
Semalaman Brian,Soni,dan Roby membahas pembagian tugas mereka.
Brian juga sangat penasaran dengan pesan yang ingin disampaikan oleh Bi Ijah besok.
"Bagaimana Rob,loe bisa kan bantu gue,,suruh beberapa orang kepercayaanmu untuk menemui bi Ijah. Tapi ingat,cari yang perempuan,,oke!"
"Siap kak..besok aku perintahkan seseorang untuk menemui bi Ijah. Semoga kakak disitu segera menemukan siapa yang melukai Delia"
"Aamiin.."jawab Soni dan Brian bersamaan.
"Eh,kira-kira apa ya yang mau disampaikan bi ijah ya?" Ucap Soni penasaran.
"Entahlah,yang pasti aku yakin bi Ijah tahu segala sesuatu tentang kematian ibuku,hanya saja dahulu dia tidak ada daya untuk mengungkap segalanya.
Sekarang satu-persatu dinding pertahanan dirumah ayahku sudah mulai ku robohkan."
Jawab Brian.
"Yah,Semoga saja,keterangan bi Ijah bisa menjadi salah satu bukti atas meninggalnya tante. Karna yang kita perlukan saat ini adalah bukti.
Daan..em..maaf ya Ka,harus ku katakan,,jika memang Ayahmu bersalah,maka dia harus mempertanggung jawabkan nya secara hukum negara,mengingat betapa menderitanya kehidupan Delia dan keluarganya setelah fitnahan itu."
"Iya aku tahu,aku sudah ikhlas jika memang ayahku dipenjara karna semua itu,kita hanya perlu bukti nyata untuk mengajukan laporan. Terutama bukti saat ibuku terjatuh..Sialnya,CCTV di balkon saat itu mati,padahal aku paham benar,di Balkon ayahku memasang CCTV sebagai pengamanan."
"Ian,sepertinya kematian ibumu bukan hanya karna Depresi,tapi sudah direncanakan,,dan waktunya sengaja ia pas kan dengan kedatangan tuan Yosep ke balkon.
Sepertinya juga,ada yang menggiring tuan Yosep kesana. Dengan kata lain,ia memanfaatkan moment untuk menjatuhkan tuan Yosep sekaligus menyingkirkan ibumu"
"Entahlah,kita masih meraba-raba semua masih belum jelas. Andai kotak milik ibuku benar-benar ada,mungkin itu bisa membuktikan semua,dan aku bisa menyelamatkan apa yang mereka incar "
Ucap Brian yang sudah mulai lelah menghadapi teka-teki ini.
Belum lagi ditambah permasalahan dengan pesaing perusahaan yang semakin sering terjadi.
"Bro,kalau udah ga ada yang dibahas,,gue ijin tidur ya,,persiapan buat besok." Soni yang sedari tadi menguap,meminta izin pada Brian.
"Agh,,baru jam segini,udah molor lo,,biasanya aja pulang pagi" ejek Roby,yang sudah mulai akrab dengan Soni meskipun usia mereka terpaut cukup jauh.
"Diem lo anak kecil,,gue tu seharian udah diperas tenanganya ma sepupu lo,,gue cabut yah...udah berat banget ni mata.."
"Ya sudah,kalian boleh istirahat,semoga rencana kita berhasil."
Mereka bertiga meninggalkan obrola lewat Vidio Call.
Brian meletakan ponselnya dimeja.
Ia berbaring,meregangkan tubuhnya di samping Delia.
Ia menatap Delia,melihat luka ditubuh istrinya.
Dengan lembut,ia belai rambut Delia yang harum.
"Maafkan aku sayang,sampai detik ini aku belum bisa membuatmu bahagia.
Kamu selalu saja mengalami kesulitan selama dengan ku".
"Selamat malam sayang..cupp" kecupan hangat mendarat di kening Delia.
***
Cahaya matahari masuk kedalam kamar,melalui cela tirai jendela.
Delia masih mengenakan kimono,berlajan pelan dari kamar mandi.
Meskipun luka ditangan dan kakinya belum mengering,Delia tidak bisa menjalani harinya tanpa mandi.
__ADS_1
Ia berusaha mengganti perban dilututnya sediri dengan sesekali menyeringai kesakitan.
Ia sandarkan tubuhnya disofa.
Meskipun bukan lulusan Akademi perawat,tapi ia cukup tahu dan mahir dalam mengobati luka-luka.
Sering memperhatikan ibunya saat diklinik dan benerapa perawat disana,membuatnya sedikit paham tentang cara mengibati luka dengan benar.
Saat hendak mengganti perban di sikutnya,barulah ia merasa kesulitan.
Brian yang baru berlahan membuka matanya,langsung terperanjat .
"Kamu lagi ngapain!"bentaknya.
Delia terkejut mendengar suaminya yang tiba-tiba meninggikan suaranya.
"Mas,,a a..aku.."
Brian langsung mendekati Delia merebut kapas yang sedang dipegangnya.
"Mas!"
"Kamu mandi!!"
