
"Darimana kamu!!!jam segini baru pulang" Brian yang sedang menonton TV diruang tengah menyadari kehadiran Delia yang berjalan mengendap-endap.
"Em,,anu..ak-a-ku ke-kekeluar sebentar"
Delia berhenti,mematung di depan tangga.
"Sebentar kamu bilang!!! 4 jam kamu bilang sebentar!!! Kemana kamu!! Apa yang sedang kamu rencanakan!" Tanya Brian bertubi-tubi.
"Aaaghhh...sial..aku lupa kalau dia bisa mengecek keberadaanku melalui ponsel."batin Delia.
"Aku pergi mengunjungi sahabat lamaku,dengan teman-teman SMAku"
"Wah hebat kamu ya!!!gadis bodoh!tidak tau etika,saat suamimu menerima tamu kamu enak-enakan pergi dengan temanmu tanpa meminta ijin dariku!!!" Brian menghampiri Delia dengan tatapan membunuh. Matanya tajam,rahangnya mengeras,membuat Delia ketakutan serasa ada singa lapar yang akan memakanya.
"Aa-a-aku kan ssss...sssudah meminta ijin denganmu,lagian untuk apa aku disini menemani tamu macam Tania,bukanya kehadiranku akan menganggu kalian." Jawab Delia.
"Iya!!kamu memang akan menggangguku!tapi apa kamu lupa dengan tugasmu untuk mengemasi barang-barang!"
"Semua sudah aku kemas. Aku harus apa lagi!"
"Hey!!!...ada apa ini,brisik!!! Aku sedang tidur! Heh anak pembunuh! Kamu selalu saja bikin masalah disini,bisakah kamu sedikit diam dan menuruti suamimu!!sekarang biatkan kopi untukku!!" Teriak Atmajaya dari atas tangga.
Atmajaya menuruni tangga menghampiri Delia dan Brian.
Kemudian Delia didorong oleh Atmajaya hingga jatuh tersungkur. Melihat Delia terjatuh Brian hanya tersenyum sinis dan malah meninggalkan Delia,ia pergi kekamarnya.
"Cepat buatkan!!!"teriak Atmajaya sekali lagi.
"Bbbaik" Delia berdiri,kemudian menuju ke dapur dengan air mata yang masih terbendung,dadanya berdebar-debar tak menentu. Setiap Hari Atmajaya dan Brian selalu berteriak padanya,jantungnya seperti mau copot menghadapi kemarahan mereka.
Segera Delia membuatkan dua cangkir kopi untuk Atmajaya dan Brian.
Delia mengantarkan kopi kepada Atmajaya yang sedang duduk dikursi goyang yang menghadap ke TV.
"Buuuuiiiihhhhjjjhhh" Atmajaya menyemburkan kopinya ke sembarang arah,Wajah Atmajaya memerah,dia langsung berdiri tegak didepan Delia.
"Dasar Bodohhh kenapa sepahit ini!!!!"
Atmajaya menatap Delia dengan garang.
"Maaaf tuan,,sssaya kira porsi gula tuan sama dengan kopi milik Brian."
"Singkirkan ini dan buatkan yang baru!!! Dasar Gadia tak berguna!!" Atmajaya meletakan cangkir dengan kasar diatas nampan yang Delia bawa. Karna pegangan Delia tidak cukup kuat akhirnya kedua cangkir itu jatuh mengenai kaki Delia.
Seketika kaki Delia melepuh dia menjerit kesakitan.
"Aaaaaawwwwwww....sakiiiit...." Delia menjatuhkan tubuhnya kelantai mengipas-ngipas kakinya dengan tanganya.
Brian berlari dari kamar menuju sumber suara.
Melihat Delia yang sedang menangis kesakitan,Brian langsung membopong.
"Jon...jonooooo....siapkan mobil cepat!!!!" Teriak Brian memanggil supirnya.
Dari garasi Jono langsung mengambil kunci mobil dan mengeluarkan mobil ke depan teras rumah.
"Cepat kerumah sakit!!"
Mobilpun dilajukan dengan kecepatan maximal.
Sepanjang jalan Delia menangis kesakitan.
Brian mengipas ngipas luka bakarnya dengan koran yang ada dimobil.
Sepintas Delia menatap kewajah Brian,dia merasa aneh dengan ekspresi Brian yang seolah-olah cemas dengan keadaannya.
__ADS_1
Seteleh sampai di Rumah Sakit Brian langsung membopong Delia ke ruang IGD. Dengan sigap para perawat memberikan pertolongan pertama pada Delia.
"Bagaimana dok dengan keadaan istri saya?" Tanya Brian cemas.
"Lukanya cukup parah tuan,kemungkinan untuk sementara nyonya tidak bisa berjalan,karna kedua kakinya melepuh,Ditambah ada serpihan gelas kaca yang melukai telapak kakinya. Nanti akan saya tuliskan resep obat untuk perawatanya dirumah"
"Dok,aku ingin dia dirawat disini agar mendapat perawatan penuh,bisa kan dok? " Pinta Brian.
"Bisa saja tuan,nanti akan kami siapkan kamarnya. Dengan perawatan intens disini akan mempercepat proses penyembuhanya karna kami akan terus memantau dan merawatnya dengan maximal."
"Terimakasih Dok"
"Jon,temani nyonya Delia didalam ya"
Brian menghampiri Jono yang menunggu tuanya didepan ruang IGD.
Jonopun menuruti permintaan majikanya.
