
Damon itu siapa? Para bos yang hadir di sini jelas tahu betul bahwa Damon itu bagaikan sosok kaisar di Kota Bandung, yang bahkan walikota sekalipun harus hormat, tapi tokoh sepenting itu aja harus menundukkan kepala kepada pemuda bertopeng ini? Dapat dilihat bahwa identitas pemuda misterius ini jelas lebih berkuasa.
Untuk sementara ini, semua orang yang hadir mulai berdiskusi, tentu saja banyak bos besar lokasi yang tahu pria bertopeng putih ini karena Tuan Muda Smith pernah muncul di Klub Keuangan Jade.
"Itu sepertinya Tuan Muda Smith, dia juga ikut lelang ini?"
"Tuan muda Smith yang mewakili Perusahaan Investasi Erlin?"
"Bahkan Tuan Muda Smith juga datang, ini pasti akan jadi lelang yang seru."
...
Setelah pemberitahuan dari para bos besar lokal, orang-orang yang hadir menjadi tahu siapa orang bertopeng itu, terutama bos besar di luar Kota Bandung, karena ini adalah pertama kalinya mereka melihat Tuan Muda Smith.
Keluarga Smith itu siapa? Itu adalah keluarga top dunia yang bahkan sepuluh besar keluarga terkaya di dalam negeri harus hormati.
Untuk sementara waktu, para bos besar menjadi khawatir, karena sama sekali tidak ada peluang bagi mereka untuk bersaing dengan keluarga kelas dunia seperti itu, tapi mereka tidak akan mau menyerah begitu saja.
Giselle yang duduk di belakang sudah melihat Tuan Muda Smith untuk yang kedua kalinya, dan sikap yang tidak dapat dicapai membuatnya hanya bisa menonton dari kejauhan.
Justru Nora yang duduk di tempat mulai berpikir.
"Kenapa Tuan Muda Smith ini mirip dengan penggemar akutku? Tingginya sama dan juga pakai topeng, apa jangan-jangan orang yang sama?"
Hanya memikirkan ini, Nora sendiri juga terkejut dengan tebakan yang berani tersebut.
"Seharusnya tidak, dia itu Tuan Muda dari keluarga top dunia, mana mungkin penggemarku? Pasti cuma kebetulan, cuma kebetulan."
Meskipun Nora berpikir begitu di dalam hati, tapi pada saat yang sama ingin mencari kesempatan untuk mengetes Tuan Muda Smith itu, dia juga sudah lama tidak bertemu dengan penggemar akutnya dan selalu memikirkannya setiap malam.
"Akan kucari kesempatan untuk mengetesnya nanti." Nora diam-diam menyimpan pemikiran ini di dalam hati.
Erwin justru tidak terlalu mempedulikan pandangan orang lain, tetapi dengan tenang duduk di kursi di samping Damon yang sudah disediakan secara khusus.
Damon menoleh dan berbisik kepada Erwin.
"Tuan muda, selain dari kota-kota di sekitar, ada juga keluarga Alvarendra dari ibukota, mereka pasti akan ikut rebut wilayah ini juga." Lanjut Damon setelah jeda sejenak.
"Selain itu, ada keluarga Violencia dari Kota Tangerang juga berpotensi berbahaya, pengaruh mereka sudah menyebar ke seluruh Kota Tangerang, dan punya keberadaan seperti kaisar di sana, sehingga dana yang dapat digunakan juga sangat besar."
“Gapapa, mereka takkan jadi ancaman, aku pasti bisa ambil semua tanah di Distrik Baru Utara Kota,” Kata Erwin dengan ringan, tidak menganggap serius mereka sama sekali.
"Tuan muda, lebih baik berhati-hati, kalau mereka kerja sama untuk menawar, kita mungkin bisa rugi besar." Damon mengingatkan dengan sedikit khawatir.
"Iya, akan kuingat." Erwin mengangguk, karena jika beberapa keluarga besar bersatu, memang akan sangat sulit untuk dihadapi.
Setelah menerima kabar dari walikota, Yusuf si pembawa acara di atas panggung langsung menyesuaikan suasana hatinya dan memulai pelelangan.
