Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 258 Mulai Bertindak


__ADS_3

Setelah membawa Lina dan Divia keluar, Erwin langsung memberi teguran.


"Ke depannya cari aku saja kalau butuh sesuatu, jangan cari orang mencurigakan seperti pria tadi, sudah terlambat untuk menyesal kalau sesuatu yang buruk telah terjadi."


"Iya, kalau tahu kamu punya tiket konser Jocelyn, mana mungkin kami cari pria brengsek itu. Tetapi Erwin, kenapa kamu bisa punya tiket sebanyak itu? Bahkan VIP khusus barisan terdepan?" tanya Divia sembari memegang tiket dengan suasana hati yang senang.


"Aku punya caraku sendiri." Erwin menanggapi dengan enteng.


“Erwin, kebetulan kita sudah keluar rumah, ayo makan, belanja, dan nonton film bareng!” kata Lina sambil memeluk lengan Erwin.


"Oke, kalau begitu akan kutemani kalian hari ini." Erwin mengangguk dan menerima ajakan tersebut.


Dalam beberapa hari berikutnya, Erwin terus menjalani latihan di bawah bimbingan Pak Tua Conor, Erwin mulai berlatih One Inch Punch dan kemampuan menembak benda kecil dengan jari.


Pada saat yang sama, dia juga menyuruh Darius untuk cari lebih banyak tiket untuk konser Jocelyn, karena lebih banyak orangnya yang masuk dapat meningkatkan peluang keberhasilan.


"Untuk One Inch Punch ini, kau tidak perlu mengerahkan semua kekuatanmu saat melakukan pukulan, tetapi hanya perlu mengeluarkan sepertiga saja, begitu lawan sudah berjarak satu inci dengan pukulanmu, maka di saat itulah kau fokuskan kekuatan pergelangan tanganmu secara tiba-tiba untuk menghasilkan hantaman tinju yang kuat, dengan begitu kekuatan seranganmu akan menimbulkan kerusakan yang beberapa kali lipat lebih besar."


Sambil menjelaskan, Pak Tua Conor mempraktekkannya ke arah sebuah pohon besar di depan vila.


"Ayo, cobalah." Pak Tua Conor menyerahkan posisinya kepada Erwin, dan Erwin langsung menghadap ke pohon besar untuk mulai mencoba.


"Sepertiga kekuatan, begitu jarak sudah satu inci, langsung kerahkan kekuatan melalui pergelangan tangan." Erwin diam-diam mengingat semua itu, dan segera mencoba sesuai dengan instruksi Pak Tua Conor.


Saat pertama kali mencoba, Erwin masih tidak bisa mengendalikan kekuatannya, jadi pukulan langsung mendarat di pohon besar itu, untungnya pohon besar itu sangat kokoh, sehingga tidak mendapat kerusakan besar sama sekali.


Ketika mencoba untuk kedua kalinya, dia akhirnya bisa mengendalikan sepertiga kekuatan yang keluar, tetapi tidak dengan pengeluaran kekuatan pergelangan tangan, sehingga serangan mendarat lagi ke pohon besar tersebut, dan hasilnya masih gagal.


Ketika mencoba untuk ketiga kalinya, dia sudah memiliki sedikit pemahaman tentang pentingnya pengeluaran kekuatan pergelangan tangan, tetapi hasilnya masih gagal.


Keempat kalinya juga gagal.


Kelima dan keenam kalinya, dia masih belum menguasai dengan baik, tetapi kontrol kekuatan sudah dapat diterapkan dengan benar, yang membuat Erwin sedikit senang.

__ADS_1


Ketujuh, kedelapan, kesembilan kalinya, dan masih terus berlanjut.


...


Sepanjang hari, demi melatih One Inch Punch ini dengan baik, Erwin telah menumbangkan pohon besar, dan terus lanjut berlatih dengan pohon besar lainnya.


Pak Tua Conor sangat puas melihat kegigihan Erwin.


"Bagus, aku akan mengandalkanmu untuk mewarisi teknik bela diriku mulai sekarang." Pak Tua Conor duduk di atas batu besar sambil minum-minum.


Erwin masih berlatih keras saat matahari terbenam, Pak Tua Conor juga sudah hampir cukul minum-minumnya, dan ketika hendak pulang, suara dingin terdengar dari belakangnya.


"Pak Tua Conor, aku juga mau belajar One Inch Punch, bisa tolong ajari aku?"


Setelah mendengar suara itu, Pak Tua Conor memalingkan wajahnya untuk melihat seorang wanita muda dengan celana kulit hitam,yang berdiri di tempat dengan dingin sambil menghadap angin sore, dan memancarkan aura kepahlawanan.


"Kaila, bukan?" tanya Pak Tua Conor setelah mengingat kembali.


Dia telah melihat Pak Tua Conor dan Erwin berlatih sebelumnya, baginya Erwin sudah sangat hebat, tetapi Pak Tua Conor ini sering mengalahkan Erwin dengan satu gerakan, yang membuktikan bahwa Pak Tua Conor ini bahkan lebih kuat.


Jika ingin membalas dendam kehancuran keluarganya, maka dia harus menjadi lebih kuat, dan ini mungkin adalah kesempatan terbaik dengan mengakui Pak Tua Conor ini sebagai gurunya.


