Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Dua Kontrak Berhasil Ditaklukkan!


__ADS_3

Ketika Erwin mengeluarkan kartu VIP bintang sembilan, tempat kejadian hening seketika.


“Aku punya kartu VIP bintang sembilan, apa boleh beli parfum Bright Lover ini?” Erwin berkata sambil tersenyum kepada wanita pemandu belanja.


Jelas, wanita pemandu belanja juga tercengang, dia tidak nyangka pemuda berpakaian biasa-biasa saja yang ada di depannya ini bisa punya kartu VIP bintang sembilan, karena jumlah orang yang punya kartu VIP bintang sembilan Jalan Mandro di seluruh Kota Bandung itu tidak lebih dari sepuluh orang.


Michael, Helena, Edric dan Tina, keempat orang yang menyaksikan ini tercengang dan terkejut di tempat.


"B-bagaimana dia bisa punya kartu VIP bintang sembilan?"


"Anak miskin itu punya kartu VIP bintang sembilan? Ini tak masuk akal."


"Seriusan? Mana mungkin seorang anak miskin pedesaan bisa belanja 200 milyar di sini? Kartu itu pasti palsu!"


......


Michael dengan serius mencurigai VIP bintang sembilan Erwin itu palsu, dan bersikeras mau wanita pemandu belanja memverifikasi kartu itu,


"Tolong periksa baik-baik kartu VIP bintang sembilan itu, anak miskin ini gak mungkin punya kartu itu."


"Ya, cepat periksa baik-baik, kalau bisa suruh orang profesional yang periksa aja," kata Edric karena tak mau kalah, dan juga tak percaya anak miskin pedesaan ini bisa punya kartu VIP bintang sembilan.


Wanita pemandu belanja itu juga tak begitu percaya pada Erwin, yang memakai pakaian murahan, jadi dia menerima kartu VIP bintang sembilan tersebut, dan segera berkata kepada Erwin dengan sedikit nada minta maaf,


"Tuan, tolong tunggu sebentar ya, saya perlu cari orang profesionalnya untuk memastikan kartu VIP bintang sembilan Anda."


“Pergilah, yang cepat ya.” Erwin mengangguk, dan tidak mempermasalahkan keraguan mereka, karena orang-orang ini benar-benar keras kepala dan tak mau menyerah kalau belum kalah telak, jadi Erwin akan biarkan mereka sepenuh terdiam.


Wanita pemandu belanja menyerahkan pengawasan toko pada pemandu lain, sedangkan dia sendiri membawa kartu VIP bintang sembilan tersebut ke pusat verifikasi kartu profesional di Jalan Mandro.


Michael dan yang lainnya tetap menunggu dengan cemas di tempat


“G-gimana ini, gimana kalau kartunya asli?” Helena sedikit gugup.


"Santai aja, kartu itu gak mungkin asli, VIP bintang sembilan itu cuma bisa dapat kalau udah belanja 200 milyar per tahun di sini, anak miskin kayak Erwin kalau bisa habiskan 200 juta di sini itu pasti udah batasnya." Michael menghibur dengan percaya diri.


“Iya sih, gak mungkin dia punya kartu VIP bintang sembilan itu.” Edric juga mulai melawan Erwin. Lelucon macam apa ini? Kalau kartu itu asli, maka klub hiburannya akan dia beri pada Erwin.


Erwin memandang mereka dengan tenang, dan sedikit menggelengkan kepalanya. Sambil menunggu, Erwin buru-buru mengirim pesan kepada Lisa, menyuruhnya untuk membuat kontrak akuisisi dan bawa ke sini secepat mungkin.


Setelah Lisa menerima pesan itu, dia segera melaksanakannya.


Setengah jam kemudian, gadis pemandu belanja buru-buru kembali sambil membawa kartu VIP bintang sembilan, menghampiri Erwin dengan hormat, dan mengembalikan kartu tersebut pada Erwin dengan kedua tangannya.


"Tuan yang terhormat, kartu VIP bintang sembilan ini asli. Anda mendapat prioritas untuk membeli parfum Bright Lover ini, apakah mau saya keluarkan untuk Anda sekarang?"


Kata-kata wanita pemandu belanja benar-benar menghancurkan ekspektasi Michael dan Edric, dan pada saat yang sama mengejutkan mereka lagi.


"M-mana mungkin, kartu VIP bintang sembilan itu asli?!"


"Harga seluruh outfit anak ini aja gak sampai satu juta, kenapa bisa punya kartu VIP bintang sembilan?"

