
Tok tok tok
Brian membuka pintu untuk Safa.
"Masuk!temani dia aku ada di kamar Soni!"
"Baik tuan" Safa menganggukan kepalanya.
"Safa,,kemarilah,,maafkan suamiku ya,dia selalu menganggu jam istirahatmu" celoteh Delia sembari melirik kearah suaminya yang tengah mengambil ponsel di atas meja.
Brian yang tersindirpun hanya melempar lirikan tajam pada istrinya.
Sementara Safa masih berdiri cangung dihadapan Delia yang tengah berbaring.
Setelah kepergian Brian,barulah suasana mulai mencair.
"Fa,,jangan bengong disitu,kemari,duduklah disini atau berbaring saja,ini kan jam istirahatmu"
"Ta-ta tapi..i...non.."
"Jangan panggil non,santai saja,,seperti biasa..lagian ini bukan kantor,aku bukan bosmu"
"Baiklah,,em...ngomong-omong,ada apa denganmu?" Safa mendekati Delia,menatap luka-luka ditubuh Delia.
"Aku,,aku tadi tidak sengaja terserempet motor,, untung tidak parah,hanya lecet dan kakiku terkilir saja."
"Terserempet??kok bisa.." Safa semakin penasaran,ia duduk ditepi kasur tepat disamping kaki Delia.
"Aku yang kurang hati-hati tadi saat berjalan,jadi gak tahu ada motor lewat" bohong Delia.
Dia menuruti perkataan suaminya agar merahasiakan kejadian tadi dari siapapun.
"Oke,baiklah,,sini aku olesi minyak dibagian kakimu yang terkilir"
"Memangnya kamu bisa?" Delia memberikan minyak urut yang ada meja samoing tenpat tidurnya,kemudian memberikan pada Safa.
"Bisa dong,,gini-gini tanganku sakti" celoteh Safa.
"Hahahaha...bisa aja,,,oke,tapi awas ya kalau kakiku makin sakit,,aku aduin sama Brian loh,!"
Gurau Delia.
Delia sangat mempercayai Safa,karna dia tahu saat SMA dulu,dia juga pernah ikut PMR dan pernah membantu Brian,ketika kaki Brian terkilir saat turnamen Basket antar sekolah.
"Maaf ya Fa,,aku merepotkanmu.."ucap Delia,yang merasa tidak enak hati dengan kebaikan Safa.
"Santai saja Del,,oiya,gimana makan malam tadi?apa Mr. Abdulla sudah memaafkan tuan Brian?" tanya Safa sambil membalurkan minyak di kaki Delia dengan pelan.
"Hufh..Fa,..suasananya horor!ngeri.." ucap Delia meringis menahan sakit.
"Kok horor?" Pijatan Safa terhenti sejenak,ia penasaran dengan cerita Delia.
"Iya,,menegangkan banget,aku udah kaya diintrogasi macem-macem deh..mana besok aku disuruh ikut kantor lagi..tambah deg degan kan gueee...."
"Kira-kira kenapa ya Mr.Abdulla bersikap seperti itu denganmu?trus kenapa dia menyuruhmu kekantor"
"Sssttt...aw.." Delia kembali meringis kesakitan.
"Ma af maaf...sakit ya...tahan dulu Del..biasanya emang gitu,,"Safa terkejut dengan rintihan Delia.
"Oke oke..I'm fine.."
__ADS_1
"Eh,critain dong,,gimana horornya,penasaran tau.."
"Oke-oke,,,aku critain,,tapi ada imbalannya"
"Imbalan??apa?"
"Kamu harus critain selama di sini Tania dan Brian ngapain aja?"
"What??? Bisa aja kamu Del,critanya mau introgasi?? Emmm...oke,tapi janji jangan ngambek dan bilang sama tuan Brian kalau aku crita semua."
"Hah??emang mereka macem-macem sampai kamu takut??"
"Hehehe,,ya engga lah,,aku enggak enak aja..oke,sekarang kamu dulu yang cerita Del"
"Huuuh..."
Delia memanyunkan bibirnya kemudian mulai bercerita.
Sementara itu Brian yang tengah berada di kamar Soni sedang membahas mengenai kejadian tadi.
"Bagaimana Son...dimana Tania?"
"Tadi dia ada di club,saat aku kesana dia tidak menemui siapapun,di mabuk,seperti biasa. Tadi sebelum dia pergi, dia sempat mendapat kabar dari sekertaris Mr.Abdulla.
"
"Kabar apa?"tanya Brian.
"Sekertaris Mr.Abdulla bilang pagi tadi Mr.Abdulla sedang menelaah beberapa berkas mengenai perusahaan yang mengikuti tander kemarin,ada kemungkinan belio akan menarik lagi kemenangan kita. Makanya Tania tadinya ingin mengajakmu membujuk Mr.Abdulla agar tidak menggagalkan tander.
Tapi aku bilang kalau dia sudah mengajakmu dan istrimu makan malam. Eh,,tau-tau dia ngambek dan pergi. Karna aku takut dia akan mengacaukan makan malam kalian akhirnya aku mengikutinya.
"Kalau dia ingin tender ini berjalan,kenapa dalam surat ancaman itu meminta aku untuk mundur,,itu artinya bukan Tania pelakunya." Brian membuka jendela kamar menatap jauh keluar.
