Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Pembalikan Situasi


__ADS_3

Di malam yang gelap dan berangin.


Erwin berbaring di tenda dan tidak terburu-buru untuk keluar.


“Biarkan Bashan dan mereka rasain angin dingin di gunung ini sebentar lagi deh.” Erwin tidak terlalu gugup, tapi justru punya suasana hati yang ingin memprovokasi mereka.


Sedangkan Bashan yang bersembunyi tidak jauh dari tenda Erwin makin cemas sekarang, bahkan sampai bersin karena karena angin dingin di pegunungan ini.


"Hacih!" Bashan menggosok hidung dengan tangan, kalau terus berlanjut seperti ini dia pasti akan masuk angin.


"Kamu baik-baik saja?” Boy yang ada di sampingnya berpura-pura khawatir.


“Gapapa, yang paling penting sekarang adalah menghajar Erwin, begitu dia keluar nanti, kita langsung beraksi." Bashan mengingatkan lagi, dia akhirnya mendapat kesempatan untuk membalas dendam pada Erwin, sehingga sangat bersemangat sekarang, jadi mana mungkin peduli akan masuk angin atau tidak.


Setelah dua sampai tiga jam berlalu, Erwin melirik jam yang sudah menunjuk hampir jam satu pagi.


“Udah waktunya mancing mereka keluar!” Erwin tersenyum sedikit, kemudian keluar dari tenda, dan berpura-pura berjalan ke arah semak untuk kencing.


Bashan yang bersembunyi di rerumputan semakin bersemangat begitu melihat Erwin akhirnya keluar dari tenda.


“Keluar juga kau! Akhirnya kesempatanku untuk membalas dendam tiba!” Semakin Erwin berjalan mendekat, hati Bashan bersemangat! Penghinaan yang dia derita sebelumnya pasti akan dia kembalikan kepada Erwin!


“Semuanya, udah waktunya beraksi, kita kepung Erwin.” Bashan segera berkata kepada Boy di sebelahnya saat melihat Erwin sudah berjarak kurang dari lima meter.


Begitu selesai berbicara, Boy segera memimpin orang-orang di sekitarnya, dan dalam dua menit saja, Erwin sudah dikepung oleh lebih dari 20 orang, jadi tidak bisa melarikan diri lagi walau ingin sekalipun.


“Hahaha, Erwin, kau akhirnya jatuh ke tanganku juga.” Bashan melompat keluar dari rumput sambil tertawa lebar dengan tatapan penuh kebanggaan.


“Bashan, jam segini nggak tidur ngapain ke sini?” Erwin bertanya dengan sadar, ekspresinya sangat tenang dan tidak panik sama sekali.


"Ngapain ke sini? Tentu aja menghajarmu, aku sudah menunggu lama saat ini tiba untuk balas dendam, Boy, hajar dia." Bashan berteriak dan menyuruh Boy dengan penuh semangat.


Namun, Boy tidak bergerak, Bashan pikir Boy tidak dengar teriakannya, jadi dia berteriak lagi,


"Boy, cepat hajar Erwin itu, ini permintaan dari Tuan Muda Baxter."


“Memangnya siapa kamu? Sampai berani-berani memerintahku.” Boy akhirnya berhenti berpura-pura, dan langsung menampar wajah Bashan dengan ganas.


Tiba-tiba, Bashan tercengang, situasi apa-apaan ini?! Meskipun dia ditampar oleh Boy, dia masih menahan amarah dan berkata dengan ramah,


"Bang Boy, kita harus cepat dan bertindak sesuai perintah Tuan Muda Baxter!"


"Cerewet apaan? Kamu pikir aku tak tahu ya?!” Saat mengatakan itu, Boy sekali lagi menampar Bashan, sampai-sampai wajah Bashan membengkak.

__ADS_1


"Boy, kau sudah gila ya?!! Tuan Muda Baxter menyuruh kita pukul Erwin, kenapa malah aku yang dipukul?" Bashan panik sekaligus takut, sekarang ada lebih dari 20 bawahan Boy di sini, jadi tidak mungkin dia bisa melawan.


