Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Akhirnya Akan Diidentifikasi


__ADS_3

    Kedatangan Brian membawa antusiasme pameran koleksi pribadi ini ke puncaknya, karena Tuan Brian itu bukanlah orang yang dapat diundang oleh orang biasa, dan David juga dengan tidak mudahnya akhirnya berhasil mengundangnya.


    Selain memintanya untuk membantu mengidentifikasi "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan", ada juga beberapa barang antik di ruang pameran ini yang membutuhkan bantuan Tuan Brian.


    “Tuan Brian sudah datang, yuk kita lihat!” Lina tidak bisa menahan rasa penasaran dan ingin melihat wajah penilai barang antik terbaik di Kota Bandung ini.


    “Nanti saja, kalau lihat sekarang malah saling dorong di kerumunan, soalnya ramai sekali.” Erwin tidak terlalu tertarik untuk melihat Brian, karena dia dapat mengundangnya datang kapan saja, dan sekarang juga ramai sekali, jadi Erwin takut Lina terluka karena kerumunan.


    “Kalau begitu kita lihat di luar saja!” Lina meraih lengan Erwin karena takut terpisah di tengah-tengah kerumunan.


    Di pinggiran luar, Erwin berdiri sambil jinjit, hanya untuk melihat Brian berjalan masuk sambil dikelilingi oleh orang-orang, Brian mengenakan kemeja biru dan mantel panjang, dengan rambut berwarna abu-abu dan tatapan yang bersemangat.


    “Tuan Brian, kamu akhirnya datang juga!” David dengan antusias menyambutnya, dan menjabat erat tangannya dengan ekspresi yang sangat bersemangat.


    “Mana mungkin tidak hadir kalau sudah diundang sama Profesor Aleda, belum lagi kudengar kalau Profesor masih punya banyak barang antik yang ingin ditunjukkan!” Brian sepertinya tertarik dengan barang antik yang dikumpulkan oleh David, dan alasan Brian menetap di industri ini juga hanya ingin melihat lebih banyak barang antik berharga lainnya sebelum ajal menjemputnya.


    "Ya, ada banyak barang lainnya, tapi yang utama adalah dua lukisan terkenal karya Hendra Gunawan yang perlu bantuan dari Tuan Brian untuk mengidentifikasinya." Dia berkata sambil berjalan masuk dan memandu Brian.


    Banyak orang datang berkerumun di dekatnya.


    “Ada dua lukisan terkenal Hendra Gunawan?” Brian terkejut dan berhenti sejenak, karena dia tidak menyangka bisa melihat karya besar lagi, kemudian bertanya lagi, "Kalau boleh tau, mahakarya Hendra Gunawan yang mana?"


    "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan." David berkata dengan jujur.


    "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan??" Brian berhenti tanpa sadar, bukannya lukisan ini sudah pernah dia identifikasi di tempat Tuan Erwin beberapa hari yang lalu? Apa jangan-jangan ada yang menjual produk palsu pada Tuan David?


    Memikirkan hal ini, Brian tanpa sadar melirik orang-orang di sekitarnya, dan dia melihat Erwin yang kebetulan juga melihat kemari sambil berdiri jinjit di pinggiran luar yang membuatnya terpana sebentar, ternyata Tuan Erwin ada di sini!


    Brian ingin melewati kerumunan untuk menyapa Erwin, tetapi Erwin melambaikan tangan yang berarti menyuruhnya untuk tidak datang dan berpura-pura tidak kenal.


    Brian sepertinya mengerti maksud Tuan Erwin yang ingin rendah hati. Dia terus mengikuti David, tapi dia sangat penasaran serinci apa lukisan tiruan yang mampu bersaing dengan produk aslinya.


    “Profesor Aleda, apa kita akan mengidentifikasi “Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan” dulu atau barang antik lainnya?” Jika Brian belum pernah melihat “Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan” yang asli dari Erwin sebelumnya, dia tidak akan begitu acuh tak acuh, dan pasti akan mengusulkan untuk melihat "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" lebih dulu, daripada membiarkan Profesor Aleda yang memutuskan.


    Vincent yang sudah mengikuti daritadi langsung menjadi bersemangat saat mendengar ini, dia tentu saja ingin Profesor Aleda segera memilih untuk menilai "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" Lebih dulu,  tapi Profesor Aleda sepertinya tidak terburu-buru.


    "Identifikasi barang antik yang lain saja! Simpan "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" Untuk terakhir, biar seru dan menegangkan! "Kata Profesor Aleda sambil tersenyum.

__ADS_1


    “Boleh juga, yuk kita lihat barang antik lainnya dulu!” Brian juga tampaknya tidak terburu-buru.


    Setelah berbicara, keduanya pergi ke tempat lain di aula pameran, dan banyak pecinta barang antik juga mengikuti, mereka juga ingin melihat kemampuan dari penilai barang antik terbaik di Kota Bandung ini.


    Erwin kurang tertarik untuk ikut, karena dia memang tidak tertarik pada barang antik.


    “Erwin, yuk kita lihat-lihat lagi ke sana, barang di sana belum kita lihat semua." Lina sangat bersemangat, sebenarnya dia tidak tertarik pada barang antik, dia hanya ingin bersama Erwin, tidak peduli apa yang mereka lakukan.


    “Oke, kita lihat apa masih ada yang menarik di sana.” Erwin mengangguk, dan dia tidak terlalu terburu-buru dengan penilaian “Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan”.


