
Delia dan Brian bersama-sama menuju aula.
Disana sudah ada pak RT yang menyambut mereka.
Sementara Pak Daud memarkirkan mobil boxnya di depan aula.
Para warga membantu Pak Daud menurunkan paket sembako yang dibawa pak Daud.
Delia mencolek lengan suaminya dan berbisik
"Mas"
"Hem,,"
"Kamu lihat pria itu?yang pakai kaos merah,celana panjang dan pincang"
"Iya,,"
"Kamu tau kenapa kakinya pincang? Kakinya tertimpa balok saat menyelamatkan diri dari kebakaran itu. Setelah pabrik ku bangkrut,dia mencoba mencari pekerjaan lain tapi tidak ada yang mau menerimanya,oleh ayahku dia diberi modal untuk usaha,kini dia mempunyai jasa laundry di jalan Mekar tanjung. Aku senang karna dia sudah berhasil membuka cabang baru. Aku saksi bagaimana perjuangannya membangkitkan rasa percaya dirinya yang sempat hilang,dia juga sempat putus asa.
Ayahku terus memotivasinya,saat itu dia belum menikah,beruntung kekasihnya mau menerima keadaanya hingga kini mereka sudah menjadi sepasang suami istri."
Brian hanya menyimak setiap cerita tentang para korban ulah keegoisan Ayahnya.
Brian sangat menyesal dan malu mempunyai ayah seperti Atmajaya.
Ia juga membayangkan bagaimana perjuangan keluarga Delia,bagaimana keluarganya harus tetap tegar.
Ia menatap nanar istrinya yang tengah sibuk mengobrol dengan pak RT.
"Wanitaku,,"batinnya.
"Pak Daud,tolong sisanya bawakan ke Unit Rusun yang satunya."
"Siap non,"
Karna sudah letih,Delia memutuskan untuk pergi,ia berpamitan pada ketua RT setempat.
"Kami pamit dulu ya pak,mohon maaf hanya ini yang bisa saya berikan,semoga bermanfaat" ucap Delia pada ketua RT.
"Oh,,silahkan non..terimaksih karna non Delia sudah berkenan memberikan bantuan ini.
Ini benar-benar sangat bermanfaat bagi warga rusun ini. Semoga semua amal kebaikan non Delia menjadi ladang pahala bagi non Delia. Semoga Non Delia beserta keluarga selalu di diberi keberkahan melimpah dari Allah Subahanahu wa ta'alla "
"Aamiin,,terimakasih atas doanya pak,,kami mohon pamit ya pak,,salam buat seluruh warga disini"
"Sama-sama non,,"
Mereka saling berjabat tangan,begitu juga Brian.
Saat didalam mobil,Brian diam entah apa yang dia pikirkan.
"Mas,,kamu lelah?"
"Engga,aku tidak merasakan lelah"
"kita mampir makan dulu yuks..sambil nunggu waktu dzuhur."ajak Delia.
"Baiklah"
Delia dan Brian berhenti di sebuah resto.
Mereka memesan makanan dan Delia terus bercerita tentang penderitaan para korban saat itu.
__ADS_1
"Mas,maaf ya,mungkin aku terlalu banyak bicara tadi,aku hanya ingin kamu tahu saja,akibat ulah ayahmu,bukan cuma keluargaku yang terputus mata pencahariannya,tapi banyak laki-laki yang tidak bisa menafkahi istri dan anaknya. Banyak anak-anak yang menjadi yatim. Mereka hanya minta,pelakunya diadili."
"Iya tidak apa-apa ,,kamu sudah menyadarkan ku,kamu mengingatkanku kalau selama ini ada banyak orang yang terluka karna ayahku."
"Iya mas,saat itu dengan keterbatasan kami,tak banyak yang bisa kami lakukan mas,selain berharap suatu saat pelaku yang sebenarnya bertanggungjawab atas semua ini. Mas,,bagaimana jika ada bukti yang bisa membawa ayahmu kedalam penjara?apakah kamu akan membiarkannya atau kamu melindunginya?" Tanya Delia menatap suaminya tajam.
Hati Brian sendiri sedang berkecambuk,ayah yang dia agungkan selama ini ternyata tidak sebaik dugaanya.
Awalnya dia sendiri memang membenci keluarga Yosep karna dia pikir Yosep benar-benar membunuh Ibunya.
Ia sebenarnya juga tahu rencana Ayahnya untuk membakar pabrik. Oleh karna itu,dia terus ikut merasa bersalah saat ini.
"Mas" tanya Delia sekali lagi.
"Iya,,aku tidak akan menghalangi proses hukumnya. Karena aku tahu,ayahku bersalah dalam hal ini"
"Terimakasih ya mas,kamu terus mendukungku."
"Iya" Brian tersenyum tipis.
***
"Sayang,kamu masuklah kedalam,aku akan langsung kekantor HR group."
Brian mengantar istrinya kerumah,ia hanya mengantar di depan teras rumahnya.
