
"Bagaimana kondisi istri saya dan calon anak kami dok?"
Brian semakin tidak sabar menunggu jawaban dari dokter Sisca.
"Mohon maaf tuan,kami sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi ternyata Allah berkehendak lain,,istri anda baru saja mengalami keguguran,dan tadi kami segera melakukan kuret,untuk membersihkan rahim belio,agar tidak terjadi pendarahan hebat. Mengingat tekanan darah nyonya Delia juga rendah,kondisinya non Delia juga sudah lemas,rasa nyerinya juga semakin hebat"
Seketika Brian terlihat sangat lemas,meraup wajahnya,kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Kenapa bisa seperti itu dok,dokter tadi sore baru saja memberi tahu perihal kehamilan istri saya,kenapa sekarang ,,kenapa dok??ada apa sebenarnya dok"
"Saat USG tadi,memang kami tidak menangkap jelas ada detak jantung si janin,,karna mungkin usianya masih terbilang muda,antara 4minggu lebih,,atau mungkin karena saat non Delia kesini dalam kondisi lemah."
"Lalu kenapa bisa keguguran dok!!"
"Penyebab yang paling sering menyebabkan keguguran tahap awal, termasuk keguguran 1 bulan, adalah adanya gangguan pembentukan embrio yang disebabkan oleh kelainan kromosom. Hal ini umumnya tidak terkait dengan kondisi kesehatan non Delia. Meski demikian, beberapa gangguan yang dialami ibu hamil dapat memicu keguguran, termasuk infeksi, diabetes, penyakit tiroid, gangguan hormon, respons sistem imun tubuh, dan kelainan pada rahim.
Keguguran yang disebabkan oleh kelainan kromosom memang sulit untuk dicegah. Salah satu penyebabnya pola makan yang tidak seimbang,stres yang berlebihan,dan pola istirahat yang tidak teratur. Apa non Delia sebelumnya belum menyadari akan kehamilannya?"
"Iya Dok,kami berdua tidak tahu kehamilan itu,karena beberapa bulan yang lalu sirkulasi haid istri saya memang tidak teratur,jadi mungkin istriku mengira kalau itu wajar."
Yang sebenarnya Brian merasa sangat bersalah dalam hal ini,dia yang menyebabkan pola makan dan istirahat istrinya terganggu.
Kemarahannya menyebabkan Delia stres berat.
"Semua itu salahku"batin Brian.
"Owh,,iya iya,,em,apa sebelumnya non Delia pernah mengkonsumsi obat-obat?"
"Oh,iya dok,tapi itu hanya multivitamin"
"Boleh saya lihat?"
"Sebentar saya hubungi asisten rumah tangga saya dulu untuk mengirimkan foto obatnya?"
4 menit kemudian.
"Ini dok"
Dokter Sisca melihat foto obat yang diberikan oleh dokter Aan.
"Oh,,ini aman tuan,,ini memang multivitamin,bukan obat yang bisa memicu keguguran."
"Dok,boleh saya melihat kondisi istri saya?"
"Silahkan tuan,,"
Saat membuka tirai,Brian melihat istrinya tengah berbaring lemah,wajah cantiknya kini terlihat pucat.
Berlahan Brian mendekat,membelai rambut istrinya kemudian mencium kening yang masih dipenuhi keringat dingin.
"Maaf sayang,aku tidak menjagamu dengan baik"bisiknya.
"Kapan istri saya bisa dipindahkan ke kamar sus" tanya Brian pada perawat.
"Nanti tuan kita tunggu efek anastesinya berkurang,dan kami pantau perkembangan apakah terjadi pendarahan berlebihan atau tidak"
"Baik sus,,saya akan tetap disini menunggunya"
Kurang dari 20 menit,Delia mulai menunjukan tanda - tanda bahwa ia mulai sadar.
__ADS_1
"Masss,,"panggil Delia lirih namun matanya masih terpejam.
"Iya sayang,aku disini" Brian menggenggam tangan istrinya.
"Masss,,"
Suster mendekat dan mengecek kondisi Delia.
"Baik,tuan,,nyonya sudah bisa dipindahkan kekamar,mari tuan" Dua suster mendorong ranjang pasien ke kamar.
Brian mengikutinya sampai ke kamar.
"Tuan,jika ada apa-apa segera hubungi kami,"
"Iya sus,terimakasih sus"
Brian mengelimuti istrinya,
"Massss,,"panggilnya sekali lagi.
"Ssst,,kamu istirahat saja,aku disini"
"Pusing,,"
"Pusing ya,,sini,," Brian mendekatkan temoat duduk di sebelah kepala Delia,dia terus mengelus-elus kepala Delia dengan lembut.
"Mmmaaaaf ma sss" ucapnya lirih dan tertatih.
Brian menggelengkan kepalanya dan berbisik.
"Tidak apa-apa sayang,,tidak apa apa,, I LOVE YOU sayang"
Air mata Delia menetes,Brian membungkuk dan memeluknya.
