Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 91


__ADS_3

"Assalamu'allaikum bi Ani...apa kabar bi.."sapa Delia sembari memeluk bi Ani.


"Wa'allaikumsalam,,Alhamdulillah,bibi baik-baik saja non.."


Delia melepaskan pelukan kemudian berjalan mengelilingi ruang tamu dan ruang tengah..kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Heeemmmm akhirnya bi,aku bisa pulang lagi kerumah ini."


"Non,bagaimana kabar nyonya Olivia?"


"Itu masalahnya bi,sebenarnya aku gak tega ninggal dia disana sendirian,Kesehatan Oma saat ini menurun,belio masih membenciku,aku gak mau Oma semakin tertekan dengan keberadaanku,,kami juga masih mengumpulkan bukti untuk membuka kebenarannya bi,Doakan ya bi"


"Iya non,bibi doain semoga non Delia segera bisa membuktikan pada Oma."


"Bi,Oma dan Atmajaya juga masih kekeh menjodohkan Tania dengan mas Brian,meskipun Brian menolak tapi cewe centil itu terus saja mengganggu."


Delia menceritakan semua pada bi Ani.


"Non Delia yang sabar ya,suatu saat nanti pasti Oma tau,bahwa non Delia lah yang terbaik dan pantas untuk tuan" bi Ani mencoba menghibur Delia.


"Oiya non,Kemarin temen non Delia,emm....siapa ya namanya,emm..." Bi Ani mencoba mengingat namanya.


"Vivi ?"


"Iya non,tapi yang satunya lagi seorang pria. Mereka mengantar Laptop dan pria itu juga menitipkan sesuatu untuk non Delia. Sebuah surat, sudah aku letakan di kamar non Delia,di saku tas laptop."


"Tas laptop?waktu aku ngasih laptopnya kan ga pake tas?Dan Surat??surat apa lagi...aduh..bisa salah paham kalau kak Brian tahu.."batin Delia.


"Oke,makasih bi aku kekamar dulu"


Delia berlari kecil menuju kamarnya,segera ia mencari laptop dan surat itu.


"Aghhh...untung saja aku menemukannya duluan.." Delia langsung memeluk tas laptopnya dan menghela nafas lega.


"Surat..oiya,mana suratnya" segera ia membuka tas dan memeriksa setiap ruangan ditas tersebut.


"Nah dapat.."


Delia mengambil sebuah kertas,dengan tulisan tangan dari Hans.


"Del,temui aku di cafe depan kampus,aku mohon,jangan menghindar lagi,jelaskan semua padaku!hubungi aku kalau kau sudah menerima surat ini 082316*****"


"Ya Allah...apa lagi ini..bisa-bisa aku di gantung kalau ketahuan bertemu dengannya. Tapi...tapi aku memang harus menemuinya,karna aku harus menjelaskan bahwa aku sudah bersuami dan dia tidak bisa lagi mengharapkanku...iya..aku harus kesana." Ia berbicara sendiri sembari mondar mandir seperti setrikaan.


Ia meremas surat itu dengan erat,kemudian ia membuangnya ditempat sampah.


"Vivi..ah..iya,aku harus menelponnya"

__ADS_1


Delia mencari ponselnya kemudian ia pergi kebalkon.


"Hallo Vi.."


"Iya Del,loe udah pulang?"


"Vi,kenapa Hans bisa ikut kerumah! Katanya loe sendiri yang akan mengantar laptop gue kerumah,ngapain ngajak-ngajak dia si!"


Delia menghardik Vivi dengan kesal.


"Maaf Del,gue juga engga ngajak dia,,tiba-tiba saja dia mengikutin gue.


Setiba di depan rumah loe Hans langsung narik tangan gue dari belakang,trus dia tanya,apa itu rumah loe,,ya udah gue jawab iya,terus dia maksa masuk dengan harapan bisa ketemu loe,sampai di ruang tamu,dari kejauhan dia liat Foto pernikahan loe,dan dia maksa gue suruh njelasin..tapi gue engga berani,ya gue bilang aja dia suruh nanyain sendiri ke loe.."


"Oh,My Good Vi...gue gak berharap dia dateng kerumah,karna dirumah gue ada CCTV dan dan dan Brian nantinya pasti tahu kalau Hans kerumah,bisa abis gue dimarahin dia,dikiranya gue yang ngasih tahu alamat rumah."


"Tapi Del,loe emang harus secepatnya ngasih tahu Hans kalau loe udah bersuami..meskipun Hans belum pernah menyatakan perasaannya ke loe,tapi dia sepertinya berharap besar sama loe..hanya dia sampai saat ini belum menemukan moment yang tepat aja."


"Iya aku juga maunya gitu,tapi temenin aku ya,,kamu saja yang menghubungi Hans,kita ketemu sekarang Oke!aku kerumahmu ya.."


"Oke,gue tunggu Del..."