Setelah salam sederhana, acara langsung ke intinya.
"Wilayah yang akan dilelangkan ada empat yang pertama itu wilayah A1-A30, yang berbatasan dengan utara kota, dengan luas 30 kilometer persegi, lokasi spesifik dapat kita lihat di layar lebar berikut."
Setelah mengatakan itu, sebuah peta besar muncul di layar lebar tepat di belakang Yusuf dan wilayah A1-A30 ditandai dengan lingkaran berwarna merah, sehingga terlihat mencolok.
“Area yang dilingkari merah ini adalah lahan pertama yang akan dilelang, luasnya 30 kilometer persegi, yang digunakan sebagai pembangunan kawasan industri, harga awalnya akan dimulai dari 6 triliun rupiah, tawaran harga akan dimulai sekarang."
"8 triliun."
"10 triliun."
"12 triliun."
Harga penawaran semakin tinggi, lahan industri itu sebenarnya tidak menghasilkan banyak uang, jadi banyak bos besar di luar Kota Bandung enggan untuk mengambil tindakan, melainkan hanya diam-diam menyaksikan sekelompok bos besar Kota Bandung yang berebutan.
"Damon, menurutmu lahan ini layaknya berapa?” Erwin tidak gegabah dan berkonsultasi pada Damon sebelum menawar.
"Sekitar 50 triliun, kalau lebih tidak sepadan." Damon membuat perkiraan dan melaporkan angka yang aman.
"Oke, kalau begitu kita beli." Setelah Erwin tersenyum, dia mengangkat plat nomor di tangan dan langsung menaikkan tawaran.
"50 triliun."
Harga langsung mencapai posisi tertinggi dalam sekejap, yang membuat banyak bos besar di tempat kejadian menarik napas dalam, Tuan Muda Smith layak disebut pewaris keluarga besar papan atas dunia, bisa-bisanya menawar 50 triliun sesantai itu.
Bagaimana cara mereka bersaing? Bos besar di Kota Bandung sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk rebutan lahan ini, walaupun mampu sekalipun mereka juga tidak akan berani menentang Perusahaan Investasi Erlin milik Tuan Muda Smith.
Pembawa acara mulai berhitung saat melihat tidak ada yang menawar lagi, "50 triliun satu kali."
"50 triliun dua kali." Tepat ketika Yusuf mengangkat palu untuk menghitung yang ketiga kalinya, seorang pria besar yang duduk di baris pertama tiba-tiba mengangkat plat nomor di tangan.
"56 triliun." Sebuah harga yang disebut oleh seseorang dari keluarga Fernando Kota Klaten.
Ini menunjukkan bahwa dia menaikkan harga permintaan lahan, Kota Klaten itu cukup jauh dari distrik baru utara kota, dan keluarga Fernando juga tidak memiliki properti di Kota Bandung sama sekali, jadi mengambil lahan industri ini tidak ada untungnya selain untuk menaikkan harga lelang saja.
Jika Damon bersatu dengan perusahaan lain di Kota Bandung untuk menolak orang-orang untuk memasuki kawasan industri ini, itu akan membuat mereka bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk menjalankan usaha, jika hal itu terjadi, pembelian lahan dengan 56 triliun ini akan menjadi sia-sia bagi mereka!
“Tuan muda, keluarga Fernando cuma sengaja menaikkan harganya saja.” Damon juga seorang veteran jadi langsung tahu tujuan dari tindakan keluarga Fernando.
"Perlu kuperingatkan mereka secara diam-diam?"
“Tidak, kita ikuti saja permainan mereka." Erwin berkata sambil mengangkat plat nomor.
"60 triliun."
Momentum ini memperjelas bahwa Erwin ingin mengambil lahan ini.
Tidak ada yang berani menaikkan harga kali ini, begitu juga dengan keluarga Fernando yang awalnya ingin menguji Erwin, karena jika tidak ada yang menawar lagi, maka itu akan menjadi kerugian besar.
"60 triliun satu kali."
"60 triliun dua kali." Yusuf menghitung, tapi bos-bos besar di bawah masih tetap diam.
