
Di lantai empat Hotel Lodro itu bioskop, jadi setelah Erwin dan Giselle selesai makan bersama, mereka pergi ke lantai empat untuk menonton film.
Namun, film di hotel ini berbeda dengan bioskop umum seperti yang lain, ruang bioskop ini bergaya kamar pribadi, keuntungan dari bioskop seperti ini adalah lebih sedikit penonton jadi lebih tenang, ditambah bisa nonton sambil ataupun baring dan pesan makanan.
Ada juga kamar teater untuk pasangan, yang bersifat pribadi, tidak ada yang mengganggu jadi bisa melakukan apapun yang diinginkan.
Erwin mau pesan yang banyak penonton, tapi ternyata kursinya sudah penuh, yang tersisa hanya beberapa kamar teater untuk pasangan.
"Kalau begitu yang untuk pasangan aja." Giselle diam-diam sedikit senang, karena ini memberinya kesempatan bagus untuk berduaan dengan Erwin.
"Oke, kalau begitu yang pasangan aja." Erwin tidak terlalu peduli, dan tidak pilih-pilih dalam hal ini.
Setelah pesan, keduanya memasuki kamar teater VIP No. 403 di bawah panduan staf.
Setelah masuk ke dalam, yang terlihat adalah pencahayaan yang cukup sentimental dengan sedikit neon berwarna ungu, kamar pribadi ini tidak besar, hanya sekitar 40 meter persegi, sedangkan kursi sofa empuknya ditempatkan di sebelah kiri dengan layar besar di depan sofa.
Setelah Erwin duduk, ternyata kursi sofanya sangat empuk, bisa digoyang ke atas dan ke bawah, bisa duduk dan baring juga, sungguh praktis sekali!
Selain memesan makanan, di sini juga bisa nonton film terbaru dan terkini.
“Tempatnya bagus, ini pertama kalinya aku datang ke bioskop bergaya teater seperti ini.” Erwin melihat sekeliling dan merasa bahwa lingkungan sekitarnya sangat nyaman.
"Ini juga pertama kalinya aku ke sini, baring sambil nonton itu nyaman sekali." Kata Giselle sambil menggoyangkan kursi sofa, kemudian setengah berbaring dengan bantal di bawah kepala yang terangkat tinggi, posisi ini terasa cukup nyaman bagi tubuh manusia, sepertinya kursi sofa ini memang sudah didesain dengan matang.
"Mau nonton film apa? Sepertinya bisa pilih sendiri di sini." Erwin mengambil tablet seperti iPad dengan film-film terbaru, jadi kalau ingin nonton tinggal pilih dan bayar dengan ponsel, biaya untuk dua orang sekaligus.
“Nonton '20 Once Again'!” Giselle berkata setelah beberapa saat.
Erwin mengangguk, karena dari judulnya terdengar cukup bagus.
Setelah memilih film, Erwin juga menggoyangkan kursi sofa, lalu berbaring dengan nyaman di atasnya, menoleh untuk melirik Giselle, dan tanpa sengaja melihat dada Giselle yang menjulang tinggi, dapat dilihat bahwa bentuk tubuh Giselle ini memang sangat luar biasa.
Giselle yang merasa sedang ditatap, langsung menoleh untuk melihat Erwin tanpa sadar, pandangan mereka berdua saling bertemu, itu membuat Erwin membuang muka, sementara Giselle mengangkat sudut bibirnya.
Mulutnya memang bilang tidak mau dan menolak, tetapi reaksi tubuh justru sangat jujur!
Giselle diam-diam merasa senang karena mampu menarik perhatian Erwin, yang membuktikan dirinya masih cukup menarik dalam pandangan Erwin.
Film "20 Once Again" terdengar bagus, tapi sebenarnya isinya tidak begitu, aktor yang berperan tidak jago berakting, pergantian kamera juga lumayan berantakan, bahkan teknik narasinya tidak dewasa! Erwin yang profesional dalam bidang film bahkan sampai mengantuk saat menonton ini.
Sebaliknya, Giselle justru menikmati, yang dia tonton bukanlah alur cerita, melainkan terus menatap para aktornya sepanjang waktu.