__ADS_1


"Dari mana dia dapat kartu itu?"


......


Sementara mereka terkejut, Lina justru bersemangat.


"Erwin, tak kusangka kamu punya kartu VIP bintang sembilan! Baguslah! Begitu ingat mereka yang mau mempermalukanmu barusan, aku serasa mau pukul mereka."


“Jangan khawatir, ini baru permulaan.” Erwin tersenyum di sudut mulutnya, lalu berkata kepada wanita pemandu belanja,


"Tolong keluarkan Bright Lover ini, aku mau beli.""


“Baik Tuan, kartu VIP bintang sembilan bisa memberi Anda diskon 50%. Kalau dikurang diskon, totalnya 136 juta, apakah Tuan mau transaksi dengan kartu atau catat dulu?” Erwin terkejut dengan kata-kata wanita pemandu belanja, kartu VIP bintang sembilan ini memang luar biasa, bahkan boleh catat hutangnya dulu.


Namun, Erwin akan membayar sendiri barang yang ingin dia beli, sehingga Damon juga tak perlu repot-repot lagi.


“Pakai kartu.” Erwin tersenyum sedikit di sudut mulutnya.


Di saksikan tatapan tercengang Helena dan yang lainnya, Erwin membayar langsung dan berhasil membeli Bright Lover ini, saat wanita pemandu belanja itu menyerahkan sebotol parfum Chanel kepada Erwin, Erwin memegang parfum itu dan menggoyangkannya di depan Michael dan Edric.


"Maaf ya, aku udah beli Bright Lover ini, sesuai taruhan, klub hiburan dan resort kalian bakal jadi milikku."


Erwin tersenyum tipis di sudut mulutnya, saat berbicara, Lisa sudah datang ke Jalan Mandro ini sambil membawa kontrak.


“Erwin, kau berani mempermainkan kami?” Michael langsung mengerti situasinya, anak miskin ini jelas mengincar aset mereka.


“Hei Udik, kau pasti udah gila karena mikirin uang, kan? Sampai berani-beraninya membodohi kami!” Kata Edric dengan garang, karena dia tak pernah dipermainkan dan dijebak seperti ini sejak kecil, sehingga dia bisa merasa begitu tak puas sekarang.


“Maaf, tolong tepati janji taruhannya!” Erwin tersenyum tipis di sudut mulutnya, dia sudah bertekad untuk memberi kedua orang ini sedikit pelajaran hari ini.


“Sama keluarga Hugo kami di selatan kota?” Edric juga tak ingin menunjukkan kelemahan, jadi ikut menakut-nakuti Erwin.


“Silakan, keluarga kalian berdua kerjasama sekaligus pun tetap bukan lawanku.” Erwin sama sekali tidak takut pada mereka.


“Oke, anggap kau beruntung kali ini, kita pergi!” Michael ingin pergi, karena bagaimanapun, Erwin tak mungkin bisa berbuat apa-apa. Namun, Erwin berhenti di depan mereka, dan pada saat ini Lisa juga kebetulan menemukan Erwin sambil membawa kedua kontaknya.


"Sepupuku, nih, udah kubawakan kontraknya."


“Bagus, makasih kerja kerasnya.” Setelah Erwin mendapatkan kontrak, dia langsung menyerahkannya kepada Michael dan Edric yang memucat, mereka pikir semua ini hanya candaan, tapi tak nyangka anak miskin ini serius dari awal.


Klub hiburan ini setidaknya juga bernilai lebih dari 20 milyar rupiah, jadi kalau kasih Erwin secara cuma-cuma itu terlalu merugikan, bukan?


Sedangkan resort di selatan kota, meskipun tak terlalu terkenal, tapi juga bisa menghasilkan pendapatan sebesar satu milyar untuk Michael setiap tahunnya, dia benar-benar tak rela dan tak puas kalau aset yang menguntungkan seperti itu akan diberi pada Erwin karena kalah taruhan.


“Erwin, apa maksudmu?” Edric masih ingin menyangkal.


“Gak usah buru-buru, tanda tangan dulu baru pergi!” Erwin tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja, karena percuma hanya dengan omongan saja, Erwin akan melepaskan mereka begitu kontrak akuisisinya ditandatangani.


“K-kau keterlaluan!” Michael dan Edric benar-benar membenci Erwin saat ini, dan bahkan Helena dan Tina juga kesal dengan tindakan Erwin.


