
Di dalam kantor CEO Ragnarson Group, Rizal melapor kepada Steve mengenai apa yang terjadi di klub hiburan. Di dalam kantor juga ada putra sulung Steve, yaitu Earson Ragnarson, yang sedang dengan teliti membaca dokumen informasi yang diantarkan oleh sekretaris.
Earson ini tidak segegabah Earl, dia ini adalah salah satu siswa teratas yang pulang dari sekolah bisnis negara M, sangat berbakat dan pintar, selain itu, dia juga bertunangan dengan putri dari keluarga Davis, salah satu dari empat raksasa di Kota Bandung, jadi masa depannya sudah cukup meyakinkan dan cerah.
“Maksudmu, Erwin ini memanggil petinju hitam dari stadion tinju hitam utara kota untuk membantu? Dan bahkan menghajar orang-orang kita?” Steve terkejut sekaligus marah, Erwin yang bisa menggerakkan para petinju hitam beserta Baka dari stadion tinju hitam utara kota benar-benar merupakan suatu hal yang tak terduga.
“Iya, aku merasa Erwin ini tidak sesederhana penampilannya, karena Damon sepertinya sangat mempercayai orang ini, bahkan semua pasukannya bisa digerakkan oleh Erwin sesuka hati.” Rizal mengerutkan kening dan menganalisis dengan serius.
"Oh? Sejak kapan di Kota Bandung ini muncul pemuda yang begitu dipercaya oleh?” Steve melirik putra sulungnya, Earson. Dalam pandangannya, pemuda dengan masa depan paling meyakinkan di Kota Bandung ini seharusnya adalah Earson.
Karena Earson bukan hanya pewaris dari keluarga Ragnarson yang merupakan salah satu dari empat raksasa di Kota Bandung, tapi tunangannya juga adalah putri dari keluarga Davis yang juga salah satu dari empat raksasa, Earson sendiri adalah siswa top di bidang bisnis sekolah negara M, dan menguasai empat bahasa, dan pernah berbisnis dalam bidang keuangan di Amerika, hanya butuh dua tahun setelah pulang, keuangan Ragnarson Group benar-benar berhasil didorong hingga ke tingkat yang lebih tinggi.
Steve percaya kalau Earson diberi waktu beberapa tahun lagi, prestasinya pasti akan lebih tinggi lagi, di antara pemuda seumuran di Kota Bandung, Earson dianggap sebagai talenta muda nomor satu.
Tetapi sekarang meskipun Erwin ini tampak sedikit liar, tapi dia memegang semua kendali atas kekuatan yang dipimpin Damon, jadi di Kota Bandung, benar-benar tidak ada pemuda yang bisa menandinginya, bahkan Steve sekalipun tidak yakin bisa 100% menang.
“Ayah, Erwin ini juga salah satu dari pemenang sepuluh pemuda teratas di kota ini.” Earson yang sedang duduk di sofa sambil membaca dokumen tiba-tiba berdiri dan berkata dengan keras.
“Dia salah satu dari sepuluh pemuda teratas di kota ini?” Ini membuat Steve dan Rizal sedikit terkejut, sebenarnya hanya saja mereka tidak memperhatikan peristiwa itu, kabar tentang sepuluh pemuda teratas di kota ini bahkan sampai masuk berita waktu itu.
"Yah, aku pernah melihatnya di lelang, barang finalnya adalah sebuah cincin berlian biru Bulgari, dia langsung membuka seharga 800 miliar untuk cincin itu, yang sangat mengejutkan para penonton." Earson masih bisa dengan jelas mengingat tentang adegan pada saat itu, dia waktu itu bahkan melirik Erwin berulang kali, karena Erwin yang sekaya itu ternyata hanya berpakaian murahan
Pada saat itu, dia sudah menduga kalau latar belakang Erwin ini tidak biasa.
“Beli cincin seharga 800 miliar?” Steve dan Rizal menunjukkan ekspresi terkejut, dan merasa Erwin ini sangat boros!
“Iya, dan pada akhirnya aku selidiki dari mana uang 800 miliar Erwin itu, coba tebak siapa yang bayar?” Earson bertanya dengan misterius.
“Mungkin uang Damon?” Rizal menebak tanpa sadar, tapi tidak menyangka tebakannya itu benar.
"Tepat, sekretaris yang memberitahuku bahwa High Build Group yang bayar tagihannya, yang berarti Damon bukan hanya memberi Erwin kekuasaan tapi juga uang, sudah pasti Erwin ini sangat dipercayai Damon." Earson terus menganalisis.