"Sudah,,semua sudah jadi kehendak Allah,,justru aku yang minta maaf sayang,aku tidak bisa menjagamu" Meskipun Brian sendiri sangat terpukul,dia mencoba terus menguatkan istrinya.
Sebenarnya dadanyapun merasa sesak,menghadapi kenyataan bahwa impiannya kembali sirna.
"Sebentar ya Sayang,," Brian melihat dari kaca pintu ada bibi Mira.
Brian mengecup kening istrinya,kemudian ia pergi keluar menemui bibi Mira dan Fani.
"Bagaimana keadaan Delia?"
Brian menceritakan apa yang terjadi pada istrinya.
Bibi dan Fani sangat terkejut dan hampir tidak mempercayai apa yang terjadi,bibi Mira memeluk Brian yang sudah tidak bisa membendung air matanya.
"Sabar nak Ian,,kita semua juga merasa kehilangan,tapi kita harus tunjukan pada Delia kalau kita kuat,agar Delia tidak semakin menyalahkan dirinya sendiri"
"Iya Bi,,bibi,maafkan aku,,aku tidak bisa menjaganya,,aku payah bi,,aku payah,,semua karena ku bi,,aku yang menyebabkan dia keguguran bi"
"Sst,,jangan bilang seperti itu,itu sudah jadi suratan takdir yang harus kita terima. Ikhlaskan nak,,ikhlas,,,."
Brian terus terisak dibalik pelukan bibi Mira.
Sementara Fani masih syok,dia duduk terpaku dengan pandangan kosong.
Kemudian Brian melepas pelukan bibi,dan duduk disebelah Fani.
__ADS_1
"Maafin aku Fan,,maaf,,"
Bibi Mira mendekati menantunya dan memeluknya.
"Aku tidak bisa bayangkan mah,,gimana perasaan Delia sekarang,aku tidak tega mah melihatnya,,aku ,,aku tidak bisa berpura-pura kuat mah,,aku disini saja,,"
"Ya sudah,,sebentar lagi Bimo menyusul,dia masih diparkiran,,kamu disini saja menunggu Bimo ya,,kamu juga harus kuat,demi sahabatmu"
Fani tetap saja terdiam.
"Ayo,kita masuk nak"
Bibi Mira dan Brian masuk kedalam kamar. Mereka melihat Delia sudah membuka mata,namun pandangannya entah kemana,jiwanya kosong,ia tidak bisa lagi menangis.
"Sayang,,,ada bibi" Brian mencoba mendekati istrinya.
Delia menoleh kearah bibi Mira dengan mata yang berkaca-kaca.
Bibi Mira mendekat langsung mencium keningnya.
"Cepat sehat ya Sayang,,bibi tahu kamu kuat,,kamu pasti bisa,,"
Delia terisak,
"Kenapa bi,,?kenapa semua pergi meninggalkan Delia? Ibu,ayah dan sekarang,,,harapan baru yang aku tunggupun hilang,,Apa aku tidak berhak bahagia bi?apa aku tidak pantas untuk bahagia?"
Brian memalingkan wajahnya menyeka air mata yang hampir jatuh.
Ia berusaha sekuat mungkin menahannya.
"Jangan bilang gitu dong Sayang,,,Kamu berhak bahagia,mungkin saat ini kita sedang diuji agar kita bisa belajar. Bibi yakin,Allah akan memberika sesuatu yang lebih besar untukmu,sebagai buah dari kesabaran kalian."
"Apa aku tidak pantas menjadi seorang ibu bi?apa aku tidak berhak menikmati peran itu?"
Brian mendekati istrinya,mengenggam tangan istrinya.
"sayang,bagi kami,kamu sudah menjadi seorang ibu. Anak kita,anak kita sudah disurga sayang,,dia ingin melihat kita melanjutkan hidup kita dengan kebahagiaan. Begitu juga Ayah dan ibumu. Mereka akan menyambut kita disurga kelak. Jadi,kita harus kuat,kita harus bisa bertahan sayang,,aku akan selalu ada untukmu,kita pasti bisa sayang"
"Mass,,aku aku sudah mengecewakanmu,,mas,,maafin aku mas"
"engga sayang,,,aku sudah ikhlas sayang,,yang penting sekarang kita sama-sama doakan mereka,doakan anak kita,,"
"Iya Nak,,kalian harus sabar dan ikhlas,,udah,sekarang kamu minum dulu ya,,"
Bibi Mira mengambil sedotan,untuk minum Delia.
Perawat masuk keruangan untuk mengukur tekanan darah Delia dan memberikan obat melalui selang infus.
"Tekanan darah non Delia mulai naik,tapi termasuk masih rendah tuan,nanti satu atau dua jam lagi saya akan mengecek lagi"
"Terimakasih sus" jawab Brian dan bibi Mira bersamaan.
"Oiya sus,apakah dia sudah boleh makan?"tanya Bibi Mira.
"Kalau sudah tidak mual,boleh saja bu,,silahkan saja bu,,"
"Iya Sus,,"
__ADS_1
"Permisi,,"
***