Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 191


__ADS_3

"Nak,,kita harus selalu yakin,,yakinlah anak-anakmu kali ini kuat,dia adalah anugrah Tuhan sebagai hadiah dari kesabaran kalian. Kalian sudah melewati banyak ujian,berbahagialah,,jalani kehamilan ini dengan penuh keyakinan dan rasa syukur. Kamu harus optimis tidak akan terjadi hal seperti yang lalu. Oke?"


Delia mengangguk,lalu Brian memeluk istrinya,dan berjongkok mensejajarkan kepalanya dengan perut Delia.


"Selamat Datang anak-anak Ayah,,kalian anak-anak hebat,ayo beri bunda kalian semangat,biar engga manyun lagi .."bisiknya diperut Delia.


Membuat Oma dan Delia tersenyum.


***


Tepat selesai sholat magrib,


Bibi Mira beserta rombongan datang kerumah Brian.


Begitu juga Keke,Roby,bu Titi,Seruni dan kedua orang tuanya.


"Hallo bumillll.."


Sapa Keke dan Fani bersamaan.


Mereka bertiga saling berpelukan.


"Selamat juga bu mill..."sahut Delia seraya mengelus perut Fani yang juga masih rata.


Fani rupanya juga tengah hamil 16 minggu.


"Super kompak pojoknya kalian,,hamil aja barengan,," ucap Keke.


"Makanya,buruan ajak Roby meried trus bikin anak,,biar kita hamilnya barengan..mumpung masih anget-anget ni.."


"Gampang ya klo bumil ngomong,,,hmmm...Jangan halu deh,,"


"Loh kok halu??bukannya kalian udah sama-sama mengakui perasaannya,trus tunggu apa lagi??" Sahut Delia.


"Nunggu gajah bertelor!!niat juga engga kali!!"


Sewot Keke.


"Hmmmm...sepertinya lagi ada perang dunia ni,,"


Goda Fani.


"Kalau boleh berpendapat c ya,,menurutku,Roby bukan tidak siap atau tidak niat,tapi dia masih grogi,,dia,,em,,dia mungkin takut ditolak,,jadi,,pinter-pinternya kamu aja,,harus pintar kasih sinyal hee"bisik Delia.


Delia jadi ingat saat dia menolak Roby,mungkin karena itu Roby jadi takut ditolak untuk kedua kalinya.


"Kakak,,,"


Seruni yang baru turun dari mobil langsung berlari memeluk Delia.


"Hey sayangku...emuaah,,cantik banget.ci..." Delia menyambut pelukan gadis kecil dengan rambut kuncir ikalnya.


"Selamat ya Non,," ucap Bi Titi dan Bi Tati bersamaan.


"Ibuuu,,panggil aku Delia dong,jangan lupa yah.."


"Iya Nak Delia..Semoga kamu dan calon anakmu diberi kesehatan,dan dilancarkan persalinannya kelak." Bu Titi mengelus perut Delia.


"Aamiin,,terimakasih bu doanya..Mari langsung saja keruang tengah,biar lebih enak..Oma juga sudah menunggu.."


Sementara Brian menyambut kedatangan Roby dan Bimo.


"Selamat ya Ian,,"

__ADS_1


"Iya,terimakasih,doakan mereka ya Bim,"


"Selamat ya kak"ucap Roby sambil memberikan bingkisan dari kedua orang tuanya.


"Iya,,terimakasih,,apa ini?"


"Ibu dan ayahku memberikan ini untuk Delia,kata ibuku ini bagus untuk ibu hamil. Ada beberapa buku tentang ibu hamil,dan beberapa cemilan."


"Paman dan bibi kok engga ikut Rob?"


"Iya maaf Kak,kebetulan hari ini mereka berangkat ke Malaysia,dia baru mendapat kabar tadi sore dari Oma,jadi ya cuma bisa titip salam aja"


"Oke,engga papa,,ayo,,masuk!"


Makan malam berlangsung dengan penuh kehangatan dan semakin hidup dengan celotehan Seruni.


Setelah makan malam,mereka melaksanakan sholat isya berjamaah di mushola kecil yang ada halaman samping rumah Brian.


Mereka mendoakan kesehatan Delia dan Fani beserta anak yang ada dalam kandungan masing-masing.


Saat Seluruh keluarga bercengkrama,berkumpul di ruang tengah,tiba-tiba Bi Ani mendekat seraya membawa sebuah bingkisan.


"Non,,ada yang menitipkan ini ke post satpam."


Ucap Bi Ani,seraya memberikan sebuah bingkisan dan bunga.


"Apa ini bi?dari siapa?kok engga ada nama pengirimnya"tanya Delia,membolak balik buket bunga dan kado yang ia dapat.


"Tadi yang mengantar juga kurir nyonya."