“Maksudmu, kalau mau berurusan dengan Erwin itu maka harus berurusan dengan Damon dulu?” Mendengar analisis Earson, Steve mengerutkan kening, karena ini bukan kabar baik.
Jika benar-benar harus bermusuhan dengan Damon, Steve masih sedikit ragu!
__ADS_1
High Build Group baru-baru ini sedang berjaya di Kota Bandung, terutama setelah Damon memegang hak penuh untuk membuka kawasan bisnis di utara kota, bahkan Steve sendiri yang merupakan orang terkaya di Kota Bandung juga harus menghormati Damon, agar dapat kebagiaan kawasan untuk membuka pasar di utara kota.
"Yah, itu benar! Selain itu, dilihat dari cara Erwin mau menukar adik kedua dengan saham Laws Group, itu berarti ambisi High Build Group mungkin tidak kecil. Setelah menaklukkan tiga keluarga besar di utara kota, tujuan Damon yang berikutnya mungkin adalah empat keluarga besar di Kota Bandung ini, karena keluarga Ricardo sudah jadi anak perusahaan High Build Group, maka target yang tersisa hanya tiga keluarga raksasa, dengan kata lain kita harus bersiap lebih awal."
Kata-kata Earson membuat Steve dan Rizal menarik nafas dalam, dan merasa sulit percaya.
“Damon seharusnya tidak berani melakukan ini, kan?” Rizal berkata dengan tidak percaya, karena tujuan itu adalah untuk mendominasi seluruh pasar bisnis Kota Bandung sekaligus! Bukankah ambisi itu terlalu besar? Di dalam negeri sekarang ini masih belum ada sosok orang yang bisa mendominasi pasar bisnis sebuah kota.
"Ucapan Earson mengingatkanku tentang perusahaan investasi yang baru didirikan Damon, dalam waktu kurang dari tiga bulan, nilainya sudah mencapai lebih dari 40 triliun, dan asetnya juga luar biasa banyak, tapi kudengar semuanya diperoleh dengan harga rendah, bisa dilihat kalau ambisi Damon memang tidak kecil."
Steve mengerutkan kening dan berkata dengan dingin, semakin mereka menganalisis, semakin mereka merasa bahwa Damon sudah merencanakan banyak hal.
“Kalau ini masalahnya, apa yang harus kita lakukan?” Rizal juga memikirkan kemungkinan ini, jika semua ini benar, maka pencapaian Damon sangatlah menakutkan.
“Ayah, kurasa sudah waktunya bersatu dengan keluarga lain untuk melawan High Build Group, kalau tidak suatu hari nanti Ragnarson Group kita pasti tidak akan bisa bertahan di Kota Bandung.” Earson mengungkapkan ide berani di dalam hatinya.
“Bergabung dengan keluarga lain untuk melawan High Build Group??” Rizal dan Steve sama-sama terkejut dengan ide berani Earson, ternyata anak muda memang lebih agresif.
Perlu diketahui bahwa sebelum High Build Group mengakuisisi tiga keluarga besar di utara kota, industrinya sudah menyumbang seperempat total industri yang ada di Kota Bandung, dan setelah akuisisi totalnya menjadi sepertiga yang ada di Kota Bandung, jadi akan sulit untuk menghadapi perusahaan raksasa ini secara langsung, walau pada akhirnya bisa menang sekalipun, kerugian yang dialami pasti tidak akan kecil sama sekali.
Mendengar itu, Steve dan Rizal tanpa sadar mengangguk, tapi sebagai CEO Group, Steve tidak berani membuat keputusan seperti itu dengan enteng. Lagipula, begitu keputusan ditentukan, kemungkinan itu akan mengarah pada serangan balik dari Damon, maka situasinya akan sulit dikendalikan.
“Biarkan aku memikirkannya lagi!” Steve mengerutkan kening.
“Tuan CEO, bagaimana dengan kontrak akuisisi dari Erwin untuk menukar Earl?” Kata Rizal sambil mengeluarkan kontrak yang diberikan Erwin tentang akuisisi 20% saham Laws Group.
"Tanda tangan saja." Steve belum memutuskan untuk menghadapi Damon secara langsung, bermusuhan hanya karena masalah ini benar-benar tidak sepadan, kecuali memang terpaksa dan tidak bisa mundur lagi, itu mungkin akan membuatnya memilih untuk membangun Aliansi bisnis seperti yang dikatakan oleh Earson untuk melawan High Build Group.
