Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 206 Menghancurkanmu


__ADS_3

Steve tidak menyangka Erwin akan tiba-tiba datang saat ini, dan juga menyandera Drake, yang menjadi pilihan sulit baginya


“Ayah, waktu kita tidak banyak lagi, kalau masih tidak menyingkirkan Damon, misi ini akan gagal total!”  Kata Earson sambil menggertakkan gigi.


"Tetapi Tuan Muda Drake itu ada di tangannya, tanpa dukungan Tuan Muda Drake, Aliansi Bisnis Bandung kita tak unggul sama sekali! "Steve ragu, karena tanpa dukungan itu, pengembangan karir Keluarga Ragnarson kemungkinan besar akan sulit untuk tersebar ke luar Kota Bandung.


"Ayah, kita bisa berurusan dengan Erwin dengan alasan menyelamatkan Tuan Muda Drake, dengan begitu, walaupun Tuan Muda Drake mati sekalipun, itu bukan tanggung jawab kita, Keluarga Baxter juga hanya akan menyalahkan Erwin dan High Build Group," kata Earson dengan kejam, karena jika melewatkan kesempatan untuk membunuh Damon hari ini, maka kedepannya tidak akan punya kesempatan lagi.


“Tetapi tanpa Tuan Muda Drake, bukannya Aliansi Bisnis Bandung kita tak dapat dukungan dari Keluarga Baxter?” Steve masih sedikit ragu, karena Drake terlalu penting bagi Aliansi Bisnis Bandung.


"Ayah, jangan ragu lagi! Tanpa Drake, kita masih bisa cari Xavier, putra kedua dari keluarga Baxter! Aku yakin dia akan dengan senang hati mewakili Keluarga Baxter di Kota Bandung, hal yang terpenting saat ini adalah menyingkirkan Damon, dengan begitu High Build Group dan Aliansi Bisnis Dagang Erlin akan kehilangan pemimpin, sehingga kita punya kesempatan yang lebih besar untuk membalikkan keadaan."


Earson sangat cerdas, dia langsung memahami inti masalahnya, dan mengambil keputusan yang sangat berani.


“Baiklah, lakukan saja seperti yang kau katakan. Perhatian semuanya, bunuh semua orang-orang itu, aku yang akan bertanggung jawab atas semua konsekuensinya!” Setelah mendengar bujukan Earson, Steve juga langsung menjadi kejam dan memutuskan untuk bertaruh.


Pada saat yang sama, Erwin masih berdiri di atap mobil sambil menggendong Drake, dan siap mengancam keluarga Ragnarson dengan nyawa Drake, awalnya Erwin pikir mereka tidak akan berani.


Namun yang mengejutkannya adalah, Steve dan Earson tampaknya tidak peduli dengan nyawa Drake, dan mereka langsung bergegas menuju kerumunan.


"Teman-teman sekalian, CEO sudah menurunkan perintah, jangan biarkan satupun dari mereka hidup, bunuh semuanya!" Teriak seorang kapten personel keamanan sambil mengayunkan tongkat besi dan maju lebih dulu.


Para bawahan yang di belakang langsung menyusul dan mengikuti.


Melihat adegan ini, Erwin sedikit terkejut, Keluarga Ragnarson sungguh kejam sekali!


"Mundur ke rumah terdekat untuk pertahanan." Erwin tidak punya pilihan selain bertarung, jadi berbalik dan menemukan sebuah rumah pembongkaran yang jaraknya kurang dari sepuluh meter, dengan tinggi dua lantai, dan bisa dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan yang kuat.


Saat berbicara, Erwin melompat turun dari mobil sambil menggendong Drake dan pergi menuju rumah tersebut bersama Damon dan yang lainnya.


"Lindungi Tuan Muda," teriak Damon. Dia boleh mati, tapi Erwin tidak boleh, karena Erwin adalah satu-satunya pewaris keluarga Smith, jika sesuatu terjadi pada Erwin, Damon pasti tidak akan dibiarkan hidup oleh keluarga Smith, bahkan keluarganya mungkin juga akan dikubur bersamanya.


Sharon adalah yang pertama bergegas melindungi Erwin, dan mengambil peran untuk membuka jalan, pada saat yang sama, Leona dan Lisa juga melindungi bagian belakang, ditambah Akmal dan Damon yang melindungi Erwin dari kiri dan kanan.


Sekelompok beranggota enam orang bertarung sambil mundur, walaupun diserang secara terus-menerus, tapi mereka tetap dijatuhkan satu per satu oleh Sharon dan yang lainnya.

__ADS_1


Melihat kekuatan Sharon yang membuka jalan secara paksa menuju rumah hasil pembongkaran terdekat, Erwin diam-diam bersyukur karena Lisa membawa pulang dua master lainnya, kalau tidak Erwin tidak tahu sudah mati berapa kali hari ini!


Setelah masuk rumah, Damon dan Akmal sudah kelelahan dengan tubuh berlumuran darah dan wajah pucat, mereka hanya bisa duduk di lantai sambil terengah-engah. Damon dan Akmal sama-sama menderita luka serius dan membutuhkan perawatan segera.


Sedangkan Sharon, Leona, dan Lisa masih bertahan di pintu bobrok, tidak peduli berapa banyak lawan yang menyerang, mereka dapat menahan semuanya dengan mudah.


Seiring berjalannya waktu, Steve dan Earson hang berdiri tidak jauh tampak cemas untuk sementara waktu.


“Tiga orang yang dibawa Erwin ini kuat sekali, menghadapi pengepungan orang sebanyak itu masih bisa ditahan sampai sekarang.” Steve diam-diam terkejut, terutama pria berkulit gelap itu, tidak ada yang bisa bertahan satu gerakan darinya.


