
Soni merebut gelas yang hendak diraih oleh Brian.
"Cukup!"ucapnya tegas.
"Kemarikan gelas itu!" Dengan lemah Brian berusaha merebut gelas itu kembali.
"Yan! Gunakan akal sehatmu! Berhentilah minum! Ini tidak menyelesaikan apapun! Ayo pulang ke hotel!"
"Setidaknya minuman ini mampu membuatku tenang Son,ayahku,kemudian istriku!semua penipu!"
Soni tak peduli dengan ocehan Brian,segera ia topang tubuh Brian yang sempoyongan.
"Mau dibawa kemana Brian!" Ucap Tania saat kembali dari toilet.
"Kembali kehotel! Aku tidak mau ada yang memanfaatkan keadaanya!"ucap Soni sinis.
"Heeeii!! Apa kamu sedang menuduhku!!" Taniapun tak kalah sinis.
"Aku tidak menuduh siapapun,mencegah lebih baik,,karna bisa jadi orang terdekat adalah musuh terbesar!Awas jangan halangi jalanku! Kembalilah ke hotel karna kamu ke Dubai bukan untuk bersenang-senang! Besok masih ada pekerjaan!"
"Sial!! Kenapa Brianengajak orang seperti ini sih!! Mengacaukan!" Batin Tania.
2 malam berturut-turut Brian menghabiskan waktunya untuk minum,karna ia tidak bisa tidur semenjak pertengkarannya dengan Delia.
Moment ini kadang dimanfaatkan oleh Tania.
Tania sering menyusul Brian saat ia sedang minum di bar,ia berharap bisa memanfaatkan ketidaksadarannya.
Tapi sayang,usahanya selalu gagal.
Ada Soni dan Safa yang selalu membuntuti mereka selama di Dubai.
Keesokan harinya Brian terbangun,kepalanya merasa pening akibat mabuk semalam.
Soni yang sudah selesai mandi melempar handuk kearah Brian.
"Mandilah! "Titahnya.
"Sial! Aku ini bosmu,sopanlah sedikit."
"Ini bukan jam kerja,jadi aku masih sahabatmu! Sebagai sahabat aku berhak menegurmu! Mau sampai kapan kamu seperti ini! Kerjamu tak fokus,lihat dirimu!Jauh-jauh kemari kerjamu hanya mabuk!"
Soni merasa kesal dengan Brian yang menjadi kekanak-kanakan.
"Ck.." Brian meraih bantal dan kembali tidur.
Soni mendekat duduk disofa.
"Aku akan aktifkan ponselku,aku tau Istrimu pasti dari kemarin menghubungiku dan akan aku ceritakan kelakuanmu disini.
Aku kasihan dengan istrimu,pasti dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu"
__ADS_1
"Jangaaan." Jawab Brian.
"Lalu?apa kamu mau seperti ini terus?"
"Aku masih kesal membayangkan bagaimana istriku berpelukan dengan Hans."
"Apa kamu tahu alasannya? Hei,jangan dengan mudahnya percaya dengan medsos,mereka bisa saja membumbui dengan isu murahan!"
"Tapi jelas,Delia sendiri yang bilang dia sengaja mengatur pertemuan dengan pria sialan itu dan didepan umum mereka berpelukan,,"
"Bukannya sudah jelas,mang Jajang mengatakan kalau saat itu Hans hanya menolong Delia saat mendapat pelecehan dari pembeli ditoko itu,jadi mungkin itu hanya pelukan biasa"
Brian hanya diam,bangun dan pergi kekamar mandi.
Dikamar lain ada Tania yang senang menelpon ayahnya di kamar mandi.
"Ayah!semua usaha ayah dan Atmajaya bodoh itu sia-sia!! Selama di Dubai,ada 2 pengacau yang selalu mengacaukan usahaku!! Jangankan untuk menyentuh Brian,menedekatinya saja mereka langsung mengacau." Tania memarahi ayahnya sambil berbisik.
"Tenang sayang,,em,kenapa kamau berbisik?apa ada orang disitu?"
"Iihhh...ayah tidak tahu ya,aku pikir aku bisa menyewa kamar bersebelahan dengan Brian dan saat waktunya tiba ,kita bisa melewati malam bersama. Tapi apa kenyataanya! Brianenyuruh kedua orang itu menyusul ke Dubai,Soni satu kamar demgan Brian dan Safa diperintahkan untuk sekamat denganku!aku pun tidak bisa menolak! Semua kacau dan rencana kita gagal! Puas!"
Tania terus melampiaskan kekesalannya pada Ayahnya.
