
"Dan mereka mengira Ayahmu sengaja menyingkirkan ibumu demi perusahaan itu?iya?"sahut Soni.
"Tepat sekali,,dan mereka juga lebih mempercayai bekerjasama dengan ibuku. Sekarang ada perusahaan besar di Dubai yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Oma,Oma menginginkan itu agar perusahaanya kembali Up..tapi Oma ingin aku yang berangkat kesana."
"Lalu,apa yang membuatmu bingung,berangkatlah...setidaknya demi Oma."
"Masalahnya,aku harus kesana dengan gadis ular itu!"
"Tania maksudmu?"tanya Soni.
"Iyalah siapa lagi! Ayahku sengaja merencanakan ini demi mendekatkan kami"
"Asal loe disana bisa jaga diri, gue yakin semua baik-baik saja Ian.." Soni berdiri mendekati Brian dan merangkul pindaknya seraya menjijingkan kedua alisnya tersenyum menggoda Brian.
"Sial! Emang lo kira selama ini gue ga bisa jaga diri dengannya!"
"Bukan githu bro,kamu tau kan betapa liciknya Tania?menghadapinya harus dengan kewarasan tingkat tinggi,,gue ingetin loe jangan sampe hilang kewarasan..hahahaha.."
"Gila loe! Oiya,gimana?udah tau kemana dana -dana yang ayahku gelapkan?"
"Sudah Ian,,semua dana di alokasikan di Bali,,"
"Bali??untuk apa? Bukannya ayahku sudah tidak mengelola beberapa hotel disana?semua sudah dialokasikan ke perusahaan kita ini"
"Beberapa tahun lalu,Orang-orangku melihat ayahmu berada di Bali,sedang mengawasi pembangunan hotel baru dan beberapa perusahaan di Lombok."
"What?Lombok? Aghhh...Apa semua itu atas nama perusahaan Oma?"
"Bukan,"
"Terus?"
"Semua atas nama Yesi"
"Yesi?? Siapa dia?" Brian mengerutkan alisnya,kemudian mendekatkan wajahnya pada Soni,dia sangat penasaran dengan sosok yang Soni sebut.
"Sabar Ian,Yesi itu..aku dengar..em.." Soni merasa ragu untuk mengatakannya.
Dia membayangkan betapa murkanya Brian kalau tahu bahwa Yesi adalah selingkuhan Ayahnya.
"Son!"hardik Brian.
"Dia..."
Drrrrrrrddd drrrrd
Tiba-tiba ponsel Brian bergetar.
Ia meraih dan menatap layar pipihnya.
"Kita lanjutkan nanti,istriku menelpon"
Brian segera meninggalkan ruangan Soni,menuju ruangannya.
__ADS_1
"Halo sayang"
"Mas,aku dirumah Vivi,maaf tadi pas berangkat enggak ngabarin dulu"
"Oke,ga papa,,asal jangan macam-macam!"
"Iya mas,,em,oiya,,kamu pulang jam berapa mas?"
"Kemungkinan habis magrib,ada apa?"
"Aku nanti dari rumah Vivi mau jenguk ibunya Keke yah di RS"
Delia sengaja tidak memberitahu perihal ingin menemui Hans.
Dia ingin menceritakannya jika semua sudah jelas. Dia tidak mau kalau Brian ikut,justru keadaanya tidak terkendali,karna kecemburuan Brian yang berlebihan.
"Oke Sayang,kamu kerumah Vivi sama sopir kan?"
"Iya,aku sama sopir mas..sama mang Jajang"
"Syukurlah,aku jadi tenang kalau kamu sama sopir. Ya sudah,aku kerja dulu ya sayang"
"Iya mas,ni aku juga baru nyampe rumah Vivi,,bye sayang"
"Oke..hati-hati ya".
***
"Kenapa Del?"tanya Vivi sambil meletakan soft dring dimeja untuk Delia.
"Gue,gue tegang Vi,,semoga suami gue enggak berpikir macam-macam dan semoga Hans mengerti."
"Gue udah menghubungi Hans,dia sedang dalam perjalanan,lebih baik Hans yang datang kemari,kalian bisa bicara di gasibo taman samping."
"Terimaksih ya Vi,setuju gue Vi,,gue emang takut kalau kita ketemuan diluar,takut ada mata-mata Brian"
"Hahaha,masih dimata-matain juga lo?"
Goda Vivi.
"Ya kaliii Vi,,,mana gue tau kalau suami gue masih suka mata-matain,,gue kan istri tercinta yang paling bohay,jadi takut kali kalau gue banyak yang naksir" Delia tersenyum membalas godaan Vivi.
