Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 213 Kemarahan CEO Cantik


__ADS_3

Saat hari lelang investasi di Distrik Baru utara kota semakin dekat, banyak keluarga kaya dari kota terdekat mulai memasuki Kota Bandung, mereka datang ke sini lebih awal untuk menyelidiki lingkungan investasi, namun kebanyakan mereka itu dari Kota Santa, karena jembatan lintas laut yang dibangun di area baru Kota Bandung akan langsung terhubung ke Kota Santa.


Oleh karena itu, bagi Kota Santa, area baru Kota Bandung ini sangat layak untuk diinvestasikan, selain itu, Kota Santa itu kota tingkat pertama jadi punya banyak keluarga kaya yang kekuatannya jauh lebih kuat daripada keluarga Kota Bandung, bahkan ada beberapa keluarga yang lebih kuat dari High Build Group.


Pada hari ini, Giselle mengundang Erwin ke hotel terbesar di utara kota, hotel bintang lima Lodro, untuk berterima kasih kepada Erwin karena telah membantunya menjadi CEO Laws Group.


Sebelum pergi, Giselle juga berdandan secara khusus, memakai gaun pendek berwarna merah yang ketat untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya yang bagus, belahan di dadanya juga tidak kalah menarik perhatian, kemudian ditambah sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah mawar, yang lebih memperlihatkan kaki panjangnya yang putih.


Dengan bibir merah seksi, wajah menawan, dan rambut gelombang, sungguh sebuah penampilan yang luar biasa cantik, sedangkan tubuh juga memakai parfum yang sangat memabukkan, semua terlihat menawan.


Erwin bahkan sampai terpana saat melihat Giselle, wanita ini terlalu menawan hari ini! Tetapi Erwin dengan cepat bereaksi kembali dan bercanda,


"Giselle, kau itu CEO cantik sekarang, aku sampai merasa tertekan jalan bersamamu."


"Bisa aja kamu, posisi CEO ini juga berianmu, justru aku yang merasa tertekan jalan denganmu, kalau tak sengaja membuatmu kesal, posisi CEO-ku ini bisa kamu gantikan kapan saja." Giselle berkata dengan genit, dengan senyuman menawan di wajah.


Apa yang dikatakan Giselle memang benar, Erwin sekarang memegang 70% saham Laws Group, jadi penggantian CEO itu hanya perlu buka mulut.


Keduanya berjalan sambil mengobrol ringan..


Ini adalah pertama kalinya Erwin datang ke hotel terbesar di utara kota, tidak hanya penampilan luar hotelnya sangat bagus, [etapi


 dekorasi interiornya juga mewah.


“Hotel Lodro ini mewah sekali.” Erwin tidak bisa menahan diri begitu melihat gaya dekorasi yang berkilauan di dalamnya.


"Hotel Lodro ini punya keluarga Cole, bukan cuma tempat makan aja, tapi juga ada berbagai proyek menarik, seperti bar, catur dan permainan kartu, KTV, kafe internet, dan lainnya." Giselle memperkenalkan tempat ini kepada Erwin sambil berjalan ke lantai dua.


"Aku sudah pesan kamar pribadi paling mewah di Hotel Lodro ini, kamarnya disebut Surga di bumi, bukan tempat yang bisa dipesan sembarang oleh orang biasa!"


"Begitu ya? Sekarang kau sudah dihormati sejauh itu di utara kota ini? ”Erwin tertawa dan menggoda.


"Tidak juga." Bibir Giselle tidak bisa menahan diri dan terangkat.


Namun, tepat ketika mereka baru mau sampai ke kamar pribadi surga di bumi, ada beberapa tuan muda yang berdiri di depan kamar surga di bumi dan membuat kekacauan dengan bahasa yang sangat arogan, sedangkan Manajer hotel hanya bisa menahan mereka dengan ekspresi kesulitan.


Tidak berani menyinggung, tapi juga tidak berani membiarkan mereka masuk, manajer itu berada dalam dilema.


"Manajer Bernard, apa yang terjadi???" Wajah cantik Giselle berubah dingin, dan berjalan mendekat sambil bertanya.


Melihat Giselle datang, Manajer Bernard berjalan keluar dari kerumunan dengan ekspresi kesulitan sambil berkata dengan nada meminta maaf.

__ADS_1


"Giselle, benar-benar maaf, orang-orang ini dari keluarga Graham kota Santa, kami tak mampu singgung, mereka ini mau pesan kamar surga di bumi juga, jadi apa boleh mengalah dulu?"