Saat ini, Steve masih butuh Damon untuk memasuki pasar distrik bisnis di utara kota, jadi anggap saja 20% saham Laws Group sebagai hadiah untuk Damon.
Oleh karena itu, dia menandatangani kontrak akuisisinya.
Dalam pandangan Earson, ini sedikit memalukan, ayahnya tidak setuju dengan idenya, jadi dia terpaksa harus mencari cara sendiri, sebagai talenta muda nomor satu di Kota Bandung, dia tidak ingin melihat ada pemuda seumuran lain yang lebih baik darinya.
Saat malam tiba, Erwin pergi ke vila Lina.
__ADS_1
Begitu mobil berhenti, Lina bertindak seperti kelinci yang mencium bau istimewa, buru-buru berlari keluar, dan dengan senang hati membuka pintu sambil memasang wajah yang penuh kegembiraan.
"Erwin, mamu akhirnya datang juga, ayahku sudah lama menunggumu, ayo cepat masuk~" Lina meraih lengan Erwin dengan penuh kasih sayang dan berjalan menuju vila.
Hari ini, begitu Lina dapat kabar Erwin akan datang, dia tidak hanya sudah menunggu di pintu lebih awal, tapi juga berdandan dengan sepenuh hati.
Lina memakai gaun tanpa bahu berwarna putih dengan rambut gelombang dan riasan tipis di wajah, yang membuatnya lebih menawan dan cantik.
Meski tidak memakai sepatu hak tinggi, tapi kedua kakinya yang putih panjang masih sangat menarik perhatian, ditambah dengan bau parfum samar di tubuh Lina yang memabukkan.
“Lina, tubuhmu sudah baikan?” Tanya Erwin dengan khawatir.
"Sudah jauh lebih baik setelah tidur~" Lina tersenyum seperti bunga teratai yang mekar, sangat menawan hingga membuat Erwin terpesona untuk sementara waktu.
Di dalam vila, Lucas sudah menyiapkan meja perjamuan, tapi sosok ibu Lina, yaitu Mary masih belum terlihat.
"Erwin, kita bicarakan sambil duduk. Lina masaklah beberapa lauk lagi di dapur." Setelah melihat kedatangan Erwin, Lucas dengan cepat membawanya ke tempat duduk dan mencari alasan agar Lina tetap sibuk.
“Paman, di mana tante?” Erwin tidak bisa menahan diri dan bertanya dengan penasaran.
"Dia pergi ke bank untuk mencari koneksi, jadi pulangnya akan larut hari ini." Lucas menuangkan segelas anggur untuk Erwin dan melanjutkan.
"Alasan aku memanggilmu ke sini itu karena paman punya masalah penting yang perlu bantuanmu."
“Ada apa?” Erwin merasa bahwa Lucas ini benar-benar menganggapnya mahakuasa dan selalu mencarinya begitu menghadapi masalah yang sulit.
"Erwin, 1 triliun yang kamu beri kemarin, aku totalnya cuman dapat 25% saham perusahaan baru Tuan Besar, karena abang tertua, adik ketiga dan adik perempuanku, semuanya menambah jumlah investasi mereka, jadi selain 10% saham milikku, aku cuman dapat 15% saham tambahan dari investasi uangmu, kesimpulannya sahammu yang dipegang sementara olehku cuman 15%, kamu tidak akan menyalahkan paman, kan?"
Lucas berkata dengan nada meminta maaf.
"Cuman 15% saja tak masalah.” Erwin juga tidak keberatan, dia awalnya berinvestasi di perusahaan baru tuan besar hanya tertarik untuk main-main seperti judi saja, jadi tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Masalah lainnya itu adalah Tuan Besar mau cari pinjaman uang dari bank atas nama perusahaan baru, dan bagi siapapun yang bisa dapat pinjaman 4 triliun, maka akan dihadiahi 5% saham, jadi untuk masalah ini, kami semua berusaha mati-matian untuk mencari hubungan koneksi dengan bank."
Mendengar ini, Erwin baru mengerti alasan mengapa ibu Lina pergi ke bank untuk mencari koneksi walau sudah selarut ini, ternyata demi mengincar hadiah saham, tidak heran begitu kompetitif!
__ADS_1
“Erwin, kamu bisa bantu cari cara agar aku dapat pinjaman 4 triliun ini?” Lucas meminta tolong pada Erwin sambil menuangkan segelas anggur.