"Erwin, lihat, mereka sudah mau berciuman." Giselle bahkan lebih bersemangat begitu adegan ciuman antara cowok dan cewek protagonis, tidak mau memalingkan muka sama sekali, tapi kata-katanya tidak ditanggapi, karena Erwin sudah ketiduran!
__ADS_1
Bahkan sedikit mendengkur, kelemahan dari nonton film sambil baring itu terkadang memang akan mengantuk, terutama ketika filmnya sangat membosankan.
Ketika Giselle melihat Erwin tertidur, dia merasa sedikit marah sekaligus lucu, nonton film bersama sebelumnya itu dia yang ketiduran, tapi kali ini giliran Erwin yang begitu.
Namun, Giselle tidak mengganggu dan melihat adegan ciuman di layar yang membuatnya merasa sedikit tersentuh.
Cium diam-diam seharusnya tidak mungkin ketahuan, kan?
Begitu pemikiran ini muncul, maka tidak bisa dihentikan lagi, penyebabnya mungkin karena suasana beserta lingkungan kamar teater ini terlalu ambigu, atau terangsang adegan film, atau bisa jadi sudah lama ingin melakukan ini.
Giselle tiba-tiba duduk dengan hati-hati dari kursi sofanya, kemudian diam-diam mendekat ke sisi Erwin, melihat Erwin masih tidur nyenyak, detak jantung Giselle mulai bertambah cepat.
"Bukannya ini terlalu tanpa pamrih? Tetapi sebentar saja seharusnya gapapa." Suasana hati Giselle mirip dengan pencuri sekarang, gugup sekaligus deg-degan.
Giselle perlahan membungkuk, wajahnya yang memerah dan menawan perlahan mendekat ke arah Erwin, rambutnya yang panjang mulai berjatuhan.
Begitu kedua kepala semakin dekat hingga napas satu sama lain secara perlahan sudah saling bertabrakan, namun karena rambut panjang Giselle yang jatuh langsung mengenai wajah Erwin dulu, jadi rasa gatal membuat Erwin tiba-tiba terbangun.
Ekspresi Erwin yang melihat bibir merah Giselle yang sedekat itu untuk menciumnya tiba-tiba membeku.
"Giselle, kau ngapain?" Erwin tidak bergerak, tapi bertanya dengan postur yang sangat ambigu ini.
Giselle yang melihat Erwin sudah bangun tiba-tiba tersipu dan menegakkan tubuh, seperti seekor kelinci yang ketakutan, buru-buru kembali ke kursi sofa sendiri dengan gugup dan malu-malu, seolah seorang pencuri yang tertangkap basah, Giselle belum pernah melakukan ini pada seorang pria sebelumnya.
Namun, pertama kalinya melakukannya langsung ketahuan, sekarang Giselle serasa ingin bersembunyi, sungguh memalukan sekali!
Melihat penampilannya yang pemalu, Erwin tidak bisa menahan amarah dan tawanya, dia benar-benar tidak menyangka Giselle ingin menciumnya.
“Bagaimana kalau nonton film yang lain!” Erwin mengganti topik pembicaraan, dan mencoba meredakan suasana hati Giselle.
"Terserah, kau yang pilih aja, kalau tidak nanti kau ketiduran lagi," kata Giselle setelah menyesuaikan suasana hatinya, tapi masih tidak berani melihat Erwin, karena detak jantungnya masih lumayan kencang.
"Kalau begitu 'You Are My Lover in My Previous Life' ini saja, alurnya kreatif, para aktor juga berbakat semua." Kata Erwin setelah mengatur film di tablet.
"Oke, yang itu aja.” Begitu mendengar namanya, Giselle merasa itu seharusnya film tentang percintaan dan mungkin akan bagus.
Dan ternyata memang benar, film ini sangat bagus baik dari segi kreativitas maupun aktor, alur tentang cinta yang terkilir dalam ruang dan waktu juga sangat menyentuh dan disesalkan.
Karena cowok dan cewek protagonis pada akhirnya tidak bersama, sesuai dengan nama filmnya, kamu adalah kekasihku di kehidupan sebelumnya, jadi tidak mungkin untuk bisa bersama di kehidupan ini.
Setelah selesai nonton, Giselle sudah menangis seperti bayi!
