
"Erwin, besok aku akan ke Kota Bandung besok untuk bahas tentang kontrak pernikahanmu dengan Jocelyn!" Suara Susi terdengar dari telepon dengan nada serius.
"Pernikahan? Ke sini besok?" Erwin kaget karena tidak tidak siap sama sekali, ini terlalu mendadak.
Mengapa tiba-tiba ingin datang untuk bahas tentang pernikahan? Apa berita tentang pernikahan ini sudah tiba waktunya untuk diumumkan? Memikirkan hal ini, Erwin tiba-tiba menjadi cemas. Jika dia dan Jocelyn menjalani acara pertunangan, lalu bagaimana dengan Lina?
"Iya, aku akan meneleponmu ketika saatnya tiba." Suara ibunya terdengar dari telepon lagi.
Erwin mengobrol sedikit lebih lama lagi dengan ibunya sebelum menutup telepon.
Kemudian Erwin merasakan suatu firasat tertentu, merasa bahwa penculikan Jocelyn dengan panggilan telepon yang tiba-tiba dari ibunya untuk membahas kontrak pernikahan ini memiliki hubungan, tapi karena tanpa adanya petunjuk lebih lanjut, Erwin tidak dapat berpikir atau berspekulasi lebih jauh.
Saat malam hari, Erwin baru membawa Giselle dan Nora ke Flower Bar.
Flower Bar ini jelas merupakan salah satu bar kelas atas di Kota Bandung, mau dari segi dekorasi maupun pertunjukan merupakan posisi yang teratas di Kota Bandung, ada juga bintang kelas tiga yang sering diundang ke sini untuk bertamu, sehingga Flower Bar sangat ramai dan suasananya sangat intens.
Erwin bukan hanya menemani Giselle dan Nora, tapi sekaligus menjadi pelindung, karena bagaimanapun, Flower Bar ini adalah tempat yang ramai dan bising, jadi menemui orang yang berniat jahat pada paras cantik yang dimiliki Giselle dan Nora itu adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari.
"Woah, tempat ini mewah sekali, sepertinya ada rapper yang tampil di sini malam ini. "Nora memandang poster di depan bar, yang mengiklankan seorang rapper bernama Teguh yang akan tampil malam ini.
"Puas bukan? Ayo kita minum-minum," ujar Giselle sambil menarik Nora ke dalam.
Erwin kehabisan kata-kata sambil menggelengkan kepala, kemudian segera mengikuti langkah mereka.
Bar ini sangat bising dan penuh dengan orang-orang.
Giselle dan Nora sudah menarik perhatian para pria walau baru saja berjalan masuk. Tetapi untungnya, Erwin mengikuti mereka dari dekat, jadi tidak ada yang datang untuk menghampiri mereka.
Sesampai di depan bar, Erwin langsung memesan sejumlah anggur, totalnya 50 botol, termasuk bir, anggur merah dan anggur luar negeri, yang ditempatkan di atas meja bar sehingga sangat mudah menarik perhatian orang-orang.
"Minumlah, akan kubiarkan kamu bersenang-senang sampai puas malam ini," kata Erwin kepada Nora, berharap setelah bersenang-senang Nora bisa melupakan penggemar beratnya.
"Aku akan langsung pulang setelah bersenang-senang sebentar." Nora sepertinya masih ragu tapi langsung diseret oleh Giselle. "Tak perlu ragu lagi, lagi pula sudah di sini, jadi bersenang-senanglah sepuasnya."
Erwin harus menyetir nanti jadi tidak minum alkohol, melainkan memesan segelas air putih dan duduk sambil melihat para pria dan wanita yang berdansa.
Inilah kehidupan malam!
Dulu sangking miskinnya bahkan tidak berani berpikir untuk datang ke sini, tapi sekarang sudah kaya raya dan ternyata rasanya biasa saja.
Saat Erwin sedang emosional, seorang wanita seksi dengan pakaian yang cukup terbuka tiba-tiba mendatanginya dan berkata dengan sedikit sapaan genit.
"Hai tampan, kamu pesan anggur sebanyak ini tapi hanya minum air putih, sengaja nunggu aku samperin ya?"
Erwin sedikit terkejut karena tidak menyangka dirinya yang berpakaian sangat sederhana akan dihampiri oleh gadis.
"Ambil sendiri kalau mau minum." Erwin berkata dengan senyum tipis di sudut mulut dan menyadari bahwa wanita ini mungkin datang demi anggur-anggur di atas meja.
"Kalau begitu aku tidak segan-segan lagi." Sambil berbicara, wanita itu mengambil sebotol anggur dan membukanya, kemudian menuangkan segelas untuk dirinya sendiri dan tanpa sadar mencondongkan tubuh ke arah Erwin. Dia bahkan dengan sengaja sedikit menarik bajunya ke bawah dan bermaksud untuk menarik perhatian Erwin.
Namun, sebelum Erwin sempat melihat, Giselle sudah memelototinya terlebih dahulu.
"Maaf nona, si tampan ini sudah ada yang punya," kata Giselle sambil meraih lengan Erwin, yang artinya sudah sangat jelas.
