Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 126


__ADS_3

"Baik Ian."


"Terimakasih"


"Sama-sama,,santai saja.."


Brian melangkah keluar dengan menahan amarah.


Ia tak bisa bayangkan betapa hancurnya perasaan ibunya ketika mengetahui bahwa ayahnya berselingkuh. Brian merasa jijik dengan tingkah ayahnya selama ini.


Ia kembali dan sampai dirumah pukul 23.00.


Cukup lama ia mengetuk pintu dan membunyikan bel.


Delia terlihat tengah tertidur di sofa ruang tengah,bi Ani pun ikut tertidur menemani Delia.


Saat mendengar bel berbunyi,Bi Ani terbangun dan langsung membuka pintu.


"Maaf tuan,saya ketiduran,,"


"Iya bi,tidak apa-apa,,," Brian masuk,melihat Delia yang masih tertidur.


"Bibi tidur saja dikamar bi,,"


"Baik tuan,,"


Bi Ani meninggalkan kedua sejoli itu diruang tengah.


Brian mematikan televisinya,kemudian membopong Delia,ia naik ke kamar dengan menggunakan lift,agar Delia lebih nyaman saat dibopongnya.


Brian meletakan istrinya pelan,diatas kasur.


Ia membelai rambut istrinya yang berantakan.


Kemudian ia kecup kening istrinya lembut.


Merasakan ada hempasan nafas yang harum dan hangat,Delia terbangun.


"Mas,,kamu udah pulang?maaf mas,aku cape banget,jadi ketiduran"


"Tidak apa-apa sayang,lanjutkan tidurmu,maaf aku pulang terlalu malam"


"Hem,,mas juga tidur ya,,kamu pasti juga lelah"


"Iya,," Brian berganti pakaian lalu tidur disisi Delia.


***


Keesokan harinya,


Delia menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Ia menata meja makan dengan hidangan yang lezat seperti biasanya.


Brian menuruni tangga,dan menghampiri Delia di meja makan.


"Duduk dmas,aku ambil minum dulu"


Setelah mengambil air,Delia dan Brian duduk bersama.


Ting tong


Suara bel berbunyi,Delia langsung berlari membuka pintu.

__ADS_1


"Non,semua udah siap." Seorang pria paruhbaya memberi sebuah kertas tanda bukti transaksi.


"Oiya pak Daud,terimaksih,nanti seperti biasa bapak mengikuti kita dari belakang ya,,"


"Siap non,,"


"Pak Daud sudah sarapan?mari sarapan bersama,,"


"Terimaksih non,saya kebetulan sudah sarapan,saya tunggu di mobil saja non"


"Baiklah,saya tidak akan lama kok,,ini buat beli bensin nanti ya pak"


Delia menyidorkan amplop berisi uang.


"Duh non,,tidak usah,,bensin saya sudah ditangung oleh toko."


"Ga papa terima aja..pamali menolak rejeki"Delia memaksa,ia terus menyidorkan amplop tersebut.


Brian dari kejauhan memperhatikan dengan siapa istrinya berbicara.


"Terimaksih non,,silahkan non Delia melanjutkan sarapan"


"Permisi sebentar ya pak,," Delia kembali masuk dan melanjutkan sarapan.


"Siapa dia?"tanya Brian sedikit curiga.


Brian yang cemburunya tingkat dewa,mulai memasang wajah masam.


"Ga usah cemburu,dia pak Daud,,udah bapak-bapak,jadi aku gak bakalan tertarik,santai aja santaiii" canda Delia.


"Ck,,siapa juga yang cemburu! Aku cuma nanya,dia siapa?"


"Nanyanya gak pake pasang muka gitu dong,,biasa aja,ganteng-ganteng ngambekan.."ejek Delia.


"Kalau gak mau jawab,gak usah ngejek" jawab Brian ketus.


"Ngapain??"


Brian menjijitkan satu alisnya.


"Entar kamu juga tahu mas,,udah gih,makan kasihan pak Daud entar nunggunya kelamaan"


"Hem"


10 menit kemudian Delia dan Brian keluar,ia langsing masuk kedalam mobil dan mulai berjalan sesuai arahan Delia. Diikuti mobil box yang dikendarai oleh pak Daud.


1jam kemudian,Delia sampai dideoan gang kecil,sebuah kompleks perumahan padat penduduk.


"Turun mas,kita masuk gang,,"titah Delia.


"Hah?"


