
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang datang yang ke Pusat Pameran Sun Galery. Erwin juga mengikuti kerumunan orang untuk berjalan masuk. Lina dengan penuh kasih meraih lengan Erwin, dengan setengah badan yang bersandar pada tubuh Erwin, yang membuat mereka terlihat seperti pasangan.
Kemarahan Vincent melonjak, dan mengikuti dari belakang dengan kesal, untungnya, setelah memasuki ruang pameran, dia terpesona oleh berbagai koleksi berharga, yang membuatnya untuk sementara melupakan kecemburuannya.
Pada saat ini, Erwin juga terpana dengan koleksi antik yang dikumpulkan oleh David, tidak hanya jumlahnya yang banyak, tetapi beberapa di antaranya juga sangat berharga. Hampir ada 100 koleksi di pameran ini, jadi setidaknya bernilai dua triliun, tampaknya lelaki tua itu sangat kaya.
“Erwin, tusuk konde ini cantik sekali!” Lina membawa Erwin ke depan sebuah kotak pajangan kaca. Di dalamnya, ada tusuk konde kuno namun indah, yang seharusnya dipakai oleh orang zaman dahulu.
“Ya, sangat cantik!” Erwin juga sangat menyukai tusuk konde ini, tapi sayangnya ini milik lelaki tua itu, dan lelaki tua itu pasti tidak akan menjualnya.
“Yuk kita lihat yang lain!” Erwin membawa Lina ke tempat lain dengan semangat.
Selain tusuk konde, ada juga kaligrafi, lukisan, barang giok, koin kuno bahkan senjata besi kuno, banyak orang tertarik untuk melihatnya, beberapa koleksi juga dijelaskan secara rinci, misalnya, helm baja zaman kolonial yang dilihat Erwin saat ini.
"Helm baja ini ternyata dipakai saat pemerintah zaman kolonial di indonesia, bagaimana lelaki tua itu bisa mendapatkannya? "Erwin sangat penasaran, kebanyakan orang biasanya tidak bisa mendapatkan barang semacam ini. Sepertinya lelaki tua itu adalah tidak sederhana.
“Apa bagusnya helm baja itu? Ada rok kebaya jaman dulu di sini.” Lina tidak tertarik dengan helm baja, tetapi sangat tertarik dengan rok kebaya.
Erwin tersenyum, dan setelah menikmati barang kuno ini, dia terus berjalan ke depan, dan terlihatlah David yang sedang berdiri di depan.
David mengenakan kemeja biru hari ini, pakaiannya sederhana, namun sangat mengangkat temperamennya yang bagus, dia sedang menyapa orang-orang yang datang, kebanyakan pengunjung yang datang adalah orang-orang yang lumayan terkenal, dan kedatangan mereka membuatnya tersenyum sangat bahagia. Ini adalah Pameran koleksi pribadi pertama yang dibuka olehnya setelah pensiun, dan mungkin merupakan pameran terakhir dalam hidupnya, jadi dia sangat mementingkannya.
“Kakek!” Melihat David, Lina dengan bersemangat menarik Erwin ke sana.
“Lina, kau datang juga ya!” David tersenyum sangat bahagia, karena banyak kelakuan cucu-cucunya membuatnya sangat sakit kepala, dan hanya Lina satu-satunya cucunya yang bekerja keras untuk menjadi lebih baik, jadi dia bisa dikatakan sangat menyukai Lina
Erwin juga datang untuk menyambut lelaki tua itu, dan lelaki tua itu mengangguk sambil berkata dengan lega,
__ADS_1
"Erwin, tolong jangan marah dengan hasil apapun yang dikatakan oleh Brian nanti, Kakek tidak akan menyalahkanmu, dan kau juga tak perlu merasa malu, apa pun yang kau berikan, aku tetap sangat senang."
Lelaki tua itu berbicara dengan sangat menghibur dan sangat perhatian, meskipun dia juga berpikir bahwa lukisan yang diberikan Erwin itu mungkin palsu, tapi dia tidak keberatan, Erwin yang punya niat baik untuk memberinya hadiah sudah cukup, dan asli atau palsu itu tidak penting.
“Ya.” Ekspresi Erwin sangat tenang, meskipun dia sudah tahu bahwa lukisannya sendiri memang yang asli, tapi dia tidak membantah apa yang dikatakan lelaki tua itu karena dia hanya perlu menunggu Brian untuk menilai sekali lagi.
“Jangan menghalangi jalan.” Begitu Erwin selesai berbicara, dia didorong ringan oleh beberapa orang di belakang, merekalah beberapa anak kaya dari keluarga Aleda dan Vincent.
"Kakek, pameranmu cukup besar ya hari ini, kurasa yang datang setidaknya ada seratus lebih! Aku juga sudah berkeliling, dan kira-kira koleksimu itu lebih dari seratus juga! Sungguh jumlah yang luar biasa sekali." Kay adalah pria standar, tapi adalah yang paling pandai menyanjung.
