
Sampailah mereka pada sebuah tempat,dimana jalanya masih kasar tak beraturan,letaknya cukup terpencil dan jarak antara rumah satu dengan yang lain cukup jauh terhalang oleh perkebunan.
"Apa kamu mengikuti ajudan ibuku sampai sini Jon?Kamu yakin,,ini kampung ****?"tanya Hans.
"Iya,aku ingat,,aku yakin tuan,,ini jalannya,dan,,em,,rumahnya..nah,,itu dia tuan,,rumah diujung sana,,tapi mobil kita harus parkir disini,aku akan periksa dulu apakah mereka ada didalam atau tidak."
"Hati-hati,,headset stand by Jon!" Titah Brian.
Joni yang berpenampilan seperti premanpun turun,dan berjalan mengendap-endap memastikan apakah ajudan itu ada didalam atau tidak.
"Bos,didalam sepertinya ada dua orang lebih,,"
Ia berbicara melalui head set nya.
"Hati-hati Jon,,"
"Siap"
5 menit kemudian
"Gawat,ini markas Bos,,"
Sahut Joni,,
"SIAPA KAMU!!!" Tiba-tiba ada yang menegur Joni dari arah belakang.
"Mmmaaf tuan,,sssaya,,,sssaya cuma sedang pastikan apa benar ini rumah Zen?Saya diperintahkan oleh Nyonya Yesi.
"Hmmm?Yesi?"
"Iya,,Widodo,apa Zen didalam?"sahut Joni.
"Masuk!"titah orang berperingai tak kalah sangar.
Sementara di mobil.
"Sial!!! Joni ketahuan! Sekarang dia ada didalam"
Ucap Brian kesal.
"Kita gimana Ian!?"tanya Soni.
Brian mengangkat satu alisnya menatap Hans dan Soni dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Hmmm...ada aroma aroma engga enak ni,,hmmm"Soni sepertinya sudah bisa membaca pikiran Brian.
"Hee...Hans,,apa kamu pernah memakai sabuk??"tanyanya pada Hans yang duduk di bangku belakang bersama Soni.
"Sabuk?maksud kakak?"
"Jelaskan Son.."titah Brian.
"Karate karate...hah pernah engga lu?apa cuma silat jalanan.?"
"Oh,pernah,Sabuk hitam Shodan "
"Wow,,engga nyangka gue" Soni menepuk pundak Hans.
"Gue Kyudan,dan kakak lo yang kaya singa itu sudah sampai Judan bro,,belum dia waktu di Amerika juga belajar bela diri lainnya. Jadi jangan heran,diam-diam dia petarung handal"
Ujar Soni bersemangat,namun Brian langsung menimpali dengan dingin.
"Sudah iklannya!! "
"Heee,,,biar adek lu ngerti Ian,,"
"Ayo,saatnya olah raga."Ajak Brian seraya memberikan senyuman miring diwajahnya.
"Eitz,,biar kita aja Ian,,lo kan baru sembuh,,entar gue kena semprot ma pawang lu! Inget luka diperut!!"
"Kali ini aku janji tubuhku tak tergores sedikitpun, Satu goresan 20 juta untukmu"
__ADS_1
Soni langsung bersemangat membuka pintu mobil seraya berkata " Anggap kita sudah sepakat,,Ayo!!"
Hans hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua pria dewasa yang terkadang menyebalkan baginya.
Layaknya film aktion dengan 3 jagoan neon,,
Mereka bertiga berjalan bersama dengan penuh semangat menghampiri markas.
"Satu,dua tiga,,,enam ha tujuh,delapan" gerutu Soni seraya menghitung jumlah orang dihadapannya.
"Apa TKmu belum lulus,,Ayo!" Ajak Brian,untuk masuk,mendekati segerombolan orang yang sudah bersiap menyambutnya.
"Lepaskan Joni,kami kemari hanya mencari Zen!" Suara Brian datar,tatapannya tajam memperhatikan wajah mereka dengan seksama.
"Untuk apa mencarinya!"jawab salah satu anggota.
"Kamu tahu dia?dia adalah anak dari bosnya,,dia ingin menyampaikan pesan"
Soni menunjuk kan jarinya pada Hans yang masih terlihat tenang.
Melihat Hans ada disitu,Zenpun keluar dari satu ruangan.
"Hans?"ujarnya.
"Iya! Aku Hans,,aku membawa pesan dari ibuku!"
"Masuklah,tapi hanya Hans!"
Brian yang merasa khawatir sempat mencegah adiknya,namun Hans memberi anggukan meyakinkan kakaknya.
Disebuah ruangan tanpa basi-basi Hans mencoba berunding.
"Dimana Orang suruhanmu yang ditugaskan untuk menghabisi Reymon?"
"Untuk apa kau mencarinya! Bukannya pamanmu menyuruhnya bersembunyi?"
"Iya itu kemarin,sekarang tidak,,serahkan dia pada kami!"
"Cepat katakan dimana dia!"
"Aku,tidak akan menyerahkan dia,,"
"Apa alasannya?"
"Alasan?hah,aku tidak butuh alasan apapun,,"
"Cepat katakan atau..."
"Atau apa!" Zen menegakkan badannya,menantang kepalan tangan Hans.