"Hmmm,,ya sudah,,terimakasih ya bi"


"Bibi permisi non,mari"


"Dari siapa ya??kok engga ada nama pengirimnya" gumamnya lirih.


"Jangan diapa-apain Del,,siapa tahu itu berbahaya,,mending kamu letakan dulu nanti biar suamimu yang buka"


"Iya juga ya.." Delia membawa buket itu dan meletakannya di pojok sofa ruang tengah.


Sementara Brian yang tengah berkumpul dengan kaum lelaki di teras samping rumah diam-diam mata jelinya menangkap pemandangan Delia yang tengah membawa bingkisan dan bunga itu.


Dalam batinnya pun bertanya - tanya.


Setelah semua berpamitan,Brian langsung mengambil apa yang membuatnya penasaran sedari tadi.


"Apa yang bi Ani berikan tadi?"


"Entah mas,,tidak ada nama pengirimnya juga..makanya aku belum berani membukanya."


"Biar aku saja yang membukanya."


"Iya mas,,"


Keduanya kini duduk bersama dan membuka bingkisan itu.


"Wowww...kalung berlian mas,," layaknya wanita pada umumnya,ekspresi Delia sangat terkejut sekaligus senang melihat ada kalung berlian dihadapannya,,matanya membola seperti mau keluar.


"Tunggu! Jangan di sentuh!!" Brian menghempas tangan Delia yang hampir menyentuh barang berharga itu.


Brian mengambil secarik kertas kecil bertuliskan


"Dihari yang spesial untuk yang spesial"

__ADS_1


"Martabak kali spesial!!" Brian menyeringaj kesal,tidak menyukai pujian yang ditujukan untuk istrinya.


"Wah,dari siapa kira-kira ya mas,,kok dia tahu,,ini hari spesial,,"


"Hei! Jangan bodoh! Ini pancingan dan tantangan! Dia sengaja mengirim ini untuk memancing reaksi kita,aku ingatkan,jangan pernah sentuh barang ini!! Aku akan cari tahu siapa yang mengirim benda semahal ini tanpa bubuhi nama!"


"Hmmmm...mulai lagi deh..dektetif Konon!"


Delia melipat tangannya dan bersandar disandaran sofa.


"Aku akan belikan 5 kalung seperti ini! Jadi tidak usah melipat wajah seperti itu!" Protes Brian.


"Udah! Aku akan menyimpannya,dan buang bunga itu!"titahnya seraya membawa kota itu ke ruang kerjanya.


"Dan masuklah kekamar,istirahat!" Teriaknya dari depan pintu ruang kerjanya.


"Iya mas,," jawab Delia,,ia menyeret kakinya lemas..


"Berlian gays..hilang?ya Ampunnn..rejeki nomplok ditolah...hmmm..mas mas,,bawaannya cirigaan mulu ma orang..yang rugi akan siapa coba??"gerutu Delia.


***


08.30


Hari ini Delia bangun kesiangan karena dia tidur lagi setelah sholat subuh.


Sinar matahari yang masuk membangunkannya.


"Hmmmm,,," berlahan matanya terbuka,setengah sadar ia langsung berjalan sempoyongan,mengambil handuk dan mandi.


Setelah selesai mandi,ia meminum susu yang masih hangat,yang dibuatkan oleh bi Ani 15menit yang lalu.


Delia turun kebawah,melihat sekeliling sudah sepi.


"Mas Brian pasti sudah berangkat"


Ia tarik kursi,kemudian membalikan piring dan mulai mengambil makanan.


Bi Ani mendekat,"Non,,tadi tuan bilang,katanya nanti non Delia sebelum jam makan siang disuruh kekantor,tuan ingin mengajak non Delia makan bersama."


"Oh,iya bi,,"


"Bi,,ini peper bag siapa?" Tanya Delia saat menyadari ada peper bag besar di samping kursi yang ia duduki.


"Oh,,itu punya non Delia,tadi kurir mengantarnya,katanya tuan Brian yang memesan semalam"


"Buat aku??"


Gumamnya.


Setelah menghabiskan makanannya,Deliapun membuka paper bag.


"Baju??sama bantal duduk untuk ibu hamil?"


Ia juga membaca sebuah kertas yabg Brian tulis untuknya.


"Pake baju ini kekantor!! Awas kalau pake baju lain!!"


"Hmmm,,ada apa emang dengan baju-bajuku!! Apa istimewanya baju ini,,menyebalkan!" Delia melihat baju itu dengan saksama.


Memang sedikit berbeda,baju itu agak tertutup dan ukurannya cukup longgar.


"Bi,,tolong cuci baju ini,nanti jam 11an mau aku pakai"

__ADS_1


"Baik non" bi Ani mendekat dan mengambil baju baru Delia.


__ADS_2