Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 112


__ADS_3

Tania kembali duduk merasa kesal dengan penolakan Brian.


Tatapannya ia alihkan pada Kris diluar ruangan yang tengah memberontak beradu mulut dengan bodyguard Brian dan Security.


Tania merasa tidak asing dengan pria tersebut,Ia mencoba mengingat-ingat namun ia tetap saja belum bisa mengingat sosok pria itu.


Mr.Abdulla berdiri untuk menyampaikan pemegang proyek terbesarnya.


"Terus terang saya merasa kecewa atas kejadian hari ini.Awalnya,saya merasa kecewa dengan Tuan Brian.Saya akui,saya termakan dengan pemberitaan miring tentang anda,tentang perselingkuhan anda dengan wanita itu. Menurut saya,dalam sebuah hubungan baik itu hubungan keluarga ataupun dalam dunia kerja,Kepercayaan,Kesetiaan dan Tanggungjawab itu penting.


Sempat saya berfikir tuan Brian adalah pengusaha yang kurang kompeten. Tapi setelah mendengan dan menyaksikan apa yang ada dilayar tadi. Aku akui,penafsiranku tentang tuan Brian salah,,aku meminta maaf untuk keraguanku.


Keberaniannya,ketangguhannya,dan pengorbanannya untuk melindungi istrinya patut kita apresiasikan"


Mr.Abdulla bertepuk tangan diikuti dengan peserta rapat yang lainnya.


"Baiklah,langsung saja,,saya tetapkan pemegang proyek terbesar sudah saya pastikan jatuh pada perusahaan HR group Indonesia. Saya ucapkan selamat untuk Tuan Brian beserta teamnya.


Saya yakin,anda akan berhasil memegang proyek ini karna ada wanita hebat dibelakang anda yaitu,Istri anda nyonya Delia."


"Saya juga akan memberikan proyek lain untuk beberapa perusahaan yang sudah bersedia menghadiri rapat hari ini yang sudah bersaing secara sehat. Sekertaris saya akan umumkan perusahaan mana yang berhak mendapatkan proyek tersebut,,silahkan.." Mr.Abdulla mempersilahkan sekertarisnya untuk melanjutkan.


Mr. Abdulla mendekati Brian memberi ucapan selamat padanya.


"Selamat dan maaf atas ketidak nyamanan kalian selama di Dubai. Saya akan bantu anda memproses mereka yang terlibat."


"Terimakasih Mr. Abdulla" jawab Brian.


"Sama-sama,oiya,setelah ini langsung keruangan saya untuk mengambil beberapa berkas surat perjanjian kita."


"Baik tuan."


Setelah beberapa saat,Brian,Delia dan Tania memasuki ruangan Mr.Abdulla untuk menandatangani surat perjanjian kontrak.


"Maaf tuan,Saya harus kembali ke Rumah Sakit."


Ucap Brian.


"Oke,silahkan,,untuk pengerjaan proyek ini saya siap menunggu sampai anda benar-benar pulih"


Jawab Mr.Abdulla yang mulai hangat.


Ia sudah tak sedingin pada saat awal pertemuan mereka.


Itu karna,Kris yang semula mengetahui Brian akan menjadi pesaing terberatnya mulai menyebar fitnah tentang keburukan Brian.


Termasuk tentang pernikahan Brian yang dilandasi Dendam.


Oleh karena itu,Mr. Abdulla mengajak Brian dan Delia makan malam bersama,ia mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetes apakah diantara mereka benar hanya ada dendam ataukah itu hanya fitnahan belaka.


Benar,Mr. Abdulla tidak menemukan ada kebencian dalam sorot mata sepasang suami istri tersebut.


Akhirnya,Mr. Abdulla kembali melihat kebesaran cinta diantara keduanya saat mengikuti rapat.


Mereka sama-sama rela berkorban.

__ADS_1


Terlebih,Brian sangat berani dan pandai dalam memecahkan masalahnya.


***


Di tempat lain.


Ada Robi dan Hans yang sama-sama tengah menjalankan peranya.


Hans sedang menyelidiki siapa pemilik akun yang mencoba menfitnah Delia dengan dirinya.


Disisi lain ada Roby yang siap menjalankan misinya.


Ia tengah menunggu si wanita yang ia mintai tolong untuk menemui bi Ijah.


Dengan perasaan cemas,dan was-was ia terus memantau pergerakan wanita itu melalui mini camera yang ia pasang di tas jinjing wanita tersebut.


Wanita yang sudah siap dengan Earpiece nya,ia sengaja menggunakan jilbab saat menemui Bi Ijah.


Wanita itu tidak lain tidak bukan adalah Keke.


Yang saat ini sudah sah bekerja di kantor Roby.


"Ke,kamu harus waspada,karna bi Ijah juga pasti diawasi oleh bodyguard paman."


Keke hanya terdiam mengangguk.


Ia mecoba mendekati bi Ijah dengan clue clue yang sudah disepakati sebelumnya.


