
Erwin hanya menggunakan 30% tenaganya, tapi sudah cukup untuk membuat Novendi ini kesakitan!
“Bro, lepaskan, tanganku udah mau patah!” Novendi harus terus meminta.
“Kalau aku liat mukamu lagi, bakal kupukul kau, pergi!” Nada bicara Erwin sangat dingin, dan dia juga melepaskan tangan Novendi.
Telapak tangan Novendi diremas kesakitan sampai wajahnya juga ikut pucat.
“Sialan, tunggu dan liat saja nanti!” Setelah Novendi meninggalkan kata-kata ganas ini, dia pergi dengan marah.
“Erwin memang hebat ya, sampah seperti itu memang harus diberi pelajaran.” Fiona sudah jelas lega saat melihat Novendi pergi dengan menyedihkan.
"Ini masih tak seberapa, tadi di pintu lift lantai satu, Erwin menang satu lawan tiga, menghajar Nicky dan teman-temannya habis-habisan." Lina memeluk lengan Erwin dengan ekspresi bangga di wajahnya.
"Beneran? Lihatlah dirimu yang sebangga itu, tapi Nicky itu tak mudah untuk dihadapi, Erwin, kamu harus lebih berhati-hati, Nicky itu akan cari kesempatan untuk balas dendam." Fiona mengingatkan dengan khawatir.
Erwin mengangguk, dia bahkan tidak menganggap kekuasaan seluruh keluarga Greyson.
Semenjak Erwin mengusir Novendi, tidak ada pria yang berani datang untuk datang menyapa lagi.
Satu jam kemudian, Benjamin, yaitu sekretaris utama pengurus kota masuk dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum di wajahnya, banyak anak muda yang sepertinya mengenal sekretaris utama pengurus kota Bandung ini, dan buru-buru mendekat untuk menyapa Benjamin.
Erwin juga tanpa sadar melirik orang itu beberapa kali, Benjamin terlihat seperti berusia tiga puluhan, tapi dapat dilihat bahwa Benjamin ini punya latar belakang dan kemampuan yang tidak boleh diremehkan, sehingga bisa menduduki posisi sekretaris utama, dan orang ini sepertinya juga lumayan berkarakter.
“Orang itu adalah Benjamin, kayaknya tahun ini pengurus kota punya urusan, jadi akan diwakilkan oleh orang itu.” Fiona sepertinya mengenal Benjamin, dan mendengar dari kata-kata Fiona, sepertinya ini bukan pertama kalinya dia datang untuk berpartisipasi dalam resepsi ini.
Dan kata-kata Fiona ternyata benar, setelah Benjamin tiba, dia mengambil mikrofon dan mengumumkan pengumuman kepada semua orang, yang berisi ucapan terima kasih kepada semua orang yang telah hadir, tetapi sayangnya, pengurus kota sedang ada urusan di daerah baru bagian utara kota, jadi tidak bisa hadir.
Semua orang terlihat setuju dengan Benjamin yang mewakili, yang tampaknya Benjamin ini merupakan orang yang cukup bergengsi atau meyakinkan di antara orang-orang muda ini.
"Baiklah semuanya, sekarang kita akan memulai acara lelangnya, semua hasil lelang akan disumbangkan dalam bentuk dana bantuan kepada yatim piatu."
Begitu kata-kata itu keluar, anak-anak muda yang datang ke resepsi ini semuanya bersiap-siap, seolah-olah mereka semua sudah menantikan momen ini.
Terutama putra-putra dari keluarga kaya yang sudah menantikannya sejak lama, lelang amal semacam ini punya beberapa fungsi, pertama-tama dapat mengumpulkan ketenaran, kedua, dapat memenangkan hati penguasa kota, dan ketiga, dapat dimanfaatkan oleh para anak muda ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan kekayaan dan kekuatan keluarga mereka masing-masing.
Aturan tak tertulis lainnya adalah bahwa semakin banyak uang yang seseorang keluarkan, maka semakin besar juga peluang orang itu untuk terpilih sebagai sepuluh pemuda terbaik, Ini adalah aturan tak tertulis yang sudah lama ada di resepsi generasi muda ini.
"Ada lelang amal juga?” Lina baru pertama kalinya datang ke sini, jadi tidak tahu adanya acara seperti itu.
