Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 269 Sinyal Berbahaya


__ADS_3

Hari syuting musim kedua 'Wilderness Life' akan segera tiba. Namun, sebelum berangkat Erwin menerima pesan penting dari Delny yang isinya singkat, tetapi mengejutkan.


Clovis, mantan CEO Draco Group telah meninggal dunia dan digantikan oleh Abian.


Hanya itu yang diketahui Delny. Bagaimanapun, dia sudah dianggap sebagai orang luar dan tidak memiliki akses lebih jauh tentang informasi dari Keluarga Gibson. Selain itu, tindakan Yanto kali ini benar-benar dirahasiakan dari dunia luar, dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya.


Jadi, Delny benar-benar tidak tahu lebih jauh lagi.


"Clovis sudah mati? Lalu siapa Abian ini?" Erwin mengerutkan kening, merasa Abian ini adalah orang yang kejam karena Clovis tiba-tiba meninggal begitu Abian ini muncul. Jadi, Erwin mengirim pesan kepada Damon untuk menyuruhnya menggali informasi mengenai Abian.


Dengan mengetahui kapasitas kekuatan diri sendiri dan musuh, maka kesialan dan penderitaan akan terhindar! Selain itu, Keluarga Gibson pasti tidak akan menyerah tentang Jocelyn, dan akan mengirim orang untuk menangkapnya, atau bahkan membunuhnya sekali pun, karena nilai identitas Jocelyn sangatlah besar dan penting sekarang ini.


Itu tidak hanya dapat mengancam Keluarga Taylor, tetapi juga menghalangi pernikahan politik antara Keluarga Taylor dan keluarga Smith. Mereka dapat meraup banyak keuntungan selama Jocelyn tertangkap, oleh karena itu, Keluarga Gibson tidak akan menyerah untuk menangkap Jocelyn.


'Sepertinya syuting di pulau terpencil kali ini tidak akan berjalan dengan damai, dan beberapa rencana tampaknya harus diatur,' pikir Erwin, dan memutuskan untuk syuting di pulau terpencil lain untuk berjaga-jaga.


“Sepertinya kita harus pindah ke pulau terpencil lain untuk syuting, Keluarga Gibson pasti akan tahu pulau terpencil mana yang akan kita tuju melalui orang dalam mereka yang ada di TG Entertainment. Jika kita pergi ke pulau yang sama, bukankah itu sama saja dengan menyerahkan diri dan sengaja jatuh ke jebakan musuh?"


Meskipun ini hanya tebakan pribadi Erwin, tetapi ada baiknya ekstra hati-hati, pindah pulau juga tetap bisa syuting, dan justru akan meminimalisir resiko.


Setelah memikirkan hal itu, Erwin diam-diam membuat keputusan untuk sementara ini tidak memberitahu siapa pun, karena dia takut seseorang di tim kerja akan disuap seperti penata rias Jocelyn yang sebelumnya.


Masih banyak hal yang bisa dilakukan dengan uang di masyarakat sosial zaman sekarang ini, jadi lebih baik berhati-hati setelah tertipu satu kali.


Selain berpindah pulau untuk syuting, Erwin juga memutuskan untuk membawa puluhan ahli seni bela diri yang ada di Villa Gardeners, ini juga dapat meningkatkan keamanan dengan adanya perlindungan dari mereka.

__ADS_1


Setelah semuanya siap, Erwin mulai membawa orang-orangnya.


Tepatnya di sebelah timur Kota Santa, masih ada banyak pulau yang tersebar di mana-mana selain lautan yang tak berujung, totalnya berjumlah lebih dari seribu mau itu pulau besar ataupun pulau kecil, yang dinamai sebagai Kepulauan Riau, dan merupakan salah satu kepulauan terbesar dalam negeri.


Pulau-pulau yang lebih besar masih berpenghuni, sedangkan pulau-pulau yang lebih kecil tidak dapat dihuni dan terlantar.


Lokasi yang awalnya terpilih berada di pulau terpencil No. 148, tetapi mempertimbangkan masalah keamanan seperti staf yang membocorkan informasi lokasi syuting, Erwin memutuskan untuk sementara pindah ke pulau terpencil No. 226. Pulau ini bernama Pulau Windmer dengan radius lima kilometer, yang termasuk pulau kecil.


Meski permukaannya cukup sepi, tetapi ekologi aslinya belum hancur, jadi masih ada bukit dan danau bagian dalam, yang sangat cocok untuk syuting dengan tema kehidupan alam liar ini.


"Ayo." Erwin menyewa perahu besar dan membawa lima sampai enam puluh orang.