"Heh,,apa kau lupa?siapa orang yang kau cari?kau benar-benar lupa hah?"pertanyaan dari Zen membuat Hana semakin bingung.
"Dia,adalah orang yang beberapa waktu yang lalu,yang kau pukuli tepat di depan tokomu! Dia melakukan itu dalam kedaan mabuk,dan atas suruhan Widodo! Tapi apa! Mana janji keluargamu akan melindungi kami jika salah satu dari kami dipenjara.!! Aku sudah susah payah bekerja dan mendapatkan kepercayaan dari paman dan ibumu,kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,,ini adalah penantian kami,melihat kalian sama-sama mendekam dipenjaran Hahahah,,"
Brian yang mendengar sayup-sayup percakapan Hans dan Zen akhirnya memincang emosi Brian.
Meskipun dihadang oleh teman -teman Zen,ia terus memaksa masuk.
Bukan Brian namanya jika tidak bisa melumpuhkan orang yang ada dihadapanya.
"Oh,,jadi temanmu yang melecehkan istriku! Kalian harus tahu siapa saya!"
BUGH.
Satu pukulan dilangkan pada Zen.
"Cepat katakan dimana bedebah itu!!!"teriak Brian seraya menarik kerah baju Zen.
Melihat Zen dipukul,anak buah lainnya kembali bangkit dan pertarungan pun terjadi,Zen berhadapan dengan Brian,sementara Soni,Hans dan Joni menghadapi preman lain yang jumlahnya cukup banyak.
Ditengah perkelahian,mata jeli Brian melihat sekelibat orang keluar melalui jendela.
__ADS_1
"Itu Dia!" Ia langsung mengambil langkah dan lari mengejar pria yang ia cari.
Sementara Soni,Hans dan Joni berusaha mengalahkan para preman.
Kejar-kejaran diantara Brian dan pria itu pun berlangsung sengit,pasalnya ia mengambil jalur cukup berbahaya,hingga tepi hutan.
Naas,Pria itu justru tergelincir ketepi jurang saat hendak di gapai Brian.
Untungnya pria tersebut bergelantung di akar pohon.
Dari atas Brian menatapnya dengan berkacak pinggang.
"Hah! Nyawamu ada diujung tanduk sekarang!! Mana yang ingin kau pilih! Mati jatuh dari jurang atau,,,"
"Ampun tuan,,ampun,,aku mohon,,to to tolong aku tuan!"
"What?tolong?? Kau tau siapa aku?? Reymonpun koma karena tanganku,,dan kau,,kau telah meringankan bebanku untuk membunuhnya. Oke,aku ucapkan terimakasih,,aku akan menolongmu,tapi dengan satu syarat!"
"Apa itu tuan??"
"Akui kejahatanmu! Dan jangan sekali kali kau kembali kabur dari penjara!! Aku tahu siapa kau!!"
"Bbbbaik tuan,,bbbaik,,"
"Aku akan menolongmu,jika kau mengingkari janjimu maka nasibmu akan sama dengan Reymon,,terlebih aku tahu kau adalah orang yang pernah melecehkan istriku,,bodohnya aku tidak mengenalimu!! Jambang dan kumismu cukup bagus untuk mengecoh!"
"Ce cepat tuan,tolong aku,,tanganku sudah tidak kuat"
Brian tersenyum sengit,matanya kemudian mencari sesuatu yang bisa membantunya.
Tapi ia tidak menemukan apapun yang cukup panjang,,ia hanya menemukan beberapa batang akar pohon yang cukup kuat.
"Sial! Aku harus mengorbankan baju-baju mahalku untuk bedebah macam kau!!"gerutunya sambil melepas jaket,,baju,,,kemudian ia sambungkan,,Brian yang hanya mengenakan singlet,kemudian turun kebawa sekitar 4 meter dengan kemiringan cukup curam.
Brian hanya mengandalkan kekuatan lengan kekarnya. Satu tangan berpegangan dan tangan lainnya meraih tangan Pria tersebut.
Dengan susah payah merekapun akhirnya bisa naik keatas.
"Apa kau ingin berlari!!"hardiknya dengan nafas terengah.
"Tidak tuan,aku aku mengalah!"
"Bagus!!"
Brian menepuk pundaknya.
"Tapi aku harus tetap mengamankan mu!"
Brian mengambil bajunya lalu mengikat tangan pria tersebut.
"Ikut aku dan tepati janjimu!"
"Iya tuan"
Setelah berhasil melarikan diri dari markas,Soni,Hans dan Joni berkeliling dengan mobilnya mencari Brian.
Hingga akhirnya Brian bisa kembali menghubungi mereka.
"Kalian dimana!!" Tanya Brian.
"Bro! Kita baik-baik aja,lo dimana?"
"Aku akan turun kejalan raya,,dekat sungai yang tadi kita lewati"
"Iya iya,,kita kesana!"
Siluet senja sudah tergambar jelas dilangit,akhirnya Brian bisa membawa pria tersebut kekantor polisi dan menyerahkannya.
Hans juga melaporkan bahwa markas yang tadi mereka kunjungi juga menjadi markas pesta narkoba,karena Hans sempat melihat beberapa botol dan alat hisap sabu disana.
Polisipun meminta keterangan lebih lanjut dan akan segera menindak laporan Hans.
__ADS_1