
Keluarga Louis di Kota Bandung ini juga dapat dianggap sebagai keluarga papan atas, karena memiliki Hotel, real estate, jaringan, katering, dan industri lainnya. Jadi termasuk salah satu keluarga yang paling menjanjikan di Kota Bandung.
Selain identitasnya yang merupakan seorang anak orang kaya, Vincent juga membuka perusahaan real estat sendiri, jadi kekayaannya sudah pasti tidak sedikit, dan Vincent benar-benar menang telak dari berbagai aspek jika dibandingkan dengan Adam.
Selama bertahun-tahun, dia telah mengejar Lina, hanya saja selalu ditolak, tetapi dia tidak bermaksud untuk menyerah, jadi dia langsung mampir kemari setelah melihat Lina di pesta ini.
“Lama tidak bertemu.” Lina menyapanya dengan sopan, lalu mengabaikannya. Adegan sekarang terasa canggung, tapi justru Mary sepertinya sangat menyukai Vincent.
"Vincent, sifat Lina kami memang seperti ini, jadi jangan salah paham ya."
“Tidak apa-apa Tante, aku sudah terbiasa, kudengar rantai modal perusahaan Paman tersendat dalam investasi sebuah tanah di timur kota ya? Jika perlu, bilang saja samaku, modal yang setidaknya 200 miliar masih sanggup keluargaku bantu." Vincent berkata dengan percaya diri, sebelum datang, dia sudah dengan hati-hati menyelidiki situasi perusahaan Lucas, jadi dia berencana untuk mendapatkan Lina dengan memanfaatkan situasi perusahaan ayahnya.
“Benarkah? Baguslah kalau begitu.” Mary langsung berkata dengan senang hati, "Ayo, duduk di sini sama tante."
Vincent tidak duduk, tetapi mengeluarkan sebuah kotak hadiah dan memberikannya pada Lina.
"Lina, ini gelang emas mawar Cartier 18K yang kubawa dari luar negeri untukmu."
Lina tidak menerima hadiah itu, dia bahkan tidak melihatnya, justru ibunya yang terkejut.
"Gelang emas mawar 18K Cartier, yang ini harganya setidaknya lebih dari 200 juta!"
“Maaf, Vincent, aku sudah punya pacar, jadi jangan lakukan usaha yang sia-sia lagi.” Lina langsung menolak.
“Kamu sudah punya pacar?” Vincent awalnya mengira Lina hanya mencari alasan untuk menolak. Pada saat ini, Erwin kebetulan datang dan tampaknya sedang mencari Lina di pintu.
“Oh, Erwin sudah datang.” Meskipun Lucas merokok dalam diam, tapi matanya selalu tertuju ke arah pintu, melihat Erwin muncul, dia segera mematikan rokoknya, kemudian pergi menyapa dengan sopan.
__ADS_1
Ketika Lina melihat Erwin datang, dia tersenyum bagaikan bunga yang mekar, dan setelah mengabaikan Vincent, dia langsung mengikuti Lucas untuk menemui Erwin.
Vincent tetap di tempatnya dengan canggung, matanya yang cemburu tertuju pada Erwin, dan saat melihat Lina memegang lengan Erwin dengan penuh kasih sayang sambil tersenyum dengan bahagia, amarah Vincent benar-benar membara hingga mengepalkan tinjunya tanpa sadar.
“Berani merebut Lina dariku? Cari mati!" Mata Vincent melotot dengan tajam.
Melihat ini, Mary ingin melangkah maju untuk menghiburnya, tetapi Vincent mengabaikan Mary, dan itu membuat Mary merasa canggung.
Ini adalah pertama kalinya Erwin datang ke Hotel Padma ini, tapi dia ingat bahwa hotel ini dimiliki oleh High Build Group, yang merupakan milik ayahnya juga.
"Erwin, kenapa baru datang sekarang? Aku sudah hampir menghabiskan sebungkus rokok. " Lucas tersenyum sambil menyanjung, tentu saja dia punya alasan mengapa begitu ingin bertemu dengan Erwin.
“Erwin, ayo duduk di sana!” Lina memeluk lengan Erwin dengan penuh kasih sayang sambil memasang ekspresi bahagia di wajahnya, dan ingin mengajak Erwin untuk duduk bersama keluarganya.
“Lina, Ayah dan Erwin ingin mendiskusikan sesuatu, jadi kamu temani dulu ibumu sebentar, Ayah akan mengembalikan Erwin padamu nanti.” Lucas dengan bersemangat membawa Erwin ke sudut yang sepi, karena punya tujuan tersendiri.
“Baiklah.” Lina hanya bisa dengan patuh kembali ke tempat duduknya.
"Sebenarnya begini, paman membeli sebidang tanah di timur kota, awalnya tanah itu direncanakan untuk membangun sebuah hotel dan telah disetujui, tapi sekarang justru pihak lain berubah pikiran dan tidak memperbolehkan, jadi rantai modal serta keuangan perusahaan semuanya terperangkap di sana, jadi ingin meminta bantuanmu untuk mendapat sedikit modal." Lucas berkata dengan malu-malu.