“Tiga orang ini seharusnya master beladiri, tidak heran Erwin bisa kabur dari Lucius dan menangkap Drake, sungguh tidak mudah!” Earson sangat tidak sabar, merasa iri sekaligus benci, kenapa hal baik selalu terjadi pada sisi Erwin?


Tetapi tidak ada cara lain saat ini, satu-satunya adalah menggunakan taktik menang jumlah untuk menghabiskan stamina lawan.


Namun, saat ini di ujung lain Jalan Canaby, sekumpulan mobil van berhenti, Liam akhirnya tiba bersama lebih dari seratus orang.


Begitu keluar dari mobil, Liam melambaikan tongkat besi dan menyerbu ke arah kerumunan.


"Gawat, Liam sudah tiba!" Steve melihat Liam yang sudah mulai menyerang pengepungan mereka dengan lebih dari 100 orang.


Steve sudah tidak sabaran sekarang, jadi hanya bisa terus memberi perintah agar orang-orang di garis depan mempercepat serangan.


Tapi pertahanan Sharon, Lisa, dan Leona, tidak mudah ditembus!


“Tuan Damon, Liam sudah tiba, dan Kelvin sekitar sepuluh menit lagi akan nyusul.” Akmal menerima kabar dari grup dan langsung melapor kepada Damon.


"Bagus, kalau aku bisa keluar hidup-hidup, siap-siaplah Keluarga Ragnarson kubantai semua." Damon menghela nafas lega, penampilannya sudah lama tidak terlihat menyedihkan seperti ini, kalau bukan tuan muda yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya, dia seperti sudah jadi mayat sekarang.


Erwin meninggalkan Drake yang sedang pingsan dan bergabung ke dalam medan perang dengan tongkat besi untuk mengulur lebih banyak waktu sampai kedatangan bala bantuan.


Seiring berjalannya waktu, Kelvin dan anak buah yang berjumlah 200 orang datang mengapit dari sisi lain Jalan Canaby.


Bersama dengan Liam, mereka menggelilingi orang-orang Keluarga Ragnarson, dan situasinya sangat tidak menguntungkan bagi keluarga Ragnarson dalam sekejap.


"Gawat, Kelvin juga sudah tiba." Ekspresi Steve berubah drastis, dan merinding saat melihat kerumunan yang keluar dari mobil van.

__ADS_1


Melihat personel keamanan mereka dikalahkan satu per satu, dia secara bertahap kehilangan harapan untuk membunuh Damon, belum lagi dengan perlindungan ketiga master bela diri itu, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh Erwin. .


"Padahal sudah hampir berhasil." Earson mengepalkan tinjunya dengan ekspresi enggan, tapi pikirannya masih tenang.


"Ayah, kita harus mundur, kalau tidak pasukan Damon akan terus berdatangan, dan kita sendiri yang akan dikepung kalau terus berlanjut."


Hanya setelah pengingat ini, Steve baru bereaksi.


"Ayo kita mundur secepatnya, dan cari cara lain setelah pulang." Steve juga tahu harus mundur saat ini, karena takut akan dikepung balik oleh orang-orang yang akan datang nanti.


Setelah mengatakan ini, Steve dan Earson masuk ke dalam mobil mewah, kemudian menyerahkan medan perang kepada orang yang bertanggung jawab atas para personel keamanan untuk mundur.


Tak lama kemudian, setelah perintah dikeluarkan, para personel keamanan mundur total!


Melihat musuh yang sudah mundur, Erwin merasa lega, tubuhnya berlumuran darah, tapi darah milik orang lain, sedangkan Sharon, Lisa, dan Leona, tidak peduli seberapa tinggi keterampilan seni bela diri mereka, mereka tetap kelelahan saat ini, untungnya, musuh sudah mundur.


“Akhirnya mundur juga, kalau tidak kita semua pasti akan mati kelelahan di sini.” Erwin menghela nafas lega, berbalik dan berjalan menuju Damon.


“Damon, kau baik-baik saja? Bisa berdiri?” Melihat kaki kiri Damon yang gemetar, Erwin tanpa sadar bertanya dengan khawatir.


“Gapapa, cuman tukang kakiku mungkin retak.” Damon mencoba berdiri, tapi merasa sulit dan sangat menyakitkan.


"Kau istirahat saja beberapa hari ini, cukup serahkan sisanya padaku!” Mata Erwin memancarkan hawa dingin, dan sudah bertekad untuk menghancurkan Keluarga Ragnarson.


"Terima kasih tuan muda, kalau butuh bantuan jangan lupa memberitahuku, aku selalu siap siaga." Damon sangat tersentuh, dengan adanya tuan muda yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya, Damon otomatis akan membalas dengan hal yang sama.


"Aku tak mau kau mati, kau harus hidup dengan sehat, agar aku bisa membawamu mendominasi dunia! Kota Bandung kecil ini masih tidak cukup buat kita."


Erwin tersenyum, Damon ini sangat bagus dalam segi kemampuan ataupun kesetiaan, dengan adanya asisten pribadi seperti itu yang membantunya, Erwin percaya Perusahaan Investasi Erlin-nya akan segera berkembang pesat.


"Baik tuan muda." Damon tidak menyangka ambisi dan keberanian Erwin akan sebesar itu, jadi hatinya secara alami ikut merasa bersemangat dan antusias.


Setelah itu Liam dan Kelvin langsung masuk dengan para bawahannya.


Erwin menyerahkan Damon dan Drake kepada mereka, sedangkan dia sendiri membawa Sharon, Lisa dan Leona ke Villa Fancy Garden di barat kota, di mana dia masih menyimpan kartu pamungkas yang sudah saatnya dikeluarkan.

__ADS_1


__ADS_2