"60 triliun tiga kali, terjual, selamat kepada Perusahaan Investasi Erlin karena memenangkan perlelangan lahan pertama." Yusuf mengumumkan dengan penuh semangat di atas panggung.
Dan beberapa bos perusahaan yang duduk di bawah juga telah membuat rencana untuk bekerja sama dengan Perusahaan Investasi Erlin, terutama para bos perusahaan di Kota Bandung, bagaimanapun, ini adalah kawasan industri di daerah baru dan banyak perusahaan baru yang akan dibangun di sini, terlebih lagi utara kota ini akan menjadi penghubung antara Kota Bandung dan Kota Santa, jadi keuntungannya pasti akan lepas landas.
Erwin berhasil mengambil lahan pertama dengan mudah, terutama karena lahan ini digunakan untuk industri, jadi tidak terlalu menghasilkan uang bagi bos besar dari kota lain, yang membuat persaingannya tidak terlalu tinggi.
__ADS_1
“Baiklah, tanpa basa-basi, lahan kedua adalah pusat dari distrik baru ini, yang digunakan untuk pengembangan real estat, dengan luas total sekitar 20 kilometer persegi. Untuk lokasi spesifik, dapat kita lihat di B1-B20 yang dilingkari."
Yusuf menjelaskan dengan sangat serius.
Tanah real estat adalah proyek yang sangat menguntungkan, banyak yang ingin mencoba, jadi kali ini mau itu bos lokal atau bahkan para bos besar dari kota lain juga sudah bersiap untuk rebutan.
"Harga awal untuk lahan kedua adalah 4 triliun dan kenaikan harganya tidak boleh kurang dari 200 miliar, penawarannya dimulai sekarang!" Begitu Yusuf selesai berbicara, banyak orang mulai menaikkan harganya, dan jumlah penawar jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
"6 triliun."
"10 triliun."
"12 triliun."
"20 triliun."
Hanya butuh kurang dari satu menit harga penawarannya sudah melebihi 20 triliun, sungguh penawaran yang mengejutkan.
Giselle yang duduk di tempat mencoba menaikkan harga beberapa kali, tapi langsung kaget dengan penawaran para bos lainnya, begitu juga dengan Tuan Besar Aleda, ini bukanlah sesuatu yang bisa mereka rebut.
Real estat adalah proyek penghasil uang yang populer, dan persaingan yang ketat adalah hal yang wajar.
"40 triliun." Tiba-tiba sebuah suara di kerumunan terdengar, suara ini ditawarkan oleh seseorang yang duduk di barisan belakang, dapat dilihat bahwa bos besar yang berkuasa belum tentu duduk di barisan pertama.
Banyak orang menoleh dan tidak mengenal penawar tersebut, tapi tidak dengan Damon, Damon langsung menoleh ke arah Erwin dan menjelaskan dengan suara rendah,
"Tuan Muda, itu anggota keluarga Violencia di Kota Tangerang, pengaruh mereka itu seperti High Build Group kita di Kota Bandung, mereka sudah memonopoli pasar di Kota Tangerang, jadi kali ini ingin berkembang ke luar kota, mereka sepertinya juga menargetkan distrik baru ini."
“Untuk dapat memonopoli pasar sebuah kota itu bisa dibilang cukup hebat.” Erwin sangat mengagumi keluarga Violencia.
"60 triliun." Erwin langsung menaikkan harga yang mengejutkan penonton.
Bahkan para bos besar yang duduk di baris pertama terkejut.
"Ini terlalu berlebihan, bagaimana kita bisa rebut?"
"Sekali naik langsung 20 triliun?"
"Memang layak disebut pewaris perusahaan top dunia."
...
Bos-bos besar yang hadir berseru dengan takjub, tapi keluarga Violencia dengan tenang menaikkan harganya lagi.
"70 triliun." Harga telah melampaui harga tertinggi di pasar, jika usahanya tidak berjalan dengan baik, maka itu akan jadi kerugian.
Banyak bos besar tersentak, keluarga Violencia juga luar biasa, dan mereka berani bersaing langsung dengan keluarga Smith, tapi Erwin tidak mudah dikalahkan, tepat ketika dia hendak menaikkan harga lagi, seseorang tiba-tiba membawa sebuah kertas untuknya.
