
Jelas orang-orang keluarga Cole tidak menyadari kedatangan Erwin dan Lisa, pada saat ini, mereka mengikuti anjing serigala besar dan perlahan-lahan mengepung pabrik.
"Elijah seharusnya di dalam, cepat kepung, jangan sampai dia kabur, atau kita pasti akan dihukum begitu pulang nanti!" Seorang pria dengan anjing serigala besar yang jelas merupakan pemimpin tim sedang mengarahkan bawahannya untuk mengepung pabrik terbengkalai.
Melihat mereka semua fokus pada pabrik, Erwin tersenyum sedikit.
"Sudah saatnya."
Begitu kata-kata itu keluar, Lisa langsung melesat keluar seperti seekor macan tutul, kecepatannya mengerikan, dalam sekejap mata, Lisa merobohkan orang yang paling dekat dengan satu pukulan, itu membuat Erwin tercengang, karena lawan bisa dikalahkan secepat itu.
Dengan kecepatan itu, Erwin sendiri tidak yakin sanggup bertahan dari serangan yang sama.
Setelah menjatuhkan satu orang, Lisa dengan cepat berbalik lagi, menatap lawan yang lain di sebelah kiri, dan sekali lagi menumbangkan lawan tersebut dengan pukulan, pukulan Lisa benar-benar cepat, akurat, dan kejam, seperti master seni bela diri.
"Ada yang cari masalah, bunuh dia!" Lisa akhirnya menarik perhatian mereka setelah menjatuhkan dia lawan secara berturut-turut.
Delapan lawan yang tersisa termasuk pemimpin mereka buru-buru mengepung Lisa dengan seekor anjing serigala besar.
Lisa tidak panik, dia melompat ke arah salah satu dari mereka dan melakukan tendangan yang tepat mengenai leher, yang membuat lawan tersebut tumbang dan pingsan.
Yang lain menatap dan terpana sejenak, karena Lisa ini sungguh kejam!!
"Hajar! Bunuh dia!" Melihat Lisa sekuat itu, pria dengan anjing serigala besar itu langsung mengeluarkan tongkat panjang dari pinggangnya dan berteriak keras, kemudian diikuti oleh yang lainnya dan menyerang ke arah Lisa.
Erwin gugup untuk sementara waktu, ada banyak orang yang mengepung Lisa dengan niat membunuh, Lisa mungkin saja bisa dalam bahaya, dia tidak boleh menunggu lebih lama lagi.
"Sudah waktunya ambil tindakan" Sementara semua perhatian mereka tertuju pada Lisa, mata Erwin mendingin, dia memunggut sebuah batu bata di sampingnya dan dengan cepat mendekati mereka.
Mendekati lawan yang paling dekat dengannya, Erwin muncul dari belakang, menghantamkan batu bata dan menjatuhkan satu lawan hingga darah berceceran di kepala.
Setelah berhasil, Erwin menendang menendang lawan lainnya yang belum sempat bereaksi, orang itu ingin bangun dan melihat siapa yang menendangnya, tapi Erwin buru-buru mengayunkan batu batanya lagi.
"Ada satu lagi, bunuh dia." Setelah pemimpin itu berteriak keras, dia memisahkan dua orang untuk melawan Erwin.
Empat sisanya termasuk pemimpin masih mengayunkan tongkat panjang dan mengepung Lisa, dan pertarungan tiba-tiba terbagi menjadi dua.
"Bagus." Erwin tersenyum sedikit, dia sudah lama tidak bertarung sungguhan, jadi akan mengerahkan semuanya hari ini.
Dua lainnya mengayunkan tongkat panjang ke arah Erwin terus-menerus, sedangkan Erwin hanya memegang batu bata untuk melawan mereka mati-matian, untungnya, dua lawannya hanya gangster biasa, jadi setelah beberapa gerakan, Erwin melihat celah kesempatan, dan memukul kepala salah satu dari mereka dengan batu bata.
Tak lama kemudian setelah lawan yang dipukul jatuh ke tanah, satu lawan yang tersisa dengan cepat dikalahkan oleh Erwin juga.
Meskipun ada empat orang yang mengepungnya di sisi Lisa, tapi semuanya tetap dikalahkan dengan mudah.
Pertarungan hanya berlangsung selama sepuluh menit, sebagian besar dari mereka dikalahkan oleh Lisa, sedangkan Erwin hanya melakukan serangan diam-diam sambil memanfaatkan situasi kekacauan.