Bi Ijahpun sudah paham dengan ciri-ciri wanita yang menjadi pengantar pesan untuk Brian.


Dengan segera bi Ijah mencoba lebih mendekat ke arah Keke.


Bi ijah sengaja juga berpura-pura memilih milih Sayur kemasan dengan tetap mengacuhkan Keke.


Tangannya ia masukan lebih dalam ketumpukan sayur,ia merekatkan pada kemasan sayur Buncis. Ia tidak mengambil sayur itu melainkan hanya mengetuk ketuk bungkus sayur 5kali dengan jarinya. Sementara kepala bi Ijah sengaja menoleh ke sisi lain seperti sedang melihat-lihat sayuran dan buah buahan disebelahnya.


Keke yang sudah menyadari gerak gerik bi Ijah pun memahami maksudnya.


Setelah bi Ijah beralih ke rak Buah yang cukup jauh barulah Keke berpura-pura memilih sayuran,kemunian mengambil kemasan buncis,yang dibawah lambar sterofoamnya sudah ada sebuah kertas menempel.


Keke sengaja mengambil beberapa sayuran dan belanjaan lainnya agar tidak mengundang kecurigaan.


Setelah hampir setengah jam Bi Ijah menunggalkan supermarket.


Barulah Keke menemui Roby dimobil yang terparkir cukup jauh.


"Hufh,,jantungku hampir copot! Pekerjaan yang menegangkan,,kapok kapok" gerutu Keke sambil bersandar dikursi depan.


"Jangan menggerutu! Ini salah satu tes pertama kamu masuk kerja dikantorku" tegas Roby.


"Haduh..tapi gak gini juga kali pak..eh,tuan"


Roby pernah memprotes para karyawannya yang memanggilnya pak,karna itu terlalu tua baginya yang masih melajang.


"Ck,cepat kita pergi dari sini!" Roby menjalankan mobilnya menuju kekontrakan Keke.

__ADS_1


"Kok kesini tuan?bukannya,kita harus kekantor." Tanya Keke.


"Apa kamu mau diketawain karyawan lain karna belanjaanmu yang banyak itu! Lagian beli blanjaan seabreg kaya mau buat hajatan" protes Roby.


"He,,,habis saya bingung tuan,mau ambil apa,lagian kan gugup juga kali berada diposisi saya tadi. Sayurnya ini mau dikemanakan tuan?"


"Terserah! Ayo turun,kita masuk!"


"Em,,iya tuan," Keke dan Roby turun bersamaan.


Setelah masuk kedalam kontrakan,Keke mempersilahkan duduk pada Roby.


"Maaf pintunya aku buka saja ya..gak enak sama tetangga kontrakan." Ucap Keke.


Keke tinggal di kompleks kontrakan kecil yang tidak terlihat mewah,namun terlihat rapi dan bersih.


"Oke,,oiya,mana pesan itu!"


"Sebentar"


Keke membuka plastik belanjaannya,ia mencari buncis kemasan yang tadi ia ambil.


"Nah ini dia,,," Keke menyerahkan kemasan sayur itu pada Roby.


"Misi emak-emak gak jauh-jauh dari urusan dapur" protes Roby.


"Udah,ga papa,jangan protes tuan,,eh Kak"


Roby juga selalu memprotes Keke ketika diluar kantor harus memanggilnya Kakak.


Terkadang Keke merasa jengkel dengan permintaan Roby yang selalu membuatnya kerepotan.


Roby memberikan sorot mata tajam pada Keke.


Keke tertunduk ngeri melihat sorot matanya.


Roby melepas kertas yang menempel pada sterofoam dan membacanya.


"Tuan,Dokter Anye sepertinya bersekongkol dengan tuan Widodo. Saat saya sedang membuang sampah di halaman belakang,saya mendengar Tuan Widodo menelpon seseorang. Dia mengatakan Apakah Dokter Anya sudah menuruti kemauannya? Apakah rekaman itu telah sampai pada Brian?Dan dia ingin memastikan bahwa Dr.Anya sudah tidak lagi di Jakarta.


Sesuai keperjanjian diantara mereka.


Selain Nyonya Alya seingat ku Nyonya Lidia mempunyai sahabat lain,saya sering mendengar saat nyonya berbicara dengan nyonya Alya. Mereka sering menyebut nama Pras.


Bibi dengar mereka berteman sejak SMP. Mungkin tuan bisa menggali informasi darinya.


Maaf tuan bibi selama ini bungkam,karna bibi takut.


Bibi merasa kasihan dengan nyonya Lidia selalu jadi pelampiasan kemarahan tuan Atmajaya.


Segera cari kebenarannya,agar nyonya Lidia tenang.


"Sial!! Kita semua sudah dibohongi oleh Dokter itu!!" Roby merasa kesal,Brian dan Soni sudah menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Dr. Anya.


"Em,,maaf kalau boleh tau,Apa hubunganmu dengan Brian,kok kamu bisa terlibat dengan permasalahan mereka yang kompleks ini?"

__ADS_1


__ADS_2