“Tuan Muda Smith, ini sedikit catatan dari keluarga Violencia.” Pria itu langsung pergi setelah mengantarkan kertas catatan itu.
Erwin mengerutkan kening, apa yang direncanakan oleh keluarga Violencia? Sampai harus mengirim kertas catatan seperti in.
"Hati-hati, ada banyak jebakan dalam pelelangan ini." Damon mengingatkan dengan suara rendah, lalu membuka kertas itu, yang artinya sangat jelas.
“Keluarga Violencia mau menggunakan 51% saham sebagai imbalan untuk melepas persaingan.” Damon menunjukkan isi kertas catatan kecil itu kepada Erwin.
Erwin yang melirik itu langsung mengangkat sudut mulutnya.
"Keluarga Violencia ini ternyata cukup licik juga." Erwin tahu tujuan mereka dan diam-diam mengagumi keluarga Violencia.
Pada saat yang sama, Yusuf di atas panggung sudah mulai menghitung.
"70 triliun satu kali."
"70 triliun dua kali." Tepat saat Yusuf hendak menghitung ketiga kalinya, Erwin akhirnya mengangkat plat nomornya lagi.
"80 triliun." Erwin tidak mau 51% tapi 100%, terlebih lagi janji lisan keluarga Violencia di kertas ini pada dasarnya tidak bisa menjadi bukti yang kuat, begitu keluarga Violencia mendapat lahan itu, harganya pasti akan naik gila-gilaan, dan mereka hanya perlu tidak mengakui janji di kertas tersebut.
Harga 80 triliun sudah terlalu mahal bagi keluarga Violencia.
"Tuan Muda Smith ini ternyata tak gampang tertipu." Ehsan Violencia yang merupakan perwakilan dari keluarga Violencia mengerutkan kening dan bergumam.
“CEO, mau dinaikkan lagi tawarannya? Kalau naik lagi kita mungkin tidak sanggup bayar.” Kata seorang asisten di sebelahnya sambil menyeka keringat di dahi.
"Kali ini lepas saja, hubungi keluarga Alvarendra dari ibukota dan ajak kerja sama dari mereka, kalau tidak, keempat lahan ini akan diambil habis oleh Tuan Muda Smith." Ehsan langsung menyusun rencana kedua begitu rencana pertama tidak berhasil, berpikir untuk bekerja sama dengan keluarga Alvarendra dari ibukota untuk berurusan dengan Tuan Muda Smith.
"Baik, akan segera saya hubungi." Asisten tersebut langsung pergi setelah menjawab.
Yusuf yang ada di atas panggung mulai menghitung lagi karena tidak ada penawar lain.
"80 triliun satu kali."
"80 triliun dua kali."
"80 triliun tiga kali, selamat kepada Perusahaan Investasi Erlin karena memenangkan lahan kedua."
Kegemparan muncul lagi di antara penonton, begitu mengesankan hingga para bos lokal lainnya tidak berani bersaing.
Bahkan Nora dan Giselle terdiam saat melihat ini.
"Tuan muda keluarga top dunia memang berbeda, tidak ada yang bisa menghentikannya sama sekali."
“Kita istirahat sepuluh menit dulu, lelang lahan ketiga akan dimulai setelah sepuluh menit nanti.” Yusuf mengumumkan ini setelah menerima instruksi dari walikota.
Begitu kata-kata itu keluar, semua orang bangkit dan mulai bergerak, banyak keluarga besar mulai mendiskusikan bagaimana menghadapi perebutan dua lahan berikutnya, tindakan Tuan Muda Smith terlalu tanpa ampun, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada orang lain.
Jadi mereka hanya bisa bekerja sama merebut, beberapa gadis pemberani bahkan mengambil kesempatan istirahat untuk mendekati Erwin.
Begitu juga dengan Nora, dia penasaran apakah Tuan Muda Smith dan penggemar akutnya itu orang yang sama.
Namun, seorang gadis mendekati Erwin selangkah lebih cepat darinya.