"Kau hanya seorang gadis kecil, tetapi bisa punya aura membunuh yang kuat, menarik." Pak Tua Conor mengangguk, tetapi pada saat yang sama menasihati, "Hati boleh memiliki aura membunuh yang kuat, tetapi jangan biarkan pikiranmu dikendalikan oleh aura membunuh tersebut, melainkan mengubahnya menjadi motivasi untuk dirimu sendiri."


"Akan kuingat." Kaila mengangguk.


“Sujud padaku sebanyak tiga kali kalau mau aku terima sebagai murid." Pak Tua Conor tidak meminta ini di depan Erwin, tetapi bersikap penuh percaya diri di depan Kaila, lagi pula identitas Erwin tidak biasa,  dan terlebih lagi Pak Tua Conor adalah orang yang meminta Erwin untuk bergabung.


Sedangkan Kaila ini berinisiatif sendiri, jadi bagaimana mungkin perlakuan yang didapatkan bisa sama.


"Oke." Kaila tidak ragu-ragu, dan segera bersujud sebanyak tiga kali kepada Pak Tua Conor, dan secara resmi mengakui Pak Tua Conor sebagai guru.


"Baiklah, mulai sekarang Erwin adalah seniormu, dan perguruan kami bernama Trinchi." Pak Tua Conor sangat bahagia hari ini, dia tidak menyangka Perguruan Trinch aku ini akan terus menerima murid sepuluh tahun kemudian.

__ADS_1


"Bukannya Erwin itu murid biasa? Dan tidak masuk perguruanmu? Kenapa harus kuanggap sebagai senior?" tanya Kaila dengan ragu.


"Sama-sama murid juga, lagi pula perguruan kita akan bergantung padanya," kata Pak Tua Conor sambil tersenyum dengan sedikit misteri dalam kata-katanya.


Kaila tidak tahu apa artinya, tetapi ketika melihat Erwin yang tidak jauh, Erwin sekali lagi menumbangkan pohon besar, yang membuat Kaila terkejut.


Pak tua Conor juga melihat adegan tersebut, dan tersenyum bangga. "Anak ini punya tingkat pemahaman yang sangat tinggi, dan bisa membuat kemajuan pesat karena nadinya sudah terbuka, Henry itu susah payah membuka nadi Erwin ini, tetapi justru sangat memguntungkanku!"


Saat ini, Erwin memandangi pohon besar yang tumbang di depannya dengan mata penuh gembira.


"Akhirnya berhasil satu kali, ke depannya seharusnya aku sudah bisa memberikan kerusakan dua kali lebih besar, jika ditambah dengan pelatihan lebih lanjut, aku seharusnya bisa memberikan kerusakan yang lebih kuat lagi."


Erwin menyeka keringat di dahi, merasa sangat bersemangat, dan sangat senang dengan kemajuan kecilnya.


Dibandingkan dengan teknik tinju Erwin, One Inch Fist ini adalah sejenis tinju yang sederhana, tidak peduli gerakan apa yang dilakukan lawan, tekniknya hanya perlu memukul balik dengan satu pukulan, dan kerusakannya akan beberapa kali lebih kuat. Bahkan jika sebuah mobil diletakkan di atas Erwin di depannya, bahkan mobil sekali pun bisa Erwin hadang sendirian.


Dalam sekejap mata, tiba hari di mana Jocelyn mengadakan konser. Pada hari ini, Erwin membawa orang-orangnya ke Pandora Sports Plaza terlebih dahulu.


"Jocelyn ini sungguh populer sekali." Lisa diam-diam terkejut ketika melihat keramaian di sekitar.


"Siapa bilang tidak? Sejak ikut dalam musim kedua ‘Wildernes Life’, popularitasnya langsung meroket, entah siapa yang akan menikahi dewi idaman sepertinya di masa depan," Kaila juga dipanggil oleh Erwin Hari ini.


Hampir semua bawahan yang bisa seni bela diri diundang oleh Erwin, dan jumlahnya mencapai seratus. orang.


"Pelacak GPS sudah siap?" Erwin menoleh untuk melirik Azura, dia takut keramaian ini justru membuat pihak musuh untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, sehingga meninggalkan pelacak di tubuh Jocelyn, dengan begitu lokasi Jocelyn masih dapat dilacak walaupun tertangkap musuh sekali pun.


“Aku sudah memasang pelacak di gelangnya, jadi setelah dipakai targetnya tidak akan hilang.” Azura menyerahkan gelang giok putih kepada Erwin.


"Tak kusangka kamu juga bisa hal seperti ini! Erwin menyangka Azura dapat memasang pelacak ke dalam gelang, sepertinya mempertahankan Azura merupakan hal yang tepat.


"Oke, akan kuberitahu semua orang tentang rencananya. Separuh dari orang-orang akan tetap di luar, dan sisanya ikut aku."


Berbicara tentang itu, Erwin memandu bawahannya ke dalam plaza, entah misi ini bisa berhasil atau tidak, tetapi terkait dengan keselamatan hidup Jocelyn, gagal akan menimbulkan resiko yang bagaikan gempa.

__ADS_1


__ADS_2