“Masih kurang berapa?” Erwin berpikir sejenak, tetapi masih merasa memang seharusnya membantu, karena orang yang meminta bantuan itu adalah ayah Lina. Tidak mungkin Erwin hanya duduk diam dan menyaksikan keluarga mereka bangkrut. Alasan keduanya ialah, dia bisa juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil alih beberapa persen saham Hotel milik keluarga Aleda yang bisa memperkuat kekuatannya sendiri.
“200 miliar, aku akan memberimu 8% dari sahamnya.” Kata Lucas setelah berpikir sejenak.
"Aku akan memberi 400 miliar, tapi aku ingin 20% sahamnya, selain itu, aku juga bisa membantumu menyelesaikan masalah pembangunan hotel yang barusan kamu bilang. "Erwin merasa bahwa 8% terlalu sedikit, jadi dia langsung meningkatkannya menjadi 20%.
"400 miliar." Lucas menarik napas dalam, Erwin ini memang bukan orang biasa, dan bahkan bisa mengucapkan angka sebesar itu dengan santai, tidak seperti Vincent yang ingin mengeluarkan 200 miliar saja harus lewat bantuan keluarga.
__ADS_1
Selain itu, Erwin juga dapat menyelesaikan masalah yang menghambat pembangunan hotelnya, ini benar-benar kabar bagus. Lucas langsung setuju dengan senang hati, "Oke, kita akan menjadi keluarga kedepannya, dan paman juga hanya punya Lina yang merupakan satu-satunya putri paman, yang pada akhirnya juga akan paman serahkan padamu."
Setelah menyelesaikan masalah perusahaan, Lucas dalam suasana hati yang baik, dan kesan Erwin semakin meroket dalam pandangannya.
Ketika Lucas dan Erwin sedang mendiskusikan sesuatu di sudut, seorang pria paruh baya tiba-tiba melihat ekspresi Lucas yang sedang menyanjung itu, dan diam-diam menebak bahwa pemuda ini mungkin orang kaya yang misterius, jadi tidak bisa menahan rasa penasarannya dan menghampiri mereka.
"Kakak kedua, siapa anak muda ini? Kenapa tidak perkenalkan padaku?"
Pria yang bertanya ini adalah putra ketiga David yang bernama Darwin, yang disebut sebagai rajanya department store yang terkenal di Kota Bandung, karena gedung department store yang dimilikinya berjumlah sepertiga dari seluruh department store yang ada di Kota Bandung, jadi dia ini termasuk orang kaya yang cukup berkuasa.
“Ini pacar putriku, Erwin.” Lucas tidak terlalu suka dengan adik ketiganya ini, karena sifatnya sangat paling sombong, tetapi bagaimanapun juga, mereka tetaplah saudara kandung, jadi Lucas hanya bisa berpura-pura baik di permukaan.
Saat berbicara, dia juga memperkenalkan adik ketiganya, yaitu Darwin kepada Erwin.
"Halo paman ketiga." Erwin menjawab dengan sopan.
“Erwin, kan?” Darwin melirik ke atas hingga ke bawah pakaian sederhana yang dipakai Erwin, dan berkata dengan sedikit jijik, "Pekerjaanmu itu apa? Orang tuamu itu bisnis apa?”
"Aku bekerja di TG Entertainment dan baru saja dipromosi menjadi manajer, orang tuaku itu tinggal di pedesaan..." Sebelum Erwin selesai berbicara, Darwin langsung menyela dengan tidak sabar.
"Oke, oke, aku mengerti, kebetulan aku sedang sibuk, jadi pamit dulu."
Darwin menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik di wajahnya. Dia tidak menyangka Lucas akan menyanjung seorang anak miskin dari pedesaan, ini sangat mengecewakannya, karena awalnya dia mengira pemuda itu adalah orang kaya.
Setelah mengetahui bahwa Erwin adalah anak miskin, dia bahkan tidak ingin berbicara sedikit lebih lama lagi dengan Erwin, dan tidak lupa untuk mengejek Lucas sebelum pergi.
"Kakak kedua, tak kusangka selera putrimu begitu rendahan, dan malah mencari seorang bocah miskin dari pedesaan untuk menjadi pacarnya, dan kau malah bertingkah seperti anjing penjilat..."
__ADS_1
"Jangan pandang rendah orang lain, cepat atau lambat, akan kubuat kau menjadi penjilatku." Lucas sangat marah, tetapi ketika memikir dirinya sudah menjalin hubungan baik dengan Erwin, dia tiba-tiba menjadi besar mulut.
Erwin juga tahu kalau orang itu sedang memandang rendah dirinya, tapi dia hanya tersenyum tanpa peduli sama sekali, karena apa gunanya marah dengan seorang karakter yang tidak penting?