“Halo Tuan Muda Smith, namaku Angela, boleh minta kontak Tuan Muda Smith?” Seorang gadis tinggi dan cantik dengan riasan tipis datang untuk meminta nomor Erwin.
Erwin tertegun sejenak, begitu mengangkat kepala, dia baru sadar ternyata ada banyak gadis yang ingin mendekatinya, yang membuatnya sedikit terkejut sekaligus bingung.
__ADS_1
"Damon, panggil penjaga keamanan." Erwin tidak punya waktu untuk memperhatikan para gadis matre ini, yang berpikir untuk menikahi anggota keluarga kaya dan hidup berfoya-foya, Erwin bahkan malas untuk menatap para gadis seperti itu.
"Baik tuan muda." Setelah menjawab, Damon langsung memanggil pengawal pribadinya untuk mengusir para gadis-gadis yang tergila-gila ini, dan juga beberapa penjaga keamanan untuk melindungi Erwin.
Ketika Nora tiba, dia langsung dihentikan sepuluh meter jauhnya oleh penjaga keamanan, itu membuatnya merasa sedikit tidak puas, karena dia sudah menunggu penggemar akutnya muncul selama siaran langsung setiap hari, bahkan pesan pribadi juga tidak dibalas, yang membuat Nora semakin merindukannya.
"Tuan Muda Smith, aku Nora." Nora mencoba berteriak untuk menarik perhatian Tuan Muda Smith, tapi tidak ada gunanya, tempat ini terlalu berisik, jadi tidak kedengaran oleh Erwin sama sekali, walaupun kedengaran sekalipun, Nora itu nama pasaran jadi tidak akan menarik perhatiannya sama sekali.
“Nona, tolong hargai, Tuan Muda Smith tidak suka diganggu.” Penjaga Keamanan itu menghentikannya.
Nora sedikit enggan dan dengan paksa menyelinap dari bawah lengan penjaga keamanan, dan berteriak lagi begitu sudah dekat dengan Erwin.
"Menggenggam Nora di di tangan."
Ini adalah nama samaran Erwin di ruang siaran langsungnya, yang sangat unik.
Tingkah laku gila Nora membuat Giselle sangat khawatir, pada saat yang sama, ayah Nora juga khawatir begitu melihat putrinya berteriak pada Tuan Muda Smith, jadi buru-buru mendekat dan menarik putrinya,
“Nora, kau ngapain? Tuan Muda Smith itu tak suka diganggu, jangan mempermalukan dirimu sendiri, di sini sangat ramai,” bujuk Marco.
“Nora, kau kenapa hari ini? Seorang Tuan Muda Smith saja tidak perlu segila itu, kan?" Giselle juga merasa sangat aneh, Nora hari ini benar-benar berbeda dari biasanya.
"Menggenggam Nora di tangan." Nora tidak bisa menahan diri dan berteriak lagi walau sudah diseret menjauh oleh beberapa penjaga keamanan.
Tapi kali ini terdengar oleh Erwin, terlebih lagi terdengar jelas.
Dia melirik ke sumber suara tanpa sadar, dan melihat Nora yang sedang diseret oleh beberapa penjaga keamanan, tapi begitu teringat kesalahpahaman Fiona di Klub Keuangan Jade sebelumnya, Erwin berhasil menahan diri.
"Maa Nora." Erwin dengan kejam berbalik kembali.
Nora yang melihat Tuan Muda Smith berbalik lagi langsung merasa kehilangan.
Setelah istirahat selesai, lahan ketiga disebutkan oleh Yusuf.
"Untuk lahan ketiga itu berada di sebelah lahan kedua dengan luas 15 kilometer persegi, yang digunakan untuk pembangunan jalan komersial, pusat perbelanjaan, pusat budaya, dan pangkalan film, harganya di mulai dari 4 triliun."
Sementara Yusuf berbicara, lokasi lahan ketiga ditampilkan di layar lebar.
Setelah semua orang melihatnya, mereka mulai siap untuk menawar.
