Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 187 Membuatmu Mengerti Apa Itu Menyesal


__ADS_3

Setelah menaklukkan keluarga Louis di utara kota, Erwin dan Giselle tinggal di Villa Fancy Garden barat kota  sementara Lisa kembali ke Villa Teluk Oak untuk mengemasi barang bawaan karena akan pergi ke Raung Mountain


Saat pagi, Erwin duduk bersila di sofa, memegang ponsel sambil membaca berita lokal Kota Bandung dengan penuh minat.


Di antaranya ada berita terhangat, yaitu tentang pengumuman akuisisi yang dikeluarkan oleh High Build Group, pengumuman tersebut menunjukkan bahwa saham dari tiga keluarga besar di utara kota diperoleh dengan cara pertukaran saham, dan sekarang ketiganya sepenuhnya telah menjadi anak perusahaan High Build Group, ini telah mengubah sejarah tiga keluarga besar yang telah memonopoli pasar distrik bisnis utara kota selama lebih dari 20 tahun.


Berita ini sekali lagi membuktikan kekuatan High Build Group, dan ketenaran pribadi Damon juga meroket, tapi Erwin tidak disebutkan dalam berita ini, Erwin sendiri yang sengaja menyuruh Damon untuk tidak membeberkan apapun, dia tidak mau terekspos media dan ingin tetap low profile, jadi apa yang dilihat orang luar adalah semua ini pencapaian Damon.


"Erwin, aku baru-baru ini bernegosiasi tentang sebuah kantor baru di utara kota, mau ikut lihat bersamaku?"


Hari ini, Giselle memakai pakaian kantor profesional yang sama, yaitu kemeja putih wanita, dan rok kantor pendek hitam, tapi karena bentuk tubuh yang bagus, jadi tetap gaya pakaian ini tetap sangat menggoda, semua pria yang melihat ini pasti akan diam-diam mencuri pandangan beberapa kali, terutama kaki panjang putih dan halus milik Giselle yang tampak semakin panjang karena ditambah dengan sepatu hak tinggi.


Setelah duduk di sebelah Erwin, Giselle dengan sengaja mengibaskan rambut gelombangnya, tiba-tiba aroma anggrek yang lembut bercampur dengan aroma parfum menghantam hidung Erwin.


Erwin tampaknya benar-benar mengabaikan godaan Giselle, dan berkata ringan. "Hari ini tidak bisa, Lisa mau balik ke Raung Mountain, jadi aku akan mengantarnya ke stasiun kereta api."


Erwin sudah berjanji pada Lisa begitu permasalahan di utara kota ini selesai, dia akan diizinkan berlibur tujuh hari untuk mengunjungi gurunya.


Tentu saja Erwin punya maksud lain, dia ingin mengambil kesempatan ini agar Lisa membawa kembali beberapa kakak atau adik seperguruannya! Dengan begitu kekuatan di sekitarnya akan lebih kuat lagi, kekuatan tim petinju hitam sudah membuat Erwin merasakan keuntungannya, jika bisa punya sebuah tim master petinju sekelas Lisa di sisinya, maka tidak ada yang perlu dilakukan lagi.


"Oke, kalau begitu aku pergi sendirian saja." Giselle sedikit kecewa, ditambah dengan ketidakpedulian Erwin terhadap pesonanya!


"Ngomong-ngomong, malam ini di Hotel Panorama utara kota, Tuan Damon akan mengadakan resepsi tentang rencana pembukaan pasar di utara kota, dan mengundang tiga keluarga besar utara kota, serta beberapa pengusaha terkenal lainnya, tampaknya orang terkaya di Kota Bandung juga akan hadir, jadi kamu bisa ke sana juga, aku sudah meminta Tuan Damon kosongkan satu tempat untukmu, ini akan sangat membantu cabang perusahaanmu di utara kota."


Erwin tiba-tiba teringat akan hal ini, jadi menoleh dan menjelaskan kepada Giselle.


Setelah memenangkan lingkaran bisnis di utara kota, langkah selanjutnya adalah secara bertahap membuka pasar di utara kota, tidak mungkin terus membiarkan semua industri dimonopoli oleh tiga keluarga besar, lebih baik membagi peluang bagi dunia luar, dengan begitu pasar utara kota akan berkembang pesat.


Ini adalah reformasi besar pertama yang dilakukan oleh Damon setelah secara resmi mengambil alih pasar distrik bisnis utara kota, sedangkan mengenai persetujuan tiga keluarga besar itu sama sekali tidak penting.


