Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Kabar Baik dan Kabar Buruk


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit rakyat di barat Kota Bandung, Lucas menerima jahitan dan perban saat ini. Untungnya hanya luka ringan, tetapi masih perlu dijahit dibungkus perban di kepalanya.


"Mari kita amati di rumah sakit selama beberapa hari dulu, dan lakukan MRI besok untuk memeriksa apakah ada terjadi gegar otak." Setelah Lucas selesai perban, dokter mengeluarkan perintah rawat inap.


"Dok, boleh tidak tinggal di rumah sakit?" Lucas tidak ingin dirawat di rumah sakit, dia baru saja menjalankan proyek sebuah hotel di timur kota, banyak hal yang harus ditangani, kalau tidak masuk kerja, dia takut terjadi kesalahan di sana, terutama anggota dewan direksi William, jika dia tidak ada di sana, William ini pasti akan merencanakan sesuatu yang licik.


Dia masih ingat pinjaman 20 miliar di awal! Jika bukan karena Erwin yang memberinya cek senilai 20 miliar, sepertinya posisi CEO-nya mungkin tidak dapat dipertahankan.


"Apakah kamu merasa pusing?" Dokter menoleh dan bertanya.


"Sedikit." Lucas mengangguk.


"Kalau begitu lebih harus dirawat lagi, gimana kalau gegar otak atau gumpalan darah di dalamnya? Kalau tidak diperiksa dengan teliti, gimana kalau ada yang tidak beres?" Saran dokter dengan khawatir.


Ketika mereka mendengar efeknya bisa begitu serius, Mary dan Lina juga dengan cepat membujuk.


“Pa, kamu harus tinggal di rumah sakit, serahkan aja urusan perusahaan padaku!” Lina berkata dengan serius.


"Serahkan padamu? Mana bisa? "Lucas tidak terlalu optimis tentang putrinya, putrinya tidak mengerti tentang bisnis, dan William itu sangat licik, hanya tiga hari tidak di perusahaan mungkin William itu sudah menanam sebuah bom jebakan secara diam-diam, yang suatu hari nanti bisa digunakan untuk menyerang saat pertemuan dewan direksi.


“Kalau aku tak bisa, masih ada Erwin, kan?” Lina berkata sambil menarik Erwin, Lina memang tidak tahu banyak tentang bisnis pusat perbelanjaan, tetapi dengan adanya Erwin, dia menjadi sangat percaya diri, lagipula hanya menggantikannya selama beberapa hari, seharusnya tak akan muncul masalah besar.


Erwin juga bingung, kenapa dirinya bisa terlibat?


"Baiklah kalau gitu, kalian berdua akan gantikan aku selama beberapa hari di perusahaan, lagipula saat aku akan pensiun nanti, perusahaanku juga akan kuwariskan pada kalian juga, anggap saja ini magang." Lucas melihat Lina menarik Erwin, dia menjadi lega, Lina adalah putri tunggalnya, saat pensiun tua nanti, perusahaannya juga akan diwariskan padanya, jadi sekarang ini adalah sebuah kesempatan, anggap saja sebagai latihan!


Dia khawatir tentang Lina, tetapi merasa lega jika ada Erwin.


“Pa, kami janji bakal selesaikan tugas!” Lina berkata dengan setengah bercanda dan setengah serius.


Erwin terima-terima saja, karena TG Entertainment juga tidak ada urusan penting baru-baru ini, hanya sedang menjalankan pasca-produksi fase pertama musim kedua "Wilderness life", dan itu juga bisa ditangani oleh asistennya, Faira.


Dengan begitu, Lucas dirawat di rumah sakit untuk pemulihan dan pemeriksaan lebih lanjut, beberapa dari mereka tinggal di bangsal selama satu malam. Untungnya, ada tempat tidur dan sofa di bangsal VIP, jadi mereka bisa tidur di sana.


Pagi-pagi sekali, Erwin dibangunkan oleh ponselnya yang berdering, Erwin duduk dari sofa. Ketika melihat yang menelepon adalah Boy, dia terkejut dan segera mengangkat telepon,


"Boy, masalah di lokasi konstruksi udah diselesaikan?"

__ADS_1


“Sudah Tuan Erwin, anak itu juga sudah mengaku,” kata Boy sambil tersenyum, seolah dalam suasana hati yang baik!


“Siapa dalangnya?” Erwin bertanya dengan penuh semangat.


"Saya tidak tahu namanya, para perampok itu memanggilnya Bang Ivan, orang ini membayar mereka 200 juta sehari, untuk datang mengganggu di lokasi konstruksi, orang-orang hukum juga sudah disuap sepertinya, sehingga pura-pura tidak lihat terhadap tindakan para perampok ini, itu sebabkan mereka bisa merajalela," kata Boy.


“Bang Ivan? Wajahnya seperti apa, kamu kenal orang ini?” Erwin mengerutkan kening, dia belum pernah mendengar tentang orang ini.


"Aku juga tidak tahu, kulitnya sedikit gelap, tapi memakai topeng setiap kali bertemu, jadi para perampok itu tidak tahu seperti apa wajahnya, seharusnya orang itu bukan dari barat kota, saya sudah tinggal di barat kota selama ini, tapi belum pernah dengar tentang Bang Ivan ini."


Boy juga berkata dengan ragu.


"Oke, kerja bagus, ingat bantu aku awasi lokasi konstruksi, lebih baik kirim beberapa bawahan lagi buat patroli malam hari, kalau masih ada orang yang membuat masalah, tidak perlu sungkan langsung hajar aja," kata Erwin dengan dingin.