"Memang kamu yang dipukul! Saudara sekalian, hajar orang cerewet ini.” Boy memberi perintah, dan lebih dari 20 orang langsung bertindak dan menghajar Bashan secara habis-habisan.


“Berhenti.” Pada saat kritis, Erwin berteriak.


Begitu kata-kata itu keluar, Boy dan yang lainnya juga berhenti, sedangkan Bashan yang dipukuli sampai jatuh ke tanah sudah penuh luka dan babak belur.


“Bashan, kau masih terlalu lemah buat melawanku.” Erwin tersenyum sedikit, dan segera memimpin Boy dan bawahannya menuruni gunung.


Erwin tidak perlu melakukan apapun lagi pada Bashan, karena Bashan ini hanya seekor anjing penjilat Xavier, dan tak punya aset berharga, jadi memberinya sedikit pelajaran sudah cukup, Xavier-lah yang merupakan tujuan utamanya.


Pada saat ini, di kaki gunung, Xavier bersama kedua bawahan Boy diam-diam menyentuh mobil van tempat Jocelyn tidur.


Xavier mencoba membuka pintu mobil, tetapi ternyata terkunci, jadi dia langsung memerintah kedua pria yang mengikutinya,


"Cepat, congkel." Xavier sudah tidak sabaran, begitu berpikir bisa meniduri Jocelyn nanti, gairah di seluruh tubuhnya mulai mendidih.


“Baik Tuan Muda Baxter!” Kedua pria yang memegang batang besi saling memandang, tapi tidak mencongkel pintu mobil, melainkan mundur selangkah secara bersamaan.


"Kalian ngapain? Cepat congkel pintunya!" Xavier mulai mendesak, karena kedua bawahan Boy ini tidak patuh sama sekali.


Namun, kedua pria itu masih tidak bergerak.


“Kamu lama sekali, aku hampir tertidur menunggumu." Lisa menguap saat berbicara, lalu menutup kembali pintu mobilnya, Ametta dan Jocelyn yang ada di dalam tidak tahu kalau Xavier akan datang menyerang mereka malam ini.


Karena ingin mereka tidur dengan nyenyak, jadi Erwin tidak mengatakan yang sebenarnya, melainkan hanya mengirim Lisa untuk melindungi mereka.


“S-siapa kamu?” Sebuah firasat buruk muncul di hati Xavier.


“Orang yang akan membuatmu cacat,” kata Lisa, lalu menampar wajah tampan Xavier yang baru sembuh.


“Beraninya kau pukul aku! Apa kau tau siapa aku? Keluarga Baxter dari ibukota, kau pasti bakal berakhir sial kalau menyinggungku!” teriak Xavier.


“Serius?” Dari kegelapan tidak jauh, sebuah suara yang familiar terdengar, disusul dengan suara langkah kaki yang tidak beraturan.


Saat Xavier mendengar ini, seketika pupil matanya menyusut hebat, suara familiar ini terlalu familiar baginya, itu jelas adalah suara Erwin, bukannya seharusnya dia lagi dihajar sama Boy dan Bashan sekarang? Kenapa bisa ada di sini?!


Saat ini, Xavier terkejut.


Erwin dan Boy akhirnya berjalan keluar dari kegelapan, di belakang mereka berdua, ada lebih dari 20 bawahan Boy yang mengikuti, sehingga aura dan momentum mereka terlihat sangat menekan suasana.


"Boy! Kau udah terima uang aku, tapi kenapa memberontak.” Xavier tidak bodoh, tentu melihat sekilas saja dia sudah mengerti dengan situasi ini.

__ADS_1


"Maaf, tapi aku memang berpihak pada Tuan Erwin sejak awal, cuman kamu yang berinisiatif mencariku, jadi aku hanya sekalian aja." Boy melirik Xavier dengan jijik.


"Apa? Mana mungkin!" Xavier terkejut dan bingung, dia pikir rencananya sudah mulus, tapi tak nyangka semua ini adalah bagian dari perhitungan dan pengawasan Erwin.