Di dalam mobil, Giselle yang melihat Erwin dan Lisa berhasil mengalahkan orang-orang dari keluarga Cole, tiba-tiba menghela nafas lega, kemudian buru-buru keluar dari mobil dan berlari ke arah Erwin.
“Erwin, Lisa, kalian baik-baik saja?” Giselle ingin melangkah maju untuk memeriksa kondisi Erwin dan Lisa, tapi tanpa diduga, gonggongan anjing yang menakutkan terdengar, seekor anjing serigala hitam dengan mulut terbuka, menerkam ke arah Giselle.
Gonggongan liar dan penampilan kejam membuat wajah Giselle memucat dan melemah.
"Giselle." Melihat ini, Erwin kaget dan langsung melompat ke arah Giselle tanpa berpikir sekalipun, pada saat ini anjing serigala besar juga sedang menerkam ke arah Giselle.
Erwin berhasil memeluk Giselle terlebih dahulu, dorongan kuat membuat Giselle jatuh, tapi anjing serigala besar itu berhasil menggigit kaki Erwin.
Untungnya Erwin memakai sepatu jadi luka gigitannya sangat kecil, Erwin sedikit mengernyit, sambil melindungi Giselle dalam pelukannya, dia menendang anjing serigala besar sampai menerbangkan sepatunya.
Tanpa sepatu, Erwin samar-samar bisa melihat bekas gigitan di kakinya, serta bekas darah mengalir.
__ADS_1
"Sialan, sepatuku pun mau gigit!" Erwin ingin mengejar dan membunuh anjing serigala besar itu, tapi Lisa sudah melaju duluan, kemudian menendang anjing serigala besar itu hingga jatuh dengan rahang yang patah dan berakhir meninggal, bisa dilihat seberapa kuat tenaga kaki Lisa.
Giselle yang dilindungi oleh Erwin, saat sadar suara menakutkan dari anjing serigala besar itu sudah hilang, diam-diam membuka matanya, dan menemukan bahwa dirinya sedang dipeluk oleh Erwin dengan posisi yang sangat dekat dan menyedihkan di tanah.
Tetapi pada saat ini, Giselle merasakan perasaan hangat, melihat Erwin yang dekat, jantungnya berdetak kencang, wajahnya bahkan lebih merah, ini adalah pertama kalinya ada seorang pria yang berusaha menyelamatkannya tanpa berpikir panjang, ini membuat Giselle merasa tersentuh.
Meskipun Giselle tertekan di tanah oleh Erwin, tapi dia justru menikmati perasaan menghangatkan hati ini, selama ini Erwin adalah pria pertama yang menyelamatkannya terlepas dari resiko apapun, ditambah dengan posisi yang sangat ambigu dari mereka berdua, yang membuat detak jantung Giselle tanpa sadar berdegub kencang hingga pipi memerah.
“Giselle, kamu baik-baik saja?" Setelah itu Erwin melirik Giselle dalam pelukannya dan bertanya dengan khawatir.
"Tidak, tidak apa-apa." Giselle seketika tidak berani menatap Erwin, biasanya dia yang menggoda Erwin, tapi sekarang justru sedikit malu, dia sendiri bahkan tidak yakin apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.
"Baguslah kalau begitu," kata Erwin dan membantu Giselle berdiri, dan tanpa sadar melihat kaki kirinya yang telah digigit, di mana ada sedikit bekas darah.
“Erwin, kamu sudah digigit, ayo aku temani vaksin ke rumah sakit!” Giselle berkata dengan gugup, pada saat yang sama berjongkok untuk memeriksa luka Erwin dengan hati-hati.
Erwin hendak menolak, lagipula hanya luka ringan.
Tanpa diduga, Giselle tiba-tiba berbalik dan berlari ke arah mobil, kemudian kembali dengan sebotol air mineral, berjongkok, dan dengan hati-hati membersihkan luka Erwin.
Gerakannya sangat lembut dan lambat, karena takut itu akan menyakiti Erwin.
“Masih sakit?” tanya Giselle.
"Tidak apa-apa." Ini adalah pertama kalinya Erwin melihat Giselle begitu peduli padanya.
"Giselle, ayo kita cari Elijah saja, akan gawat kalau orang-orang dari keluarga Cole datang lagi."
"Oke, aku akan telepon Elijah." Setelah Giselle membersihkan luka di kaki Erwin, dia menegakkan tubuh, buru-buru mengeluarkan ponsel dan menelepon Elijah.
Pabrik terbengkalai di pinggiran kota ini sangat besar, jadi butuh waktu lama untuk masuk menemukan seseorang, apalagi kalau orang tersebut bersembunyi dengan sengaja.
