Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Sudah Mau Bangkrut


__ADS_3

   Setelah Erwin kembali, dia segera menyuruh Damon untuk menemukan seorang ahli penilaian barang antik di Kota Bandung. Dia ingin tahu apakah dua barang yang dia bawa dari ruang koleksi Hans itu asli. Karena akan sangat memalukan memberi orang lain hadiah produk palsu.


    Ahli tersebut pun segera datang ke Villa Mahkota, dia merupakan seorang lelaki tua yang mengenakan pakaian cheongsam dengan rambut abu-abu, dia telah diakui sebagai penilai barang antik terbaik di Kota Bandung yang bernama Brian.


    “Tuan Brian, apa kamu bisa membantuku untuk memastikan keaslian lukisan ini?” Erwin bertanya dengan hormat dan tatapan yang sangat menantikan.


    “Baik, Tuan muda Erwin.” Brian tidak berani untuk berbasa-basi dan memperlambat, apalagi terhadap barang antik sebagus ini.


    Segera, Brian mengeluarkan kotak peralatan identifikasi yang dia bawa, di dalamnya berisi berbagai macam alat dengan banyak jenis lainnya. Bagaimanapun, Erwin tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut, jadi dia hanya bisa menonton di samping.


    Brian membuka lukisan "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" di atas meja,kemudian dengan hati-hati memeriksa sepenuh hati.


    Seiring berjalannya waktu, Erwin juga menjadi gugup, dia tidak yakin apakah Hans itu menipunya atau tidak, Untungnya, Brian dengan cepat mendapatkan hasil.


    “Tuan muda Erwin, “Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan” ini memang asli, tapi aku sangat penasaran, dari mana Tuan muda Erwin mendapatkannya?” Brian meletakkan kaca pembesar di tangannya dan bertanya dengan penasaran.


    “Lukisan ini kudapat dari seorang saudara.” Erwin mengerutkan kening, tiba-tiba khawatir bahwa lukisan ini mungkin berasal dari sumber yang tidak diketahui, jadi ingin menghindari masalah sebisa setelah mengirimkannya.


    "Sejauh yang kutahu, "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan" ini telah dilelang oleh seorang penjual asing hampir seharga 60 miliar rupiah 30 tahun yang lalu, dan tidak ada berita tentang lukisan ini lagi setelah itu, tak kusangka aku bisa melihatnya di sini."


    “Lukisan ini hampir 60 miliar?” Erwin sedikit terkejut, karena seharusnya Hans ini sama sekali tidak sanggup untuk membeli lukisan ini, jadi sepertinya Hans menggunakan cara licik tertentu untuk mendapatkannya dari penjual asing itu.

__ADS_1


    Setelah menilai "Ali Sadikin Pada Masa Kemerdekaan", Erwin meminta Brian untuk bantu menilai gelang giok ungu, dan gelang tersebut juga asli, dan memang merupakan peninggalan seorang putri Kerajaan, harga pasarnya bisa mencapai 600 juta rupiah.


    Erwin sangat puas dengan dua barang antik ini.


    Pada keesokan paginya, di Hotel Padma.


    Hari ini adalah ulang tahun ke-80 David Aleda, kepala keluarga dari keluarga Aleda di Kota Bandung. Banyak tamu datang ke hotel untuk merayakan ulang tahun lelaki tua itu, tetapi kebanyakan dari mereka berasal dari anggota keluarga Aleda, dan beberapa adalah teman dan siswa yang diundang oleh David.


    Dulunya, David adalah seorang profesor di Departemen Ekonomi dan Manajemen sebuah universitas, dia mengajar sejumlah besar siswa. Karena dia sangat tertarik dengan tren perkembangan ekonomi, jadi dia mengambil inisiatif untuk mundur dari posisi sebagai profesor, dan memanfaatkan jaringan sosial yang dimilikinya untuk membangun usaha, hingga bisa dikatakan sangat sukses karena memiliki banyak cabang perusahaan di berbagai bidang.


    Tetapi dikarenakan sudah lanjut usia, dia pensiun dan membagi rata perusahaan-perusahaannya untuk tiga putra dan satu putrinya, kemudian tidak ikut campur sama sekali dan menjadi terobsesi dengan barang antik.


    Oleh karena itu, semua putra dan putri David adalah orang kaya terkenal di Kota Bandung, dan masing-masing memiliki perusahaan sendiri, begitu juga dengan anak-anak mereka yang akan diwarisi.