"Mana mungkin! Aku, Tuan muda ketiga dari keluarga Baxter, dipermainkan seperti ini..." Tatapan Xavier menjadi kosong, dan kepercayaan dirinya sudah hancur total saat ini.


Ketika dia masih menyangkal kenyataan, Boy sudah menyuruh bawahannya untuk mengepung Xavier.


“Tuan Muda Baxter, kudengar kau punya banyak aset berharga, kan?” Erwin melihat Xavier sudah dikepung orang-orang Boy, otomatis tahu kalau ini sudah waktunya.


“Apa hubungan asetku denganmu?” Xavier masih belum mengerti tujuan Erwin, dan dia masih menjawab mengandalkan emosi.


“Kalau tak mau cacat di tempat, sebaiknya kau tandatangani perjanjian transfer saham ini.” Ketika Erwin berbicara, Lisa mengeluarkan beberapa dokumen dan menyerahkannya kepada Xavier.


"Apa? Perjanjian transfer saham, lelucon macam apa ini?!" Xavier bahkan tidak melihat, dan langsung melempar semua dokumen tersebut ke tanah, Erwin miskin ini pasti sudah gila mikirin uang, sampai bisa-bisanya menggunakan trik rendahan ini untuk mendapat asetnya, sungguh lelucon yang lucu sekali.


“Kayaknya kau masih belum paham situasimu saat ini, atau kau nggak percaya aku bakal membuatmu cacat? Okelah kalau gitu, akan kubuktikan, Lisa!” Mata Erwin menjadi dingin.


Lisa langsung bergerak dan mematahkan salah satu lengan Xavier tanpa ragu-ragu. "Crack!" Suara tulang patah terdengar, sehingga lengan Xavier langsung melemah dan tak bertenaga lagi.


Xavier kesakitan sampai pucat, mencengkeram lengannya sendiri sambil berteriak kesakitan.


"Kukasih 5 detik buat pikirkan ini baik-baik, kalau masih tak mau tandatangan, aku bakal suruh orang buat patahin kedua kakimu beserta yang ada di selangkanganmu itu, agar kau mandul selamanya!" Erwin tersenyum dingin.


“Erwin! Kau tak takut menyinggung keluarga Baxter kami dari ibukota?” Xavier masih ingin melakukan upaya terakhir, yaitu menggunakan kekuatan keluarganya untuk memaksa Erwin tunduk, tetapi Erwin tidak terpengaruh, dan bahkan tidak menganggapnya serius sama sekali, keluarga Baxter juga tak terkecuali.


"5~" Erwin mulai hitung mundur.


"4~"


"3~"


"2 ~" Begitu sudah sampai sini, Erwin mengeluarkan sebuah belati, di bawah pantulan cahaya bulan, belati berkilau dengan menakutkan.


Xavier juga tetap dalam perjuangan logika terakhir, kalau semua asetnya hilang, kualifikasi apa yang dia miliki untuk berada di lingkaran orang kaya lagi?


Dan kalau dia kehilangan aset sebanyak itu dalam satu malam, sepertinya orang-orang dari keluarganya juga tidak akan membiarkannya begitu saja, tetapi dibandingkan jadi cacat total dan mandul, kehilangan aset sepertinya bukanlah apa-apa, karena masih punya kesempatan untuk membangun kembali.


"1~" Saat Erwin selesai menghitung, Xavier tampaknya sudah mengambil keputusan dan berteriak,


“Akan kutanda tangan, Erwin! Anggap aja kau menang kali ini!” Xavier menahan rasa sakit di lengannya, mengambil pena dengan tangan yang lain, dan menandatangani semua dokumen perjanjian transfer saham, yang total asetnya setidaknya bernilai delapan sampai sepuluh triliun.


Dirinya, Xavier, kehilangan segala kekayaannya hanya dalam satu malam, seluruh tubuhnya serasa tidak bertenaga dan terjatuh ke tanah.

__ADS_1


__ADS_2