Ayahnya dan Atmajaya beberapa hari terakhir menyewa mata-mata untuk mencari tau titik kelemahan hubungan antara Brian dan Delia.
Sampai akhirnya mereka tahu,kalau Brian sangat cemburu buta dengan Hans,yang tidak lain adalah Anak Atmajaya dari istri kedua.
Atmajaya akhirnya membuntuti Delia,
Atmajaya memanggil preman jalanan yang ada di sekitar jalan,untuk menganggu Delia.
Harapannya berjalan dengan lancar.
Rencananya semakin mulus,saat dirinya merekam kejadian itu dan memotret moment dimana Hans memeluk Delia.
Atmajaya dan Widodo membuat akun palsu dan memposting dengan kata-kata yang bisa memicu kecemburuan Brian.
Dengan cepat berita itu menyebar dan berdampak pada hubungan Brian,dan akhirnya sebagai pelarian Brian mau menerima tawaran keDubai bersama Tania.
"Sabar putriku sayang,ayah akan mengatur rencana ke dua"
"Oke,waktu kita disini tinggal 3-4 hari lagi ayah! Kita harus berhasil!"
"Serahkan semua pada ayahmu ini.."
Diluar Safa yang tengah sibuk merapikan berkas, mulai mencurigai Tania yang sedang menelpon dengan berbisik dikamar mandi.
"Hem,,mencurigakan,,dengan siapa dia bicara?kenapa harus dikamar mandi?awas saja kalau dia merencanakan sesuatu!!"
Gumam Safa dalam hati.
__ADS_1
***
"Apa! Kakak tidak akan mengijinkanmu!" Jawab Bimo tegas.
"Tapi kak,aku harus menyusulnya ke Dubai!"rengek Delia.
"Untuk apa!untuk mengemis padanya! Del,cemburunya itu seperti anak-anak! Harusnya dia yang datang padamu dan mendengarkan penjelasanmu."
"Iya,tapi awalnya aku yang salah kak,,"
"Kakak tetap tidak mengijinkanmu kesana,sekarang,fokus dengan Sidang Skripsimu,apa kamu mau menyia-nyiakan waktu lagi? Dulu 6 bulan kamu udah ngambil cuti."
"Iya tapi..tapi aku tidak akan tenang kalau masalah ini tidak selesai."
"Oke,begini saja,,Kakak akan terus menghubungi Brian,Fani juga sedang mencari nomer yang bisa kita hubungi,dan anggap saja sidang skripsimu itu sebagai tanggung jawab dan pengabdianmu untuk Ayah dan ibumu Del,mereka juga ingin melihatmu lulus dan melanjutkan cita-citamu. Biarkan Brian menenangkan diri dan menyelesaikan pekerjaanya disana."
"Tapi Tania?"ucap Delia lirih.
"Apa yang kamu takuti dari Tania? Kakak Yakin Brian tidak akan semudah itu jatuh dalam rayuannya." Bimo berusaha membangkitkan kepercayaan diri Delia .
"Baik ka.."
"Oke,lusa kakak antar kamu ke Kampus untuk Sidang,,"
Delia tak menjawab,dan terus tertunduk lemas.
"Selesai sidang,Kakak ijinkan kamu kesana dan selesaikan masalahmu."
Ucapan Bimo bagai angin segar untuknya,dengan senyum tipis Delia memeluk Kak Bimo.
"Terimaksih Kak,,"
Bimo mengusap rambut Delia.
"Jangan hanya karna masalah ini,seluruh duniamu terhenti,kamu harus belajar untuk memilah-milah Del.."
"Baik Kak.."
Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya,tersenyum tipis sambil memandangi adiknya dengan penuh ketulusan.
"Kakak tau,pada dasarnya kamu adalah gadis manja yang terpaksa untuk berfikir dewasa setelah keluargamu jatuh.
Belum banyak yang kamu pelajari tentang hidup,kamu sudah harus menikah dan masuk kedalam permasalahan yang kompleks.
Kami,akan selalu mendukungmu,menuntunmu dan menyayangimu Del"
Batin Bimo.
"Ya sudah,kakak ke Klinik ya,,ini tanda tangani dulu berkasnya." Bimo menyodorkan beberapa berkas untuk Delia.
"Terimaksih ya kaa,Kakak sudah banyak membantuku"
__ADS_1
"Udah,gak usah melow,,jangan cengeng! Kakak pulang ya" Bimo pergi dari rumah Delia.
Selama Brian pergi Delia hanya mengurung diri dikamar,Bimo dan Fani sering datang untuk menemaninya.