
Dua belas nol Del...loh,itu kan tanggal lahirku mas,dari mana kamu tahu?sejak kapan sandi kunci kamarmu pakai tanggal lahirku?"
"Sejak aku berniat membawamu kerumah ini dari rumah ayahku.."
Delia terperanga tidak percaya,berarti selama ini dia tahu tanggal lahirku,
"Aku pikir kamu taunya cuma ngomel mas.."gerutu Delia sampai ketelinga Brian.
Brian langsung meletakan Delia diatas kasur.
Langsung mengunci tubuh Delia,dia tiba-tiba sudah berada diatas tubu Delia.
"Kamu bilang apa! Aku cuma bisa ngomel..?apa kamu mau tau bakatku yang lain??"
Tatapan liar Brian terlihat jelas oleh Delia,jantungnya berdebar kencang seperti sedang menghadapi sepululuh dosen killer.
Delia menelan silivanya berat,sementara Brian terus mendekatkan wajahnya pada Delia.
"Mas,,em...aku...aku...aku mau pipis..." Delia langsung mendorong tubuh Brian dan berlari kekamar mandi.
Brian menyunggingkan senyuman..dia tahu pasti istrinya hanya berkilah.
Brian melepas pakaiannya,dan berganti dengan kaos tipis dan celana kulot.
"Kenapa dia lama sekali dikamar mandi?"
Gumamnya.
Tok tok tok
"Kamu lama banget dikamar mandinya yaaang?tidur ya??"
"Gak!!em..aku.."
"Tenang saja,aku gak akan memangsamu!! Keluarlah..!"
Brian tahu,mungkin Delia masih belum siap menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Meskipun kecewa Brian mencoba memahaminya,terlebih hari ini dia baru saja mengalami hal yang kurang menyenangkan setelah pertemuannya dengan Atmajaya.
"Mas,,tolong ambilkan aku,,emm.."
"Apa??"
"Pembalut,,"
Seperti tersambar petir ketika mendengar Delia mengatakan pembalut...pupus sudah malam pertama yang dia inginkan,,dia harus menunggu lagi..
"Apa yaaang??pem...pembaaluttt?" Brian memastikan apa yang dia dengar itu benar.
"Iya buaruannnn...ambil di laci,,tadi bibi membawakan untukku,dan pastinya sama bibi di masukan kelaci almari."
Ucap Delia dari kamar mandi.
Akhirnya dengan lemas Brian mengambil benda yang sedang menjadi musuhnya saat ini,
"pembalut...yah...pembalut...baru kali ini aku menyentuhmu dan kamu membuatku jengkel kali ini,bilang sama majikanmu,jangan berlama-lama memakaimu!!" Pekiknya kesal,memarahi benda mati yang ada ditanganya.
Tak menunggu lama Delia keluar dengan menggunakan kimono.
Diarahkan biji netranya ke arah suaminya yang sedang badmood diatas kasur.
Dia mengalihkan tatapannya pada layar laptop.
Delia berganti piyama,kemudian mendekati suaminya.
"Mas,,,sudah malam,tidur ya..kamu pasti lelah,apa lagi tadi siang kamu sudah berjuang membebaskanku dari ayahmu..badanmu pasti sakit semuakan??"
__ADS_1
Delia meletakan kepalanya dibahu Brian,menyentuh dada bidang suaminya dengan lembut,mencoba menengkan.Brian masih mengerutkan alisnya,
"Gak usah mancing!" Ucapnya ketus.
Delia tersenyum,melihat suaminya kesal tapi lucu.
"Biasanya berapa lama?" Ketusnya lagi.
"Paling lama satu minggu mas.."
"Satu minggu!!?aggghhh...bikin pusing aja!!"
Brian menutup kasar leptopnya meletakannya dimeja.
Dia berbaring membelakangi Delia.
"Jangan marah dong mas,,,habis ini aku janji,aku akan memenuhi kewajibanku...ayo lah,."
Delia terus memeluk suaminya yang tidur dengan membelakanginya.
"Ya sudah lah,,,kalau kamu ngambek terus aku tidur sama bibi aja.." Delia mengancam Brian.
Saat Delia hendak bangun,Brian menarik tangan Delia hingga tubuhnya terjatuh di atas tubuh Brian.
Mereka saling bertatapan.
Cupppp
Brian meng***p bibir Delia,akhirnya Delia menyambut permaianan Brian.
Dia mengikuti semua yang Brian kehendaki untuk mengobati kekecewaanya karna malam ini gagal menjebol gawang.
Brian mengarahkan tangan Delia agar bermain dengan senjatanya,sampai yang diinginkan suaminya tercapai.
"Istirahatlah,,badanmu pasti sakit setelah kejadian tadi siang" Brian mengakhiri nya dengan memberikan kecupan di kepala Delia.
