iya iya..". Cuuup..Delia mencium pipi Brian cepat.
Brian membalasnya dengan mel****t b***r Delia.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan semuanya.
Brian dan Delia segera menghampiri pintu.
"Omaaaa..."sapa Brian dan Delia bersamaan.
"Kenapa!!tidak suka!!"
"Bbbbukan ooma.."
"Ian,apa demi bermesraan dengan wanita ini kamu rela membiarkan Oma dan ayahmu kelaparan!!" Oma Olivia memotong perkataan Delia.
__ADS_1
Brian memberi isyarat mata pada Delia agar Delia lebih sabar menghadapi Oma.
Deliapun mengerti dan tersenyum tipis dibelakang oma.
Mereka bertiga menuruni tangga dan tiba-tiba Delia terkejut saat mendapati Tania sudah disitu.
"Astagfirullah..ni orang..kaya jelangkung aja!"batin Delia.
Delia menuruti perkataan suaminya dengan tidak menunjukan kecemburuannya didepan Tania.
Delia bersikap seperti biasa,melayani suaminya,mengambilkan makan untuknya dan oma,tanpa mempedulikan keberadaan Tania dan Atmajaya.
"Ian,semalam ada patner kerja ayah yang ada di Dubai,dia ingin menawarkan kerja sama dengan perusaan kita,untuk proyek ini aku menunjuk Tania sebagai leadernya."
Mendengar perkataan ayahnya Brian langsung menghentikan makannya,meraih gelas dan meminum airnya habis.
Kemudian meletakan gelas dengan kasar.
Membuat semua terkejut.
"Urus saja sendiri proyek itu! Itu perusahaan ayah! Aku hanya mau mengurus Golden Big,bukan HR grup.!"ucap Brian ketus.
"Ian!! Oma yang yang meminta kerjasama ini ditangani olehmu! Ayahmu cukup sibuk dengan proyek lain,lagian ini adalah clien besar,kamu masih muda,cukup mumpuni untuk menanganinya.!"
"Kalau gitu,ganti leader yang cukup mumpuni yang bisa mengimbangiku!!" Brian menatap Tania tajam. Dia tahu ini semua rencana mereka bertiga.
"Tapi Tania juga cukup pandai dalam hal ini,dia menguasai banyak bahasa,itu bisa membantumu,,"jawab Oma.
"Aku bisa membayar beberapa orang untuk menjadi penerjemah jika ada kesulitan dalam bahasa ,mudahkan!"
"Bukan itu saja..dia juga cukup mumpuni dalam berbagai hal!"
Brian bangun dari tempat duduknya,dan pergi kearah garasi.
Dengan segera Delia masuk kedapur mengambil sesuatu lalu berlari menyusul suaminya.
"Mas,,mas,,tunggu.." panggil Brian.
"Mas,kamu belum sarapan ..bawa ini ya.."
Rupanya Delia sudah menyiapkan bekal untuk suaminya,yang sebenarnya dia siapkan untuk makan siangnya.
"Sebenarnya aku siapkan ini untuk makan siangmu,tapi makanlah dulu untuk sarapan."
Brian menghela nafas panjang dan mengusap rambut Delia.
"Terimaksih sayang,kamu juga makan ya,,maaf aku menyulitkanmu disini,sebelum jam makan siang datanglah kekantorku,kita makan berdua."
",Iya mas,,"
Brian mengecup kening Delia lalu menaiki mobilnya.
Delia kembali kedapur untuk meneruskan sarapan bersama bi Ijah.
",Duh non..kenapa non Delia sarapan disini.."
Bi Ijah merasa tidak enak hati melihat Delia duduk di meja dapur.
"Ga papa bi..disini membuatku lebih nyaman"
__ADS_1
"Biarkan saja bi!!! Dia memang cocok di sini! Semoga saja cucuku cepat tersadar dari jeratan wanita iblis seperti dia"
Tiba-tiba Oma Olivia dan Tania menghampiri Delia didapur.
Mereka sengaja membuat Delia tidak betah tinggal dirumah itu.
