
"Dari mana kamu tahu tentang kaca mata itu?ada apa dengan kacamata itu?"tanya Atmajaya curiga.
"Aku hanya ingin tahu saja,itu milik siapa?milik ibu?milik ayah atau milik orang lain?"
"Itu milik,,,em,,mi mi milik,,Ssselingkuhan ayah" dengan berat dan tak enak hati Atmajaya mengakui.
"Oh,Yesi maksud ayah?"
Atmajaya mengangguk pelan.
"Ddulu ayah memberikan hadiah kacamata itu,saat dia ulangtahun. Ibumu sampai marah ketika menemukan nota disaku celanaku. Karena itu harganya sangat mahal,ayah beli saat di Swiss."
"Wow,mengagumkan sekali,,ayah lebih royal dengan wanita lain sementara uang yang ayah dapat dari perusahaan ibu..Salut" Brian menepuk pundak ayahnya.
Atmajaya tertunduk malu.
"Ayah tahu,kapan dia terakhir memakainya?"
"Ayah sudah lupa nak,memang ada apa?"
"Sebelum atau sesudah ibu meninggal?"
"Em,,kemungkinan lama sebelum ibumu meninggal,"
"Apa ayah tahu,CCTV balkon dirusak?"
"Yang ayah tahu CCTV balkon saat itu konslet,mungkin ada tikus yang menggerogotinya."
"Oh ya?ayah tidak pernah mencoba mengecek?"
"Tidak,saat itu ayah fokus pada kematian ibumu dan dendam ayah pada Yosep."
"Oke,,cukup,,aku harus pergi yah"
"Apa kamu tidak ingin menanyakan kabat ayahmu?"
Brian yang sudah berdiri kemudian kembali duduk.
"Aku sudah tahu! Ayah pasti tidak baik,ayah gelisah dan bersiaplah sebentar lagi kematian ibu akan terungkap. Jika ayah benar terbukti bersalah,aku tidak akan mengampuni ayah. Oiya satu lagi,Widodo telah berkhianat pada ayah,,dia telah bersekongkol dengan Yesi untuk menghancurkan ayah dan Yosep. Saran saya,kalau mau cari selingkuhan carilah yang lebih berkopenten."ejek Brian.
"Dia berkhianat?apa maksudmu?"
"Tunggu saja jawabannya di meja persidangan,kita akan sama-sama menyaksikan."
Brian pergi dengan kedua tangannya ia masukan ke sakunya.
***
Sepanjang perjalanannya keruangannya Tania terus digunjing oleh para staf di HR group.
__ADS_1
Tania sudah tidak mempedulikan mereka,mau tidak mau dia memang harus menghadapinya.
Dengan cueknya ia masuk keruangan dan duduk ,meletakan kepalanya diimeja dan menyembunyikan wajahnya diantara tangannya.
Ia menangis,membayangkan betapa malunya dia,ayahnya kini menjadi narapidana. Dan terbukti menggelapkan uang perusahaan Atmajaya.
Anak pengkhianat itulah julukannya.
Tiba-tiba seseorang menghampirinya.
Sekertaris HR group,ia meraih pundak Tania.
"Tan,,"sapanya.
"Ci.." panggil Tania pada Cici.
"Sabar ya,,aku tahu,kamu pasti sangat terpukul. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan,tapi tidak semuanya mau mengakui dan perbaiki kesalahan mereka. Kamu orang cerdas,aku tahu itu,,kamu pasti tahu sikap apa yang harus kamu ambil"
Tania memeluk Cici,ia teringat jelas kapan terakhir kali ia memeluk Cici,sudah cukup lama. Semenjak lulus SMA,Tania teralalu angkuh untuk mendekati Cici lagi. Widodo juga membatasi pergaulannya.
Cici juga sempat membenci Tania saat tahu dirinya telah berubah,saat tahu Tania berusaha menjadi pelakor dan menjadi sewenang-wenang.
"Maafin aku Ci.."
"Sama-sama,,kamu tahu,Delia juga merasakan hal sama ketika dirinya dikucilkan karena menyandang status anak pembunuh. Tidakkah kamu merasa kasihan dengannya,,usianya lebih muda 9 tahun dari kita,tapi dia sudah melewati banyak hal lebih dari kita. Kamu bisa bayangkan kan?"
"Ci,,ini laporan hasil kerja kemarin saat di Dubai. Tolong nanti di periksa dan di sampaikan pada Brian. Saya ada urusan sebentar."
"Baik Tan,,kamu hati-hati,jangan lupa makan ya"
Tania mengangguk.