    Tapi hari ini, Lina dan keluarganya duduk dengan rendah hati dan tenang di meja sebuah sudut.


    “Lucas, kamu biasanya sangat ingin berbicara dengan mereka, jadi kenapa hanya duduk diam dan merokok di sini?” Ibu Lina yang bernama Mary bertanya dengan penasaran saat melihat Lucas hanya duduk dan merokok dengan tenang di sudut.


    "Oh, aku tak tertarik tokoh biasa-biasa saja seperti itu, jadi kenapa harus repot-repot membuang energi untuk membual dengan mereka." Semenjak mendekati pria kaya misterius yang bernama Erwin, selera serta pandangan Lucas sudah berbeda, dan tak tertarik pada anggota keluarga yang berstatus biasa-biasa saja.


    "Perusahaanmu sendiri sudah mau tutup, tapi kau masih punya waktu untuk besar mulut di sini, kau jadi tak ada bedanya dengan pacar miskin Lina, hanya bisa besar mulut saja." Kata Mary sambil melihatnya dengan marah.

__ADS_1


    Dulunya mereka sudah menggunakan mobil, rumah dan semua modal kerja perusahaan untuk membeli tanah yang ada di sebelah timur kota, tapi tanah itu justru tak diperbolehkan untuk membangun hotel, jadi tidak ada bedanya menginvestasikan sesuatu yang sia-sia, sehingga perusahaan terus mengalami kerugian setiap harinya, dan William yang merupakan anggota dewan juga selalu mencari cara untuk menurunkan Lucas dari posisinya yang sebagai Presdir.


    Dengan kesulitan seperti itu baik internal maupun eksternal, Lucas tidak ingin memanfaatkan dan menjembatani hubungan dengan eselon atas, juga tidak ingin mengambil kesempatan ini untuk menarik sejumlah dana untuk mengisi kekurangan perusahaan, tapi hanya duduk dengan tenang di sini sambil besar mulut, jadi bagaimana mungkin Mary tidak marah?


    “Mengenai urusan perusahaan, tenang saja, tidak mungkin ditutup! Keluarga kita tidak akan bangkrut." Kata Lucas dengan santai, karena dengan adanya calon menantu yang bernama Erwin ini, untuk apa dia mengkhawatirkan tentang uang.


    Namun, Lucas belum memberi tahu istri dan putrinya tentang Erwin, jadi wajar jika Mary sangat cemas.


    “Sepertinya ucapanku sia-sia!” Mary tidak berhasil menggerakkan Lucas, jadi dia membujuk putrinya,


    "Lina, perusahaan ayahmu mungkin akan bangkrut, ditambah rumah dan mobil kita juga sudah digadai, jadi kalau kita bangkrut, kamu tidak bisa menikmati kehidupan mewahmu seperti saat ini lagi."


    “Bu, apa yang ingin kamu katakan,” kata Lina dengan alis berkerut.


    "Kamu tahu Vincent Louis kan? putra dari murid kakekmu yang paling dibanggakan, dia itu seorang jenius sewaktu kuliah, dan setelah lulus lima tahun, sekarang dia sudah mendirikan sebuah perusahaan real estate sendiri yang bisa menempati urutan sepuluh besar di Kota Bandung, apalagi jaringan sosial miliknya, yang terpenting itu adalah latar belakang keluarganya cukup bagus dan dia masih lajang. Bukannya dia pernah mengejarmu beberapa tahun yang lalu? Ayo cepat pergi sapa dia sekarang." Saran Mary.


    “Bu, apa yang kamu bicarakan! Aku hanya menyukai Erwin.” Lina benar-benar semakin tidak mengerti ibunya sekarang. Baru-baru ini, ibunya selalu menyuruhnya untuk mencari pacar yang lebih kaya.


    "Erwin, Erwin, satu per satu sudah terhipnotis oleh anak miskin itu, memangnya seorang pemuda miskin dari pedesaan bisa membantu apa terhadap perusahaan keluarga kita yang sedang krisis? Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa pada kalian agar kalian sadar, kita akan bangkrut, dan hidup di jalanan, ditambah menjadi bahan tawaan para kerabat." Mary benar-benar marah.


    Tepat pada saat ini, seorang pemuda tampan berjalan kemari,

__ADS_1


    “Lina, lama tidak bertemu." Pemuda kaya dan tampan yang berbicara itu adalah Vincent yang disebut oleh Mary barusan, seorang bintang yang sedang naik daun di Kota Bandung.


__ADS_2