Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 154 Memangnya Kenapa?


__ADS_3

Meskipun butuh banyak usaha, tapi akhirnya Ivan tertangkap, dan tinggal mencari tahu siapa dalang yang mengacaukan proyek ibu Jocelyn.


Namun, setelah menangkap Ivan, keluarga Cole di utara kota pasti tidak akan tinggal diam, mau itu paksaan atau bujukan, Erwin harus mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan sebelum melepaskan Ivan, jika tidak, itu akan sangat disayangkan.


Keesokan harinya, Erwin tertidur di sofa dan dibangunkan oleh suara bel pintu.


“Sepagi ini? Siapa sih?” Erwin menggosok matanya yang mengantuk, setelah melihat jam di ponsel, dia heran siapa yang akan datang mencarinya pada jam delapan pagi.


Tapi dia tetap berdiri untuk membuka pintu.


"Erwin, pagi." Orang luar itu adalah Giselle, yang mengenakan rok low hip yang seksi, sepatu hak tinggi, bibir merah, penampilannya seksi seperti biasa, setelah melihat Erwin, dia menyapa dengan kedipan rayuan yang sangat menggoda.


“Giselle, kenapa datang sepagi ini? Jangan-jangan ingin makan sarapan yang kubuat.” Erwin menguap sambil membawa Giselle masuk, sama sekali tidak terpengaruh kedipan Giselle.


"Aku sudah melakukan semua hal yang kamu suruh, Ivan juga sudah tertangkap, bukankah sudah waktunya kamu memenuhi janji untuk menemaniku nonton bioskop?" kata Giselle sambil merapikan rambut.


"Tentu saja baik kalau bisa makan sarapan yang kamu buat."


“Tapi tidak sepagi ini juga ke bioskop." Erwin kehabisan kata-kata, sejak kapan Giselle menjadi begitu tidak sabaran.


"Tidak mudah untuk mengajakmu ke bioskop, tentu saja aku sedikit buru-buru." Giselle benar-benar sangat menantikan ini. Setelah kejadian kemarin, dia bahkan lebih yakin akan identitas dan latar belakang Erwin, dia tentu akan mengejar orang kaya yang misterius ini.


Erwin menggelengkan kepala tanpa mengatakan apa-apa, lalu membiarkan Giselle duduk di vila sendirian, sedangkan dia sendiri pergi mandi.


Setelah mandi, dia memasak bubur, pancake, dan telur di dapur, Giselle ingin membantu Erwin mengantar masakan ke meja makan, tetapi tidak menyadari pancinya masih panas, sehingga jari-jarinya terbakar dan dia pun menjerit,


"Panas panas ...."


Erwin buru-buru datang tanpa sadar, meraih jari Giselle yang semakin merah, lalu menariknya menuju keran dapur.


Melihat bahwa Erwin sangat peduli padanya, hati Giselle merasa hangat, tidak ada pria yang pernah begitu peduli padanya, kebanyakan hanya menatapnya dengan tatapan cabul.


“Apa sudah baikan?” Erwin berkata dengan khawatir.


"Mm, tidak sakit lagi." Giselle mengangguk, tapi tidak bermaksud untuk menarik kembali tangannya dan membiarkan Erwin memegangnya.


Saat tangannya dibasuh air, Nora mencium aroma masakan, jadi bangkit dari tempat tidur dan berlari ke dapur, sehingga melihat pemandangan ini.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"

__ADS_1


"Tidak, tidak melakukan apa-apa." Giselle tiba-tiba tersipu, dan buru-buru menarik kembali tangannya dari genggaman Erwin, tapi Erwin tidak merasakan apa-apa, hanya berkata,


"Kebetulan sekali, ayo sarapan bersama, setelah makan nanti, pergilah ke perusahaan."


“Di perusahaan terlalu membosankan, setiap hari harus berlatih berjalan, berpose, menari, dan mengambil foto,” keluh Nora, dia ingin menjadi artis, bukan model.


"Ini semua adalah keterampilan dasar, sekarang ini adalah debut selebriti internet media mandiri yang populer, perusahaan memiliki niat mereka sendiri agar kamu mempraktikkan ini. Tentu saja, kalau ingin menolak, kamu boleh kemas barangnya dan pulang besok," kata Erwin dengan senyum.


Nora sangat manis dan cantik, tetapi dia tidak memiliki bakat nyanyi atau akting, jadi paling cocok untuk mengambil rute selebriti Internet atau variety show, dan untuk memulai dia harus mengumpulkan penggemar dengan merekam video pendek atau siaran langsung.


"Aku tidak ingin pulang." Nora tidak punya pilihan lain.


“Kalau begitu cepatlah makan! Aku akan mengajakmu main di luar besok.” Erwin mengingat tentang kartu emas berikan Doni yang bisa mengratiskan semua pengeluaran klub pribadinya.


"Serius? Jangan bohong ya.” Nora langsung bersemangat  begitu mendengar itu.


“Tenang saja, aku janji,” kata Erwin


Setelah mereka bertiga sarapan, Nora naik taksi ke perusahaan untuk berlatih, sementara Erwin membawa Giselle ke jalan terbesar di pusat kota untuk menonton bioskop.


Karena masih pagi, jalannya tidak terlalu ramai, tapi toko-toko dan bioskop tetap buka. Erwin dan Giselle tiba di bioskop dan melihat-lihat film yang tersedia hari ini.


“Paru-Paru Bumi!” Erwin berkata sambil tersenyum. Ini adalah film perlindungan lingkungan, semua produksinya berasal dari pengambilan gambar hutan, rekaman lingkungan hutan, binatang, serta konsekuensi serius dari kebakaran hutan, deforestasi dan polusi yang berlebihan.


