
"Iya sayang,,ada apa?"jawab Delia.
"Siapa itu sayang?"tanya Brian penasaran.
"Seruni,,sini ada Kakak Brian,Seruni kenalan ya.." Delia mendekatkan kamera pada Seruni.
"Hallo kak ,,saya Seruni,,kakak siapa?"
"Hallo,,em,,ssaya,,kak Brian" Brian merasa canggung,karena dia tidak pernah bercengkrama dengan anak kecil,jadi dimata Delia ini pemandangan yang baru dan terkesan kaku.
"Kak Brian,,kesini,nanti Runi kasih kue,,mama Runi hebat bisa bikin kue apa aja,,?"
"Oh ya?? Runi paling suka kue apa?"tanya Brian
"Runi suka kue..em..coklat,,cup cake. Tapi kalau makan coklat kebanyakan kata mama nanti gigi Seruni ompong."
"Memangnya gigi Seruni ompong?coba kakak liat?" Percakapan mulai seru antar keduanya. Deliapun kagum,Brian yang semula kaku tiba-tiba mulai bisa berbicara dengan anak-anak.
"Hiiiii...." Seruni menunjukan barisan giginya.
Brian pun tersenyum melihat kepolisan dan kelucuan gadis kecil yang ada dilayar ponselnya.
"Wah...Seruni harus rajin sikat gigi lagi ni..."
"Seruni rajin kok kak..."
"Oh ya,,?"jawab Brian.
"Kak,kakak ganteng kok engga ikut?"
"Hahahaha,,,ganteng?? Haduh...Runi...pinter ya...kakak engga ikut karena kakak ada pekerjaan,,lain kali ya.." Brian tertawa mendengar kepolosan Seruni.
Deliapun ikut tersenyum senang,
"Benarkah,Brian memang sudah merindukan punya anak??dengan Seruni saja dia bisa mudah akrab."batin Delia.
"Ya sudah,Kakak mau kerja dulu ya...bye Seruni yang cantik,bye kakak princess" Brian pun ikut menggoda Delia.
Delia tersipu
"Bye kakak..."jawab nya bersamaan dengan Seruni.
"Em,Seruni tadi manggil kakak ada apa ya sayang?"
"Oiya,Seruni lupa,,,kakak disuruh makan dulu sama mama"
"Oke,siap,,ayo,," Delia dan Seruni mendekat ke meja peresmanan,yang sudah tertata rapi.
***
Brian masih tertenggun setelah mengakhiri vidio call dengan istinya dan Seruni
"Ada apa denganku,anak itu sangat lucu sekali,,aku jadi ingin cepat-cepat memiliki anak,,hem,," gumamnya dalam hati.
Brian kembali menjalankan mobilnya,ia kembali pada tujuan awalnya,berkeliling mencari apotik disekitar jalanan yang Delia beritahukan.
Sampailah dia disebuah apotik yang ke tiga.
"Hem,semoga saja ini,,"
Ia turun dan melihat sekeliling ia pastikan ada CCTV di apotik tersebut.
"Permisi tuan,anda mencari obat apa?"
Tanya salah satu apoteker.
"Ssaya,,saya mau tanya sesuatu,,"
"Ada apa tuan,?"
"Apa sekitar dua minggu yang lalu ada seorang pria berumur,membeli obat ini di sini?"
Brian menunjukan foto obat tersebut.
"Bisakah kamu memeriksa sekarang?berapapun akan saya bayar karena ini penting!"
"Maaf tuan,anda harus meminta izin dengan prosedur yang ada"
__ADS_1
"Ini penting!! Pengacaraku akan mengurus prosedurnya! Yang penting saat ini aku harus pastikan dulu!oke!" Desak Brian.
"Tapi tuan"
"Oke! Kamu tidak percaya! Saya akan hubungi pengacaraku,detik ini juga dia akan urus prosedurnya!"
Brianpun menelpon pengacaranya,ia sengaja mengeraskan volume agar si apoteker mendengar.
"Bagaimana!?"
Sang apoteker sedikit ragu,
"Em,,bbbaiklah,,"
Brian rela menunggu apoteker mengecek data penjualan dua minggu yang lalu.
"Iya,ada tuan,,"
"Apakah,anda bisa menunjukan rekaman CCTV saat itu?aku mohon!"
"Bbbaiklah,silahkan anda masuk"
Brian pun mengikuti apoteker itu keruang monitor.
Cukup lama ia mencari cari..
"Coba ulang di sini,," Brian menunjukan waktu yang dia maksud.
Terlihat ada sebuah mobil seperti mobil milik ayahnya,terparkir didepan apotik.
"Ini tuan?"
"Iya,coba di zoom!"titah Brian.
"Ahhh,,tepat sekali,dia ayahku!!!"
Ucap Brian geram,membuat apoteker itu ketakutan.
"Apa aku boleh meminta rekamannya?"
"Untuk apa tuan? Apakah ada kasus pidana disini?"tanya apoteker ketakutan.
"Siap tuan."
"Sesuai janjiku,,ini" Brian memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Ini bukan suap! Terimalah!"
"Ttterimakasih tuan.."
"Sama-sama"
Setelah mengcopy rekaman itu,dan bukti transaksi Brian langsung masuk kedalam mobilnya.
