Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Beruntungnya Anak Ini


__ADS_3

Saking sunyinya tempat kejadian sampai terasa mengerikan, semua orang tidak percaya bahwa nama yang tertulis di belakang lukisan asli adalah Erwin Smith. Dengan kata lain. "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" yang dipersembahkan oleh Erwin yang merupakan seorang bocah miskin adalah karya asli Hendra Gunawan.


"Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" yang dibeli kembali oleh Vincent seharga 76 miliar adalah palsu alias replika.


Tidak ada yang bisa mempercayai hasil ini, dan Vincent adalah orang yang paling terkejut di tempat kejadian.


“M-mana mungkin?” Vincent juga melihat nama yang tertera di balik lukisan yang asli, itu nama Erwin Smith dan bukanlah Vincent Louis.


“Mustahil, mana mungkin lukisan bocah miskin ini asli? Tapi yang aku beli seharga 76 miliar adalah produk replika.” Vincent tidak bisa menerima kenyataan ini untuk sementara waktu. Semua perhitungannya salah, dan ekspresi sangat bingung.


Penonton di bawah juga terkejut, terutama para kerabat keluarga Aleda yang benar-benar tidak menyangka akan hal ini.


"Tak kusangka lukisan 76 miliar Vincent adalah replika, ini beneran di luar nalar."


"Ternyata lukisan bocah miskin itu yang asli, hasil ini ironis sekali."


"Ini terlalu tak terduga, lukisan yang dipersembahkan oleh bocah miskin itu yang asli, kira-kira dari mana miskin itu mendapat lukisannya?"


......


Ada banyak diskusi di tempat kejadian, dan mereka semua terkejut dengan hasilnya. Sebaliknya, Ayah Lina, Lucas, tampaknya sudah menduga akan hasil ini dari awal, tidak terlalu terkejut, dan justru berpikir dalam hati,


"Hehe, sekelompok badut yang tak tau diri, Erwin ini layaknya anak bangsawan, jadi mana mungkin Vincent yang hanya generasi kaya kedua ini bisa dibandingkan dengannya?"


Lucas dalam suasana hati yang sangat baik saat ini, para kerabat juga akhirnya sadar, dan pada saat yang sama menjadi bertekad untuk menyenangkan Erwin. Karena mengikuti Erwin akan membawakan keuntungan yang lebih banyak, daripada mengikuti orang lain yang hanya mendapat keuntungan sisa.


David yang ada di atas panggung juga kaget, hasilnya di luar dugaan, tapi dia segera merasa lega.


“Tak heran anak ini begitu tenang, dia sepertinya sudah tahu akan hal ini. Anak ini tidak sederhana.” David telah hidup selama delapan puluh tahun, jadi pengalaman hidup dan rintangan yang pernah dia hadapi tentu sangat banyak, tapi dia baru pertama kalinya begitu kagum dengan seorang anak miskin dari pedesaan seperti Erwin.


Meskipun latar belakangnya sangat rendah, tapi anak ini penuh percaya diri dan ketenangan, seolah-olah semuanya sudah terkendali!

__ADS_1


Sedangkan Lina, tentu dia sangat senang.


"Erwin, kau hebat sekali, lukisannya beli di mana? Barang antik seperti ini pasti tidak murah, kan?"


Pertanyaan ini juga ditanyakan oleh semua orang di tempat kejadian, karena sangat tidak mungkin bagi seorang anak miskin dari pedesaan untuk mampu membeli karya asli Hendra Gunawan.


Untuk sementara, semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah Erwin, begitu juga dengan Vincent, dia juga ingin tahu bagaimana Erwin mendapatkan "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" ini.


“Aku membelinya dari seorang lelaki tua di jalan timur, dia bilang lukisan ini cocok dijadikan hadiah, aku juga bertanya tentang keasliannya, karena aku tak mau beli produk replika, tapi dia berjanji akan mengganti rugi sepuluh kali lipat kalau lukisannya replika, jadi aku membelinya seharga 7,6 juta." Erwin dengan santai mengarang cerita dan memberitahu orang-orang.


Namun, mereka semua tercengang ketika mendengar itu.


"I-ini, anak ini hanya menghabiskan 7,6 juta untuk membeli karya asli "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" Hendra Gunawan?"


"Keberuntungan macam apa itu?! Sulit dipercaya."


"Seriusan? Ganti rugi sepuluh kali lipat?"


......


Ekspresi semua orang di tempat kejadian sangat kaget membeli karya asli "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" Hendra Gunawan seharga 7,6 juta? Siapa yang akan percaya?


Vincent adalah orang yang paling dipermalukan di sini.