Pengusaha terkenal di Kota Bandung telah lama mendambakan pasar utara kota, lagipula populasi masyarakat di utara kota tidak sedikit sama sekali, yaitu sekitar seperlima dari total populasi di Kota Bandung.


Sebelumnya, karena monopoli dari tiga keluarga besar, pedagang kaya lainnya tidak dapat terlibat sama sekali, tapi sekarang Damon telah mengambil alih, dan mulai membuka utara kota untuk dunia luar, yang jelas merupakan keuntungan besar.


Resepsi malam ini pasti akan dihadiri pengusaha terkenal di Kota Bandung, bahkan orang terkaya di Kota Bandung juga, dapat berteman dengan orang-orang ini pasti akan sangat bermanfaat bagi pengembangan bisnis di masa depan, jadi Erwin meminta tempat kosong untuk Giselle di sana.


“Kalau begitu, kamu ikut?” Tentu saja Giselle ingin pergi, resepsi kelas atas semacam ini bukanlah sesuatu yang bisa dimasuki oleh orang biasa, itu pasti akan membantu pengembangan kariernya di masa depan.


“Tidak, aku mau istirahat di rumah malam ini." Erwin tidak ingin mencuri perhatian orang-orang dari Damon, lagipula Damon akan jadi tuan rumah, jadi lebih baik membiarkan Damon menikmati ketenarannya, selain itu Erwin juga harus tetap low profile.


Sedangkan untuk masalah kerjasama dengan Giselle, Erwin sudah bilang pada Damon sebelumnya, selama Giselle hadir di resepsi, pada dasarnya akan mendapatkan banyak pengajuan kerjasama.


"Baiklah kalau begitu, istirahatlah di rumah." Giselle sedikit kecewa, tapi masih sangat bersyukur karena bisa menghadiri resepsi semewah itu.


Saat tengah hari, Erwin berangkat ke Villa Teluk Oak, dan setelah menjemput Lisa, dia mengantarnya ke stasiun kereta api kota Bandung.


Saat memasuki ruang tunggu, Erwin berkata dengan khawatir.


"Hubungi aku kalau udah sampai, bilang sama gurumu aku akan investasi kalau berminat untuk membuka Akademi Seni Bela Diri Tinju, dan yang terpenting jangan lupa bawa setidaknya satu orang yang sekuat kamu saat pulang nanti."

__ADS_1


"Aku mengerti tuan muda, pulanglah duluan.” Meskipun Lisa biasanya sangat dingin, tapi terhadap Erwin dia cukup lembut, mungkin karena sudah akrab.


“Ingat, bawa lebih banyak adik atau kakak seperguruanmu, jangan takut aku tidak mampu nafkahi mereka!” Erwin mengingatkannya lagi, Erwin memiliki tujuan tersendiri untuk membiarkan Lisa balik.


"Akan kuingat tuan muda, aku akan masuk, jadi pulanglah lebih awal." Lisa mengangguk, melambaikan tangan pada Erwin dan membawa kopernya ke ruang tunggu.


Erwin melambai ke Lisa dan pulang sendirian!


Di tengah perjalanan, panggilan dari Lina tiba-tiba masuk, Erwin langsung angkat tanpa ragu-ragu.


"Erwin, aku lagi belanja di Kuil Daerah Hype pusat kota dengan Fiona, kudengar ada kafetaria mewah yang baru saja buka di sini, mau datang?" Suara akrab Lina terdengar dari ponsel, dia sudah lama tidak bertemu dengan Erwin, jadi tentu saja sangat merindukannya.


Memang benar bahwa keduanya sudah lama tidak bertemu, tetapi Erwin juga tidak kalah rindu, jadi segera menjawab,


"Kebetulan luang hari ini, aku akan ke sana."


“Oke, aku tunggu di sini." Lina menjawab dengan gembira.


Erwin tersenyum, setelah menutup telepon, dia memutar arah mobil dan berangkat ke Jalan Kuil Daerah Hype di pusat kota.


Kuil Daerah Hype adalah jalan yang terkenal di Kota Bandung, ini adalah jalan pejalan kaki komprehensif yang mengintegrasikan rekreasi dan hiburan, jajanan makanan ringan, dan tempat belanja. Biasanya menjadi tempat favorit bagi anak muda, terutama di akhir pekan.


Pada saat ini, Lina dan Fiona, kedua wanita cantik ini masing-masing memegang segelas boba di tangan, berjalan sambil mengobrol dengan ringan di jalan Kuil Daerah Hype!


