
Kedua anak orang kaya ini mau mencari kembali rasa keberadaan di depan Erwin, tapi sepertinya salah orang! Erwin itu bukanlah orang yang boleh sembarang diprovokasi!
Beberapa orang sudah menunggu lama, akan tetapi Erwin tak kunjung kembali, sehingga mereka mulai mengejek lagi,
"Anak miskin itu kok belum balik juga ya? Jangan-jangan udah kabur ya?"
“Bisa jadi, Lina, pacar miskinmu itu gak bisa diandalkan sama sekali, mau kubantu perkenalkan anak orang kaya?" Tina melirik Lina, dan berkata dengan nada membanding-bandingkan.
“Gak perlu, cukup pikirin dirimu sendiri aja!” Lina sedikit marah, tapi pada saat yang sama dia khawatir tentang Erwin, karena sudah begitu lama, apa jangan-jangan terjadi sesuatu?
Begitu Lina mau menelepon Erwin, Erwin tiba-tiba kembali.
"Maaf, udah buat kalian nunggu lama," kata Erwin sambil tersenyum.
“Baguslah kalau udah balik, kupikir kamu kabur karena gak punya uang," kata Helena dengan ekspresi hina.
“Yuk, kita ke Factory Outlet!” desak Michael.
Factory Outlet adalah bangunan komersial mewah yang terkenal di Jalan Mandro, di sana menjual berbagai macam barang, dan yang terpenting adalah barang merek terkenal, yang tentu harganya sangat mahal. Kebanyakan orang yang masuk hanya sebatas lihat-lihat dan jalan-jalan saja.
Sebagian besar orang yang bisa beli barang di sana tanpa ragu, hanya anak orang kaya atau pengusaha kaya paruh baya yang menemani kekasihnya berbelanja.
Ketika Erwin dan yang lainnya masuk, terlihat semua orang yang berbelanja di sini berpakaian rapi dan mewah, tidak ada orang yang berpakaian murahan yang biasa-biasa saja seperti Erwin, bahkan para pelayan toko sekalipun berdandan dengan rapi.
"Bahkan pelayan di sini aja berpakaian lebih bagus dari anak desa.” Michael tak bisa menahan diri dan membanding-bandingkan Erwin lagi.
Erwin mengerucutkan bibirnya, karena tak memedulikan kata-kata itu, dan berpikir untuk merebut beberapa saham beserta aset dari mereka.
“Lihat, itu toko LV.” Helena melihat toko barang bermerek LV yang mewah dari jauh, dia langsung bergegas ke sana dengan penuh semangat.
Tina juga ikut ke sana, semua yang mereka berdua pakai itu barang merek terkenal, biasanya orang tua atau pacar mereka yang bayar, jadi tentu mereka tak peduli tentang masalah uang, hanya suka atau tidak.
Michael dan Edric, kedua anak orang kaya ini tampaknya sudah dapat kesempatan untuk pamer di depan Erwin, dan dengan cepat berjalan mendekat.
“Yuk kita ke sana juga!” Michael mendesak Erwin dengan tatapan menghina.
Erwin mengangguk, seberapa kuatnya kemauan kedua anak orang kaya ini mau pamer di depannya? Sepertinya mereka masih dendam dengan Erwin yang merebut kontrak kemarin! Sehingga buru-buru mau buktikan diri di depan pacar, dan jauh lebih berguna daripada Erwin, yang hanya anak miskin dari pedesaan.
Namun, Lina sedikit khawatir.
“Erwin, atau kita ke toko lain aja.” Lina takut Erwin menghabiskan uang yang tak diperlukan, lagipula dia biasanya juga tak membeli barang-barang mewah seperti LV, palingan hanya pakai barang seken dari ibunya.
Lina menang anak orang kaya, tapi tetap sangat hemat.
“Gak papa, biarkan mereka pamer dulu, nanti akan ku beri mereka sedikit pelajaran!” Erwin tersenyum di sudut mulutnya, lalu ikut ke sana.
"Baiklah kalau gitu." Lina tidak punya pilihan selain setuju.
__ADS_1
Setelah mereka tiba di toko LV, Tina dan Helena terlihat sangat akrab dengan tempat ini, melihat-lihat di sana-sini dengan sangat semangat.
“Helena, ambil aja apapun yang kamu mau, biar aku yang bayar.” Michael melirik Erwin yang memakai pakaian murah dengan sedikit sarkasme.
"Anu, Tina, ambil juga apa yang kamu mau, aku yang bayar." Edric juga tak bisa menahan untuk pamer.
Hanya Erwin yang berdiri diam.