"Keberuntungan macam apa itu? Bocah miskin ini beneran berhasil membeli karya asli hanya dengan 7,6 juta? Dan sekaligus mempermalukanku!"


Vincent benar-benar marah saat ini, semua rencana yang sudah diatur dari awal menjadi sia-sia dan tak berguna saat ini.


Melihat bahwa semua orang iri dengan Erwin, Vincent mengepalkan tangannya dan merasa sangat tidak puas, mengapa seorang bocah pedesaan yang miskin ini selalu berhasil mempermalukannya berkali-kali.


Sebaliknya, David adalah yang paling ingin melihat hasil seperti ini. Dia menyukai Erwin, seorang bocah miskin dari pedesaan, bukan hanya memberinya hadiah yang begitu berharga, tapi karakternya juga sangat bagus, jadi David ingin membantunya, dengan mempromosikan atau mengangkatnya agar lebih cepat naik daun dalam dunia bisnis kota besar ini.

__ADS_1


"Erwin, karena kamu sudah memberi Kakek hadiah yang begitu berharga, apa kamu punya permintaan? Selama kamu bilang, Kakek pasti akan mencoba untuk memuaskanmu." David masih sangat dihormati di Kota Bandung ini, selama dia membuka mulut, pada umumnya, orang-orang akan memberinya wajah, walau Erwin ingin membangun karir bisnisnya sendiri, David pasti akan membantunya.


Kata-kata David membuat orang-orang yang hadir semakin iri, Siapa itu David? Di memiliki banyak murid dan teman di pusat perbelanjaan Kota Bandung, begitu dia membuka mulut, siapa yang tidak akan memberinya wajah? Terlebih lagi, kekuatan finansialnya sendiri juga sangat luar biasa.


"Kakek Aleda, saya tak menginginkan apa-apa? Saya tidak pernah berpikir untuk mendapat keuntungan dari Anda," kata Erwin dengan rendah hati dan tidak sombong.


“Kamu beneran tidak menginginkan apa-apa?” David mengira Erwin hanya mencoba bersikap sopan untuk sengaja menolak sedikit, tapi setelah memikirkannya, David melanjutkan, “Kakek masih punya banyak koneksi di Kota Bandung ini, satu kalimat dariku saja sudah cukup untuk menjadi batu loncatanmu, bahkan bisa membuatmu mengambil alih sebuah perusahaan yang matang dan menjadi CEO dengan gaji yang bisa mencapai beberapa miliar pertahun, itu cukup bagus bukan?"


Semua orang di tempat kejadian yang terkejut dengan pernyataan ini penuh dengan ekspresi iri, iri sekaligus benci, dengan adanya dukungan dari David, sepertinya hidup bocah miskin ini akan berbalik.


Namun, Erwin berkata dengan tenang,


"Kakek, aku masih ingin berjuang dengan usahaku sendiri, kalau Kakek sangat ingin berterima kasih padaku, aku ingin tusuk konde yang ada di dekat pintu itu saja."


“Tusuk konde di dekat pintu?” David terkejut, dan yang lainnya bahkan lebih kaget.


Dengan adanya kesempatan yang begitu bagus, tapi bocah miskin ini justru menginginkan sebuah tusuk konde? Apa-apaan ini?


“Iya, tusuk konde, aku tak ingin yang lain.” Erwin mengkonfirmasikan sekali ini.


David mengerutkan kening, tapi tetap menyuruh seseorang untuk pergi mengambil tusuk konde antik yang sederhana namun indah di dekat pintu itu.


"Maksudmu yang ini? Tusuk konde ini tidak terlalu berharga, apa kamu yakin mau ini? Tidak mau Kakek bantu membangun karirmu?" David memastikan sekali lagi.


“Iya!” Erwin mengambil tusuk konde itu dari tangan David, kemudian memberikannya kepada Lina.


"Lina, kau tadi bilang sangat suka dengan tusuk konde ini, kan? Sekarang ini untukmu." Kata Erwin sambil tersenyum.


Pernyataan ini sekali lagi mengejutkan semua orang di tempat kejadian, apa bocah miskin ini sudah gila? Lebih memilih tusuk konde yang tidak jelas itu ketimbang masa depan yang sukses? Tapi mata Lina justru penuh dengan cinta pada Erwin saat ini.


"Terima kasih~" Lina tidak menyangka Erwin masih ingat dengan hal ini, dan lebih memilih menyerahkan masa depan yang cerah hanya untuk membuat dirinya tersenyum.

__ADS_1


Sambil berkata, Lina tersipu, dia berdiri dan berjinjit untuk mengecup pipi Erwin dengan jantung yang berdegup kencang.


__ADS_2