Lina memakai gaun sifon putih, yang membuat wajahnya yang lembut dan cantik semakin menawan, dengan kulit putih dan kaki panjang yang indah, ditambah dengan rambut gelombang modis berwarna kastanye sebahu yang membuat Lina semakin memikat.


Dan sepasang sepatu hak tinggi merah muda beserta tas bermerek Chanel di tangan yang menambah kesan elegan dan cerah.


"Lina, setiap kali keluar bersamamu, tekanannya besar sekali, abang-abang yang lewat selalu melihatmu dengan tatapan yang seperti ingin melahapmu," kata Fiona sambil bercanda.


“Mereka itu melihatmu!” Lina berkata sambil tersenyum manis. "Bukannya ada pemuda yang menghampirimu barusan?"


“Itupun pemuda yang kamu tolak baru berbalik berbicara denganku, aku paling benci orang seperti ini, dari segi ini aku bahkan dapat yang bekas darimu." Fiona mendengus pelan dan memeluk lengan Lina. Kedua wanita cantik ini berjalan biasa di jalan ini saja sudah sangat menarik perhatian.


Sebenarnya Fiona juga sangat cantik, riasannya bahkan lebih indah, dia memakai gaun merah pendek tanpa bahu, dikarenakan gaun yang sangat pendek, jadi hanya bisa menutupi pinggul saja dan memperlihatkan dua kaki putih ramping seputih saljunya, sedangkan kakinya memakai sepasang sepatu hak tinggi merah sambil membawa tas berlian merah bermerek LV di tangan.


Seluruh tubuhnya penuh dengan barang branded, bahkan anting-anting panjang berwarna perak dan putihnya bermerek internasional Tiffany, gelang platinum di tangan berasal dari Cartier, dan kalung di leher dari Bulgari.


Siapapun dengan mata yang teliti pasti akan tahu bahwa wanita cantik ini adalah orang kaya.


Ketika kedua wanita cantik ini berjalan bersama, siapapun yang melihat mereka pasti akan mencuri pandang beberapa kali.


“Bisa-bisanya kamu suka sama anak desa itu, dan begitu setia padanya, aku benar-benar tidak mengerti.” Meskipun Fiona sangat berterima kasih kepada Erwin karena telah membantu keluarganya, tapi dia masih tidak bisa mengerti, bagaimana wanita cantik sekelas Lina bisa tertarik dengan Erwin yang dari pedesaan?


Lina tersenyum, kisah antara dirinya dan Erwin tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu atau dua kalimat, saja, waktu masih di kampus, ada terlalu banyak pria yang mengejarnya, tapi hanya Erwin yang tulus dan memperlakukannya dengan baik, selalu memanjakannya dan memberinya kehangatan, Erwin mengejarnya selama tiga tahun, walau kehilangan kontak selama empat tahun, tapi bisa dikatakan perasaannya sulit untuk dijelaskan.


Keduanya ngobrol ringan sambil berjalan, dan kebetulan melewati sebuah toko gaun pengantin, langkah kaki Lina berhenti tanpa sadar, melihat ke arah gaun pengantin yang indah dalam toko, kilasan rindu melintas di matanya.


“Lina, kenapa berhenti?” Fiona tanpa sadar mendesak, kemudian menoleh dan menyadari bahwa Lina sedang menatap toko pengantin.

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu mau nikah?"


“Erwin bilang akan melamarku.” Lina ingat tentang malam itu, malam di mana Erwin bilang akan melamar dan menikahinya secara resmi, ekspresi kerinduan tanpa sadar muncul di wajahnya yang cerah dan ceria.


“Dia bilang akan melamarmu, dan kamu percaya begitu saja?” Fiona bertanya dengan heran.


“Iya, tentu saja aku percaya." Lina mengangkat bibirnya sedikit, dia menghormati dan menantikan masa depan itu, bahkan berpikir ingin memiliki satu anak laki-laki dan perempuan dengan Erwin, yang membuat dirinya sendiri tersipu malu saat membayangkan hal itu.


Keduanya ngobrol ringan hingga sebuah mobil Maserati yang mempesona berhenti di depan mereka, kemudian seorang pria kaya yang memakai jas putih keluar dari mobil, dengan kacamata hitam yang sangat bergaya.


Kuncinya adalah pria kaya ini sedang memegang mawar besar di tangan, pria ini adalah putra dari keluarga Ragnarson, salah satu dari empat keluarga besar di Kota Bandung, Earl Ragnarson.


