Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 86


__ADS_3

"Bragggggg!!!" Brian memukul meja keras,matanya mengisyaratkan kemurkaan mendalam.Ia menatap Dokter Anye dengan tajam,rahangnya mengeras,Dokter Anye pun gemetar menatao wajah Brian.


Ia masih belum bisa menerima kenyataan ini .


Ayahnya yang dulu ia hormati,yang telah ia jadikan inspirasi,ternyata selama ini ayahnya bertopeng.


Dia memutar balikan keadaan menfitnah keluarga Yosep demi menutupi kebusukannya.


Ingin sekali saat itu juga menghajar ayahnya habis-habisan.


Ayahnya telah membodohinya selama ini.


"Brian! Jaga sikapmu!hargai dokter Anye! Tenang dan Dengarkan!!" Bentak Soni.


"Silahkan lanjut dok" lanjutnya.


"Bbba..baik..3hari bu Lidia dirawat di rumahsakit bersama anaknya.


Saat pulang,belio langsung dibawa oleh supir taksi menuju rumah salah satu perawat yang saat itu dengan suka rela ingin merawat anak itu.


Dia bernama Pramesti,dia seorang perawat, dia sudah bersuami selama 8tahun belum juga dikaruniai anak,sejak itu ia sepakat merawat bayi itu,nyonya Lidia memberinya uang,untuk membiayai hidup Esti dan bayi itu,nyonya Lidia juga membuka usaha baru untuk Esti dan keluarganya agar keuangan mereka tidak goyah karna merawat bayi dengan kebutuhan khusus seperti itu pastinya membutuhkan biaya perawatan yang cukup banyak."


"Lalu,bagaimana dengan kehamilan ibuku,saat ibuku jatuh bunuh diri,bukannya perutnya masih nampak seperti ibu hamil??"tanya Brian.


"Sebelum ibumu kembali kerumah kalian,dia mengajakku menemui seseorang yang ahli dalam bedah plastik,rupanya dia sudah mempersiapkan semua,ibumu menempelkan sebuah perut palsu yang sudah dibuat olehnya, berukuran seperti kehamilan 7bulan, saat aku menanyakan untuk apa semua ini..ibumu menjawab,


Ini demi kebaikan anakku Dok,jika suatu saat nanti terjadi apa-apa,aku mohon bilang saja anakku tidak tertolong,aku tidak ingin anakku hidup dengan ayahnya,,ini akan lebih menyakitkan baginya dan bagiku. "


"Apakah perut itu..maksudanya nyonya Lidia melakukan operasi lagi untuk pemasangan perut itu?"tanya Soni seraya bergidig ngeri membayangkannya.


"Tidak,silikon itu hanya ditempel saja di permukaan luar perut belio,,ahli bedah itu sangat profesional sehingga nampak begitu nyata..dan..dan saat mendengar belio bunuh diri,aku langsung datang ke TKP,,dengan perasaan panik,prihatin dan takut,saya pun mengikutinya sampai ke rumahsakit.


Serangkaian ketegangan dan kompromi panjang dengan seluruh tim medis,akhirnya identitas anak itu tetap terselamatkan.


Dan ayahmu sama sekali tidak mempedulikan bayi itu,saat saya memberitahukan padanya bahwa adikmu sudah tiada,belio hanya mengatakan " urus semua saya tidak mau tahu! "


Dr.Anye menirukan bagaimana Atmajaya mengeacuhkan kondisi pasienya saat itu.


"Dan belio memberiku uang,namun saya menolaknya. Saya hanya ingin menjaga amanah ibumu"lanjut nya.


"Apa sebelumnya ibuku pernah mengatakan sesuatu yang mengarah pada niat untuk bunuh diri atau semacamnya?"


Tanya Brian penasaran.

__ADS_1


"Tidak tuan,saya rasa belio tidak pernah mengarah keperbuatan bunuh diri. Saya pun saat itu tidak menyangka,kalau nyonya Lidia memilih jalan itu."


"Baik,saya rasa hari ini cukup Dok,terimasih untuk keterangannya Dok,,"ucap Soni.


"Tuan Brian,saya mohon maafkan saya,,saya tidak bisa berbuat apapun untuk ibu anda. Saya pun dalam kondisi bimbang saat itu,melihat ibumu memohon,akhirnya saya mengikuti semua rencananya.


Saya sudah berjanji dengan nyonya Lidia tidak akan memberi tahu semuanya termasuk tentang anak itu,tapi saya pikir saya harus membuka semuanya sekarang,dihadapan orang yang tepat.