__ADS_1
"Aku ke sini hanya untuk anggur, jangan Salah paham." Wanita itu tersenyum genit, mengedipkan mata pada Erwin dan mengambil sebotol anggur sebelum pergi.
"Wanita itu jelas tak berniat baik," kata Giselle dengan sedikit cemburu.
Erwin sedikit kehabisan kata-kata, sejak kapan dia itu pria milik Giselle!
"Kamu tidak ikut bersenang-senang dengan Nora?"
"Aku sudah tua, tak sekuat energi seperti dia." Giselle sebenarnya hanya ingin berduaan dengan Erwin, jadi membiarkan Nora bersenang-senang sendiri!
Keduanya mengobrol sejenak hingga penyanyi kelas tiga muncul dari belakang panggung dengan pakaian rapi, kemunculannya membuat orang-orang di bar bersorak sorai, terutama para gadis, yang tidak hanya berteriak-teriak tapi juga mengelilinginya.
"Woah, itu Teguh," ujarnya, seraya menunjuk. "Teguh sudah datang," lanjutnya.
"Tampan, Teguh tampan sekali. sekali."
"Orang aslinya lebih tampan dari di TV, lihat ke sini Teguh.."
Teguh ini pernah ikut program "Penyanyi" tertentu sebelumnya, terlebih lagi juga cukup tampan, jadi bisa dikatakan lumayan terkenal dan populer di kalangan para gadis.
Namun, karena terlalu banyak orang yang menonton, jadi kerumunan di atas lantai dansa terasa sangat sesak, Erwin sepertinya melihat Nora tampak terhimpit di tengah kerumunan tak berdaya.
"Giselle, tunggu di sini, aku pergi cari Nora." Erwin takut Nora jatuh dan terinjak-injak oleh kerumunan, jadi langsung bergegas ke arah kerumunan untuk mencari Nora.
Tapi Erwin masih terlambat.
Nora kebetulan sedang berdiri di jalan yang akan dilewati oleh Teguh yang turun dari panggung, jadi ketika dua penjaga keamanan sedang membuka jalan untuk Teguh, mereka langsung dengan kasar mendorong Nora hingga terjatuh tanpa meminta maaf.
Ini bisa menimbulkan masalah yang cukup besar, tapi Erwin tetap menuju ke sisi Nora, membantunya berdiri, dan bertanya dengan khawatir.
"Nora, kamu baik-baik saja?"
"Untungnya ada kamu Erwin, kupikir aku akan diinjak sampai mati barusan." Nora ketakutan dan tubuhnya terdapat beberapa jejak kaki, sepertinya memang telah diinjak beberapa kali setelah jatuh barusan.
"Ayo keluar dulu, di sini terlalu ramai." Erwin berencana untuk membawa Nora keluar secepatnya, tapi saat berbalik, kedua penjaga keamanan tadi sudah memblokir jalan keluar mereka.
"Kamu baru saja mendorongku?" Teguh maju ke depan untuk bertanya dengan kesal dan sedikit nada arogan.
"Memangnya kenapa kalau aku mendorongmu? Sudah sangat kutorelansi karena tak menyuruhmu minta maaf." Erwin melawan balik sembari mengerutkan kening, jangankan penyanyi kelas tiga, bahkan seorang superstar sekalipun Erwin tidak takut sama sekali.
“Jelas kamu yang mendorongku, kenapa aku yang harus minta maaf pada sepupumu, apa itu masuk akal?” Teguh tersenyum marah dengan amarah yang membara dalam hati.
“Apa maumu?” Erwin mencibir, Teguh ini jelas punya pemikiran seperti seorang perampok, dia tidak perlu minta maaf karena telah menjatuhkan orang lain, tapi orang lain tidak diperbolehkan untuk memperlakukannya dengan hal yang sama. Apa dia berpikir populer hanya dengan menyanyikan beberapa lagu sudah boleh bertindak semena-mena seperti itu?
"Bersujud sambil minta maaf atau takkan kubiarkan kamu keluar dari Flower Bar ini." Teguh berkata dengan arogan seolah ada dukungan tokoh besar di belakangnya.
"Bersujud untuk minta maaf padamu?!" Erwin mengerutkan bibirnya dengan marah, Teguh ini benar-benar bertingkah seolah-olah merupakan seorang tokoh penting!
Saat mengatakan itu, Erwin langsung berjalan maju untuk menampar wajah Teguh dan menendangnya hingga terjatuh.
Adegan tersebut mengejutkan semua orang hingga membuat mulut mereka terbuka lebar dengan ekspresi penuh tidak percaya. Pria ini sungguh berani sekali! Bahkan Teguh sekalipun berani dilawan!
Kedua penjaga keamanan tentu saja tidak tinggal diam saat melihat Teguh dipukul, jadi bergegas ke arah Erwin, tapi mereka berdua bukan lawan dari Erwin dan langsung dikalahkan masing-masing hanya dengan satu serangan.