Melihat Earl ini, Lina dan Fiona mengerutkan kening, jejak jijik melintas di mata indah mereka, karakter pria ini tidak terlalu baik, merupakan jenis pria yang mempermainkan banyak wanita, gadis serius yang mengenalnya pasti tetap jaga jarak, hanya gadis-gadis yang menginginkan uang atau ingin menikahi orang kaya yang akan tertarik.


Bagaimanapun, ayah Earl adalah orang terkaya di Kota Bandung.


"Lina, bunga ini untukmu.” Setelah Earl keluar dari mobil, dia menghampiri Lina dengan perasaan baik dan menyerahkan mawar kepada Lina. Pada saat yang sama, mata yang ada dibalik kacamata hitam itu sudah dengan liat melirik Lina dari atas ke bawah berulang kali.


“Maaf Earl, bunga ini kasih gadis lain saja, aku tidak sanggup terima.” Lina berbalik dengan jijik, begitu juga dengan Fiona.


Earl sedikit kesal karena ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis di tempat, itu membuatnya merasakan sangat malu, belum lagi ada banyak pejalan kaki berlalu lalang yang melihat ini.


“Lina, kalau tidak terima bungaku, percaya tidak, kubuat perusahaan ayahmu bangkrut dalam hitungan menit?” Earl mau tidak mau mengancam dengan keras.


Earl tidak berbicara omong kosong, keluarga Ragnarson memang punya kekuatan itu di Kota Bandung, Steve Ragnarson, ayah Earl adalah orang terkaya di Kota Bandung. Poin pentingnya adalah keluarga Ragnarson itu satu-satunya keluarga di Kota Bandung yang beroperasi di perusahaan keamanan, jadi jumlah personel keamanan mereka bisa mencapai lebih dari 500 orang.


Di permukaan, ini adalah perusahaan yang secara teratur mengoperasikan layanan keamanan, tapi ketika ada ancaman terhadap keluarga Ragnarson, maka para penjaga keamanan ini akan secara diam-diam memusnahkan apa yang disebut ancaman ini.


Itu juga alasan mengapa keluarga Ragnarson dapat menjadi salah satu dari empat keluarga besar, dan pada saat yang sama merupakan kartu as bagi Steve untuk menjadi orang terkaya di Kota Bandung.


Menghadapi ancaman Earl, Fiona hanya bisa memendam amarahnya.


"Earl, jangan pikir ayahmu itu orang terkaya di Kota Bandung dan kau bisa sesuka hati melakukan apapun kau mau, biar kuperingatkan, Tuan Damon dari High Build Group itu mitra ayahku."


Damon sangat populer baru-baru ini, jadi Fiona berpikir untuk memanfaatkan nama Damon untuk menekan Earl, tapi Earl tampaknya mengabaikan Damon sama sekali.


“Mau pakai Damon untuk mengancamku? Fiona, jangankan hanya mitra ayahmu, bahkan kalau Damon itu ayahmu sekalipun, keluarga Ragnarson kami tetap tidak akan anggap serius!” Earl cukup arogan, kemudian menghampiri Lina lagi dengan bunga mawar, dan berkata dengan nada mengancam.


"Lina, ayahku itu orang terkaya di Kota Bandung, bank lokal saja ada di saham keluargaku, selama ayahku memerintah, mereka bisa membekukan pinjaman keluargamu dalam hitungan menit, selain itu, perusahaan keamanan kami punya 500 orang, hanya pergi mengacau di hotel ayahmu saja sudah cukup membuat bisnis keluargamu tidak bisa beroperasi secara normal, jadi kusarankan pikir baik-baik."


"Terserah." Lina mendorong Earl dan berjalan menjauh, sama sekali mengabaikan kata-kata Earl.


"Lina, aku akan membuatmu tahu apa itu penyesalan karena sudah menolakku! Begitu saatnya tiba, kamu pasti akan datang berlutut dan memohon padaku, tunggu dan lihat saja, akan kurusak dan kusiksa dirimu di atas ranjangku!" Earl dengan marah melempar mawar di ke tanah, tidak ada wanita yang tidak bisa dia dapatkan di Kota Bandung ini.


Mendengar ini, Fiona dan Lina merasa sedikit tidak nyaman di hati mereka, karena Earl ini benar-benar akan melakukan hal seperti itu!


Namun, pada saat ini, suara yang akrab muncul di belakang mereka dengan sedikit udara dingin.


"Aku justru mau lihat siapa yang menyesal nanti."

__ADS_1


Mendengar suara ini, Fiona dan Lina menoleh, begitu mereka melihat sosok orang datang, wajah cantik mereka langsung menjadi cerah kembali.


__ADS_2