"Mau ke HR group?ada apa mas?Apa ada masalah disana?"tanya Delia
"Engga,aku cuma mau cek untuk proyek Dubai."
"Owh...enak ni ketemu Tania" ucap Delia sinis.
"Ck,,sayang,udah agh cemburunya,Tania gak bakalan sanggup mengalihkan duniaku"
Brian hanya tersenyum dengan coolnya.
"Mas,pulangnya jangan kemalaman ya.." Delia mengedipkan matanya nakal.
"Mau dikasih ya.." tanya Brian bersemangat.
"Ihhh,,siapa bilang,,maksudku pulangnya jangan kemalaman,aku males bukain pintu! gak ada bi Ani! aku takut sendirian wey..."
"Ck,," Raut wajah Brian langsung tak bersemangat.
"Udah gih berangkat,hati-hati ya mas,,terimaksih untuk hari ini"
Brian mengecup kening istrinya,kemudian Deliapun keluar dari mobil.
***
Brian berjalan dari lobi menuju ruangan ayahnya.
Karismanya terpancar begitu sempurnya,membuat para karyawan wanita di HR grup tak henti-hentinya berhalusinasi tentangnya.
Brian memasuki ruangan ayahnya tanpa mengetuk pintu.
Saat itu ayahnya tengah berbicara dengan sekertarisnya.
Atmajaya terkejut degan kemunculan Brian yang tiba-tiba.
"Mbak,panggilkan Tania!"
titah Brian pada sekertaris ayahnya itu.
__ADS_1
"Baik tuan"
Dengan segera sekertarisnya mengikuti perintah Brian.
Semenjak memenangkan tender,Tania kembali bekerja di HR group.
Tanpa berkata apapun pada ayahnya dia dengan santainya duduk di Sofa.
Sementara Atmajaya menatap anaknya tajam,kemudian mendekatinya.
"Ian,apa kamu tidak bisa sopan sedikit,ketuklah pintu jika masuk keruangan ayah"
"Sopan?untuk apa?untuk menghargai ayah?apa yang perlu aku hargai yah?"ketus Brian.
"Jaga ucapanmu Ian,ingat! aku ini ayahmu!! Semenjak kamu bersama wanita sialan itu! sikapmu benar-benar bar bar!!"
"Berhenti mengatai istriku !!! apa yang aku lakukan sekarang itu karna kelakuan ayah sendiri!! Berhenti berdebat denganku! ini bukan waktu yang tepat!" Brian menunjuk ayahnya dengan geram.
"Brian!! sikapmu benar-benar keterlaluan!!" bentak Atmajaya seraya menghempas telunjuk Brian yang ada dihadapannya.
Brian mengepalkan tanganya ingin memukul ayahnya namun tiba-tiba Tania muncul dihadapan mereka.
"Ian!! berhenti!"
titah Tania.
"Kamu tu benar-benar,,itu ayahmu!!"
"Kamu diam! sekarang ikut keruang rapat! kita bahas proyek kita disana!" Brian meninggalkan Atmajaya dan Tania.
"Om,saya permisi" Taniapun mengikuti langkah Brian.
Diruang rapat Brian langsung membahas tentang proyek Dubai.
Taniapun menyimak satu persatu pengarahan Brian.
"Kalau bisa dua hari lagi mereka harus berangkat ke Dubai,kamu ikuti mereka saat peninjauan lokasi dimana proyek ini dibangun.
Beri mereka pengarahan,setelah berjalan satu atau dua minggu kamu boleh kembali ke sini"
"Baik Ian,tapi kamu ikutkan?"
"Untuk sementara aku tidak bisa ikut karna Golden big saat ini juga membutuhkanku.
Sesekali aku akan berkunjung kesana untuk mengecek langsung."
"Ian,terimaksih"
"Untuk apa?"
"Untuk kepercayaanmu "
"Hem,"
"Dan untuk yang kemarin malam. Kamu benar,aku harus mencari tahu tentang Kevin. Kenapa dia sampai meninggalkanku tanpa alasan apapun."
Semalaman Tania berfikir tentang ucapan Brian.
Dia juga berfikir,Ayahnya selama ini menjodohkannya hanya alasan bisnis,agar dia bisa mengeruk harta Atmajaya.
Sekeras apapun dia berjuang,harga dirinya semakin jatuh dihadapan Brian.
"Baguslah! aku berharap kamu bisa berubah. Jadilah Tania yang dulu,yang masih menjadi Sahabatku! aku akan menghargaimu jika kamu menghargai hubunganku dengan istriku!" ucap Brian.
__ADS_1
"Bagus Tania,kamu harus berubah memihak ku! aku tahu,kamu cukup banyak tahu tentang kartu Ayahku dan Ayahmu,,akhirnya rencana dadakanku berhasil,dengan begini lambat laun kamu sendiri akan mengungkap kebusukan ayahmu! dan aku berharap kamu akan menjadi saksi nanti!" batin Brian.