“Hehe, kenapa tak suruh pacarmu ambil satu? Gak mampu bayar ya?" Michael sekarang sangat puas, dan akhirnya menemukan rasa keberadaan di depan Erwin.
“Aku tak suka tas.” Kata Lina dengan tidak senang.
"Tak suka tas ya, kalau gitu kita ke toko sebelah aja, LV punya banyak produk perhiasan dan pakaian, pasti ada satu yang kamu suka." Kata Michael sambil tersenyum dingin.
Lina sedikit menyesal sudah datang ke sini. Awalnya dia ingin memanfaatkan kedua sepupunya yang mengajaknya berbelanja untuk menjalin hubungan baik, tapi tak terpikir alasan mereka mengajaknya keluar hanya untuk mengejek Erwin.
Ini membuatnya sangat tidak senang!
“Michael, aku mau yang ini.” Helena mengambil sebuah tas LV merah dan datang ke hadapan Michael dengan penuh semangat.
“Oke, selama kamu suka!” Michael tidak tanya berapa harganya, dan langsung menyerahkan kartu pada pelayan perempuan, yang membuatnya terlihat murah hati.
Tak lama kemudian, Tina juga memilih sebuah tas cokelat dan datang ke hadapan Edric, Edric juga tak menanyakan harga dan langsung bayar dengan kartu.
Kedua anak orang kaya ini terus bergaya dan pamer di depan Erwin, mencoba membuktikan bahwa mereka lebih berguna daripada Erwin.
“Sepupu kedua tak ikut beli? Takut pacar tak mampu bayar ya?” Tina tak bisa menahan diri dan mengejek saat melihat Lina tidak ikut pilih.
“Gak perlu lihat lagi, pacarnya itu miskin, malah aneh kalau mampu beli!” cemooh Helena, belanja bersama hari ini adalah idenya, dan tujuannya hanya untuk memberi sepupu keduanya ini sedikit pelajaran, sekaligus mengejek pacarnya yang miskin.
Jika bukan karena Erwin, kontrak ibunya tak mungkin berhasil ditandatangani oleh bibi keduanya kemarin, jadi kali ini dia harus membalas demi Ibunya.
“Udah puas ejek belum? Erwin, yuk kita pergi.” Lina tak tahan lagi, kedua sepupunya ini terlalu keterlaluan.
“Jangan dulu, kita temani permainan mereka ini sebentar lagi.” Erwin berkata santai, karena akhirnya dapat target anak orang kaya yang sebodoh ini, tentu Erwin mau meraup sedikit aset atau saham mereka, jadi tak mungkin Erwin akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Lina menahan nafas saat mendengar Erwin mengatakan ini.
"Gitu dong, ini baru permulaan aja udah mau pulang duluan, mengecewakan sekali, yuk kita ke toko Chanel." Kata Helena sambil menyeringai, dia akan membalas kembali penghinaan yang diderita Ibunya berlipat-lipat ganda hari ini
“Yuk yuk yuk, kita ke toko merek Chanel, aku udah lama mau beli parfum edisi terbatas yang baru itu.” Membahas tentang Chanel, mata Tina tiba-tiba berbinar, sebelum yang lain bergerak, dia sudah membawa Edric ke toko Chanel duluan.
Yang lain juga mengikuti, dan tak lama kemudian mereka pun tiba di depan toko Chanel. Lumayan banyak orang yang berkunjung ke sini, tapi kebanyakan adalah wanita, yang semuanya bisa dibilang cantik-cantik, dan ditemani ATM berjalan yang kalau bukan anak orang kaya pasti pengusaha kaya.
Namun kali ini, para wanita cantik pengunjung ini malah menyaksikan sesuatu dengan penuh semangat di sekeliling lemari kaca, di dalam lemari kaca tersebut terdapat sebuah parfum Chanel edisi terbatas terbaru, yang bernama Bright Lover.
"Woah, parfum Chanel baru edisi terbatas, Bright Lover, aku mau yang ini, Edric, cepat beli." Tina memang dari awal sudah mau parfum Bright Lover edisi terbatas ini.
__ADS_1
“Beli, beli, beli.” Edric langsung menyerahkan kartunya kepada wanita pemandu belanja, tapi justru ditolak dengan jawaban,
"Maaf Tuan, Bright Lover ini adalah parfum baru edisi terbatas, dan hanya pemilik kartu keanggotaan tujuh bintang ke atas di Jalan Mandro yang boleh beli."
Harus tujuh bintang ke atas baru bisa?” Edric merasa tidak berdaya, karena dia juga memahami aturan di sini. Beberapa produk baru atau produk langka edisi terbatas memang mengharuskan syarat anggota tinggi untuk beli.
