
Sore harinya Delia menceritakan tentang pertemuannya dengan Atmajaya dan Widodo saat berkunjung menemui Oma.
"Sayang,,kamu jangan seperti itu lagi ya,aku takut mereka melukaimu lagi,,aku mohon,,serahkan urusan itu padaku"
"Iya mas,,maaf,,entah kenapa setiap kali aku melihat mereka rasanya semua lukaku seperti tersiram air garam mas" Delia menunjukan rasa kesalnya.
"Iya aku tahu,,tapi kamu tahu kan aku sangat mengkhawatirkan kamu sayang,,kalau mereka melukaimu gimana?"
"Kan ada mang Jajang"
"Kamu tu kalau dibilangin ya,,,"Brian mencubit batang hidung Delia.
"Emm,mas,,,aku tu ngrasa kalau kecelakaan kemarin itu Widodo ikut terlibat deh,,Ekspresinya terlihat sangat jelas mas, Aku jadi makin penasaran"
"Udah biarin aja,,sekarang kamu istirahat aja..tadi kamu udah cape kesana kemari kan"
Brian memeluk istrinya agar tidur. Ia mengunci tubuh istrinya agar tidak bisa berkutik.
"Tapi mas ..aku masih mau cerita..."
"Udaaaahhhhh bawelll simpan ceritamu besok" Tangan Brian meraup lembut wajah Delia.
"Ih,,,mas,,,kamu tu ya..."ucap Delia jengkel.
Brian sama sekali tidak mempedulikan ocehan Delia,ia memejamkan matanya,menyembunyikan wajahnya ditubuh Delia.
"Hem,,menyebalkan!"gerutu Delia.
"Maaf sayang,aku hanya tidak mau kamu dipusingkan dengan permasalahan ini,aku ingin kamu fokus dengan kuliyah mu" batin Brian,yang sedang berpura-pura tidur.
2Minggu kemudian
Akad nikah antara Fani dan Bimo akan segera dimulai.
Seluruh tamu undangan dan keluarga besar sudah berkumpul di aula hotel tempat mereka menggelar acara ijab qobul dan resepsi pernikahan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Fania Felis Soebono binti Ahmad Soebono dengan mas kawin tersebut Tunai"
Dengan tegas Bimo mengucapkan ijab qobul,hanya dengan sekali ucap.
"Bagaimana para saksi?Sah?"
"Sah...." Seluruh hadirin kompak menjawab.
Air mata Fani tak terbendung,ia tidak habis-habisnya mengucap syukur,karna pria yang ia cintai dari dulu akhirnya kini sah menjadi suaminya.
Delia dan Keke pun langsung mengucapkan selamat dan memeluk Fani dengan haru.
"Akhirnya Fan,,,loe jadi bini orang...enak ni,,," celoteh Keke seraya mengedipkan satu matanya.
"Hem...enak banget pokoknya,,makanya buruan nikah.."ejek Fani.
"Nikah sama pohon??kecengan juga belum ada,," timpal Delia.
"Ih,,,kalian tu yaa...awas ya,,,besok bakalan nyari gue yang kaya artis korea,,,hem..Brian sama Bimo lewaaaatttt..." Sahut Keke.
"Oke,liat aja besok ya Fan...udah mentok aja deh sama Roby aja gih...gak usah jauh-jauh..." Delia terus menggoda Keke.
Kedua orang tua Fani menuntun Fani ke samping Bimo untuk duduk bersanding. Diikuti oleh Delia dan Keke.
Sepasang pengantin pun menuju pelaminan.
Setelah ijab qobul,resepsi pernikahan dimulai dengan sangat meriah.
Masing-masing pasangan di persilahkan untuk berdansa. Tak terkecuali Brian dan Delia,,awalnya Brian menolak,tapi Fani memaksa mereka untuk berdansa bersama.
Seluruh tamu yang hadir terpesona dengan pasangan pengantin baru Fani dan Bimo,dan pengantin lama yang tak kalah mesranya Brian dan Delia.
__ADS_1
Sementara Keke memilih untuk duduk dan menikmati hidangan.
Roby mendekat,
"Kamu tidak ikut berdansa?"
"Hah,,tuan ,eh kak Roby ini aneh deh,,,aku mau dansa sama siapa? Sama tiang??" Celetuk Keke.
"Sama saya lah!"
Khuk khuk khuk
Keke tersedak air yang ia minum.
"Hati-hati.." Roby memberikan tissu pada Keke. Dia juga mengambil tissu untuk membersihkan jasnya yang terkena air sedikit.
"Mmmaaf Kak,,aduh,,habisnya Kak Roby bikin kaget,,"
"Gimana??mau enggak?"
"Duh,,gimana ya kak,,aku malu kak,, Noh Fani sama Delia udah ketawa - ketiwi liatin kita,kalau kita dansa,,abis deh aku jadi bulan-bulanan mereka" Keke melirik kearah Fani dan Delia yang memang sedang memperhatikan duo jomblo tulen.