Filmnya terlihat sangat membosankan, jadi pada dasarnya tidak ada orang yang ingin tonton, hanya Erwin dan Giselle.


“Apa hanya kita berdua?” Giselle duduk di aula film, dan ketika menoleh, tidak ada orang lain selain mereka berdua, tapi itu justru membuatnya diam-diam merasa bahagia.


"Tidak ada yang berminat nonton film ini, jadi jangan bosan sampai ketiduran nanti," kata Erwin sambil tersenyum.


"Aku cukup melihatmu saja." Giselle menggoda Erwin, dia hanya ingin berduaan dengan Erwin, sedangkan apa yang dilakukan itu tidak membuat banyak perbedaan.


Namun, saat di pertengahan film, Giselle mulai bosan, kelopak matanya terus berjuang untuk tetap terbuka, kemudian seluruh tubuhnya tanpa sadar bersandar ke arah Erwin, dan akhirnya tertidur langsung di bahu Erwin.


Film ini panjang dan membosankan, dan memang benar orang biasa tidak akan tertarik, hanya profesional seperti Erwin yang tertarik untuk mendukung film ini.


Melihat Giselle tertidur di bahunya, Erwin tersenyum, lalu sedikit menggerakkan tubuh, melepas jaket, dan mengenakannya pada Giselle agar Giselle tidak masuk angin.


Segera, film berakhir, bahu Erwin juga sedikit terasa mati rasa, jadi dia bergerak sedikit, tapi gerakan itu justru membangunkan Giselle. Ketika Giselle membuka mata, dia baru sadar filmnya sudah berakhir.

__ADS_1


"Maaf Erwin, aku ketiduran." Giselle meminta maaf, dia tersentuh ketika melihat jaket di tubuhnya, ini pertama kalinya dia bertemu dengan seorang pria yang begitu peduli dengannya.


“Tidak apa-apa, mau nonton yang lain?” Erwin tersenyum dan berkata tanpa pikir panjang.


“Temani aku belanja saja! Lagipula sudah mau jam makan siang, kita makan di restoran berputar saja!" Giselle berpikir menonton film hanya akan mempermalukan diri jika ketiduran lagi, jadi lebih baik belanja saja!


"Oke, akan kutemani sehari penuh." Erwin mengangguk, dan menganggap ini sebagai rasa terima kasih atas bantuan Giselle kemarin.


Giselle sangat senang.


Saat mereka berdua ngobrol ringan dan berjalan keluar dari gedung bioskop, mereka bertemu dengan seorang pria tinggi, tampan dan kaya yang sedang bergandengan dengan seorang wanita cantik, wajah Giselle langsung menjadi dingin saat melihat pria itu.


“Bukannya ini Giselle, putri haram dari keluarga Lawrence kami?” Pria tinggi, kaya dan tampan itu adalah Aaron, putra tertua dari keluarga Lawrence, setelah melihat Giselle, dia langsung menyindir tanpa ampun.


"Erwin, ayo kita pergi." Giselle ingin mengabaikannya dan menarik Erwin, tetapi dihentikan oleh Aaron.


"Kenapa buru-buru?" Aaron berkata dengan tidak bersahabat, pada saat yang sama juga melirik Erwin di samping Giselle, yang mengenakan pakaian murah, dan berkata dengan sarkas, "Giselle, kamu menjadi semakin tidak pilih-pilih makan lagi sekarang, bahkan seleramu sampai anak miskin dari pedesaan! Koneksimu benar-benar semakin luas ya."


Jelas ada sedikit penghinaan dan ironi dalam kata-kata ini.


"Aaron, jangan merusak suasanaku hari ini, kalau kamu masih menghina temanku, jangan salahkan aku bersikap kasar." Giselle marah. Ini adalah pertama kalinya Aaron melihat putri haram ini begitu membela seorang pria di depannya, jadi dia tiba-tiba menjadi penasaran.


"Kenapa? Kamu marah karena aku menghina orang ini? Jangan-jangan kamu suka dia? Seorang putri haram memang serasi dengan anak miskin pedesaan.”


Aaron tidak bisa berhenti tertawa, dia memang sudah dari awalnya memandang rendah putri haram keluarga Lawrence ini, tetapi justru kemampuan putri haram ini lebih bagus darinya, yang membuatnya sangat kesal, sehingga begitu mendapat kesempatan untuk mengejeknya, dia tentu akan menghina tanpa ampun.


Wanita cantik di sebelahnya juga ikut tertawa.


"Aaron, kamu yang memintanya." Giselle merasa malu sekaligus marah, dan langsung menampar wajah Aaron. Suara renyah terdengar, yang segera membuat Aaron marah dan berteriak,


"Dasar ******, beraninya memukulku, akan kuberi pelajaran agar kamu tahu diri, kamu itu sebatas seekor anjing keluarga Lawrence kami yang sedikit cantik saja." Setelah itu, Aaron langsung mengayunkan telapak tangannya.


Namun, saat tangan itu hendak mengenai wajah Giselle, sebuah kaki tiba-tiba menendang ke arah Aaron, yang membuat Aaron terpental beberapa meter jauhnya.


Giselle dan wanita cantik itu kaget, begitu juga dengan Aaron.


“Siapa yang menendangku?” Aaron dengan menyedihkan bangkit dari tanah sambil menatap Erwin.


"Aku yang menendangmu, memangnya kenapa?" Jawab Erwin dengan nada yang provokatif sambul tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2