"Iya"
"Ck! Bisa gak si kalau mau apa-apa bilang dulu!! Lukamu masih basah!"
"Ga papa mas,,lagian aku mandinya juga gak tak guyur semua kok,,aku ya tau kali perih juga kena air!"
"Bandel banget jadi orang!!"
Brian terus menatapnya kesal.
Selama merawat luka,ia terus memarahi Delia.
"Aku kan sudah bilang,nanti akan ada perawat kemari untuk mengurus lukamu! Sekalian membawakan hasil rongsen kemarin"
"Ya elaaa mas,orang luka gini aja kok..."
"Pokoknya aku gak mau tau! Kamu jangan ceroboh! Tau gini mending kemarin kamu dirawat di Rumahsakit aja!"
"Orang aku udah baikan kok mas,lagian ni kaki yang terkilir juga udah sembuh,,Eh Mas,,bener kata kamu,Safa hebat ya hehehe" Delia menunjukan barisan giginya.
"Ga usah cengar cengir!! " Brian menatapnya tajam,tak ada sedikitpun senyuman.
Delia memanyunkan bibirnya,kesal.
"Uh,,punya suami galak amat!" Gerutunya.
"Istri bandel emang mesti digalakin! Aku mandi dulu!" Setelah menyelesaikan mengganti perban istrinya Brian berdiri meraih handuk.
Sebelum masuk kamar mandi,ia kembali menatap Delia sambil menunjuk
"Duduk saja disitu!"
"Iya iya. "
"Halah..lebay banget punya suami.."gerutu Delia sambil berjalan pelan menyiapkan pakaian untuk suaminya dan dirinya.
Ia kembali duduk,bukan di sofa melainkan dimeja rias.
Brian kembali dibuat terkejut dengan istrinya yang tengah asik merias wajahnya.
Ia yang masih mengenakan handuk,berdiri dibelakang istrinya dengan bertolak pinggang menatap istrinya tajam.
__ADS_1
Rambutnya basah,dadanya yang bidang,wangi tubuhnya begitu menusuk.
Membuat Delia menghentikan kegiatannya,menoleh ke belakang.
"Ya Allah,,,,dia tampan sekali jika sedang seperti ini,,,aduh,,,godaan dipagi hari,Deliaaa beruntung sekali kamu.."batinnya berkelana.
Baru kali ini dia tergoda dengan suaminya,biasanya suaminya yang terus memancingnya.
"Mas,liatnya gitu amat,biasa aja dong"
Delia mencoba mengalihkan pikiran mesumnya.
"Kamu mau kemana!"
"Ya Allah mas,kamu gimana si,,bukannya hari ini ada pertemuan dengan Mr.Abdulla?"
Delia kembali menatap kaca,melanjutkan memoles wajahnya.
"Sebaiknya kamu disini saja,kondisimu sedang seperti ini!"
"Tapi mas,gak enak kalau aku tidak memenuhi undangannya,lagian aku udah mendingan,,kakiku juga juga sudah membaik
" Rengek Delia,dia hanya takut kalau proyek ini digagalkan lagi hanya karna dia.
"Baiklah,,aku lupa,aku punya istri yang super bandel,jadi percuma saja aku melarangmu!"
"Ih,mas...aku gak bandel tau" Delia memanyunkan bibirnya,seperti anak-anak.
"Kalau bukan bandel,apa namanya?pergi ketemu cowo lain engga mau ijin suami,dah gitu nekad nyusulin suami ke Dubai, lagi sakit gitu dibilangin masih susah,main ganti perban sendiri,dibantuin sama perawat aja engga mau!" Celoteh Brian sambil memakai pakaian yang Delia siapkan.
"Mas! Kamu ngledek apa mau ngajak berantem?"rengek Delia.
"Siapa juga yang mau berantem."
Brian tidak mempedulikan ekspresi wajah Delia yang mulai terpancing dengan ejekan suaminya.
"Udah ah,males ngladenin kamu mas.."
Delia berdiri berlahan berjalan,ke arah rak sepatu untuk memilah-milah sepatu yang rata-rata berhak tinggi.
"Mas,,"
"Hem" Brian berdiri di depan kaca merapikan rambutnya .
"Aku pakai sepatu apa?"
"Sebentar lagi Soni Datang,pakai saja apa yang Soni bawa."
"Kamu udah beliin sepatu buat aku mas?"
"Aku tahu kamu pasti akan kekeh ikut kekantor untuk menemui Mr.Abdulla jadi aku sudah siapkan semua,tinggal kamu duduk saja disofa,dan diam"
"Suamiku emang the Best deh..."puji Delia sembari berjalan kearah suaminya dan memeluknya dari belakang.
Brian hanya tersenyum tipis mendapat pelukan dari istrinya.
"Aku bisa bayangin gimana ekspresi wajahmu nanti"gumam Brian sembari menahan tawa.
"Mas,aku laper.."
"Kita makan dikamar saja,aku pesankan dulu"
Brian menelpon resto dihotel tersebut untuk memesan sarapan.
Beberapa menit kemudian pelayanpun datang untuk membawakan makanan.
__ADS_1