“Sepupu kedua, tolong urus pacar udikmu itu, suruh dia jaga etikanya itu, udah gila mikirin uang ya?” Helena membuka mulutnya dan langsung tertuju pada Lina.

__ADS_1


Lina sudah menahan emosi dari awal, tapi kali ini udah tak tahan lagi.


"Erwin benar, tolong tepati taruhannya, dan tanda tangan dulu baru boleh pergi!"


Lina merasa lega setelah mengatakan itu, karena dia akhirnya bisa melampiaskan isi hatinya.


“Dasar sepasang kekasih lacur!” Helena langsung mengutuk.


Erwin jadi sedikit tidak senang, dan sepertinya dia harus memberi Helena ini sedikit pelajaran nanti.


“Kalian boleh pergi begitu udah tanda tangan.” Erwin tersenyum tipis, dan pada saat yang sama menyerahkan pena kepada mereka.


“Erwin, tidak ada bukti taruhannya, jadi kenapa kami harus tanda tangan." Michael jelas ingin menyangkal kali ini, Edric yang di sebelah juga tidak mau tanda tangan.


Namun, begitu suaranya itu keluar, Lisa langsung menampar wajah Michael.


“Kalau disuruh tanda tangan itu turuti, atau kubuat kau cacat di tempat!” Nada dingin Lisa membuat Michael dan Edric gemetar ketakutan, wanita ini terlalu kejam!


“Beraninya kau pukul aku!” Michael tak senang dan ingin maju untuk memberi Lisa sedikit pelajaran, tapi justru Michael sendiri yang dihajar sampai babak belur.


“Oke Erwin, permusuhan kali ini udah pasti!” Michael yang dipukuli Lisa akhirnya paham situasi saat ini, tampaknya Erwin sudah melakukan persiapan matang dan tak memberinya kesempatan untuk menyangkal sama sekali.


Jadi dia menandatangani kontrak akuisisi tersebut, begitu juga dengan Edric.


“Sekarang udah boleh pergi, kan?” Michael berkata dengan tatapan tajam.


“Ya, udah boleh.” Erwin tersenyum sedikit.


Michael dan yang lainnya berbalik dengan dingin, Helena dan Tina juga dengan cepat ikut pergi, tapi saat mereka baru setengah jalan, Erwin menghentikan Helena dan Tina.


"Helena sama Tina tunggu dulu, ada yang mau kubilang sama kalian."


“Cepat bilang, jangan basa-basi!” Helena sangat kesal sekarang.


Erwin melirik Michael dan Edric yang tidak jauh, dan dengan sengaja berkata kepada Helena dan Tina dengan nada suara yang bisa didengar sama kedua pria itu.


"Makasih banyak kali ini udah bawa dua anak orang kaya itu, lain kali jangan lupa bawa dua lagi biar kita tipu ya, aku akan tepati janji soal 2 milyar kalian, akan kukirim kasih kalian nanti."


“Apa?” Helena dan Tina langsung bingung dan tidak mengerti apa yang dibicarakan Erwin.


Michael dan Edric samar-samar mendengar percakapan antara Erwin dengan Helena dan Tina, dan itu membuat mereka tiba-tiba marah besar.


Mereka mengira Erwin bekerja sama dengan Helena dan Tina untuk menipu aset mereka, jadi mereka secara tak langsung juga membenci kedua wanita ini.


“Ternyata kalian berdua wanita sialan, beraninya menipu kami!” Michael langsung berbalik dan pergi begitu saja, pada saat yang sama kebencian terhadap Helena sudah muncul di dalam hatinya.


Begitu juga dengan Edric yang mulai membenci Tina saat ini.


“Erwin, apa yang kau bicarakan? Siapa yang kerja sama  denganmu!” Helena tidak sempat bereaksi untuk sementara waktu, dan saat melihat Michael dan Edric pergi dengan marah tanpa menunggu mereka, dia baru sadar kalau ucapan Erwin barusan itu sengaja agar didengar oleh Michael dan Edric.


“Dasar Erwin, kau mayan licik ya!” Kata Helena dan langsung pergi mengejar Michael dan Edric.

__ADS_1


Setelah melihat mereka pergi dengan menyedihkan, Lina merasa lega.


"Akhirnya pergi juga, aku awalnya malah berencana mau manfaatin kesempatan belanja bersama ini buat memperdekat hubungan baik sama mereka, tapi tak kusangka kedua sepupuku itu hanya mau mempermalukan kita, aku udah salah kira."


__ADS_2