
Delia dan Brian tercengang saat sampai dirumah bibi Mira mereka mendapati Roby sudah duduk di sofa ruang tamu ditemani oleh paman Heri.
"Assalamu'allaikum" ucap Delia dan Brian bersamaan.
"Wa'allaikumsalam" jawab paman dan Roby bersamaan pula
"Hai kak Roby,apa kabar?kakak sudah lama disini?" Tanya Delia
"Baik Del,maaf ya baru tau kalau kamu udah pulang,aku sengaja pagi kemari..tapi ternyata kamunyaaa..." Roby melirik ke arah Brian yang terlihat tidak menyukai kehadiranya.
"Owh..maaf kaa sudah membuatmu menunggu,sebentar ya aku kekamar dulu,,"
Delia meninggalkan Brian dan Roby doruang tamu.
Paman Heri yang sudah siap memakai seragam kantorpun mengikuti langkah Delia ke dalam rumah.
"Del..apa kamu baik-baik saja?apa yang terjadi semalam?paman dan bibimu mengkhawatirkanmu Del.."
Paman Heri yang memang sudah seperti ayahnya sendiri menghentikan langkah Delia di depan pintu kamarnya.
"Paman,,aku baik-baik saja..nanti aku ceritakan semua ya..bibi mana?"
"Dia didapur sedang membuat minum untuk Roby"
"Oh...paman,aku mau menaruh tasku dulu ya..berat ini,,uhhh..." Delia membawa tas jinjing yang cukup berat.
"apa itu?"
"Ini,aku mengambil beberapa pakaianku yang tertinggal dirumah Brian."
"Owh..sini paman bantu bawakan.."
"Tidak usah paman,,paman kan mau kekantor.."
"Ya sudah,kamu jangan lupa sarapan paman mau pamitan dulu sama bibimu."
Paman Heri menuju dapur menemui istrinya.
**
"Kak Rey,apa semalam Delia tidur dirumahmu?"
Tanya Roby penasaran.
"Iya,semalam dikerumahku mengambil pakaiannya,dijalan dia motornya mogok,untung saja aku bertemu dengannya. Jadi kami kerumah berdua,karna sudah larut malam aku melarangnya pulang."jawab Brian datar.
"Kak,kamu tidak bermaksud mengkhiananti janjimu kan?"
"Tidak,hari ini surat pengadilan akan datang. Aku tidak mungkin memilikinya lagi." Brian membuang muka kesembarang arah.
"Apa kamu menyesal melepasnya kak?"tanya Roby lebih dalam.
Brian hanya menariknafas panjang tanpa jawaban.
"Jangan-jangan kau..apa benar kau mulai mencintainya?jawab jujur kak,melihat dari raut wajahmu sepertinya ini berat untukmu"
"Sudahlah,yang penting aku sudah memenuhi janjiku dan aku akan mencoba menebus semua kesalahanku." Brian masih menyembunyikan cintanya untuk Delia dihadapan Roby. Dia hanya tidak ingin kesekian kalinya disebut sebagai penghianat.
__ADS_1
"Kak,aku berterimakasih dengan klarifikasi waktu itu untuk Delia..dan aku ingin meminta ijin,aku ingin melanjutkan perjuangan cintaku untuknya."
"Silahkan,mencintai dan dicintai itu hak semua orang..aku bisa apa selain mendoakan kebahagiaan untuknya. Mungkin kebahagiaanya ada padamu..so buatlah dia bahagia,." Brian berusaha menahan dirinya.
"Kak Brian kak Roby mari kita sarapan bareng..ayok.."
Delia mengajak kedua pria itu kemeja makan.
"Loh dimana paman bi?"tanya Roby.
"Dia sudah berangkat,,tadi dia juga sudah sarapan..ayo,jangan sungkan Nak Roby dan Nak Brian..silahkan.."
Delia mengambilkan nasi untuk Brian dan Roby.
"Bi,,hari ini apakah aku boleh mengajak Delia jalan?" Ucap Roby tiba-tiba.
Mendengar itu Brian dan Delia tersedak bersamaan.
Bibi langsung memberikan minum pada Brian dan Roby memberikan minum pada Delia.
Brian menatap Delia dan Roby tajam,ada rasa marah dan ingin membawa Delia pergi menjauh dari Roby.
Tapi Brian sadar,Delia tidak pernah mencintainya.
"Bi,maaf sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini,,karna ada beberapa pekerjaan di kantor yang belum aku selesaikan."
Brian berdiri dari tempatnya dan mencium tangan bibi Mira kemudian Brian dan Delia saling bertatapan penuh makna.
"Mari aku antarmu sampai luar" Delia menawarkan diri,namun ditolak oleh Brian.
Langkahnya berat,sebagai laki-laki dia telah gagal mempertahankan cintanya. Hari ini,hari dimana surat cerai sampai ketangan istrinya,,esok,hari dimana sidang pertamanya atas tindakan KDRT yang dia lakukan pada Istrinya.
Meski itu memang kemauanya,tapi ini satu-satunya cara agar dirinya bisa menebus semua kesalahannya pada Delia.