"Hem" jawab Brian yang memejamkan matanya,dan masih berusaha mengatur nafas.
"Apa kamu tahu,apa yang ayahmu inginkan?"
"Belum,memang apa?"
"Tadi,ayahmu bilang,aku harus menyerahkan kotak itu. Apa kamu tau kotak apa yang ayahmu maksud? Apakah ayahku yang sudah merebutnya dari ayahmu?"
"Entahlah,aku juga tidak pernah tahu seberapa pentingnya kotak itu bagi ayahku!"
"Aku dengar,itu berisi vidio dan surat sertifikat pulau."
Brian membuka matanya,dan menatap Delia tajam.
"Pulau?pulau yang mana?aku tidak pernah tahu ayah atau ibuku memiliki pulau kecil?"
"Tadi ayahmu yang bilang,,"
Brian diam sejenak mencerna semua yang Delia ceritakan tentang ayahnya.
"Sudah kamu istirahat saja,masalah ayahku,biar aku yang atasi,sudah cukup kamu memikirkannya,yang penting sekarang kamu harus lebih waspada,aku tidak akan biarkan kami pergi sendirian,dan besok aku akan menambah jumlah CCTV dirumah dan dimobil-mobil kita."
"Oke,,maafkan kecerobohanku ya mas..karna aku bodyguardmu banyaknyang terluka dan masuk penjara"
"Iya,sudahlah,,kamu masih saja memikirkan orang lain"jawabnya datar.
"Ya jelas mikir lah mas,,mereka kan mungkin juga punya keluarga..kasihan kan.."
"Tenang aja,mereka sudah bebas dari penjara,dan yang terluka sudah mendapat perawatan,"
"Benarkah??aku pikir kamu..."
__ADS_1
"Apa!!aku gak berperikemanusiaan maksudmu??" Brian melirik kearah Delia yang tersenyum memamerkan giginya.
Dengan style cool nya dia mengeleng-gelengkan kepalanya,dia tau istrinya pasti menganggapnya kaku dan kejam.
"Sudah!tidur!aku ngantuk,,jangan ngajak ngobrol terus..kamu si enak tadi udah Spa!" Brian menarik selimut dan menguap.
"Ih...ganteng-ganteng nguapnya gitu amat.."
"Biar yang penting ganteng!!"jawab Brian yang sudah memejamkan matanya.
"Huuu.." Delia menabok lengan Brian ,diapun ikut tertidur.
***
Pagi hari senua orang sudah berkumpul diruang makan.
Bibi Mira,paman Heri,Delia dan Brian sedang makan bersama.
"Del,pagi ini bibi pulang ya..bibi ada banyak pesanan kue.."
"Yah bibiiii...sehari lagi ya..nemenin aku bi.."
"Haduhhh..Del,udah ada Brian ,,ada bi.Ani juga...gak sepi kan??"
Brian dan paman Heri hanya tersenyum melihat rengekan Delia.
"Kalau kamu masih ngrasa kesepian,besok orang sekampung suruh tinggal disini" Ucap Brian.
"Ya gak gitu juga kali" jawab Delia.
"Oke,aku berangkat duluan ya,,hari ini banyak jadwal rapat ,,bibi dan paman aku tinggal ya?maaf tidak bisa antar kalian..tapi satu supirku akan mengantar kalian "
"Aduh,,nak Brian,,kami bisa pulang sendiri dengan taxi kok"
"Tidak apa paman,,aku sudah siapkan supir dari kemarin khusus untuk paman dan bibi"
Brian sengaja mengerahkan pengawalnya untuk menyamar jadi supir khusus keluarga Delia beserta mobilnya.
Brian tidak ingin ayahnya terus meneror keluarga Delia.
"Akan aku ungkap maksud ayah sebenarnya dan aku ingin tahu alasan ibu melakukan bunuh diri"
batin Brian.
"Oiya mas,hari ini Keke dan Fani akan main kerumah,gak papa kan mas?"
"Iya,,pukul berapa?bukannya hari ini kantor Roby tidak libur?"
"Hehehe...hari ini Fani mengambil cuti,,kamu bantuin ngomong sama kak Roby ya..abinya kata Fani akhir-akhir ini Roby berubah jadi bos killer..jadi Fani takut."
"Haduh,," Brian memijat pangkal hidungnya.
"Baiklah,!" Lanjutnya.
***
ππTERIMASiH untuk Yang sudah setia menanti tiap Bab novelku ini...
Maaf Yaa....lama...karna si emak satu ini suka riweeehhhh...hehehe...ππ
Jangan lupa LIKE,KOMENT and Vote Yaaaa....
Biar makin semangat cari inspirasi disetiap Bab nya..
πππππππππ
SEMOGA SuKSEs SemuAaaaaa
__ADS_1
***ππ***