Soni menghampirinya,menepuk pundak Brian.
"Ini masalah kecil Ian,kamu tenang saja,besok aku pastikan pelakunya akan bertekuk lutut dihadapanmu. Seperti biasa kita selalu berhasil menangkap basah para pesaing kita."
"Sebelum ada Delia mungkin ini hal biasa dalam persaingan bisnis,aku bisa santai menghadapinya,tapi kali ini aku mengkhawatirkan Delia,keselamatannya pun ikut terancam. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang sudah menyakiti istriku!"
Rahangnya mengeras,kepalan tanganny mengeras. Alisnya yang tebal,brewok tipisnya yang masih belum ia cukur membuatnya semakin terlihat tegas.
"Iya Yan,aku paham,,tapi tetaplah tenang seperti biasa kamu menghadapi kelicikan pesaingmu."
Soni berusaha menenangkan sahabatnya.
"Sementara kamu jangan kembali dulu,tunda kepulanganmu,aku akan menghubungi Roby untuk menggantikan tugasmu bertemu dengan bi Ijah"
"Baik! "
Ditengah perbincangan mereka terdengar suara sesorang yang tengah menggedor-gedor pintu.
Suaranya berasal dari kamar sebelah,yaitu kamar Safa.
Safa yang tengah berada di kamar Deliapun mendengar dan memeriksanya,begitu juga dengan Brian dan Soni.
"Tania!!" Ucap mereka bersamaan.
Terlihat Tania yang tengah sempoyongan dibantu oleh pelayan Hotel dan pelayan Bar.
"Tuan,nyonya,ini sahabat kalian kan?"
__ADS_1
Ucap salah satu pelayan hotel yang memapahnya.
"Iya,,sebentar,saya akan membuka pintu kamarnya."
Safa meninggalkan Delia,dan membuka pintu untuk Tania.
Brian dan Soni menonton ulah Tania dengan menghela nafas panjang.
"Tuan,nyonya,,dia mabuk berat di Bar tadi,beruntung kami tahu dia mengendarain mobil rental dari hotel ini. Jadi saya membawanya kemari,"
Jelas pelayan Bar.
"Iya,terimaksih atas bantuannya,,dan ini untuk kalian berdua" Brian memberikan sejumlah uang tips untuk pelayan Bar dan pelayan hotel.
"Terimakasih taun,kami permisi" ucap keduanya bersamaan.
Brian dan Soni menggelengkan kepalanya,tak habis pikir dengan Tania.
"Kalian mau apa hah,,mau menertawakanku!! Aku gagal? Iya?? Hahaha...kalian puas!" Celoteh Tania yang tengah berbaring di kasur.
"Jangan ambil sepatuku! Kenapa semua mengambil milikku! Wanita sialan itu,mengambil pria idamanku! Ayahku!ayahku mengambil kesempatanku! Dan kamu...kamu..mau ambil sepatuku juga!kamarikan!" Dengan lemas tangan Tania meraih sepatu yang sedang dilepaskan oleh Safa.
Safa sama sekali tidak memperdulikan celotehan Tania,ia terus melepas sepatu Tania dan menyimpanya di rak.
Brian dan Soni saling bertatapan,mencerna apa yang Tania katakan di alam bawah sadarnya.
"Mengambil kesempatan maksudmu?" Tanya Soni.
"Untuk apa kamu menanyakannya! Untuk memberiku selamat?hahaha...aku tau,kamu ingin memanfaatkanku..iya kan?? Bodoh..kamu bodoh...hahaha"
"Apa kamu dibalik kecelakaan yang Delia alami tadi!" Brian sudah tidak sabar menanyakan pada Tania.
"Apa!! Kecelakaan...heh,wanita itu memang pantas celaka!! Tapi kenapa bukan aku yang mencelakakannya..harusnya dia mati ditanganku.."
"Ck" Brian mengegem erat tangannya ingin menghajar wanita yang pernah ia anggap sebagai sahabat saat kuliyah dulu.
"Ian! Sabar!" Soni mencoba kembali memperingatkan Brian.
"Kamu,,kamu tampan sekali kalau sedang marah seperti itu..hahaha,,,ayahku tidak tahu kamu begitu tampan..dia hanya tahu uang,uang dan uang.."
"Sudah,kalian pergi saja dulu,,aku akan mengganti pakaiannya.
Lagi pula,kasihan Tania,dia tengah mabuk berat,,percuma saja mengajak ngobrol dia."titah Safa.
"Eh!!! kalian mau kemana?? Kamu yang tampan..sini..ayo sini.."
"Udah yuk,pergi aja..makin kacau ni cewe!" ajak Soni pada Brian.
"Oiya Fa,,ingat kalau ada perkataanya yang mencurigakan tolong rekam dan beritahu aku ya.."lanjutnya.
"Iya,kalian tenang saja,,"
"Oiya tuan Brian,Istri anda sudah tertidur,,barusan kakinya aku pijit,semoga saja besok kakinya tidak lagi sakit." Lanjut Safa.
"Terimaksih Fa,,,aku akan kembali kekamarku,Soni kita lanjutkan percakapan kita melalui Vidio Call,,hubungi Roby juga."
"Oke Bro.."
Soni dan Brian meninggalkan Tania dan Safa.
Mereka kembali kekamar masing - masing.
__ADS_1