"Lelang amal diadakan setiap tahun, para kaum muda pasti sangat bergengsi, paling tepat lelang amal ini digunakan sebagai acara untuk bersaing secara tidak langsung! Bukan hanya bisa membantu anak yatim yang membutuhkan bantuan dana, tetapi bisa menang untuk mengumpulkan ketenaran, dan kesan baik dari pengurus kota, selain itu, semakin banyak uang yang dihabiskan seseorang, maka orang itu juga punya peluang yang semakin besar untuk terpilih menjadi sepuluh anak muda terbaik tahun ini."
Fiona menjelaskan sambil tersenyum, dia tidak menentang lelang amal semacam ini, sebaliknya sangat mendukungnya, karena bisa membantu anak yatim yang memerlukan bantuan.
__ADS_1
"Ide pengurus kota ini lumayan bagus.” Erwin juga mengangguk, ingin memuaskan kaum muda, metode ini adalah cara yang sangat efektif, tidak hanya memenuhi hasrat gengsi dalam persaingan mereka, tapi juga mengembangkan bisnis penyelamatan anak yatim di kota, sekaligus menggunakan gelar 'Sepuluh anak muda terbaik' yang bergengsi untuk menambah semangat menang, yang membuat persaingan anak muda semakin sengit.
Pengurus kota ini memang ahli dalam menggerakkan hati orang-orang, sepertinya bisa menduduki posisi pengurus kota bukan orang yang sembarang.
“Fiona, kalau mau dapat plat nomor lelangnya di mana?” Erwin mulai sedikit tertarik dengan acara ini, karena berpikir mungkin akan melihat hal atau barang yang menarik, jadi dia segera bertanya pada Fiona.
“Daftar di pintu masuk aja, tapi sekarang ramai banget, kita nanti aja baru ke sana.” Fiona melirik ke arah pintu masuk tanpa sadar, dan memang sangat ramai yang sedang antri untuk dapat plat nomor lelang saat ini.
Erwin mengangguk, memang terlalu ramai sekarang, jadi tunggu sebentar dulu.
Setengah jam kemudian, orang-orang yang antri buat daftar secara signifikan sudah lebih sedikit daripada yang sebelumnya, barulah Erwin dan yang lainnya berjalan ke sana, tapi mereka justru bertemu dengan Nicky dan teman-temannya.
“Bukannya ini anak miskin yang tadi? Mau ambil plat nomor lelang juga? Memangnya kau punya uang?” Nicky tentu ingat dendam tadi, jadi jelas tidak akan ramah pada Erwin.
"Pakai baju yang compang-camping begini masih berani ikut lelang? Kenapa tak mulung aja sana?!"
"Orang rendahan sepertimu cuman buang slot lelang aja, cepat balik sana!"
Beberapa teman di belakang Nicky terlihat akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mencari kembali panggung mereka, dan mulai mengejek Erwin.
"Punya uang atau nggak itu bukan urusan kalian, cepat pergi!" kata Fiona.
“Kami lagi ngobrol di sini, jangan ikut campur!” Seorang wanita cantik di samping Nicky juga maju dan berhenti di depan Fiona, yang temperamennya hampir sama dengan Fiona.
“Masih mau dipukul ya?” Erwin mengepalkan tinjunya dan melambaikannya di depan mereka, dengan tatapan yang sangat dingin, Erwin tidak sedang mengintimidasi, jika Nicky berani bertindak provokatif, Erwin tidak keberatan menghajar mereka lagi.
Setelah meninggalkan kata-kata kejam ini, Nicky membawa orang-orangnya pergi.
Erwin justru tidak peduli mau bagaimana mereka berurusan dengannya. Hotel neon ini adalah milik keluarganya sendiri, dan ada banyak penjaga keamanan di sini, jika Nicky berani secara terang-terangan memanggil sekelompok orang untuk berurusan dengannya, Erwin tidak keberatan memberinya pelajaran lagi.
Tak lama kemudian Erwin sudah mendaftarkan plat nomor lelang, Fiona dan Lina juga masing-masing mendaftar satu, mereka bilang mau beli sesuatu juga, dan memasang ekspresi segera ingin mencobanya.
Erwin tidak bisa menahan senyum untuk beberapa saat setelah melihat ini, sepertinya mereka juga ingin ikut bersaing.
