
Keesokan harinya,siang hari Delia berbelanja di minimarket ditemani bi Ani,Delia melihat Hans keluar dari mini market.
"Kak Hans??"
"Maaf mba,jangan panggil aku kak,sekarang kan kamu istri Kakakku" ucap Hans mengingatkan kesekian kalinya pada Delia yang masih saja memanggilnya Kakak.
"Oiya,,he..lupa..kamu lagi ngapain disini?"
"Aku habis dari lapas,sengaja mampir beli sesuatu,,oiya ka,,maaf,,bisa kita bicara sebentar."ucap nya seraya menunjuk bangku didepan mini market.
Delia mengangguk pelan,penasaran dengan apa yang ingin adik iparnya katakan,melihat raut wajahnya sepertinya ini cukup penting.
"Bi,,bibi bisa tolong belikan apa yang ada pada daftar belanjaan yang tadi saya buat?"
"Baik non,,"jawab Bi Ani.
"Mau bicara apa Hans?"
"Emmm,,apa apa kemarin kak Brian menceritakan sesuatu?"
Hans sedikit ragu,karena Brian melarangnya menceritakan pada Delia tentang kejadian kemarin.
"Oh,adegan bar bar kalian!"
Hans sedikit lega mendengarnya,itu artinya Brian benar-benar sudah bercerita pada istrinya.
"Iya mba,aku sangat berterimakasih untuk semua pengorbananya. Dan,,dan,,"
"Dan apa?"
"Aku tidak yakin mba,kak Brian mau,,tapi,,aku harus mencoba"
"Maksudmu?"
"Barusan aku dari lapas,aku ceritakan semua pada ibuku,,ibuku sangat malu pada kalian,ibuku ingin secara pribadi meminta maaf pada kalian,,begitu juga pamanku,,aku berharap,kalian masih bisa memaafkan mereka ka,,aku berharap sekali ini saja kalian mau menemui mereka"
"Terlalu banyak luka yang mereka berikan pada kami Hans,aku kehilangan segalanya karena mereka,banyak yang menderita karena mereka,,sebenarnya,memaafkan itu sedang aku upayakan meskipun berat saat bayangan masa lalu itu melintas."
"Aku tahu mba,ini sangat sulit dan rasanya tidak mungkin,,ibu dan pamanku tidak mungkin bisa memperbaiki semua meskipun sampai kematian menjemput mereka" Hans tertunduk lemas dan malu.
"Kamu benar,tidak ada yang bisa menghapus luka yang teramat dalam ini,,tidak ada yang bisa mengembalikan kedua orang tuaku,dan ibu mertuaku,dan para korban lainnya. Tapi,,tidak ada keberkahan dari sebuah dendam. Jadi,mba akan berusaha membicarakan ini dengan kakakmu,,mba butuh waktu ya Hans,tolong kamu bersabar"
"Terimakasih mba..terimakasih..."
"Kamu tenang saja,,mba akan berusaha,ya sudah mba masuk dulu ya,,kamu mau kembali kekantor kan?"
"Iya,,sekali lagi terimakasih mba,,aku yakin hanya kamu yang bisa membujuk Kak Brian"
"Insya Allah,,udah ya,,duluan"
Hans mengangguk mempersilahkan kakak iparnya masuk ke mini market.
Setelah pertemuan itu,Delia berfikir keras harus memulai dari mana ia bisa membujuk suaminya.
21.00
Saat keduanya tengah membaringkan tubuhnya di perbaringan ternyaman.
"Mas,,tadi aku bertemu dengan Hans?"
"Hm?Hans? Dimana?kok bisa?kalian janjian?" Brian melirik Delia dengan mengerutkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Maassss,,,"
"Hehehe,,iya iya,,terus"Brian tersenyum
"Aku bertemu dengannya di mini market. Dia menyampaikan pesen dari ibunya dan pamannya kalau,,"
"Kalau apa! Apa mereka belum puas hukuman mereka akan di perberat dengan kejadian kemarin?"
"Bukan mas,,mereka hanya ingin meminta maaf denganmu,dengan kita itu saja"
"Hah,,baru kemarin menabuh genderang perang sekarang mau minta maaf,apa mereka pikir ini lelucon!"
"Mas,,apa selamanya kita akan seperti mereka,hidup menanggung dendam?"
"Apa kamu dengan mudahnya bisa melupakan kepedihanmu akibat ulah mereka! Lihat aku! Aku hampir saja kehilangan kamu dan anak-anak,,coba bayangkan bagaimana jadinya aku jika kehilangan kalian?aku bisa mati tanpa kalian!"
Delia langsung mengantupkan bibirnya,sepertinya masih sulit untuk membujuk suaminya yang memang masih sangat terluka.
"Sayang,tidurlah,,hari ini kamu pasti lelah,,"
Cuppp..Brian mengecup bibir Delia cepat. Lalu ia beranjak pergi,
"Mau kemana mas?"
Tanya Delia cemas.
