
Jam kantor telah usai,Delia dan Fani berjalan beriringan keluar ruangan.
"Del,pulang bareng ya..kamu engga dijemput kan?"
"Engga Fan,aku naik angkot aja kasihan kamu nanti muter-muter..jalur kita kan beda sekarang."
"Please Del..jangan sungkan,sebagai teman aku hanya ingin membantumu meski tak bisa sepenuhnya."
"Terimakasih ya Fan.." Delia merangkul temanya yang sangat menyayanginya.
"Oiya Fan,seharian ini kok kak Roby gak nongol-nongol ya..biasanya dia ngusilin kita dikantor."
"Kata bu Ines,kak Roby sedang ada meeting di luar kota,kalau kak Roby menangin tandder ini maka perusahaan ini akan berkembang cukup besar.
Mereka pulang dengan berboncengan motor.
Tiba-tiba..
"Stop stop stop Fan.."
"Ada apa Del.." Fani menepikan motornya.
"Kita ke cafe itu yukz.."
"Mau ngapain agh..aku sudah kenyang,"
"Ihhh..udahhh..kesana yuk"
Akhirnya Fani mengikuti kemauan sahabatnya itu.
"Nah,ini...baca ni ada pengumuman,tunggu ya..ada lowongan pekerjaan di cafe ini,siapa tau aku bisa bekerja disini.."
Delia segera masuk kedalam cafe dan meminta pekerjaan pada pemilik cafe.
Sudah hampir 45menit Delia berada didalam cafe.
"Haduuuhh...lama banget si ni anak..semoga dia bisa diterima bekerja disini ya Allah...kasihanilah dia.."
Batin Fani.
"Yeaahhhh...Faniiii...aku diterima..aku dibolehkan bekerja disini sepulang dari kantor..setidaknya aku bisa menghindari Brian dan aku bisa bertahan hidup untuk ayahku.."
Delia tertawa riang begitu juga Fani.
"Tapi apakah kamu diijinkan bekerja seharian penuh oleh suamimu?"
"Suami??hah siapa yang peduli dengan ku,kalau aku tidak bekerja aku mau makan apa?dia cuma menginginkan aku menderita,jadi aku tidak boleh menderita dihadapanya. Aku harus kuat demi Ayahku"
"Hem..kamu memang harus kuat,"
Fani tersenyum tapi sebenarnya dihatinya menangis menyaksikan penderitaan sahabatnya.
"Oiya fan,ingat ya..jangan beritahu bibi dan pamanku tentang semua ini..kalau mereka mengintrogasimu,ceritakan saja sesuai yang aku suruh tadi..bantu aku menutupi semua demi ayahku."
"Iya Del..ayo kita pulang sudah maghrib ni,kita mampir masjid dulu ya."
"Oke"
***
"Haduuuh..nyonya,lagi-lagi kehujanan...nyonya kan sudah bawa payung kok bisa basah gini.."
__ADS_1
Bi ijah mengambikan handuk untuk Delia.
"Iya bi..hehehe...td dijalan tiba-tiba hujan besar,temenku cuma bawa satu mantel jadi aku basah deh.."
"Oh..oiya non,tuan sudah pulang kerja,sepertinya tuan sedang menunggu nyonya karna sedari tadi dia naik turun tangga seperti mencari -cari nyonya. Dia juga sempat kedapur. Saya tawarin kopi malah belum mau."
"Iya iya bi..aku segera kesana. Emmm...klo ayah kemana bi?"
"Tuan besar sedang pergi bersama tuan Widodo dari tadi sore belum pulang."
"Makasih ya bi.."
Delia segera menyusul Brian kekamar.
Tok tok tok
"Masuk"
Brian sedang memainkan ponselnya.
Dia hanya melirik kearah Delia yang sudah basah kuyup dan langsung masuk kekamar mandi untuk mandi.
"Aduh...pake acara lupa gak bawa baju lagi..gimana ini,masa si aku harus keluar cuma berbalut handuk.."gumam Delia dalam hati.
Delia berkali-kali mengintip keluar memastikan kalau Brian sudah keluar dari kamar. Ternyata Brian masih sibuk dengan ponselnya di atas kasur.
Sekali lagi dia membuka pintu pelan dan mengintip lagi,tiba-tiba Brian sudah berdiri didepan pintu. Sontak membuat Delia terkejut dan menutup lagi pintu kamar mandi.
"Ngapain kamu!" Tanya Brian.
"Em..itu..anu..a-a-aku..lllulullupa bawa bajuu" suara lirih terdengar dibalik pintu.
"Pakaian macam apa ini,menjijikan"
Brian memberikan pakaian dalam dan piayama.
"Terimakasih" ucap Delia,dia sudah tidak mempedulikan ocehan suaminya.
