Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 209 Serangan Balik Ratu


__ADS_3

Di depan pintu Laws Group, sebuah kendaraan bisnis dan sebuah Ferrari berhenti dengan kokoh.


Seorang gadis mungil tapi penuh energik turun dari mobil, dia adalah Mona, asisten Giselle! Gadis cilik ini dulu ditinggal sendirian di perusahaan cabang yang bobrok karena terlilit hutang, namun kini wajahnya penuh percaya diri dan bangga.


Semenjak mengikuti Giselle, hutang ayahnya bukan hanya dihapus, tapi juga dapat gaji yang berlipat ganda, sehingga membuatnya sangat setia dan berterima kasih kepada Giselle.


Setelah turun, dia membuka pintu mobil untuk Giselle.


Giselle turun dari mobil bisnis dengan sepatu hak tinggi di kaki dan ekspresi tenang di wajah yang belum pernah ada sebelumnya.


“Ingat, kedatangan kita kali ini untuk mengambil alih, jadi tunjukkan kepercayaan diri kalian." Giselle melirik timnya. Dia membawa keluar orang-orang ini dari utara kota untuk mengambil alih perusahaan pusat Laws Group.


Kemudian mengganti setiap jabatan inti di perusahaan dengan orang-orangnya sendiri, sehingga seluruh Laws Group benar-benar berada di bawah kendalinya, dan enam orang ini adalah tim yang benar-benar miliknya.


“Giselle, ini adalah harimu!” Kata Erwin sambil berjalan mendekat.


“Erwin, terima kasih, aku pasti akan membalas budimu setelah semua ini selesai, aku tak mungkin bisa sampai sejauh ini tanpamu.” Giselle berterima kasih dari lubuk hati terdalamnya, tanpa bantuan Erwin, dia hanya bisa menjadi seorang putri haram yang dipandang rendah oleh keluarga sendiri dan dipermainkan habis-habisan.


Erwin mengangkat sudut mulutnya dan menjawab,


"Kau adalah tokoh utamanya hari ini, perlihatkan pada mereka yang dulunya memandang rendah dirimu, tunjukkan kalau kau itu bukanlah orang yang boleh disinggung sesuka hati mereka."


Giselle mengangguk, menegakkan tubuh dan berjalan ke pintu masuk dengan sepatu hak tinggi, di mana Frendy dan Aaron sudah menyambut di sana secara langsung, dan berpura-pura memberi muka kepada Giselle.


“Ayah, putri haram itu sudah datang, kenapa kita harus menyambut secara langsung? Memangnya dia layak?” Aaron masih sangat enggan, dan tidak senang saat menyaksikan Giselle memimpin orang-orangnya ke sini.


“Tutup mulutmu dan sopan sedikit saat bertemu Giselle nanti, dengan begitu kau bisa mengambil alih cabang di kota utara.” Tegur Frendy.


Frendy ingin menyerahkan cabang yang berkembang pesat di utara kota untuk diurus putranya, Aaron.


Aaron cemberut dan memasang ekspresi tidak setuju, karena lagipula cabang utara kota itu juga milik Laws Group, yang berarti semuanya berada di bawah kendali ayahnya, jadi untuk apa harus bersikap sopan kepada Giselle?


Giselle dengan cepat tiba di depan pintu perusahaan bersama orang-orangnya dengan ekspresi tenang, sama sekali tidak menunjukkan kelemahan atau ketakutan.


"Giselle, terima kasih atas kerja kerasmu di utara kota, aku sudah siapkan promosimu menjadi wakil manajer umum! Sedangkan untuk cabang utara kota, cukup serahkan saja pada Aaron!" Frendy berkata sambil tersenyum, dan pada saat yang sama menoleh untuk melirik sekelompok orang di belakang Giselle, tapi dia langsung mengerutkan kening begitu melihat adanya Erwin.


Sudut bibir Giselle tersenyum, mengenai Frendy yang sampai datang untuk menyambut secara langsung, memang seperti yang telah diduganya, pasti punya tujuan tersendiri, ternyata ingin menyerahkan cabang yang sudah susah payah Giselle kembangkan kepada Aaron.