Brian tersenyum,
"Aku mau keruang kerjaku dulu sayang,,mau mengirim file ke Soni,,"
Delia mengangguk,kemudian ia membaringkan tubuhnya dan tidur.
Rombongan pengantin pria sudah sampai di halaman luas yang dipenuhi oleh dekorasi pengantin modern bernuansa gold.
Setelah melalui proses panjang,akhirnya perjalanan cinta rok and roll antara Keke dan Roby pun berlabuh.
Gaya pernikahan mereka terbilang cukup simple dan unik.
Keke yang agak tomboy dan ceplas ceplos harus menahan diri untuk sesaat demi mengumbangi kaun cantik yang sudah ia kenakan.
"Ceileeeh...jadi wanita tulen ni..akhirnya setelah sekian purnama,,bisa juga pake gaun super duper ribed ini" celoteh Delia saat menemui Keke di kamarnya.
"Diem lu emak-emak rempong,,bantuin gue dong biar ga gugup..jantung gue engga aman ni.." Keke menarik tangan Delia kemudiannia letakan didadanya.
"Halahhhh..sok sok an lu,,bukannya lu yang nyosor Roby duluan,,yang ada sekarang Roby yang deg degan,,karena sebentar lagi akan ada dibawah kuasamu hahaha..." Timpa Fani.
"Sembarang!"
"Udah gih,,ayo ke depan,,sepertinya acara ijab qobul akan dimulai,,"
Mereka bertigapun keluar dari kamar dan menuntin sahabatnya duduk bersanding dengan Roby.
Acara ijab qobulpun dimulai,dan benar Roby nampak gugup saat mengucapkan ijab qobul,,hingga diulang dua kali dan sah.
Satu persatu tamu dan keluarga memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
"Mas,ayo kita pulang,,kasihan si kembar udah cape,," Delia mengambil alih Al dari tangan bi Ani,Al merasa kurang nyaman jadi dia sangat rewel sementara El tengah tertidur pulas di kereta dorong yang dibawa baby Sister mereka yaitu bi Yuni.
"Ya sudah,kalian masuk ke mobil dulu,,aku akan pamitan"
"Iya mas"
__ADS_1
Delia,bi Ani dan bi Yuni pun mengikuti perintah Brian.
***
Sesampainya dirumah,mereka membawa Al dan El ke kamar khusus mereka yang berada disebelah kamar Brian dan Delia,,kamar mereka cukup luas dengan desain interior karakter kartun tayo dan thomas...
Bi Ani merapikan barang bawaan majikannya,sementara bi Yuni dan Delia membersihkan tubuh Al dan El seeta mengganti pakaian mereka agar lebih nyaman.
Begitu juga dengan Delia,ia membersihkan diri lalu kembali kekamar anak-anak melalui pintu yang menghubungkan langsung ke kamar mereka.
Setelah puas meminum ASI,Al dan El kembali tidur,Delia kembali ke kamar,menemani suaminya yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Kamu engga tidur siang mas?"
"Nanti saja,masih banyak berkas yang harus aku selesaikan,,"
"Mas,,aku dapat kabar dari Hans,katanya kondisi ibunya belakang ini kurang baik,karena dia tidak terbiasa dengan makanan dipenjara,,dia ingin kamu bisa menemuinya mas"
Ucap Delia pelan.
Tanpa berkata apapun Brian menutup laptopnya lalu pergi.
Dalam ruang kerjanya Brian menyandarkan punggungnya dikursi putar.
Ia manatap langit-langit dan menarik nafas panjang.
"Sebenarnya terbuat dari apa hatimu Del,hatimu begitu besar menerima semuanya begitu saja,sedangkan aku,,aku harus butuh perjuangan untuk memaafkan mereka"batinnya.
Cukup lama Brian melamun,sampai ketukan pintupun tak terdengar ditelinganya.
"Maaf tuan,saya masuk,"
Kata Bi Ani pelan,dan cukup membuat Brian terkejut,ia menurunkan kaki yang semula ia luruskan di atas meja.
"Bibi!"
"Maaf tuan,saya sudah mengetuk pintu,karena pintunya sedikit terbuka jadi saya masuk,,sekali lagi maaf tuan"
"Oh,iya engga papa bi,,ada apa?"
"Ada tuan Hans"
"Hans??suruh dia masuk"
"Baik,"
Bi Anipun mempersilahkan Hans masuk keruang kerjanya.
"Ka,,"sapanya.
Dengan nada dingin Brian bertanya "Bukanya kamu tadi masih diacara pernikahan Roby?"
"Iya kaa,barusan aku mendapat kabar kalau ,,em,,kalau ibuku dilarikan ke rumah sakit"
Brian menyeringai sinis
"Kenapa kau kemari?apa ini rumah sakit?"
"Ka,aku mohon,ijinkan ibuku menyampaikan maafnya padamu,,"
"Dan kamu pikir aku akan dengan mudah memaafkannya?"
__ADS_1