“Giselle, akhirnya datang juga, bawa makanannya?” Penampilan Elijah sangat berantakan, dengan rambut acak-acakan, tubuh kotor, dan bau asam di sekujur tubuh, dapat dilihat bahwa Elijah telah bersembunyi di sini selama beberapa hari.
"Makan di mobil saja, tempat ini tidak aman!"
Dengan mengatakan itu, Erwin buru-buru membawanya ke mobil dan membiarkannya duduk kursi belakang sambil diawasi Lisa agar tidak bisa macam-macam.
Setelah masuk ke mobil, Giselle memberinya roti, minuman, dan air mineral yang telah sudah disiapkannya, Elijah juga tidak segan sama sekali, dan melahap semua roti seperti seorang pengemis yang kelaparan.
“Sudah kelaparan berapa hari kami itu?” Giselle menutup hidung dan bertanya, bau asam di tubuh Elijah benar-benar tidak enak dicium sama sekali.
"Aku beum makan selama dua hari, seperti yang kita sepakati, cukup antar aku keluar dari Kota Bandung ke Kota Pekalongan dan 5% saham Laws Group akan kujual 8 miliar ke kalian." Setelah Elijah mengatakan ini, dia lanjutkan memakan rotinya.
Tanpa ragu, Erwin menyalakan mesin mobil dan melaju ke timur kota, Kota Pekalongan berada di dekat timur kota Bandung dan akan memakan waktu setidaknya dua jam untuk berkendara ke sana.
Mengantar Elijah keluar dari Kota Bandung sebenarnya adalah masalah yang sangat gampang untuk diatasi bagi Erwin, tapi sekarang sedang di utara kota, yang membuat masalah ini sedikit lebih sulit, tapi begitu keluar dari utara kota, keluarga Cole tidak bisa macam-macan dengan Erwin lagi.
Erwin mengemudi dengan cepat, menatap sekeliling dari waktu ke waktu, karena takut orang-orang dari keluarga Cole di utara kota akan tiba-tiba keluar dan menghalangi jalan.
Tetapi untungnya, pasukan keluarga Cole masih belum mencapai posisi di mana mereka sanggup memblokir seluruh jalan, jika tidak, Erwin dan yang lainnya pasti tidak akan bisa keluar dari utara kota dengan lancar.
Setelah mobil meninggalkan utara kota, Erwin diam-diam menghela nafas lega, dan ekspresi Elijah menjadi jauh lebih santai.
Tetapi setelah meninggalkan utara kota, Giselle meminta Erwin untuk berputar arah ke rumah sakit di timur kota.
"Erwin, aku mau ke rumah sakit."
“Ke rumah sakit? Kamu terluka?” Erwin menoleh dan bertanya dengan khawatir.
__ADS_1
"Kami perlu vaksin rabies, masalah ini lebih penting daripada saham." Giselle telah memikirkan masalah ini dari tadi, karena tadi sedang berada di zona bahaya utara kota jadi sudah menahan diri sampai sekarang, sehingga begitu meninggalkan utara kota, dia hanya ingin membawa Erwin ke rumah sakit untuk vaksin rabies.
"Kakiku tidak sakit lagi, kita pentingkan bisnis dulu." Erwin memikirkan tentang transfer saham terlebih dahulu, masalah vaksin bisa nanti, tapi Giselle bersikeras ingin ke rumah sakit.
"Kalau tidak rumah sakit aku akan melompat dari mobil ini."
Erwin sedikit terkejut, apa yang terjadi pada Giselle hari ini? Giselle tidak pernah marah padanya, tiba-tiba sekeras kepala ini.
"Baiklah kalau begitu." Erwin tidak berani memprovokasi lagi, lagipula ini untuk kebaikannya sendiri, jadi dia terpaksa memutar ke rumah sakit di timur kota.
Kemudian Giselle secara pribadi turun dari mobil dan menemani Erwin ke rumah sakit untuk vaksin rabies, sementara Lisa duduk di dalam mobil untuk menjaga Elijah, Elijah yang melihat Giselle begitu peduli pada Erwin sangat kaget.
"Giselle ini tidak pernah sepeduli itu pada pria manapun, tapi bocah ini bisa memenangkan hati Giselle."
Elijah memasang ekspresi iri sekaligus benci di wajahnya.
Satu jam kemudian, Erwin yang sudah divaksin kembali ke mobil sambil ditemani oleh Giselle.
Elijah dapat melihat bahwa cara Giselle memandang Erwin itu tidak biasa, itu membuatnya semakin yakin, jadi tanpa sadar menepuk bahu Erwin dan bertanya dengan penasaran.