__ADS_1
Orang-orang di sekitar yang menonton kaget untuk yang kedua kalinya. Gerakan pria ini sungguh luar biasa sekali!
Pada saat yang sama ketika kedua penjaga keamanan dikalahkan, Teguh baru saja bangun dari lantai sambil terhuyung-huyung.
"Berani-beraninya menendangku, aku ini diundang sama Bos Flower Baru, macam-macam denganku itu sama saja dengan tidak menghormati bos bar ini, aku justru ingin lihat bagaimana kamu keluar dari sini hari ini."
Begitu kata-kata itu keluar, Ripal yang merupakan bos Flower Bar bergegas datang dari belakang panggung dengan tergesa-gesa, bahkan penyanyi yang dia undang sudah dipukuli, jadi mana mungkin dia tidak datang?
Bos Flower Bar adalah seorang pria paruh baya gemuk dengan telinga besar, berpakaian rompi kulit, botak dan memakai rantai emas, terlihat jelas seperti seorang gangster.
“Apa yang terjadi?” Ripal datang sambil diikuti oleh belasan bawahan dan bertanya dengan suara kasar yang tampak seperti mengancam.
“Bos Ripal, dia memukulku dan tak menganggapmu serius.” Teguh berlari ke arah Ripal dan mulai mengeluh.
“Hehehehe, bisa-bisanya berani membuat masalah di Flower Barku, cari mati." Ripal mengayunkan tangan, tak lama kemudian belasan bawahan di belakang langsung melangkah maju untuk mengepung Erwin dan Nora.
Erwin tidak gentar sama sekali, tapi wajah Nora justru memucat karena sangking takutnya, situasi di tempat kejadian sudah sangat gawat. Namun, suara yang cukup indah terdengar dari kerumunan pada saat ini.
"Bos Ripal, mereka berdua itu temanku, yang barusan itu hanya salah paham."
Suara itu adalah Giselle, yang baru saja berhasil menerobos kerumunan untuk datang ke sisi Erwin dan Nora.
"Ternyata CEO Giselle." Ripal masih mengenal Giselle karena sekarang status Giselle di Kota Bandung sudah tidak seperti dulu. Orang yang mengenalnya tidak lagi memanggilnya Giselle, melainkan CEO Giselle, jadi bisa dilihat bahwa statusnya bukan orang biasa lagi sekarang.
"Karena ini hanya salah paham, saling minta maaf satu seharusnya sudah cukup dan kita anggap masalah ini selesai."
Ripal ingin meminimalisir masalah ini begitu tahu Erwin dan Nora adalah teman Giselle, tapi Teguh sepertinya tidak ingin berdamai begitu saja.
"Bos Ripal, aku sangat kecewa dengan sikapmu, menyuruhku minta maaf itu tidak mungkin."
"Tak perlu minta maaf padaku, cukup minta maaf saja pada Nora." Erwin mengerutkan kening dan berjalan mendekat ke arah Teguh.
Itu membuat Teguh buru-buru bersembunyi di belakang Ripal.
Ripal merasa kerepotan karena tidak menyangka Erwin akan begitu keras kepala, Giselle harus dihormati karena dibalik Laws Group itu ada dukungan High Build Group, dan keberadaan High Build Group di Kota Bandung itu sudah tidak perlu dijelaskan lagi.
Setelah berpikir sejenak, dia pada akhirnya mengingatkan Erwin,
"Dek, Teguh ini seorang penyanyi di bawah naungan Perusahaan Hiburan Gibson, kalau masih kamu paksa, perusahaan dan manajer di belakangnya tidak akan membiarkanmu begitu saja. Kita tidak sanggup menyinggung Keluarga Gibson."
“Perusahaan hiburan Gibson itu milik Keluarga Gibson yang di Bekasi?” Erwin tidak menyangka penyanyi kelas tiga ini berlindung dibalik Perusahaan Hiburan Gibson, yang justru membuat benaknya muncul ide baru.
"Benar, Keluarga Gibson dari Kota Bekasi, mereka itu keluarga terkaya peringkat keenam, merupakan keberadaan yang tidak sanggup kita singgung." Ripal dengan sengaja membesar-besarkan konsekuensinya untuk menakut-nakuti Erwin agar menyerah.
“Hehehe, kebetulan Keluarga Gibson yang sedang kuincar.” Erwin tersenyum dan mendorong pergi Ripal untuk meraih Teguh.
"Ikut aku!"
"Tolong aku Bos Ripal, cepat hubungi manajerku." Teguh tidak menyangka Erwin akan seberani itu sampai menyeretnya pergi, yang membuatnya panik.
Wajah Ripal juga terlihat sedang kesulitan, dia tidak boleh menyinggung perasaan pihak manapun, jadi hanya bisa melihat Erwin menyeret Teguh pergi begitu saja. Namun, dia dia tidak bodoh dan segera mengeluarkan ponsel untuk menelepon manajer Teguh.
Orang-orang di tempat kejadian juga tercengang. Siapa sebenarnya pria ini, bisa-bisanya menyeret pergi Teguh di depan semua orang dengan begitu lantang.
__ADS_1