“Baik Tuan Erwin, jangan khawatir! Saya sedang menerima orang-orang ini! Saya justru diuntungkan di sini!” kata Boy sambil tertawa.


Erwin terkejut sejenak, dia tidak menyangka bahwa Boy memiliki pikiran yang begitu cerdas, dan menerima empat sampai lima puluh perampok ini jadi bawahannya, sepertinya masalah lokasi konstruksi tidak perlu dikhawatirkan lagi.


Setelah menutup telepon, Lina dan yang lainnya masih tertidur, jadi Erwin tidak mengganggu mereka.


Sebagai gantinya, dia langsung mengirim pesan pada Damon, menyuruhnya untuk menyelidiki seseorang yang dipanggil Bang Ivan ni, meskipun informasi yang didapatkan dari perampok sangat sedikit, tapi dia akan membiarkan Damon mencoba gali informasi sebanyak mungkin!


Lina dan Mary tidur bersama di tempat tidur lantai di bangsal VIP, sangat sempit jadi tidur mereka tidak nyenyak, setelah Erwin dibangunkan oleh dering ponsel, Lina juga terbangun.


Sambil meregangkan leher yang kaku dengan ekspresi mengantuk di wajah, dia berkata dengan nada meminta maaf saat melihat Erwin bangun,


"Erwin, maaf ya, buat kamu jadi menderita."


“Tak perlu dikhawatirkan, aku punya kabar baik dan kabar buruk, mana yang ingin kamu dengar duluan?” Erwin berkata sambil tersenyum.


“Kabar baik dulu deh.” Lina berjalan ke arah meja dan menuangkan segelas air untuk Erwin.


“Kabar baiknya adalah tak akan ada preman yang membuat masalah lagi ke depannya di lokasi konstruksi." Setelah itu, Erwin meminum segelas air itu untuk membasahi tenggorokannya.


"Syukurlah, Ibu pasti senang kalau mendengar ini!” Lina dalam suasana hati yang baik ketika mendengar berita itu, tetapi sorakan dan kegembiraannya membangunkan Mary.


“Kenapa ribut-ribut pagi begini?” Mary menguap dengan ekspresi mengantuk di wajahnya.

__ADS_1


“Ma, Erwin udah bantu selesaikan masalah preman di lokasi konstruksi, jadi tak akan ada preman yang akan mencuri bahan bangunan kita lagi ke depannya.” Lina berkata dengan gembira, menjadi semakin bangga pada Erwin.


"Serius? Jangan bohong sama aku ya." Mary telah sibuk selama sebulan untuk masalah ini, tapi Erwin langsung menyelesaikannya dalam satu malam, yang lain mungkin akan tidak percaya juga.


“Itu benar, Tante, tapi ada kabar buruk juga." Erwin tiba-tiba mengubah nada suaranya.


“Kabar buruk apa?” Mary dan Lina menjadi gugup pada saat yang bersamaan.


"Ada orang bernama Bang Ivan yang menyuruh para perampok ini untuk mencuri bahan bangunannu di lokasi konstruksi," kata Erwin dengan serius.


“Bang Ivan??” Lina dan Mary saling memandang dengan ekspresi kosong di wajah mereka, sepertinya mereka juga tidak mengenal pria bernama Bang Ivan ini.


“Siapa orang ini?! Aku aku kenal sama sekali, kenapa mencelakai proyekku!” Mary tampak marah.


Melihat bahwa Mary sendiri tidak mengenal orang ini, Erwin tentu juga tidak kenal, sepertinya hanya bisa menunggu kabar dari Damon! Tapi mungkin ada sedikit harapan!


Tak lama kemudian, Lucas juga terbangun, tapi dia masih merasa sedikit pusing, entah karena kehilangan banyak darah atau karena gegar otak.


“Erwin, duduklah bersamaku.” Lucas melambaikan tangan pada Erwin setelah duduk dari ranjang rumah sakit.


Erwin mengangguk dan duduk di sampingnya.


"Erwin, maaf karena akan merepotkanmu untuk ke perusahaan kami beberapa hari ke depannya bersama Lina, sebenarnya tak ada urusan penting juga, tapi bantu aku awasi seorang pria bernama William George, agar orang ini tidak merencanakan sesuatu." Kata Lucas.


“Tenang saja Paman, aku akan membantumu menyingkirkan orang yang mengancammu,” kata Erwin sambil tersenyum.


Lucas terkejut sesaat, tapi tersenyum kemudian.


“Selama kamu bahagia!” Lucas tampaknya memercayai Erwin, kemudian berkata, “Nginaplah di rumah kami beberapa hari, akan lebih praktis buat pergi ke perusahaan sama Lina nanti.”


Lucas berpikir sejenak kemudian berkata lagi,


"Malam nanti, kalian tak perlu jenguk aku lagi, di sini tak ada tempat tidur tambahan, jadi Ibu Lina yang temani aku aja sudah cukup."


Erwin dan Lina tercengang pada saat yang sama, Lina berpikir tentang apa yang dikatakan ayahnya, jika Ibunya di sini saja sudah cukup, dan Erwin nginap di rumahnya, bukannya itu berarti hanya ada dia dan Erwin di rumah malam nanti?


Memikirkan adegan memalukan tadi malam, Lina langsung tersipu.

__ADS_1


"Tidak!" Mary tiba-tiba keberatan. "Membiarkan mereka berduaan di rumah, mungkin akan terjadi sesuatu."


"Lakukan saja apa yang kubilang," kata Lucas seolah sengaja mengatur ini!


__ADS_2