Awalnya bibi Mira menolak keras keinginanya untuk membuat surat gugatan atas tindakan KDRT..tapi Brian bersikeras memaksa dan meminta agar jangannpernah mencabut gugatannya. Akhirnya dengan berat hati bibi Mira mengabulkan permintaan Brian.
"Semoga kau bahagia dengan semua ini Del..aku akan tetap mencintaimu meski kau bukan milikku lagi,,hutang piutang diantara kita sudah lunas..aku sebentar lagi memenuhi janjiku untuk melepasmu. Semoga ayahmu memaafkanku disana" batin Brian seraya mengendalikan mobilnya.
***
"Bagaimana Del..apa hari ini kamu ada waktu?sudah lama kan kita gak jalan bareng.."ajak Roby sekali lagi.
"Duh..gimana ya kaa..aku udah ada janji ninsama Fani..ntar dia ngambek lagi..mumpung hari ini dia cuti..kita mau seru-seruan bareng."
"Oke,aku antar kalian..bagaimana?"
"Emmmm...kan kak Roby ngantor??"
"Kalau itu bisa diatur..."
"Halaaaahhhh...bos emang bebas ya..giliran karyawannya bolos diomelin..huh!!" Delia masih seperti biasa,sikapnya pada Roby selalu santai dan ceplas ceplos...
Bibi Mira yang sudah sliwar sliwer merapikan meja makan ikut tersenyum mendengar celoteh mereka.
Ting tong
__ADS_1
Bibi Mira membuka pintunya.
"Selamat pagi nyonya,,apa benar nona Delia Yosla tinggal disini?"
"Oh,iya betul..ada apa ya pak?"
"Saya dari kantor ditugaskan mengantar surat ini untuk belio,dan saya minta tanda tangan belio sebagai tanda terimanya."
"Oh,,baik-baik sebentar saya panggilkan." Bibi Mira menghampiri Delia diruang tengah dan memberitahukan padanya bahwa ada surat untuknya.
"Oiya bi,aku memang sedang menunggunya,,kemarin Soni sudah memberitahuku. Kak Roby,tunggu bentar ya"
Roby yang penasaran mengangguk pelan.
Delia mengambil surat itu dan membacanya dikamar.
"Ternyata benar,ini surat cerai untukku,kak Brian benar menepati perjanjian kita,,"
Tiba-tiba tangan Delia bergetar nafasnya tak beraturan.
"Ya Allah,,ada apa denganku...tidak seharusnya aku shock seperti ini..tidak tidak..ini tidak benar..a.aa..ku harus menandatanginya..sekarang yah yah sekarang...pulpen dimana pulpenya" Delia perputar putas seperti orang kebingungan..dia terus berbicara sendiri,sembari mencari pulpen.
Akhirnya Delia menemukan pulpen dan dengan gemetar Delia mencoba menandatangi surat itu..tapi tiba-tiba bibi Mira menghentikanya.
"Tunggu!!!"
"Ada apa bi?" Delia menatap bibi Mira dengan wajah yang pucat.
"Pikirkan lagi!!bibi tidak mau kamu menyesal!! Mungkin kamu dan Roby memang terlihat dekat,tapi bibi tau tatapanmu dengannya tidaklah lebih mendalam seperti kamu menatap Brian. Besok Brian akan menjalani sidang pertamanya atas tindakan KDRT,,apakah bagimu itu belum cukup?setidaknya lihat penyesalanya."
"Tapi kami sebelumnya sudah sama-sama sepakat bi,,kalau sampai ayah benar tidak bersalah maka kami harus mengakhiri pernikahan ini..dahulu kami sudah menyepakatinya bi..dan benar,ayah dinyatakan tidak bersalah,,jadi pernikahan tanpa cinta ini memang harus berakhir."
"Apa?kapan kalian melakukan perjanjian itu?"
"Saat pindah kerumah baru"
"Deliaaa... pernikahan tanpa cinta kamu bilang. Mungkin memang kita terlambat mengetahuinya,kalau sebenarnya pernikahan kalian ada cinta didalamnya meski itu hanya ada dalam hati Brian saja..tapi tidak kah kamu mau berusaha membuka hatimu dan jujur pada hatimu?apa kamu tidak mencintainya meski itu hanya secuil?"
Delia hanya terdiam,sementara itu Brian menguping pembicaraan mereka secara tidak sengaja.
"Simpan surat itu,jangan ditandatangi dulu kalau kamu belum yakin..sekarang pergilah,tenangkan pikiranmu nanti malam kita bicarakan lagi.Tidak enak, Roby sudah menunggumu."
Delia mengangguk pelan.
Roby segera kembali ke ruang tengah berlaga tidak mengetahui apapun.
"Maaf kak,kalau boleh tau kamu mau mengajakku kemana?"
"kita cari tempat yang enak buat ngobrol lama banget kan kita ga ngobrol."
"eeemmm...sebenarnya semalam aku sudah ada janji untuk jalan dengan Fani,"
"Kalau gitu ajak Fani aja ayo.."
"aku coba telpon ya?"
"oke" jawab Roby santai.
__ADS_1