Lahan pasar komersial jelas merupakan proyek yang menguntungkan, mungkin tidak semenguntungkan real estat, tapi jika dari segi berkelanjutan dan jangka panjang, harga toko komersial lebih tinggi, jadi semua bos besar siap untuk merebut lahan ini, karena saat istirahat singkat tadi mereka sudah mendiskusikan kerja sama.
"Tawaran di mulai sekarang." Begitu suara Yusuf keluar, seorang bos besar di bawah langsung membuka tawaran.
"4 triliun."
"10 triliun."
"20 triliun."
Hanya dalam sekejap tawaran langsung mencapai 20 triliun, dan yang lainnya juga menunggu tawaran dari Erwin.
Namun sebelum palu dihentakkan, Erwin tidak akan menawar dan hanya melihat mereka berebutan satu sama lain.
Ternyata benar, sudah ada yang tidak bisa menahan diri.
"21 triliun."
"22 triliun."
"24 triliun."
...
Melihat Erwin belum menawar, para bos besar itu mulai menaikkan harganya sedikit demi sedikit, hingga mencapai 56 triliun dan semakin sedikit persaingannya.
Namun masih ada beberapa bos besar yang terus menaikkan harga.
"60 triliun." Keluarga Alvarendra dari ibukota akhirnya membuat penawaran mereka, terlebih lagi sekali tawar langsung harga yang mencengangkan.
Membeli dengan harga ini untuk lahan komersial sebenarnya tidak akan balik modal dalam 20 tahun, bos besar kota lain tidak berani menaikkan harga lagi, bahkan bos besar di Kota Santa juga ragu-ragu.
Bagi mereka, harga ini bagaikan investasikan seluruh harta keluarga mereka, walaupun berhasil memenangkan wilayah tersebut sekalipun, masih belum bisa balik modal dalam 20 hingga 30 tahun, karena ini proyek jangka panjang, jadi rantai modal seluruh keluarga bisa putus kapan saja.
Melihat tidak ada yang menawar, Erwin langsung mengangkat plat nomor dan menaikkan harga.
"80 triliun."
Erwin langsung menaikkan 20 triliun sekaligus, bagaimanapun dia punya banyak uang, jadi walau tidak bisa balik modal dalam 50 tahun sekalipun juga tidak masalah.
Namun, para bos besar lainnya tidak bisa, latar belakang mereka tidak sebanding dengan keluarga Smith.
Ekspresi perwakilan keluarga Alvarendra berubah drastis, Tuan Muda Smith ini jelas ingin mengambil keempat lahan lelang ini, tapi dia masih bersikeras ingin menaikkan harganya.
"82 triliun."
Ini jelas masih mengandung niat untuk menaikkan harga!
"Masih mau lawan? Menarik." Erwin mengangkat sudut mulut dan mengangkat plat nomor lagi.
"90 triliun." Erwin ingin melihat apakah keluarga Alvarendra masih berani mengikuti, atau seluruh keluarga bergabung untuk menawar.
CEO dari keluarga Alvarendra melirik Ehsan Violencia, kemudian mengangguk dan memberi isyarat untuk menawar, tapi CEO dari keluarga Alvarendra, Jerry Alvarendra ragu-ragu karena dananya terancam putus kapan saja.
Walaupun lahan bersifat komersial ini berhasil didapatkan, dan bisa dibagi rata dengan keluarga Violencia, tapi tidak tahu sampai kapan bisa balik modal, jika pihak keluarga Violencia tiba-tiba tidak mau bekerja sama lagi, maka keluarga mereka harus menanggung semuanya sendiri.
Ini membuat Jerry takut dan memilih untuk tidak menaikkan harganya lagi.
Yusuf mulai menghitung saat melihat tidak ada yang menawar lagi.
"90 triliun satu kali."
"90 triliun dua kali." Tepat ketika semua orang berpikir Tuan Muda Smith akan memenangkan lelang ini, sebuah suara wanita yang merdu terdengar dari kerumunan.
"100 triliun."
Keributan kembali muncul di antara penonton, bahkan keluarga Alvarendra dan keluarga Violencia terkejut, termasuk Erwin yang mengerutkan kening, ternyata memang masih ada bos besar yang bersembunyi di kerumunan.
__ADS_1