Anak-anak muda yang datang ke resepsi ini, pada dasarnya mendaftar plat nomor lelang semua, karena sudah datang jauh-jauh, tentu setidaknya harus ikut acara ini.
“Yuk kita duduk di sana!” Setelah menerima plat nomor lelang, Fiona meraih tangan Lina dan berjalan ke sudut dekat dinding. Lina juga suka tempat yang sedikit sepi, jadi dia meraih lengan Erwin dan pergi ke sana bersama.
Setelah mereka duduk, lelang amal ini sepertinya akan segera dimulai.
Sekretaris utama, yaitu Benjamin secara pribadi menjadi pembawa acara lelang amal ini.
"Baiklah para hadirin sekalian, dalam lelang amal ini, barang pertama yang dilelang adalah kalung mutiara yang terbuat dari mutiara air mata giok, yang disumbangkan oleh keluarga Cooper di kota ini, harganya mulai dari 20 juta rupiah, setiap kenaikan harga tidak boleh kurang dari 20 juta, lelang akan dimulai sekarang!"
__ADS_1
Begitu kata-kata Benjamin keluar, beberapa plat nomor terangkat, sampai Benjamin tidak sempat melayani, dapat dilihat bahwa kalung mutiara air mata giok ini sangat populer.
"40 juta."
"100 juta."
"200 juta."
…
Harga lelang melambung tinggi, hanya dalam lima menit, langsung naik menjadi 600 juta, dan sebagian besar penawar adalah wanita, dapat dilihat bahwa barang ini lebih menarik bagi para wanita.
"800 juta." Fiona tiba-tiba mengangkat plat nomornya secara tidak terduga, dia sepertinya sangat menyukai kalung mutiara ini, jika tidak, dia tidak mungkin menaikkan plat nomornya untuk menawar.
"1 miliar." Wanita yang duduk di samping Nicky melihat bahwa Fiona yang membuat penawaran, langsung mengangkat plat nomor untuk menaikkan harga tanpa ragu. Wanita ini adalah orang yang berhadapan dengan Fiona barusan, bernama Margareth dan berasal dari keluarga kaya juga.
Begitu Fiona sadar akan wanita itu, perasaan bersaing muncul di hatinya, dan langsung mengangkat plat lagi.
"1,2 miliar." Harga ini sedikit terlalu tinggi untuk kalung mutiara, jadi banyak orang yang tidak mau lagi menawar.
“1,4 miliar.” Namun, Margareth tidak ragu untuk menaikkan harga lagi, dan menatap kemari dengan tatapan yang sedikit provokasi.
“Sialan, wanita itu jelas mau melawanku!” Fiona menggertakkan giginya, dia tidak ingin kalah dari wanita itu, jadi sekali lagi menaikkan harga.
"1,5 miliar."
“2 miliar.” Margareth tampaknya sangat percaya diri, dan langsung menaikkan harga menjadi 2 miliar, dia ingin menekan momentum dan kepedean Fiona.
Nicky yang ada di sebelahnya tanpa sadar mengangkat sudut mulutnya sedikit saat melihat ini.
"Margareth, kerja bagus!"
"Sial." Fiona sedikit kesal, meskipun dia sangat menyukai kalung mutiara air mata giok itu, tetapi dia tidak mampu bayar kalau menaikkan harga lagi! Dana yang dia siapkan adalah 2 miliar, di luar dari angka ini, dia tidak sanggup, jadi dia hanya bisa menyerah dengan enggan!
“2 miliar satu kali!” Benjamin mulai menghitung saat melihat tidak ada yang menawar lagi!
Tidak seorang pun dari orang-orang di bawah ini yang mengajukan penawaran, ini adalah barang pertama, tentu peserta tidak terburu-buru untuk memperjuangkan barangnya!
"2 miliar dua kali!"
Masih belum ada yang menaikkan harga, ini membuat bibir Margareth tersenyum, ekspresi bangga muncul di wajahnya, seolah-olah dia sudah menang dari Fiona.
Namun, sebuah suara menghancurkan mimpi indahnya.
__ADS_1
“4 miliar.” Erwin mengangkat plat nomor dan langsung menggandakan harganya.
Para hadirin mulai sedikit heboh, dan hampir semua orang melihat ke arah Erwin.