"Iya,,"sahut Delia.


Tut tut tut


Sebelumnya ia memberi tahu suaminya,bahwa ia akan pergi kerumah Vivi dan Brian pun mengizinkannya,dengan catatan dia harus pergi bersama sopir.


***


Dengan congkaknya,Tania melangkahkan kakinya memasuki ruangan Brian.


Tanpa mempedulikan larangan Safa.


Brian yang tengah sibuk menandatangani berkas dari Soni terkejut dengan kedatangan Tania.


Brian menyuruh Soni meninggalkan ruangan,kemudian dia berdiri menyandarkan bokongnya di tepi meja,melipat tangannya dan menatap Tania tajam.


"Apa kamu benar-benar kehilangan kesopananmu!"


"Sorry Ian,aku harus kesini dengan cara seperti ini...Ian,to the point saja,apa kamu sama sekali tidak mempedulikan perusaan Oma yang Ayahmu kelola?" Tania duduk disofa dengan menyilangkan kakinya.


"Aku peduli,makanya aku langsung mengeluarkanmu dari sana sebelum kamu semakin menghancurkan perusahaan itu!"


Jawab Brian ketus.


"Oke,aku akui saat itu aku salah,aku sudah menyalahgunakan wewenangku disana,tapi itu dulu,,Ian,tadi aku kerumahmu..em,maksudku kerumah Ayahmu,aku melihat oma tidak dalam keadaan baik..dan oma mengatakan banyak hal padaku.

__ADS_1


Aku pikiran oma terlalu terforsir ,memikirkan kerja sama perusahaannya dengan perusahaan di Dubai. Apa kamu tidak merasa kasihan dengan oma?"


Tania berusaha membujuk Brian.


"Hah,jangan sok tau kamu! Oma memang sedang kurang sehat,bukan karna proyek itu!jangan jadikan oma sebagai bola disini!"


"Lalu karna apa!! Oma berharap besar dengan kerja sama ini Ian..tidakah kamu bisa mengesampingkan egomu!"


"Sejak kapan kamu mempunyai hak untuk menasehati ku!!" Brian berjalan ketepi jendela,tatapannya jauh keluar jendela.


Tania berjalan mendekat,berdiri tepat di belakang Brian.


"Ian! Ayahku punya saham disana,walaupun tidak banyak,tetapi aku tidak mau Ayahku dirugikan karna keegoisanmu! Itu alasanku


Kerjasama dengan Dubai ini adalah peluang besar untuk melebarkan sayap perusahaan Oma,dan jika sampai gagal,maka nilai reputasi perusahaan itu juga akan semakin turun.


Kamu tau sendiri kan,semenjak kamu memegang perusahaan Golden big,perusahaan Oma itu mengalami penurunan!"


Brian melempar tatapan sinis pada Tania.


"Dengar! Ayahku sendiri yang memilih,ayahku sendiri yang mau aku melepas kendaliku di perusahaan Oma dan bertukar tempat. Menurunnya perusahaan Oma itu bukan salahku!itu karna Ayahku terlalu bodoh ! Sudah banyak uang yang hilang karna kebodohan Ayahku sendiri"


"Ian,aku tidak ingin berdebat denganmu!waktunya tinggal 2hari lagi! Kamu harus berangkat demi perusahaan Oma !!"


"Cepat tinggalkan tempat ini,aku sibuk!"


Brian berjalan keluar ruangan meninggalkan Tania sendirian.


Tania yang gagal membujuk Brian merasa kesal dan menggeram..


"Sombong sekali kamu Ian!!"


Tania meninggalkan ruangan Brian dengan langkah kasar.


Sementara itu Brian menuju ruangan Soni untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa kesini bro..apa urusanmu dengan penyihir itu udah selesai"tanya Soni menggoda sahabat sekaligus bosnya yang tengah memasang wajah masam.


"Aku harus apa Son? Disisi lain aku tidak mau perusahaan Oma dan alm.Opa mengalami kemunduran,tapi di sisi lain,aku tidak rela kalau ayah memanfaatkan kejayaan perusahaan itu untuk ambisinya"


"Maksudmu?"


Brian menduduki dimeja tepat dihadapan Soni.


Soni tidak pernah memprotes tingkah majikanya saat ini.


"Sudah hampir setahun terakhir ayah selalu kehilangan cliennya,,dan itu menjatuhkan reputasi perusahaan itu,dan puncaknya banyak kontrak yang dibatalkan akibat konferensi pers pengembalian nama baik pak Yosep waktu itu. Sebagian dari mereka khawatir kalau ayahku atau Widodo terlibat dalam kematian Ibuku. Sebelum ayahku memegang kendali perusahaan Oma,kamu tau sendiri kan ibuku mengelola dengan sangat baik,tetalapi semenjak beralih tangan semua kacau." Brian meraup kasar wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2