“Dasar Licik, kau pasti tertarik dengan salah satu koleksiku, dan mau minta denganku.” Kata David sambil tersenyum, karena dia tentu tahu tujuan Kay menyanjungnya.
"Kakek hebat sekali, sampai bisa tau, aku mau pedang kini yang masih belum diketahui itu! Kulihat pedangnya cukup tampan, jadi sesuai dengan citra temperamenku." Begitu Kay selesai berbicara, lelaki tua itu dengan tegas menolak, "Tak boleh, aku menebak kalau pedang kuno itu adalah pedang Patimura, nilai penelitian sangat besar, jadi tak bisa kukasih."
“Dasar pelit!” Kay cemberut, dan yang lainnya tersenyum.
Vincent di kerumunan melirik Erwin kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu yang indah dari sakunya untuk David.
Dengan begitu, Vincent membuka kotak kayu tersebut, memperlihatkan liontin batu giok putih bersih di dalamnya, sehingga David yang melihat itu membuka matanya dengan semangat.
"I-ini..." David mengambil liontin giok dan mengamatinya dengan cermat, dia merasa bahwa liontin giok ini tidak biasa, tapi pada waktu yang sama dia tidak tahu nilainya, lagi pula, dia bukan seorang profesional.
“Ini adalah liontin batu giok peninggalan kerajaan, dikatakan sebagai liontin batu giok pribadi milik kaisar.” Ketika Vincent mengatakan ini, dia menatap Erwin dengan penuh kemenangan, dia membeli liontin giok ini seharga lebih dari 2 miliar hanya untuk memenangkan hati lelaki tua itu.
"Liontin giok milik kaisar?” Ternyata memang benar, wajah lelaki tua itu terbuka dengan senyuman bahagia, dan terus menyentuh liontin giok itu. "Sepertinya liontin giok ini tidak murah!"
“Selama Profesor Aleda menyukainya, seberapa tinggi harganya tetap sepadan.” Vincent tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“Vincent, terima kasih! Kamu sudah memberiku lukisan terkenal yang seharga 76 miliar, dan sekarang memberiku liontin giok ini, apa karena perlu bantuanku ya?” Kata lelaki tua itu seolah-olah tahu tujuan Vincent.
“Aku hanya ingin menghormati Profesor Aleda, Ayahku selalu bilang kalau dia sudah menerima banyak bantuan darimu, jadi aku harus belajar untuk menghormatimu juga.” Vincent berkata dengan indah, tapi pada kenyataannya, dia tentu punya tujuan yang hanya dia sendiri yang tahu.
"Kamu dan Ayahmu memang anak baik! Aku sangat optimis denganmu, kalau perlu bantuan kedepannya, jangan segan untuk bilang padaku." Kata David dengan puas.
Sanjungan Vincent membuat lelaki tua itu sangat senang.
Segera, dia melirik Erwin yang ada di antara kerumunan, tersenyum penuh kemenangan, 'Kau mau lawan aku pakai apa? Kita lihat saja, aku akan memenangkan hati orang-orang di sekitar Lina satu persatu, dan saat itulah adalah kekalahanmu.'
Vincent merencanakan semuanya dengan sangat baik, dia memusatkan pandangannya pada dua lukisan yang tergantung di tengah ruang pameran yang tidak jauh. Setelah Tuan Brian mengidentifikasi hasilnya, saat itulah Erwin akan dipermalukan dan dihancurkan secara total, karena bahkan David sekalipun tidak akan bisa melindunginya.
Vincent sudah mengatur semuanya, dan bahkan secara diam-diam menyewa wartawan hanya untuk mengekspos secara besar-besaran saat lukisan Erwin yang palsu terungkap, dengan judul 'Anak Miskin Pedesaan yang Menggunakan Lukisan Palsu untuk Memenangkan Hati Wanita Kaya', dan kabur karena terungkap oleh seorang penilai terbaik.
Memikirkan hal ini, Vincent merasa segar dan senang.
Selama Erwin adalah pemilik lukisan palsu itu, Vincent percaya bahwa dengan rencana liciknya ini, Erwin pasti akan dipermalukan, hingga posisi manajer perusahaannya tak bisa dipertahankan.
“Berani melawanku? Kubuat kau mampus!” Kata Vincent dengan tatapan dingin.
Saat dia memikirkan semuanya dengan puas, ada suara teriakan keras yang datang dari luar.
"Tuan Brian datang, Tuan Brian datang!"
Brian merupakan seorang penilai barang antik terbaik yang diakui industri barang antik Kota Bandung, kedatangannya langsung dihampiri oleh pecinta barang antik di tempat. Bahkan David juga menyambutnya secara pribadi. Dan Vincent tersenyum dingin saat melihat ini.
__ADS_1
"Bahkan Tuhan berada di pihak, kesombonganmu tak akan bertahan lama lagi!"