"Kamu keberatan?"


"Engga..ayo"


Brian dan Delia berjalan menyusuri gang. Pak Daud dan temannya membawa dua kardus sembako.


"Assalamu'allikum"


"Wa'allaikumsalam"


Delia langsung memeluk wanita sederhana yang sedang menggendong anak yang masih berusia 4,5 tahun.

__ADS_1


"Non Delia,,maaf non,,tempatnya berantakan.."


"Tidak apa-apa bu,,,oiya,seperti biasa,mohon diterima ya bu.."


Delia mengangkat dus berisi sembako untuk diberikan pada ibu itu.


"Masya Allah,non,,,terimakasih,,semoga non Delia beserta,,,"ucapan wanita itu terhenti ketika melihat sosok pria tampan yang asing di sebelah Delia.


"Itu suami saya bu,,"


Senyuman merekah dari bibir wanita itu.


"Oh,,selamat non atas pernikahanya,,maaf ibu tidak tahu..Semoga Allah memberi keberkahan melimpah untuk rumahtangga non Delia,,"


"Aamiin,,,Oiya bu,Bibi dan Pamanku titip salam maaf mereka tidak bisa ikut,karna putra mereka baru saja menikah"


"Iya non tidak apa-apa,,,senua doa terbaik saya panjatkan untuk seluruh anggota keluarga non Delia,,"


"Terimakasih bu,,oiya Alif udah sekolah belum sayang?" Delia mencoba membopong seorang anak yang sedari tadi menempel pada ibunya.


"Belum non,baru 4,5 tahun,mungkin nanti kalau sudah 5tahun baru saya masukan ke TK."


"Oh,,besok kalau sekolah yang pintar ya,,em,Alif mau kakak belikan tas sama sepatu apa sayang?"


Brian melihat istrinya begitu akrab dan tulus menyayangi anak itu,banyak pertanyaan yang ada dalam benak Brian.


"Aif mau Ultamen.."Dengan polosnya dia menjawab.


"Oke,,siap,besok sebelum masuk sekolah,kaka akan kirim tas Ultramen,sama sepatu Ultramen ya,,mau yang ada lampunya gak?"


"Iya iya,,"jawabnya lagi.


Delia mencium anak tersebut.


"Ya sudah,besok kakak akan bawakan semua untuk Alif,asal Alif harus rajin belajar ya,,"


Alif menganggukan kepala,kemudian Delia berpamitan pada wanita tersebut.


"Maaf ya bu,saya harus pamit,masih banyak yang harus aku kunjungi"


"Terimaksih non"


"Sama-sama bu,,Assalamu'allikum"


"Wa'allikumsalam"


Delia kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan mereka.


"Sayang,siapa dia?"tanya Brian penasaran.


"Kamu mau tahu dia siapa?Dia adalah ibu Rahma,suaminya meninggal saat dia sedang mengandung. Kamu tahu,apa yang menyebabkan dia meninggal? Dia meninggal pada saat sift malam di pabrik yang ayahmu bakar. Sejak kepergianya,kehidupan istrinya semakin sulit,dia harus menghidupi dua anaknya yang masih balita,Alif dan Nadif. 3 bulan setelah kematian ayahnya,Nadif yang saat itu berusia 5 tahun meninggal dunia,karna telat penanganan,dia terkena diare dan kejang."


Brian tercengang,ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Mas,kamu lihat raut wajah mereka saat aku memberinya bantuan? Ada kebahagiaan,ada Doa yang tak pernah putus. Meskipun aku tidak mengharapkan pamrih,karna ini tanggung jawabku,tapi mereka terus mendoakan aku dengan penuh ketulusan. Sebaliknya,kamu pasti bisa bayangkan bagaimana rasa sakitnya saat kehilangan suaminya,anaknya lahir dalam keadaan yatim. Bagaimana dia mengupat saat tahu bahwa kebakaran itu diduga karna disengaja oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


5tahun ditengah keterbatasan ekonomi keluargaku,ayahku terus memberi bantuan untuk anaknya,ayahku menjanjikan akan menyekolahkannya sampai kuliah.


Otomatis,aku harus meneruskan janji ayahku."


Mata Brian memerah,ia masih berusaha membendung airmatanya.


1 jam kemudian

__ADS_1


Delia membawa Brian disebuah perkampungan.


Ia berhenti di depan rumah sederhana,ditepi jalan desa yang tidak begitu halus.


__ADS_2