Ia pukul stir dengan keras.
"Ayaaaahhhh!!! "
Brian merasa bebannya semakin berat.
Ia meraup wajahnya kasar,ia sandarkan kepalanya,dan menangis.
Kekecewaan pada ayahnya memuncak,ia sudah tak sanggup lagi membendunv air matanya.
Sebagai seorang laki-laki,mungkin ini sangat memalukan,ia sampai harus menangis.
Ayah yang dia sayangi,ternyata adalah penjahat yang sebenarnya,ia menghancurkan segalanya.
Ia malu pada istrinya,ia malu pada dunia kalau dia memiliki ayah seperti Atmajaya.
Cukup lama ia menerima kenyataan ini,
"Ayah,,Oma pun akan kau korbankan demi ambisimu?? Tega sekali kamu yah?"batinya.
Setelah cukup tenang,Brian memutuskan untuk bertemu Soni dikator untuk membicarakan rencana selanjutnya.
***
__ADS_1
3jam kemudian,seperti dugaan Brian.
Atmajaya pergi ke apotik tersebut,dengan tujuan ingin menghilangkan jejaknya.
Karena ia kehilangan nota pembayaran,ia baru ingat kalau nota itu ia simpan disaku celana.
Ada kemungkinan bi Ijah mengambilnya saat mencuci.
Ia khawatir jika bi Ijah buka mulut.
"Aku harus lenyapkan bukti tersebut sebelum Brian menyelidikinya."
Tapi sayang,sebanyak apapun uang yang ditawarkan pada apoteker.
Apoteker itu tetap bungkam,ia menuruti intruksi dari Brian.
Atmajayapun geram,ia hampir lepas kendali akan memukul apoteker itu.
Namun beberapa orang disana mencegahnya.
Dengan perasaan malu,iapun akhirnya pergi.
Hans tiba-tiba saja menelpon ayahnya.
"Hallo,,ayah,,"sapa Hans.
"Ada apa Hans?"
"Ayah kenapa? Nafas ayah terengah-engah..apa ayah sakit?"
"Tidak,ayah sedang banyak masalah dikantor,ayah baru memarahi salah satu staf ayah. Ada apa nak?"
"Apakah ayah lupa?ayah janji akan ke Bali sebelum aku ke Lombok."
"Aduh,maaf nak,ayah lupa,,kamu berangkat saja ke Lombok jangan tunggu ayah."
"Yah,ibu mau bicara,dari kemarin ibu telpon ayah tidak menjawabnya"
"Oke baiklah berikan ponselmu pada ibumu"
"Hallo mas,,"
"Iya,apa?"
Yesi masuk kedalam kamar dan menguncinya.
"Mas! Kakaku dipenjara dan kamu diam saja!! Adik macam apa kamu mas!!"protes Yesi.
"Apa kamu menelponku hanya untuk ini!!"
"Mas!! Siapa lagi yang aku tanyakan selain kamu!! Tania sedang ada di Dubai,dia tidak boleh tahu ayahnya dipenjara."
"Kenapa kamu diam mas!! Cari cara dong biar kakaku bisa keluar! "
"Itu semua karena ulah kakakmu sendiri!! Dia berani membocorkan rahasia hubungan kita pada Brian! Dia juga mengancam si dokter itu. Dan keluarga dokter itu tidak terima!"
"Memangnya kenapa kalau hubungan kita diketahui! Sudah cukup lama aku bersabar ya mas!!! Lagian apa yang kamu tunggu! Toh Istrimu yang sok itu sudah mati! Bilang aja kamu engga bisa hidup sendirian dan memilihku untuk menjadi penggantinya. Gampang!! Kita nikmati harta yang kamu kelola."
"Hah,mulutmu kalau ngomong mudah ya!! Kotak itu belum ditemukan! Aku menunggu Delia menemukannya! Karena aku tahu,Delia pasti mampu menemukan kotak itu! Begitu kotak itu ditemukan olehnya,aku langsung merebutnya. Aku tidak mau kehilangan jerih payahku,paling tidak Golden big atau HR grup menjadi milikku secara resmi."
"Tinggal minta aja ma anak kesayanganmu!!"
"Apa kamu pikir semudah itu??dia sedang menyelidiki kematian ibunya! Gara-gara mulut kakakmu itu,Brian jadi menuduhku yang telah membunuh ibunya! Lalu bagaimana bisa aku meminta Brian untuk mengubah surat kepemilikan perusahaan,sementara surat-surat perusahaan itu semua ada dikotak itu!"
"Kamu payah mas!semua berantakan karenamu!!"
"Berhenti menyalahkanku!! Apa usahamu untuk membantuku!! Kamu hanya bisa menuntut!!"
"Oke! Jangan salahkan aku jika aku turun tangan,kamu tunggu saja!!"
Tut tut tut
Yesi memutus panggilannya.
Atmajaya yang sedang kacau pun terpancing lagi emosinya.
"Sialan!!! Aku harus apa sekarang!!"
__ADS_1
Atmajaya pun memutuskan untuk menjenguk ibu mertuanya,agar tidak membuatnya curiga.
"Aku yakin,Brian tidak di rumah sakit,dia pasti ada dikantor. Aku harus kesana,,"