Ia merasakan ada sebagian bebannya yang terlepas. "Cici,,terimakasih,kamu sudah kembali untukku..perasaan ini sangat aneh,aku merindukan sahabat-sahabatku" batin Tania sambil melangkahkan kakinya keluar dari HR group.
Didalam mobil Tania menghubungi Soni.
"Son,aku tunggu kamu di taman Pondok Kusuma."
"Baik,aku akan kesana"
Tut tut tut.
Tania meremas strir mobilnya kemudian mengarah ke taman.
20 menit ia duduk di bangku taman dengan mata sebam.
Dari belakang Soni menyodorkan es cream kesukaannya.
"Rileks saja,jangan terlalu tegang" sapanya dari arah belakang.
__ADS_1
"Soni"
"Makanlah,," Soni juga menyodorkan plastik berisi sandwich dan air mineral
Sejenak Tania terdiam,hingga akhirnya ia memakan habis sandwich dan es cream kesukaanya.
Soni mengeluarkan tissu dari sakunya.
"Terimakasih"
Ucap Tania pelan.
"Kenapa kalian masih baik padaku?apa karena aku akan kalian jadikan alat?"
"Karena kita mengenalmu. Kamu sahabat kita,Safa,Brian dan aku masih peduli denganmu bukan karena kami menganggapmu alat. Kami tahu,saat itu kamu sedang hancur dan kecewa dengan cintamu,itu alasannya kamu lemah dan mudah untuk disetir oleh ayahmu."
"Dimana Kevin?"tanya Tania
Soni terdiam.
"Semua rekaman itu benar adanya,tanteku memang berselingkuh dengan mempunyai seorang putra ,Hans." Lanjut Tania
"Apa kamu sudah lama mengetahuinya?"
"Iya,,aku mulai tahu dan sadar hubungan mereka saat kelas 1 SMA. Tapi ayah selalu mengancam ku untuk tidak memberitahu siapapun,agar menyerahkan urusan ini pada mereka. Saat di Amerika ingin aku menceritakan pada Brian,tapi melihat kondisi Oma saat itu cukup parah. Dan Brian masih sangat labil."
"Apa sempat Tantemu atau ayahmu berencana untuk membunuh tante Lidia?" Soni langsung to the point.
" Kalau membenci iya,tapi untuk rencana membunuh,aku kurang tahu. Kebencian mereka sebenarnya pada Tante Lidia dan Yosep. Entah mereka mempunyai masa lalu apa sehingga Ayahku dan tanteku sangat membenci mereka. "
"Jadi,sebenarnya Tantemu tidak benar mencintai Atmajaya,?"
"Entah,cinta atau ambisi...atau keduanya,aku pun belum tahu. Saat itu aku terlalu cuek dengan kehidupan orang lain,karena hidupku sendiri kacau setelah kepergian Kevin. Kamu tahu kan,bagaimana aku berjuang dalam kekecewaan yang teramat dalam. "
"Aku tahu,maka dari itu aku sengaja ikut mencari Kevin,karena aku tahu Brian tidak mencintaimu,jadi mana mungkin kalian bisa menikah. Aku kembali ke Amerika,mencari data di universitas tempat Kevin belajar. Kata Dosen disana,Kevin baru saja lulus,itu artinya dia pernah mengambil cuti beberapa bulan. Harusnya dia lulus ditahun yang sama dengan kita.
Aku langsung mencarinya ke daerah asal Kevin,tapi kata orang disekitar Kevin pindah dibandung dan bekerja disebuah perusahaan disana. Aku juga belum sempat berbicara dengannya,aku sengaja menunggumu,,karena aku takut jika aku yang bertanya,dia pasti akan bersiap menghindari mu. Jadi aku hanya memantau saja sampai saat ini."
"Kamu tahu,dimana? Aku hanya ingin tahu,apa kesalahanku hingga dia tega meninggalkanku dengan cara seperti ini,itu saja."tanya Tania.
"Oke,sesuai janjiku ,ayo aku antar,,tapi kamu baru konsisten dengan kesaksian mu,dan em,,,maaf,,aku butuh informasi lebih mengenai tantemu?"
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi,aku harus mengembalikan harga diriku dan sahabatku,,aku janji,akan memperbaiki semua dengan apapun yang aku bisa"
"Terimakasih Tan,,,gue tahu,loe masih sahabat setia kita.." dengan girang Soni memeluk Tania.
Taniapun tersenyum tipis.
Mereka berdua akhirnya menuju Bandung untuk bertemu Kevin.
__ADS_1