"Oma,,oma butuh sesuatu?biar Delia ambilkan.." Delia seolah tidak mempedulikan perkataan dan hinaan Oma tentang dirinya.
"Cuih..aku tidak butuh uluran tanganmu!berhentilah bersikap baik denganku!!" Ketus Oma.
"Baiklah oma,,Delia permisi dulu.."
Delia meninggalkan mereka didapur dan pergi kekamarnya.
Delia membaringkan tubuhnya menatap langit-langit.
"Hufh..ya Allah,kuatkan aku...aku tidak tahu kenapa suamiku menyuruhku bertahan disini,aku harus bisa mengalihkan perasaanku,,lebih baik aku mengerjakan skripsiku,aku harus segera lulus dan bekerja lagi,aku bosan dengan ini semua."
Delia mengambil laptop yang kemarin Soni antarkan.
Brian sengaja menyuruh Soni membawakan semua perlengkapan dan kebutuhan Delia saat di rumah Atmajaya.
"Tok tok tok.."
"Masuk" Delia merasa terganggu dengan kedatangan Tania dikamarnya.
"Nyonya Brian ,,apa kamu sibuk?"ucap Tania dengan nada mengejek.
"Mau apa!"jawab Delia ketus.
"Kali ini kamu boleh menang,tapi kamu tidak pernah tahu sampai kapan Brian akan menjadikamu mainan yang mengasyikan,dan kapan mainan itu dibuang. Aku mengenalnya cukup lama saat di Amerika."
"Oh ya,,?lalu?"
Jawab Delia santai dan terus fokus dengan layar laptopnya.
"Enyah dari sini secara terhormat,sebelum kamu dicampakan! Aku tahu,kamu bukan tipenya,jadi punyalah sedikit harga diri sebelum harga dirimu dijatuhkan olehnya."
"Wow,sepicik itukah pria yang kamu sukai??bagaimana Brian akan menyukaimu kalau kamu sendiri saja mempunyai pemikiran picik tentangnya."
"Aku hanya iba denganmu!dinikahi karna dendam dan hutang,,sementara kamu penuh harapan." Tania melipat tangannya dihadapan Delia yang masih duduk santai disofa.
"Aduh,Kamu sekolah jauh-jauh tapi kok wawasanmu sesempit itu..apa kamu mengerti kalau aku dan Brian sampai 2kali melakukan ijab qobul..?karna dia yang mengingankanku,jadi untuk apa aku khawatir ,karna hanya aku yang tahu suamiku dan kamu tak perlu iba denganku,,selama Brian bersamaku,aku akan menjadi wanita paling bahagia. Lihat saja pada dirimu sendiri,,ibalah pada dirimu sendiri,bertahun-tahun mengenal Brian tapi tak secuilpun tubuhmu dinikmati olehnya. Sekarang justru merendahkanya agar aku meninggalkannya..aduuuhhh...jangan bermimpi..jangan merayunya karna hanya aku yang dia mau. Dia tidak akan mampu berpisah denganku,coba bayangkan,setiap malam dia tidak akan membiarkanku tidur dengan sehelai benangpun...Brian saja yang super cuek bisa aku taklukan,dia tidak akan mencari makanan diluar kalau dirumahnya selalu tersaji makanan enak"
"Dasar wanita gak tau diri!!gila! anak pembunuh!! Tunggu saja! Oma sudah aku taklukan,cepat atau lambat Brian akan menjadi milikku!"
"Silahkan saja,,"
Delia berdiri menatap Tania sebagai jawaban atas tantangan Tania.
"Oiya,kamu tahu pintu keluar dari kamar ini kan..!!itu si kalau kamu tau malu.." Delia tersenyum sinis.
"Lihat saja Del! Tidak ada yang memihakmu disini.."
"Sudahlah,,aku tidak peduliiii...pergi sana,,aku harus menyelasaikan ini,sebelum suamiku pulang,karna kalau suamiku pulang aku akan lebih lelah lagi dengan ulahnya..kamu paham kan??"
Delia kembali duduk dan fokus dengan laptopnya.
Sementara Tania keluar dengan membanting pintu.
__ADS_1