“Tapi aku yang pesan duluan, suruh mereka cari yang lain saja.” Mata indah Giselle menjadi marah, karena tingkah para tuan muda ini sungguh keterlaluan!


Begitu Manajer Bernard hendak menjawab, seorang pria gemuk tiba-tiba keluar dari kerumunan.


“Kenapa tak serahkan saja kamar ini?” Pria gemuk itu berkata dengan arogan.


Pria gemuk ini bernama Farel Graham, merupakan seorang tuan muda keluarga Graham di Kota Santa, Keluarga Graham itu pemilik perusahaan besar yang senilai pasar ratusan triliun, jadi di Kota Bandung ini hanya High Build Group yang dapat bersaing dengannya.


"Kenapa harus? Jelas aku yang pesan duluan!" Giselle tidak mau berdamai, karena kali ini dia memesan kamar ini khusus untuk berterima kasih kepada Erwin, masalah ini lebih penting daripada yang lainnya.


"Begitu." Farel itu hendak berbicara, tapi tiba-tiba seorang pemuda lain mendekat, pemuda tersebut cukup tampan dan setelah meraih bahu Farel, dia melihat Giselle dengan penuh minat sambil berkata,


"Halo cantik, karena kita sama-sama mau kamar ini, kenapa tidak duduk dan makan bersama sekalian saling kenalan? Dengan begitu kita tak perlu bertengkar, dan jangan khawatir, kami yang bayar."


Pemuda ini adalah sepupu Farel, Chris Graham, yang sangat menyukai wanita cantik, jadi begitu melihat Giselle yang seksi dan mempesona, pemikiran untuk mendekati Giselle langsung bangkit.


Lagian sama-sama mau kamar surga di bumi ini, dan pihak lain juga bersedia untuk traktir, yang bisa dianggap sudah memberi muka kepada Giselle, bahkan Manajer Bernard yang mendengar ini juga berpikir kalau ini ide yang sangat bagus, jadi tanpa sadar membujuk Giselle,


"Giselle, gimana kalau duduk bersama mereka...."


“Tidak mungkin.” Sebelum Manajer Bernard selesai berbicara, Giselle langsung menolak dengan tegas, karena dia dengan tidak mudahnya bisa makan berduaan dengan Erwin, jadi mana mungkin duduk bersama orang-orang ini dan merusak suasana hati.


"Kami sudah beri muka tapi malah tak tahu diri, kami ini dari keluarga Graham Kota Santa, pernah dengar Graham Group yang bernilai lebih dari 100 triliun? Kami ini bukan orang yang bisa disinggung oleh CEO perusahaan kecil di kota tingkat ketiga seperti kalian.”


“Memangnya apa hebatnya Graham Group? Yang penting kamar ini takkan kulepas.” Giselle sedikit marah, suasana hati hari ini benar-benar hancur karena sekelompok orang ini.


“Hehehe, kalau begitu akan kutunjukkan kehebatan keluarga besar.” Farel menoleh dan melirik Manajer Bernard.


"Manajer Bernard, pergi hubungi manajer umum hotel kalian dan bilang hotel ini kubeli!"


Begitu kata-kata itu keluar, Manajer Bernard langsung panik, keluarga kaya kota Santa memang berbeda, sampai-sampai ingin membeli seluruh hotelnya hanya untuk rebutan sebuah kamar pribadi.


"Mohon tunggu sebentar, akan segera saya panggil manajer umum." Manajer Bernard tak berani mengabaikan, jika Farel benar-benar membeli hotel ini, maka Farel akan menjadi pemilik hotel, jelas tidak boleh disinggung.


Manajer Bernard buru-buru turun untuk mencari manajer umum, namun, bisnis hotel yang sebesar ini bukanlah sesuatu yang dapat diputuskan oleh manajer umum sendirian, jadi ketika menerima laporan dari Manajer Bernard, manajer umum itu langsung buru-buru menelepon Morgan.


Hotel Lodro itu milik keluarga Cole, tapi sebagian besar saham keluarga Cole itu sekarang dipegang oleh Perusahaan Investasi Erlin, tapi CEO-nya masih tetap Morgan.


Sambil menunggu pemilik hotel muncul, Farel dan Chris, memasang ekspresi puas di wajah mereka, dan bahkan menggoda Giselle.