“Begitu tersentuh ya?” Erwin menyerahkan sebungkus tisu, tapi tangisan Giselle semakin kuat, karena film itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, pada akhirnya mungkin dia akan berakhir seperti cewek protagonis di film, hanya sebatas kekasih Erwin di kehidupan sebelumnya, jadi tidak mungkin untuk bersama Erwin di kehidupan ini.
__ADS_1
"Ini film paling menyentuh yang pernah kutonton." Giselle mengangguk, tokoh utama perempuan dalam film ini sedikit mirip dengan situasinya saat ini.
Erwin menghela napas, kalau tahu dia tidak akan memilih film ini.
Ketika sudah sangat larut, keduanya keluar dari hotel dan langsung menuju garasi parkir di lantai dasar.
Keduanya mengobrol ringan sambil tertawa kecil dan dalam suasana hati yang baik.
Namun ketika baru di pertengahan jalan, Erwin tiba-tiba mendengar adanya langkah kaki yang mengikuti mereka di tempat parkir, jadi langkah Erwin tiba-tiba berhenti dan ekspresi wajahnya juga berubah.
"Sepertinya kita diekori." Semenjak kekuatan Erwin meningkat, persepsinya juga ikut menjadi lebih tajam.
“Kita diekori? Jangan menakutiku.” Wajah Giselle menjadi pucat dan tanpa sadar melihat sekeliling garasi parkir bawah tanah, tapi tidak menemukan ada yang tidak beres.
"Tak ada seorangpun, Erwin, kau tak salah dengar?"
"Tak mungkin salah dengar." Saat berbicara, Erwin sudah melindungi Giselle di belakang.
Begitu selesai berbicara, sekelompok orang tiba-tiba muncul dari belakang beberapa mobil, yang dipimpin oleh Farel dan Chris, kemudian diikuti oleh pengikutnya, beserta empat pria kekar.
“Hahaha, telingamu cukup tajam ternyata!” Farel berjalan ke arah Erwin sambil tertawa, karena tidak menyangka akan ketahuan secepat ini.
Melihat orang yang datang adalah pria gemuk siang tari, Erwin mengerutkan kening, tampaknya orang-orang keluarga Graham ini sudah menunggunya dan Giselle di sini!
"Halo cantik, kita bertemu lagi." Chris memandang Giselle dengan senyum cabul, dan terus melirik tubuh Giselle dari ujung kaki sampai atas kepala.
Giselle memelotot dengan jijik, tetapi pada saat yang sama merasa gugup sekaligus takut.
“Kalian ini berkumpul khusus untuk kami? Sungguh sudah merepotkan, tapi hanya dengan ini kau mau berurusan denganku?” Erwin tersenyum, dan tidak merasa tertekan sama sekali.
"Tidak repot, nunggu lama untuk memberimu pelajaran itu sepadan, sudah kubilang akan membuat kalian menyesal, sekarang sudah saatnya!" kata Chris sambil melambaikan tangan, tak lama kemudian maju empat petinju hitam yang disewa Gary dari stadiun tinju hitam seharga 2 miliar.
Dan Chris juga berteriak dengan tidak sabar,
"Cukup basa-basinya!"
Dia sudah tidak sabar untuk membawa pergi Giselle untuk bersenang-senang sepuasnya! Kemudian menginstruksikan keempat pria kekar itu,
"Petinju hitam sekalian, kuserahkan ini pada kalian, hajar pria itu dan bawa cewek itu ke sini."
Setelah mengatakan ini, termasuk Chris dan Farel, mereka semua tampak bersikap seperti sedang menonton sebuah pertunjukan.
Namun, ketika keempat petinju hitam melihat bahwa orang yang akan dihadapi Farel adalah Erwin, ekspresi mereka berubah total, dan buru-buru melangkah maju untuk meminta maaf kepada Erwin dengan penuh hormat.
__ADS_1
"Tuan Erwin, benar-benar minta maaf, mereka bayar 2 miliar buat sewa kami ke sini, kami tak tahu lawannya itu Anda, tolong maafkan kami."
Begitu kata-kata ini keluar, Farel, Chris, beserta orang-orang dari keluarga Graham terkejut dan terdiam di tempat, apa-apaan ini?!