"Bagaimana non,?apakah masih sakit?"
Tanya Jono pada Delia yang masih merintih.
"Sakit banget mas..aduh...panas,perih.."
Delia memanggil Jono dengan sebutan mas karna umurnya sama dengan Brian hanya selisih 1 tahun. Tapi dia belum juga menikah.
"Sabar ya Non..tuan Brian juga sangat khawatir dengan keadaan non Delia."
"Hemmmm" Delia hanya tersenyum,dia sedikit tidak mempercayai kecemasan Brian. Yang dia tau Brian hanya ingin dia menderita.
"Non,kalau boleh tau kok bisa sampai seperti ini si non.."
Tanya Jono.
"Oh,,mungkin tuan besar tidak sengaja non"
"Iya,aku tau tuan tidak sengaja melakukannya. Aku saja yang kurang benar memegang nampanya."
"Semoga non Delia cepat sembuh ya non"
"Aamin,terimakasih ya mas"
"Jon,tolong bawakan baju-baju Delia di koper biru dikamarku,bawakan juga laptop dan tas kerjaku." Tiba-tiba Brian sudah berada dibelakang Jono,membuat Delia dan Jono terkejut.
"Baik tuan" Jono segera memenuhi permintaan tuanya.
"Kenapa aku harus dirawat inap?"
"Aku gak mau orang dirumah repot cuma ngurusin kamu!!!" Jawab Brian singkat.
"Hmmm..iya" Deliapun menjawab singkat dengan bibir yang tersunging malas mendengar jawaban Brian.
"Tuan Brian,nyonya Delia silahkan memasuki kamar rawat inap,semua sudah siap " seorang perawat menghampiri mereka berdua. Lalu membawa Delia menuju kamar VVIP khusus untuk keluarga Atmajaya. Karna Rumahsakit itu adalah milik keluarga Atmajaya.
Sesampainya diruangan yang lebih pantas dibilang seperti apartemen. Fasilitasnya penuh,ada TV , ada pantry full kitchenset, kamar mandi mewah,dan kamar khusus penunggu dengan ukuran kasur besar seperti dirumah.
"Wow,kalau ini kamar rawatnya mah aku betah banget...gila serasa lagi di hotel atau apartemen..." batin Delia yang takjub dengan isi ruangan tersebut.
"Nyonya,selamat beristirahat semoga nyonya Delia cepat sembuh... permisi tuan,permisi nyonya" perawat rumah sakit itu meninggalkan mereka berdua.
"Istirahatlah,aku akan membuatkan jus untukmu" Brian pergi kearah pantry.
"Terimakasih Yan" Brian melirik ke arah Delia.
"Yan yan yan...sopan dong!umurku 9tahun lebih tua darimu!" ucap Brian ketus.
__ADS_1
"Maaf kak.." jawab Delia lirih.
"emang aku kakakmu!" ketus Brian lagi
"Mas?"
"jangan samakan aku dengan Jono!"
"Lah terus panggil apa!!"
"terserahlah!!"
"ih,Gaje banget!!! " Delia kesal.
"apa itu GaJe!"tanya Brian ketus pada Delia.
"Engga Jelasssss,gitu aja gak tau,,,primitif" gerutu Delia lirih,namun tetap terdengar ditelinga Brian.
"Apa!apa kamu bilang aku primitif"
"gak,aku gak bilang primitif,udah aku panggil kamu kak aja biar sama kaya Kak Roby" jawab Delia kesal.
"Baiklah,daripada disamain sama Jono bujang tua!"
"Memangnya dia sendiri gak tua" gerutu Delia lagi.
"Jangan menggerutu tentangku!!Awas saja!!! nih minum jusnya" Brian menyodorkan segelas jus pada Delia.
"Terimakasih kak,"
"Hem...aku akan keluar sebentar menunggu Jono,kalau ada apa-apa hubungi aku."
"Iya"
Delia melihat kepergian Brian dengan perasaan aneh dengan sikapnya.
***
3hari kemudian.
"Bagaimana keadaanmu Del?" tanya Roby saat menjenguk Delia.
"Masih sakit si kaa,kedua kakiku bengkak,tapi Alhamdulillah lukanya sudah mulai mengering"
"Bagus lah,maaf aku baru bisa menjengukmu,akhir-akhir ini aku sangat keropotan dikantor." Roby mengambil Kursi dan duduk disamping Delia yang sedang duduk bersandar ditempat tidurnya.
"Selamat ya kak atas kesuksesanya..."
"Semua berkat kerjasama para karyawanku,mereka banyak membantuku membuat para klienku puas."
"Selamat siang tuan,selamat siang nyonya,ini makananya sudah siap" Perawat masuk keruangan dengan membawakan makanan khusus pasien.
"Terimakasih sus" jawab Roby dan Delia bersamaan.
"Sini aku suapin" Roby mengambil piring dan sendok.
"Engak usah kaa,aku juga bisa kok..merepotkan saja.."
"untuk sahabatku,tak ada kata merepotkan..ayo buka mulutnya..aaaaaa"
Roby ikut-ikutan membuka mulutnya,dan menyuapi Delia. Deliapun menyambut suapan Roby dengan canggung.
Sembari menyuapi Delia,mereka bersenda gurau seperti biasa. Kehadiran Roby sedikit menghibur Delia.
"Khhemmmm..." Brian tiba-tiba datang membuka pintu dan berdehem saat mendapati Delia sedang tersenyum disuapi Roby.
__ADS_1