__ADS_1


"Halo cantik, hotel ini akan jadi milik kami nanti, jadi pesan kamarnya lewat kami aja kedepannya, namaku Chris, akan kuberi gratis, selain itu, tentang investasi di Distrik Baru utara kota juga bisa hubung aku, kedatangan keluarga Graham kami kali ini sudah menyiapkan dana, jadi bidang tanah di area baru itu setidaknya bisa diamankan sepertiga bagian, yang mungkin bisa kita kembangkan bersama."


Chris ini benar-benar handal dalam memikat gadis, dia sudah lama mendengar dari Manajer Bernard bahwa Giselle itu seorang CEO cantik, jadi ingin menggunakan kesempatan kerjasama untuk mendekat, tapi Giselle jelas tidak suka.


"Hehe, maaf, aku tak tertarik padamu."


"Kau akan tertarik nanti, ini kartu namaku, "Kata Chris dengan percaya diri, mengeluarkan kartu nama sambil menyerahkannya kepada Giselle, tapi Giselle bahkan tidak melihatnya.


Pengabaian itu membuat Chris kehilangan muka! Terlebih lagi, sepupu dan teman-temannya sedang menonton di belakang.


"Akan kubuat kau menanggung resiko apa yang sudah kau lakukan dan memohon padaku!" Chris sedikit kesal dan berencana untuk menghancurkan perusahaan Giselle secara diam-diam, agar Giselle ini bisa tahu diri.


Setengah jam kemudian, Morgan yang dipimpin oleh manajer umum dan manajer Bernard buru-buru datang.


Keluarga Graham adalah keluarga besar di Kota Santa, dan Morgan tidak sanggup singgung, jadi berpikir untuk datang menangani masalah ini sesegera mungkin.


Begitu Morgan tiba, Manajer Bernard langsung menunjuk Farel dan memperkenalkan secara singkat.


"CEO, ini Farel Graham, putra Graham Group yang ingin beli hotel ini."


“Tuan Muda Farel serius ingin beli Hotel Lodro ini?” Morgan bertanya dengan ragu.


“Berapa? Sebut saja harganya.” Farel berkata tanpa peduli, kali ini kedatangan mereka ke Kota Bandung untuk berinvestasi dan sudah membawa sejumlah besar uang, jadi beli sebuah hotel besar di distrik ini tidaklah seberapa.


"Jika Tuan Muda Farel benar-benar ingin beli..." Morgan ingin menaikkan harga dan menghasilkan banyak uang, tapi tidak menyangka mendengar sebuah suara yang akrab dari belakang.


"CEO Morgan, lama tidak bertemu." Erwin berjalan maju.


Pernyataan ini menarik perhatian orang-orang yang hadir, tapi ketika Farel dan Chris melihat bahwa pembicaranya adalah seorang anak miskin dengan pakaian murahan, mereka tidak menganggapnya serius, karena mengira itu adalah asisten atau pengawal Giselle atau semacamnya.


Tapi Morgan justru gemetar saat melihat Erwin, mengapa iblis ini bisa di sini?! Morgan sudah diberi pelajaran oleh Erwin sebelumnya, dan tidak akan pernah melupakan pelajaran itu seumur hidup.


“Tuan Erwin, kenapa ada di sini?” Morgan dengan cepat melangkah maju untuk menyambutnya dengan hormat.


"Giselle dan aku datang untuk makan bersama di sini, kami sudah pesan kamar surga di bumi, tapi sekelompok orang ini tiba-tiba muncul dan mau rebutan, menurutmu gimana? "Erwin mengangkat mulutnya sambil menatap Morgan, artinya dari tatapan Erwin sangat jelas, yaitu kalau tidak ditangani dengan baik, jangan berharap posisi CEO bisa dipertahankan.


Mana mungkin Morgan berani menyinggung Erwin? Erwin ini adalah orang yang paling dipercaya Damon, terlebih lagi Erwin ini sangat licik, jadi kalau membuatnya tidak senang, posisinya sebagai CEO Cole Group akan terancam, sehingga Morgan buru-buru membuat keputusan.


“Maaf, Tuan muda Graham, kami tidak jadi jual hotel ini, dan kamar pribadi ini sudah dipesan untuk Tuan Erwin beserta Giselle, jadi mohon pesan lain kali saja.” Morgan menoleh ke Farel dan berkata dengan sopan.


"A-apa? Kau mencoba mengusir kami ya?!” Farel dan Chris tampak tidak percaya, dan teman-teman di samping mereka juga terlihat sedikit kaget.

__ADS_1




__ADS_2