"Kenapa mesti malu,ayo,,dari pada kita keliatan kaya duo Jones"
"Hah,jones???"
Keke akhirnya menuruti perintah Roby.
Mereka berdua pun berdansa dengan cangung.
Hari sudah mulai senja,Delia dan Brian mutuskan untuk segera pulang.
Soni menelpon Brian.
Dengan segera Brian memasang Earbuds nya.
"Iya Son,ada apa?"
- "Aku sedang mengikuti ayahmu,dia menuju sebuah apartemen."
"Oke,pastikan kamu mengetahui ia bertemu dengan siapa"
-"Siap"
"Oiya,apa semua alat itu sudah terpasang dengan aman?"
-"Sudah beres,berkat bantuan bi Ijah dan beberapa orang mu yang ada di rumah itu,semua terkendali. Pantau terus perkembangannya,kita jangan sampai kalah set."
"Oke,"
Brian mematikan panggilannya.
"Mas,,"
"Hem,,"
"Siapa?"
"Soni"
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa,,dia hanya melihat ayah,"
__ADS_1
"Lalu? Alat apa yang kalian maksud?"
"Alat penyadap,aku memasangnya di rumah ayah,dan malam ini aku akan memasang dirumah Widodo"
"Kamu yang akan kerumah Widodo sendiri mas?Hati-hati loh mas,,dirumah ayahmu si mungkin kamu bisa mudah memasangnya kalau dirumah Widodo bagaimana?disana kamu tidak punya mata-mata kan mas?" tanya Delia khawatir.
"Akan aku pikirkan nanti,ayo kita pulang dan istirahat".
"Mas,aku mohon,berhati-hatilah karna aku enggak mau kamu celaka lagi"
"Iya,kamu tenang saja sayang,,"
"Mas,kira-kira apa Tania juga terlibat kejadian kemarin?"
tanya Delia.
"Gimana kamu kapan wisudanya?"Brian mencoba mengalihkan.
"Kenapa si mas,setiap kali membahas mereka kamu selalu mengalihkan?"
"Sayang,aku kan sudah bilang cukup untuk mu memikirkan semua ini,,penderitaan mu dulu saya rasa cukup. Satu lagi,aku memiliki ketakutan jika kamu menjadi incaran mereka karena kamu mencoba mengorek - orek mereka. Dan ,,,dan..."
"Dan apa mas?"
"Dan aku ingin anak darimu! makanya kamu jangan terlalu banyak beban pikiran"
"Apa?? anak??"Delia terkejut.
"Iya,semua rekan kerjaku sudah mempunyai anak,sebentar lagi pasti Bimo,umurku sudah kepala 3 jadi wajar kan,aku menginginkan anak?" jawab Brian ragu,ia sesekali melirik kearah Delia yang masih terlihat menganga,terlihat jelas ia belum siap memiliki anak.
Delia masih mencerna apa yang suaminya katakan.
"Mas,aku kan sudah bilang aku mau punya anak kalau aku selesai kuliyah dan mewujudkan keinginan ibuku dan menemukan bukti-bukti kejahatan ...maaf ayahmu dan Widodo"
"Kan kamu udah selesai,Klinik juga udah ada. Kasus ayahku dan Widodo sedang aku carikan buktinya"
"Tapi aku mau nambah 1tahun lagi untuk S1 mas"
"Iya,tapi kan bisa kita mulai programnya,,aku mau mulai sekarang kamu jangan terlalu stres ya Sayang,,,please,,"
"Hem,,,akan aku pikirkan"
"kok pikirkan si,,bukanya kamu sudah sepenuhnya mempercayaiku?"pinta Brian.
Baru kali ini Delia melihat wajah sangat suaminya berubah jadi seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu.
"Iya mas,,,tapi kamu tau kan,aku akan tenang jika semua masalah tentang kematian ibuku dan ibumu sudah jelas" sahut Delia.
"Sayang,aku akan usahakan secepatnya menyelesaikan itu semua. Doakan aku saja oke..."
"Iya mas". Delia tersenyum ragu.
Ia merasa aneh,kenapa suaminya tiba-tiba meminta anak ditengah-tengah masalah yang belum kelar.
"Sebenarnya saat mengantar mu,rapat di Klinik. Aku bertemu Dokter Aan,dia menanyakan anak padaku,aku pun langsung berfikir,aku juga ingin."
"Dokter Aan,yang Dokter Kandungan di Klinik ku mas?"
"Iya,aku mengenalnya saat di Amerika"
Delia hanya diam,memikirkan banyak hal.
Disisi lain,dia juga ingin memberi Brian anak,tapi di sisi lain dia ingin melihat Widodo dan Atmajaya mendekam dipenjara.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan Sayang,aku janji akan selesaikan semua untuk membuatmu tenang"
Delia tersenyum masam.
__ADS_1