Nora yang naik ke kapal tampak bahagia seperti anak kecil, dan melompat-lompat di geladak dengan gembira.


"Tidak ada kelinci dan burung pegar, yang mungkin ada cuma ular berbisa, mau makan juga?" canda Erwin sambil bersandar di pagar perahu.


"Aku tidak takut ular berbisa!" jawab Nora dan berpura-pura tidak takut di depan Erwin, dia merasa memang harus bersikap lebih tangguh agar tidak dipandang rendah oleh Erwin.


"Begitu, ya? Kalau begitu lihat kakimu, ada ular laut yang naik ke perahu!" Erwin menunjuk ke arah tali rami di dekat kaki Nora, dan berteriak dengan ekspresi serius.


"Ah! Ah!" Nora tanpa sadar melihat ke bawah, tali rami itu sekilas benar-benar terlihat seperti seekor ular, ditambah dengan reaksi Erwin yang serius, Nora buru-buru berlari ke sisi Jocelyn dengan wajah memucat.


“Tak perlu takut Nora, itu tali rami, Erwin hanya bercanda.” Jocelyn tanpa sadar melirik Erwin dengan tatapan mencela. Nora kemudian berbalik, dan setelah melihat dengan teliti bahwa itu memang tali rami, dia langsung menjadi kesal.


"Sepupuku, aku dibully Erwin sialan ini!" Nora mengguncang lengan Jocelyn dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


"Tahan saja, soalnya aku juga tidak bisa berbuat apa-apa padanya," hibur Jocelyn.


Perahu berlayar di laut dengan angin laut yang bertiup di atas pemandangan laut yang indah, bahkan ikan yang berenang di permukaan dapat terlihat dengan jelas.


Sebagian besar dari mereka seperti Pak Tua Conor, Kaila, Baka, dan Lisa adalah pengalaman pertama berlaut, sehingga segala hal tentang laut masih sangat baru dalam pandangan mereka.


Setelah kapal berlayar lebih dari satu jam, Erwin yang melihat Pulau Windmer sudah dekat, langsung memposting informasi tentang perpindahan lokasi syuting di grup tim produksi dan pembuatan film, kemudian menyuruh mereka untuk berangkat ke Pulau Windmer, dan harus tiba sebelum gelap, sehingga syuting bisa dimulai besok pagi.


Tak lama kemudian, setelah menerima kabar tentang perpindahan lokasi syuting dari Erwin, para staf syuting dan produksi membalikkan haluan kapal dan bergegas ke Pulau Windmer.


Ketika Erwin dan yang lainnya hendak mendarat di pulau tersebut. Pada saat yang sama di sisi pulau terpencil No. 148, Yanto telah mengatur jebakan sergapan di pulau itu dengan Victor dan Tim Black Hawk yang terdiri dari dua puluh orang, mereka sudah menunggu dari pagi sampai sekarang, tetapi sosok Erwin dan yang lainnya tidak kunjung muncul.


"Apa yang terjadi? Matahari sudah hampir terbenam, kenapa mereka masih belum datang?" Yanto berdiri di pantai sambil mengerutkan kening dan melihat ke arah laut yang tak berujung.


"Mereka mungkin pindah lokasinya," kata Victor sambil berjalan keluar.


“Kewaspadaan Erwin ini sangat tinggi, cepat hubungi orang dalam di TG Entertainment untuk pastikan lokasi syutingnya dipindahkan ke mana.” Yanto mengerutkan kening, Erwin ini ternyata cukup sulit untuk dihadapi, masih muda tetapi sudah selicik itu.


Yanto telah menderita kerugian besar karena Erwin sebelumnya, tetapi tidak boleh lagi karena nyawanya sendiri adalah taruhannya kali ini.


Setelah Victor mengangguk, dia berbalik dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi orang dalam di tim syuting, tak lama kemudian, jawaban yang dia inginkan didapatkan dengan mudah.


“Paman Ketiga, sementara ini lokasinya di Pulau Windmer, haruskah kita bergegas ke sana dengan perahu motor sekarang juga?" Victor berbalik dan menyarankan.


“Pergi sekarang itu sama saja dengan memberitahu mereka tentang keberadaan kita!" Yanto memandangi matahari yang perlahan terbenam, matanya menjadi lebih tajam, dan dia berbalik untuk melanjutkan, "Setelah malam tiba, kita akan bergegas ke sana, kemudian turun dengan jarak satu kilometer dari pulau dan sisanya akan kita capai dengan berenang. Karena dia sengaja pindah pulau, maka kita akan kejutkan mereka dengan ini."

__ADS_1


__ADS_2