"Kemana aja jam segini baru pulang?"
"Ya kerja lah"
"Tadi ngapain ke cafe?sama siapa?"
"Memang apa urusanmu aku mau kemana dengan siapa,apa urusanya denganmu!tugasmu kan menikahiku hanya ingin membuatku menderita,jadi kerjakan saja tugas dari ayahmu itu"
"Jawab!!ngapain kamu kecafe!"
Brian meletakan ponselnya,menghampiri Delia yang sedang meneringkan rambut didepan cermin.Tatapanya tajam membunuh,tapi Delia sama sekali tidak mempedulikan tatapanya.
"Aku kesana untuk mencari pekerjaan,agar aku bisa makan,puas!lagian darimana kamu tau aku dari cafe" tanya Delia curiga.
"Heh,asal kamu tau ya,aku bisa mengecek keberadaanmu melalui ponselku jadi jangan coba-coba kamu kabur dari sini.!!"
Delia terkejut mendengar pernyataan Brian. Dia berbalik menatap Brian dengan kesal.
"Terserah!"
"Kamu!!!Aghhhh..." Brian mengangkat tanganya hendak memukul Delia tapi terhenti.
"Silahkan,aku sudah siap mati disini,kamu mau apa?menamparku?memukulku?menjambakku,lakukan sesukamu,ini hanya ragaku,aku sudah jadi mayat hidup semenjak menginjakan kaki disini."
__ADS_1
Brian menendang kursi yang ada dihadapanya kemudian pergi meninggalkan Delia ke ruang kerjanya.
"Ya Allah,beri aku kekuatan untuk menghadapi mereka,,aku rela berdarah-darah asalkan ayahku selamat. Aku harus bertahan sampai Roby menemukan bukti bahwa ayahku tidak bersalah."
batin Delia.
Delia pergi kedapur untuk membuatkan Brian kopi.Diapun langsung mengantarkannya ke ruang kerja.
Tok tok tok
"Masuk" jawab Brian.
"Ngapain kamu kemari!!"
"Kata bi Ijah kamu belum minum kopi,nih kopinya. Atau kamu ingin makan malam,aku akan membawakanya untukmu" ucap Delia ketus.
"Tidak usah,aku tidak lapar.!!"
"Baiklah" Delia pergi meninggalkan Brian.
"Tunggu!" Brian menghentikan langkah kaki Delia.
"Apa?aku mau persiapan sholat isya,kalau mau bertengkar nanti saja."
"Lusa kita pindah,kemarin aku sudah menyuruh orang untuk membersihkan dan merapikan rumah baru kita,kamu segera kemasi pakaianku."
"Pindah??Kenapa?"
"Jangan banyak tanya,turuti saja dan sekarang enyahlah dari sini!!"
jawab Brian tanpa melihat kearah Delia.
Delia hanya menarik nafas panjang dan pergi.
Malam semakin larut,tapi Delia sukit memejamkan mata,perutnya lapar karna sore tadi dia tidak sempat membeli makan dijalan.
"Aduh...kebiasaan buruk...malam-malam gini laper lagi...haduuuhhh...bebenah tadi benar-benar menguras tenagaku." bisik Delia.
Dia bangun mencari dompetnya pelan-pelan agar Brian tidak terjaga. Kemudian dia mengendap-endap keluar kamar.
"Berhenti mengendap-endap seperti maling!!!tidurlah jangan coba-coba kabur!!awas saja!!"
Brian ternyata menyadari tingkah Delia.
"Em,,anu..aaku..mmau.." belum selesai perkataan Delia,perut delia berbunyi.
"Makanlah!Aku tidak mau melihatmu mati kelaparan disini,memalukan!!!"
"Terimakasih" Delia keluar dengan tergesa-gesa menuju dapur.
Disana dia tidak mendapati sisa makan malam ataupun kue,dia membuka laci dan menemukan mie instan.
"Nah,ini saja deh,,lumayan buat ganjal dan murah lagi" ucap Delia.
Iapun mulai membuat mie instan,dan segera memakanya. Tak lupa ia pun meninggalkan uang 10ribu untuk mie,telur dan bebarapa gelas air putih.
"Berhenti bertindak seperti itu,ini rumah bukan warteg!!"
Delia menjingkrak terkejut dengan kedatangan Brian.
"Tidak,kamu sendiri yang bilang aku merepotkan,aku harus membayar semuanya,Pernikahan dan penderitaanku saja itu kalian jadikan pelunasan hutang ayahku jadi aku tidak mau berhutang lagi walaupun itu hanya makanan dan segelas air. Permisi" Delia pergi meninggalkan Brian sembari menyelipkan uang tersebut ketangan Brian.
__ADS_1