    Sepertinya Vincent adalah yang paling terburu-buru di sini.


    "Masih harus mengidentifikasi barang antik lain dulu? Oke, kubiarkan kau bisa sombong sedikit lebih lama lagi!” Vincent memandangi punggung Erwin dan Lina dengan penuh kecemburuan.


    “Tuan Brian, bisa bantu lihat asal dari pedang ini?” David mengambil sebuah pedang yang terlihat sederhana namun indah, dia menduga bahwa pedang ini adalah pedang milik Pattimura, karena ada tulisan Pattimura di atasnya.


    Pedang ini adalah pedang yang Kay minta dari David sebelumnya.


    “Coba kulihat.” Tuan Brian tiba-tiba tertarik pada pedang ini, setelah mengeluarkan kaca pembesar, dia mengamati pedang tersebut dengan cermat.


    Penilaian Brian juga sangat profesional, bahkan kaca pembesar di tangannya dapat menyesuaikan pembesaran, karena kaca pembesar seperti ini memang dibuat secara khusus, harganya sudah jelas sangat mahal, dan rata-rata penggemar barang antik biasa tidak mampu membelinya.


    Brian mengamati dengan cermat menggunakan kaca pembesar khususnya sekitar setengah jam, dan akhirnya menyimpan kembali kaca pembesar itu sambil menggelengkan kepalanya dengan sedikit kecewa.


    "Pedang ini memang barang antik, dan umurnya juga di saat zaman Kerajaan, sayangnya pedang ini adalah tiruan dari Pattimura, tapi harga pasarnya juga bisa bernilai ratusan juta." Brian memberi hasil penilaian yang sangat masuk akal, pada saat yang sama juga menjelaskan detail tiruan yang sangat tinggi dari pedang ini kepada semua orang, dan membuat semua orang yang menonton tahu dan kagum.


    “Ternyata begitu, setelah mendengarkan kata-kata Tuan Brian, pikiranku menjadi lebih terbuka.” Setelah memecahkan misteri pedang, Tuan David dalam suasana hati yang baik, dan segera mengundangnya untuk melihat barang antik lainnya.


    Dan Vincent yang sudah nyimak dari tadi menjadi semakin tidak sabar, sampai satu jam kemudian, dia berhenti mengikuti, dan langsung pergi ke tempat di mana dua lukisan "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" Itu berada, dan tetap berada di sana.


    Erwin dan Lina berjalan-jalan di sekitar ruang pameran, dan akhirnya juga tiba di dua lukisan di tengah ruang pameran. Pada saat ini, orang-orang juga banyak yang baru saja selesai melihat barang antik lainnya, jadi akhirnya juga sampai di sini.


    Melihat kedua lukisan yang persis sama, mereka tidak bisa menahan diri dan berbisik satu sama lain,


    "Jadi ini "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" karya Hendra Gunawan? Kedua lukisan itu terlihat sama persis!"


    "Iya, sepertinya kemampuan orang yang meniru lukisan ini juga sangat tinggi ini, yang bahkan bisa membuat detail yang semirip itu, kayaknya cuman Tuan Brian di Kota Bandung ini yang bisa membedakan mana yang asli."

__ADS_1


    "Aku sangat menantikannya!"


 


 


    ...


 


 


    Perlahan, ada semakin banyak orang yang tiba di tengah ruang pameran ini, dan akhirnya bahkan orang-orang dari keluarga Aleda juga berkumpul di sini.


    “Mengapa Tuan Brian masih belum ke sini juga, aku sudah tak sabaran.” Daisy yang menunggu sedikit tidak sabaran, dia juga ingin melihat yang mana dari kedua lukisan ini yang asli.


    Tentu saja, anggota keluarga Aleda lainnya juga memiliki pemikiran yang sama, tapi pada dasarnya mereka semua berpikir bahwa lukisan yang dibeli Vincent seharga 76 miliar itulah yang asli, sedangkan lukisan milik Erwin, seorang anak miskin pedesaan adalah hasil replika.


    Setelah menunggu lebih dari satu jam, tepat ketika semua orang sudah tidak sabaran, Tuan Brian dan Tuan David akhirnya berjalan menuju dua lukisan di tengah ruang pameran, sebuah kalimat tiba-tiba muncul di benak Vincent 'Akhirnya datang juga.'


    "Tuan Brian, ini adalah dua "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" yang kusebut tadi, kedua lukisan ingin terlihat persis sama, jadi tolong periksa mana yang asli." David menunjuk ke arah dua lukisan yang tergantung dengan bingkai kayu.


    “Baik, akan kuperiksa.” Saat berkata, Tuan Brian mengeluarkan kaca pembesarnya, dan pena yang hanya bisa menyesuaikan sinar cahaya, ini adalah alat identifikasi profesional, yang orang umum biasanya tidak paham cara melihat hasilnya.


    Setelah mengeluarkan alat profesional, Tuan Brian perlahan berjalan ke arah dua lukisan tersebut, yang membuat semua orang di tempat kejadian terdiam, mereka bahkan menahan napas, seolah-olah takut mengganggu penilaian Tuan Brian.


    Jantung Vincent juga berdetak kencang, karena hasil yang dia inginkan akan segera diumumkan, dan dia diam-diam bersemangat saat memikirkan nasib Erwin yang akan hancur.


    Tapi Erwin sangat tenang.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2