"Kawan, gimana caramu dapati hati Giselle? Ajarin dong, agar aku bisa dapat wanita cantik juga!"
“Cari aku buat belajar dapatin hati wanita?” Erwin sedikit terdiam, apa-apaan ini? Dia tidak pernah mengejar Giselle sama sekali, memangnya pelajaran apa yang bisa dia ajarkan?
"Selera Giselle itu luar biasa tinggi, pria yang mengejarnya bisa berbaris tak terbatas, aku belum lihat ada pria yang bisa dapat hatinya, kamu tidak terlihat seperti orang kaya, jadi gimana cara kamu bisa berhasil?” Elijah itu pria yang pandai membaca situasi, itu kemampuannya untuk memasuki lingkaran sosial dengan mengamati kata-kata dan ekspresi orang lain.
Dalam keadaan normal, Giselle pasti akan memprioritaskan saham, lagipula Giselle sudah menanyakan tentang harga saham yang dipegangnya berkali-kali, tapi sekarang justru bersikeras ingin menemani Erwin dalam masalah sepele seperti vaksin rabies, ditambah cara Giselle memandang Erwin itu mengandung sedikit kasih sayang, ini semua tidak bisa menipu mata Elijah.
"Elijah, kalau mau keluar dari kota ini jangan banyak bicara omong kosong." Giselle takut jika Elijah terus melanjutkan, itu akan sangat memalukan!
“Oke, aku tidak akan tanya lagi, aku lanjut makan saja.” Melihat ekspresi Giselle yang sedikit serius, Elijah langsung menutup mulut dan terus memakan rotinya.
Setelah mereka meninggalkan rumah sakit, Erwin terus berkendara ke timur, setelah satu setengah jam berlalu, mereka akhirnya tiba di perbatasan antara Kota Bandung dan Kota Pekalongan setelah jalan tol, mereka mencapai Kota Pekalongan.
"Oke, setelah melewati tol ini adalah Kota Pekalongan, seperti yang kamu bilang, untuk sahamnya cukup tanda tangan kontrak ini, lalu ini kartu bank berisi 2 miliar," kata Erwin sambil mengeluarkan kontrak beserta kartu bank dan menyerahkannya kepada Elijah.
"Apa?! 2 miliar?! Kesepakatannya 8 miliar! Aku sudah menjual 5% saham dengan harga murah, kamu justru memanfaatkan kondisiku untuk meraup keuntungan! Apa bedanya dengan merampok!"
Elijah marah besar, dia awalnya berpikir kalau 8 miliar itu sudah merupakan harga yang sangat rendah, tapi tidak menyangka Erwin ini akan begitu kejam dan langsung potong jadi 2 miliar.
"Oke, kalau begitu akan kuantar kamu ke keluarga Cole di utara kota, mungkin menyerahkanmu bisa menghasilkan beberapa miliar." Erwin menarik gigi mobil, siap untuk berputar arah, karena keputusan ada di tangannya, tentu Erwin akan meraup keuntungan semaksimal mungkin.
Ini membuat Elijah ketakutan, dan buru-buru memohon,
"Jangan, jangan, jangan, aku cuma bercanda! Sepakat 2 miliar, akan kujual."
Elijah mana mungkin ingin menjualnya dengan harga serendah itu, jadi sambil berbicara, matanya berputar dia diam-diam membuka pintu mobil dan mencoba melarikan diri, akan tetapi, dia diseret kembali oleh Lisa saat baru berhasil mengambil selangkah.
"Jangan harap bisa kabur," kata Erwin sambil tersenyum. "Silakan tanda tangan, ada 2 miliar itu sudah cukup.
Melihat bahwa tidak ada harapan untuk kabur, Elijah menghela nafas dalam.
"Aku tidak tahu bertemu denganmu itu nasib baik atau nasib buruk." Elijah yang sadar tidak akan bisa kabur, hanya bisa dengan jujur menandatangani kontrak dan menerima kartu bank.
Ekspresi wajahnya sangat menyakitkan, pada umumnya 5% saham Laws Group itu setidaknya beberapa ratus miliar, tapi siapa sangka akan terjual 2 miliar.
"Sudah kutanda tangan, boleh pergi sekarang, kan?"
"Iya, pergilah." Erwin tersenyum kecil setelah mendapatkan tanda tangan.
__ADS_1
Dengan 5% saham dari Elijah, Erwin sekarang sudah memegang total 15% saham Laws Group, yang berarti selangkah lebih dekat dengan tujuannya.