“Michael, kamu juga punya kartu anggota di sini, kan? Bintang keberapa ya?” kata Helena saat tiba-tiba teringat sesuatu.
“Punyaku bintang empat, pengeluaran tahunanku belum cukup.” Michael juga sedikit tidak berdaya, tidak heran para wanita pengunjung hanya mengelilingi tapi tak membeli parfum Bright Lover ini, ternyata tingkat keanggotaan tidak cukup!
“Aduh, sayang kali.” Tina sedikit putus asa.
Melihat mereka tak bisa beli, Erwin tahu kesempatan akhirnya tiba, jadi dia melangkah maju dan berkata dengan ringan,
"Aku bisa beli."
"Kau bisa beli? Jangan buat aku tertawa, kau itu uang buat beli aja gak punya, apalagi kartu anggota, coba bilang gimana cara kau beli parfum itu? "Michael mengejek tanpa henti.
"Apa anak miskin ini tak dengar persyaratan yang dibilang sama wanita pemandu belanja itu ya? Setidaknya harus punya kartu anggota bintang tujuh ke atas, kayaknya dia bahkan tak tahu apa itu kartu anggota." Helena juga ikut ejek.
“Hehe, kalau tak punya uang itu tolong jangan maksa buat pamer ya." Edric juga ikutan.
“Gimana kalau aku bisa beli?” Erwin tidak peduli dengan apa yang mereka katakan.
“Kalau kau bisa beli, aku bakal bersujud sambil memanggil kau ayah,” kata Edric karena tidak mau kalah, dalam logikanya, seorang anak miskin dari pedesaan tak mungkin bisa punya kartu keanggotaan bintang tujuh ke atas.
"Kurang seru kalau cuma bersujud sambil manggil Ayah, kudengar kau punya klub hiburan di barat kota, gimana kalau kau kasih aku klub hiburan itu tanpa syarat kalau aku bisa beli?" Erwin mengatakan tujuannya yang sebenarnya.
“Hehe, gimana kalau gak bisa?” Edric berkata dengan tak puas kalau dirinya tak lebih baik dari Erwin.
“Kalau gitu aku bakal sujud sambil manggil kau 'ayah', gimana?” Erwin menjawab sambil tersenyum.
"Oke, aku taruhan sama kau! Kutunggu sujud dan panggilan darimu," kata Edric dengan bangga, karena dia berpikir Erwin tak mungkin bisa beli Bright Lover ini dan hanya mau bergaya saja.
“Aku takkan kabur!” Setelah Erwin menjawab sambil tersenyum, dia menoleh dan bertanya pada Michael. "Mau ikut taruhan juga? Kalau aku tak bisa beli, aku juga bakal sujud padamu."
"Oke, siapa takut?!" Tadi Michael sempat khawatir tak punya kesempatan buat mempermalukan Erwin, tapi Erwin ini justru gali kubur sendiri, jadi dia berencana untuk merekam video saat Erwin bersujud sambil panggil dia 'ayah' nanti, lalu mengunggah rekaman itu ke sosial media, agar Erwin tak punya muka sama sekali.
“Kalau aku bisa beli, resortmu di selatan kota harus kasih aku tanpa syarat” Erwin harus menjelaskan ketentuan taruhannya terlebih dahulu, kalau tidak, takutnya mereka akan tak menepati Kata-kata mereka.
“Tak masalah, kalau kau bisa beli Bright Lover ini, soal apa yang kau mau itu cuma hal sepele.” Alasan Michael bisa begitu murah hati itu karena dia tak percaya Erwin, seorang anak miskin dari pedesaan, bisa membeli Bright Lover edisi terbatas ini.
Ketika Helena mendengar ini, dia tidak bisa menahan diri dan melangkah maju untuk berkata,
“Sepupu kedua, kalau pacarmu gak tepati kata-katanya dan kabur, kami bakal cari perhitungan sama kamu.” Niat jahat Helena terlihat jelas, karena dia sangat ingin membalas untuk Ibunya.
Lina mengerutkan kening, dan merasa Helena ini benar-benar menjengkelkan sekali, tapi hatinya tetap khawatir dengan Erwin.
__ADS_1
Erwin menepuk punggung tangan Lina dan menyuruh Lina untuk tidak khawatir. Setelah itu, Erwin langsung berjalan ke arah wanita pemandu belanja, begitu tiba dia langsung mengeluarkan kartu VIP bintang sembilan milik Damon, dan itu membuat tempat kejadian menjadi hening seketika.