"Terima kasih ayah, tetapi kali ini aku bukan datang untuk penyerahan cabang utara kota, tapi mengambil alih seluruh Laws Group."

__ADS_1


Mendengar kata-kata kasar dan arogan seperti itu, Frendy mengerutkan kening, Aaron yang di sebelahnya bahkan tidak tahan lagi, dan menunjuk hidung Giselle sambil marah-marah,


"Anak haram yang berani sekali! Mau ambil alih Laws Group? Mimpi! Walau anggota keluarga Lawrence mati semua sekalipun, Laws Group tetap takkan jatuh ke tanganmu."


"Begitu ya?" Mata Giselle menjadi dingin, melangkah maju dan menampar wajah Aaron tanpa basa-basi, suara yang nyaring langsung mengejutkan Aaron dan Frendy.


Dulu Giselle akan tetap sabar dan mengalah, tapi mulai hari ini dan seterusnya, itu tidak akan terjadi lagi.


Ditampar di depan umum, terutama di depan pintu masuk perusahaan keluarganya sendiri, Aaron tidak bisa menahan malu dan marah-marah,


"Dasar jalang sialan, berani-beraninya kau memukulku, kuhajar kau!"


Sambil berteriak, Aaron mengangkat tinju dan mengayunkannya ke arah Giselle, tapi sebuah tendangan kaki lebih cepat dari tinju itu dan mengenai perut Aaron.


“Ada aku di sini, siapa yang berani pukul Giselle?” Erwin berkata dengan dingin, kali ini dia bersedia berada di depan Giselle untuk membantu.


"Dasar pasangan zina, biar kuberi kalian sedikit pelajaran! Keamanan, cepat ke sini dan hajar pasangan ini!” Aaron berteriak dengan ganas, sama sekali tidak bisa menahan amarahnya.


Tiba-tiba, lebih dari selusin penjaga keamanan bergegas kemari setelah mendengar teriakan Aaron, Frendy yang sebagai CEO bahkan menyetujui ini, karena dia juga ingin menekan sikap arogan Giselle, sejujurnya dia juga tidak senang saat mendengar ucapan Giselle tadi, jadi sekalian ingin memberi Giselle pelajaran dan membuatnya sadar diri.


Namun, sebelum selusin penjaga keamanan mendekat, Sharon, Lisa, dan Leona yang berada di belakang Erwin langsung menyerang duluan dan dalam waktu kurang dari satu menit, selusin penjaga keamanan itu sudah tumbang semua.


Melihat ini, Frendy dan Aaron terkejut dengan kemampuan dan kekuatan ketiga orang ini yang bisa mengalahkan selusin orang semudah itu!


"Ayah, sudah kubilang aku datang untuk mengambil alih Laws Group, suka atau tidak suka kamu tetap tidak bisa menghentikanku."


“K-kau bahkan sampai mau merebut posisi ayahmu?! Dasar putri durhaka!” Wajah Frendy memucat, karena tidak menyangka putri haram ini akan secara blak-blakan mencoba merebut posisinya.


“Kamu tidak layak menjadi ayahku! Kau seharusnya tahu bagaimana ibuku meninggal, hari ini aku hanya datang membalas dendam!” Giselle merasa tidak perlu takut lagi, dia punya kepercayaan diri penuh dan tidak perlu sabar terhadap penghinaan lagi.


"Jangan harap bisa menjadi CEO, kau bahkan tak memegang saham sama sekali!" Frendy diam-diam bersyukur karena tidak memberi Giselle saham apapun sama sekali, itu adalah langkahnya untuk mencegah situasi yang akan terjadi seperti ini.


Namun, Giselle hari ini sudah berbeda dari sebelumnya.


"Maaf, tapi aku punya 5%, dan High Build Group juga memegang 40%!"


Sebelum datang, Erwin sudah mentransfer 5% saham Lawa Group kepada Giselle agar Giselle bisa mencalonkan diri sebagai CEO.