"Halaaahhhh...bisa aeee..Syukurlah kalau kalian sudah saling mencintai,,jadi gak ada acara mewek-mewek gak jelas dikampus hee.." merekapun saling melempar candaan untuk mengusir ketegangan Delia.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Hans untuk sampai dirumah Vivi,karna Apartemenya sangat dekat dengan rumah Vivi.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu,sudah dipastikan itu adalah Hans.
Vivi pun membuka pintu untuknya,dan mempersilahkan Hans untuk masuk.
"Hans," Delia menyapanya dengan mimik tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Delia akui,Hans salah satu pria yang memberikan perhatian lebih padanya saat di dikampus merasa sedih memikirkan pernikahannya.
Hans memberikan perhatian-perhatian kecil,begitu juga dengan Vivi dan Dera.
Hans menatap Delia dengan tatapan tajam,Hans merasa kecewa karna selama ini sudah dibohongi oleh Delia.
"Em,,Hans,Del,,sebaikanya kalian bicara di halaman samping ya,,biar lebih releks,,aku akan bawakan minuman ke gasebo ya.."
"Tidak usah Vi,," jawab Hans datar.
Dengan segera Hans mengandeng tangan Delia,membawanya ke halaman rumah Vivi.
"Hans,lepasin,,aku bisa jalan sendiri,!" Delia menepis tangan Hans.
"Oke,,"
Hans melepaskan genggamannya.
"Sekarang duduk,dan jelaskan sejelas jelasnya dari awal sampai akhir"
Terlihat jelas,Hans masih berusaha mengontrol amarahnya.
Merekapun akhirnya duduk di sebuah gasebo cukup besar,terbuat dari kayu,bernuansa klasik.
Hamparan taman cukup luas,membuat suasana menjadi sedikit releks.
"Baik,tapi sebelum aku bercerita,aku ingin meminta maaf karna selama ini aku menyembunyikan dari mu. Awalnya aku pikir,itu tidak penting bagimu.."
"Tidak penting katamu? Del,asal kamu tahu ya,aku sudah lama mencintaimu,tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan nya,aku pikir saat wisuda nanti itu waktu yang tepat,,tapi nyatanya...agh..sudah lah! Sekarang aku mau tahu semuanya."
"Maaf Hans,,aku tidak cukup peka untuk menyadari perasaanmu,terlebih saat ini aku sudah milik orang. Seperti yang kamu tahu,aku sudah menikah."
"Apa pria itu adalah Brian? Laki-laki yang waktu itu ke kampus?"
"Iya,dia suamiku,,awalnya,aku menikahi dia karna Ayahku berhutang padanya,aku tidak bisa melunasinya dalam waktu singkat dan ayahnya juga menaruh dendam pada ayahku,mereka saling bersaing dalam perusahaan. Ya intinya,kami menikah tanpa adanya cinta tapi kebencian,,awalnya terasa berat untukku,sampai akhirnya ayahku meninggal aku memilih untuk menyendiri selama 6bulan di Bali,,saat pernikahan kami hampir kandas,tiba-tiba kami sama-sama menyadari kalau kami saling mencintai.."
"Lalu kenapa kamu sembunyikan dari ku?apa awalnya kamu tahu kalau aku mencintaimu?"
"Aku menyembunyikan darimu karna,,karna aku pikir untuk apa menceritakan kehidupanku padamu,aku tidak mau kamu mengasihani ku.
Dan aku sama sekali tidak tahu kalau ternyata kamu mencintaiku,aku anggap semua perhatianmu itu murni karna persahabatan. Aku harap persahabatan kita tidak akan pernah berubah,,"
Deg,,Hans merasa kecewa pada Delia karna selama ini dia tak pernah menyimpan perasaan padanya.
Dia kemudian berdiri dan ingin meninggalkan Delia.
"Hans,tunggu,,"
Delia mencegahnya,Hans kembali membalikan badannya menatap Delia.
"Aku mohon,jangan pergi seperti ini,,aku harap kamu bisa menghargai statusku dan jangan membenciku,ini masalah hati dan tidak bisa dipaksakan,kamu tau itu kan?"
"Aku butuh waktu untuk menerimanya,karna aku sendiri sudah memendam rasa ini sebelum kamu menikah dengannya. Aku berusaha menahannya saat itu karna aku tahu,kamu pernah bilang selama kamu belum selesai kuliah kamu tidak akan berpacaran atau membuka hati untuk siapapun. "
__ADS_1