Saya sebagai wanita,tidak akan rela diperlakukan semena-mena,jadi kamu harus bisa menyadarkan ayahmu kalau selama ini dia salah..Oiya,ini dia nomer Pramesti yang baru,silahkan tuan menghubunginya,,"


"Terimaksih Dok,,Kami akan berhutang budi dengan anda,,kami mohon diri..permisi.." Soni menjabat tangan Dokter Anye,sedangkan Brian yang berusaha keras mengendalikan emosinya hanya bisa memaksakan dirinya tersenyum dingin dan keluar memasuki mobil.


"Maaf Dok,bos saya saat ini sedang tidak terkendali,maafkan sikapnya"


"Tidak mengapa nak,saya memahaminya.."


Dr.Anye meneteskan airmatanya,bebannya selama ini telah luruh.


"Dok,,apa dokter baik-baik saja?"tanya Soni panik.


"Saya,,saya merasa lega,,bertahun tahun saya menyembunyikan cerita ini,hanya menunggu kedatangannya,aku berharap tuan Brian bisa memahami keadaa ini,tuan Brian bisa memperbaiki semuanya dan mau menerima adiknya" Dr.Anye menyeka airmatanya.


"Dok,saya yakin dia pasti mau menerima adiknya,tenang saja..saya permisi dok" Soni melangkahkan kakinya keluar,masuk kedalam mobil,duduk di kursi kemudi.m


Brian yang sudah menunggunya lama,menyoroti Soni dengan tatapan dingin,ia terdiam mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Titah Brian pada Soni.


"Baiklah,sebaiknya kamu memang harus beristirahat di sana,karna tidak mungkin kamu pulang dengan keadaan seperti ini,,Delia pasti akan panik.."


"Jangan ceritakan apapun pada Delia,aku ingin mengumpulkan semua bukti dan mengatasi Ayahku dengan caraku!"


"Ian,,kira-kira kenapa ya ibumu memilih jalan bunuh diri untuk lepas dari Ayahmu?padahal dia bisa mengugat cerai dan beres."


"Entah! Dulu aku dengar Oma dan Opa yang kekeh menjodohkan mereka,dengan alasan bisnis"


"Hufh,,memusingkan memang" Soni menahan nafas sejenak,dan membuang nafas kasar.


"Diamlah!"


"Oke oke...oiya,tadi Delia menelpon,aku bilang kita sedang banyak kerjaan. Apa gak sebaiknya kamu hubungi dia dulu? Dia pasti mengkhawatirkanmu Yan."


"Ponselku mati!"

__ADS_1


"Pakai ponselku saja Ian"


Tangan kiri Soni mengambil ponsel di saku,lalu memberikan pada Brian.


Brianpun menghubungi Delia.


"Hallo,"


-"Hallo mas,,kamu dimana?kenapa belum pulang si Mas..Udah makan malam belum?"


Mendengar pertanyaan Delia yang panjang,Soni terkekeh. Brian melirik tajam pada sahabatnya itu.


"Kamu tidak usah menungguku,aku tidak bisa pulang malam ini,,karna masih banyak pekerjaan,makanlah dan istirahat,jangan cemas."


-"Apa pekerjaanmu sebanyak itu mas?sampai gak bisa pulang?"


"Ck,,jangan banyak tanya!aku pulang besok!" Brian langsung menutup ponselnya.


Sementara Soni menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa!apa ponselmu mau aku buang Hah!" Hentak Brian pada sahabatnya.


"Tenang Ian...tenang...Hemmm,kamu sama istri sendiri aja masih githu,gak inget apa bagaimana kamu mendapatkannya,,sekali-kali berlemah lembutlah pada wanita.


Jadi salut sama Istrimu,,bisa-bisanya dia bertahan dengan pria sepertimu heheehe.."


"Diam! Kemudikan mobilnya dengan benar!kalau kamu masih mau hidup!!"


"Oke oke bosss...siaap"


Soni mulai mengendalikan kemudinya, kembali kekantor mengikuti intruksi Brian.


***


"Ih,,!! Ni orang kenapa c!! Bawaannya sewot mulu..hemmm..."gerutu Delia sesaat setelah telpon dari Brian di matikan.


"Ya sudah,aku lebih baik kedapur,membantu bi Ijah merapikan bekas makan malam tadi.."


Delia keluar dari kamarnya,menuruni tangga,dan menghampiri bi Ijah yang tengah sibuk membersihkan perabotan bekas makan malam.


Disudut lain ada Oma yang tengah sibuk mengomentari sinetron di Televisi.


Sementara Ayah mertuannya beberapa hari ini jarang dirumah.

__ADS_1


Delia tidak pernah tahu dan tak mau tahu kesibukan Atmajaya.


"Non,ngapain kemari.."sapa Bi Ijah.


__ADS_2