"Hahaha, kalian berdua cuman punya 45% saham, tapi mau buka rapat dewan direksi walau tidak punya lebih dari 50%? Sungguh lucu sekali!!" Frendy tertawa.

__ADS_1


Untuk mengendalikan Laws Group dengan kokoh di tangan keluarga Lawrence, Frendy sendiri punya 35% saham, Frank 10%, Bruce 10%, dan Aaron juga 10%, hanya saja punya Aaron ditipu oleh Erwin.


Sehingga keluarga Lawrence yang sebelumnya memegang 65% saham, membuat Laws Group mustahil jatuh ke tangan orang luar.


Walaupun 10% saham Aaron telah ditipu oleh Erwin, keluarga Lawrence masih punya 55%, dengan adanya lebih dari setengah total saham, maka tidak mungkin bagi Giselle untuk mengambil alih sama sekali.


"Ayah kepedean." Bibir Giselle melengkung.


“Giselle, mulai hari ini kau dikeluarkan dari keluarga Lawrence, dan bukan lagi anggota keluarga Lawrence kami.” Frendy membalas dengan keras, karena Giselle mau mengambil posisinya, maka dia juga tidak akan berbelas kasihan lagi, keduanya benar-benar telah memutuskan hubungan.


“Frendy, kita lihat saja siapa yang akan dikeluarkan.” Tiba-tiba Giselle berteriak keras.


"Kau mau mengeluarkanku? Jangan pikir bisa membalikkan keadaan cuman dengan dukungan High Build Group, tanpa memegang lebih dari 50% saham, jangan harap bisa melewatiku dan membuka rapat dewan direksi secara paksa," kata Frendy dengan arogan dan percaya diri.


Namun, pada saat ini sebuah mobil Mercedes-Benz berhenti di depan pintu perusahaan, dan seorang pria paruh baya turun dari mobil tersebut, pria paruh baya itu mengenakan kemeja abu-abu dengan wajah jujur dan berdedikasi tapi punya tatapan yang tajam.


Melihat pria ini, Frendy terkejut.


"Adik kedua, kenapa datang ke sini? Apa karena masalah pabrik?"


Orang yang datang adalah adik kedua Frendy sekaligus paman kedua Giselle, Bruce Lawrence. Setelah keluar dari mobil, Bruce mengabaikan Frendy dan langsung mendekati Giselle sambil meminta maaf,


"Maaf Giselle, paman keduamu ini sudah tua dan bangun kesiangan, rapat dewan direksinya belum mulai, kan?"


Begitu kata-kata itu keluar, Frendy dan Aaron menarik napas dalam, situasi apa-apaan ini? Sejak kapan Bruce begitu akrab dengan Giselle??


Jangan-jangan ... Frendy tiba-tiba merasakan firasat buruk di dalam hati, dan keringat dingin juga langsung mengalir di dahi.


"Ayah, sekarang paman kedua sudah mendukungku dengan 10% sahamnya, jadi kami punya 55%, walaupun kamu tak setuju sekalipun, kami tetap bisa buka rapatnya secara paksa!" kata Liu Piao dengan tenang.


"Mana mungkin? Ini mustahil!" Frendy yang mendengar terus berkeringat dingin, karena tidak percaya adiknya sendiri akan berbalik untuk mendukung putri haram ini!


Frendy tiba-tiba menatap Erwin, ini semua pasti ulah High Build Group, jika tidak, dengan kemampuan dan identitas Giselle, mustahil Giselle bisa didukung adik keduanya, walaupun sudah mengerti akan semua ini, tapi sayangnya sudah terlambat.


“Kubilang kali ini aku datang untuk mengambil alih Laws Group, mau tidak mau, kamu takkan bisa menghentikanku,” kata Giselle setelah melangkah ke arah Frendy.


"Bersiaplah untuk rapat dewan direksi dalam pemilihan ulang CEO dan penggantian karyawan perusahaan."


Giselle sudah menunggu lebih dari sepuluh tahun untuk mengatakan ini, sekarang tinggal selangkah lagi Laws Group ini akan jadi miliknya.

__ADS_1




__ADS_2