Rupanya Aku Anak Orang Kaya

Rupanya Aku Anak Orang Kaya
Bab 235 Menyesal Pada Akhirnya


__ADS_3

Erwin sangat yakin gelang giok ini milik ibunya, Susi. Dalam giok pada umumnya tidak ada bercak darah merah dan untuk yang ada itu sangatlah langka.


Susi punya sepasang gelang giok merah darah, yang menyiratkan pasangan serasi yang terikat erat oleh darah merah tersebut, itu adalah barang yang diberikan oleh ayah Erwin kepada Susi saat mereka berdua menikah, merupakan barang yang sangat disayang dan bahkan Susi sendiri tidak tega pakai, Erwin tidak menyangka ibunya akan memberi salah satu gelang giok kepada Lina.


"Tak kusangka ibu akan melakukan itu." Erwin tidak mengerti apa maksudnya, mungkin itu adalah kompensasi untuk Lina.


"Erwin, kamu akan ikut aku ke Kota Santa juga? Aku tak mau beda kota denganmu." Lina menatap Erwin dengan penuh semangat dan tidak ingin menjalin hubungan jarak jauh dengan Erwin.


"Tentu saja aku ikut, kebetulan episode kedua dari musim kedua 'Wilderness Life' akan difilmkan di sana." Erwin menjawab dengan alasan terbaik.


Episode kedua dari musim kedua Wilderness Life memang akan difilmkan di tepi laut pulau terpencil luar Kota Santa, jadi Erwin tidak berbohong sama sekali.


"Bagus, kalau begitu kita pergi bersama-sama, lalu kita bisa menyewa sebuah rumah untuk tinggal bersama." Lina bahkan sudah membayangkan dirinya tinggal bersama Erwin, tapi ibu Lina yang ini langsung panik dan bergegas datang untuk menghentikannya.


"Kamu boleh ke sana tapi tidak dengan tinggal bersama! Aku punya sahabat masa kampus yang menikah dengan pria di Kota Santa, kamu pernah bertemu dengannya, Bibi Nailah-mu juga keluarga kaya di Santa Kota, jadi kamu tinggal dengannya, sekalian bisa menemani putrinya, Divia."


Mary sangat takut Erwin yang merupakan seorang anak miskin akan melakukan sesuatu pada putrinya di Kota Santa, kemudian menggunakan cara tercela untuk mendapatkan Lina, itu membuatnya sangat khawatir.


Terlebih lagi, sekarang Lina punya kekayaan sendiri, yang sejujurnya membuat Mary semakin memandang rendah Erwin.


"Erwin, bukan karena tante meremehkanmu, tapi kamu harus bekerja keras dan jangan terlalu fokus pada putriku. Lina kami sekarang punya kekayaan sebesar sepuluh triliun rupiah, aku tidak akan setuju kamu menikahi Lina sebelum punya kekayaan lebih dari itu."


"Jangan khawatir tante, aku akan bekerja keras." Erwin tersenyum tipis, jangankan puluhan triliun, bahkan ratusan triliun sekalipun bukan masalah besar bagi Erwin.


Erwin sama sekali tidak khawatir, tapi Lina justru cemas.


"Kalau Ibu masih membicarakan hal seperti itu, aku tidak jadi ke Kota Santa."


"Oke, oke, ibu akan diam dan menemanimu ke Kota Santa, Erwin tak boleh mengantarmu ke sana, siapa tahu apa yang akan dilakukannya kalau berduaan denganmu sendirian." Mary sangat marah dengan Erwin sekarang, takut anak miskin ini mendambakan kekayaan putrinya, tapi begitu dia selesai berbicara, Lucas yang ada di sebelahnya tidak tahan lagi.


"Bukannya kamu bilang tidak akan ikut campur urusan mereka berdua lagi? Kenapa sekarang mau urus sampai sejauh itu? Kamu pikir punya sepuluh triliun sudah luar biasa?"


Lucas merasa malu dengan sikap istrinya yang tidak punya pandangan luar dalam menilai seseorang, Lucas kemudian menghampiri Erwin dengan ekspresi menyanjung dan meminta maaf.


"Erwin, jangan masukkan kata-kata ibu Lina ke dalam hati, pacaran anak zaman sekarang sudah berbeda dengan generasi kami, lakukan saja apa yang seharusnya dilakukan saat di Kota Santa nanti, paman mendukungmu."

__ADS_1


Erwin tertegun sejenak, Lucas ini benar-benar seorang ayah yang terbuka atau lebih tepatnya ayah yang cerdas.


Pada akhirnya, Erwin tidak pergi ke Kota Santa di hari yang sama dengan Lina, setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Lina dan Mary, Erwin pergi ke kompleks perumahan biasa. Dia akan meninggalkan Kota Bandung besok, jadi sebelum berangkat dia masih punya satu hal yang belum diselesaikan.


Yaitu mengunjungi Daniel, satu-satunya sahabat baiknya di Kota Bandung beserta pacarnya, Agnes. Mereka berdua sudah berjuang keras untuk bertahan hidup di sini, dan Erwin tentu saja akan membantu mereka sebisa mungkin.


Lingkungan kompleks perumahan ini sangat buruk, sangat bobrok, begitu juga dengan kualitas masyarakat yang tinggal disini, tidak ada yang membersihkan koridor yang penuh sampah dan tidak ada lift, jelas merupakan kompleks perumahan yang sangat tua.


Erwin menaiki tangga dari koridor yang kotor dan berantakan, sesampai di depan kamar 308, pintu akhirnya terbuka setelah diketuk beberapa kali.


Setelah pintu terbuka, Erwin akhirnya melihat dengan Daniel yang sudah lama tidak dia temui.


“Er… Erwin, kenapa tak kasih tahu sebelum datang, sini cepat masuk.” Daniel awalnya terkejut, lalu membawa Erwin ke dalam kamar dengan penuh semangat.


"Aku datang untuk melihat kalian," kata Erwin sambil berjalan masuk ke dalam kamar, ruangan ini cukup kecil, hanya sekitar lima puluh meter persegi dan Agnes terlihat sudah jauh lebih baik setelah selesai operasi ginjal. Agnes yang melihat kedatangan Erwin juga sangat senang.


"Erwin, kenapa tak beritahu kalau mau datang, kami tak punya persiapan apapun di sini. Daniel, pergi beli beberapa bahan masakan."


“Tidak perlu, aku hanya datang untuk melihat kalian dan memberi beberapa barang.” Erwin mengeluarkan salinan surat kerja sebagai manajer departemen High Build Group dan salinan sertifikat lengkap Rumah Sakit Pusat Rakyat, sebuah kartu kesehatan dan kunci sebuah rumah di kawasan perumahan kelas atas.


“Apa ini?” Daniel dan Agnes sama-sama memasang ekspresi bingung.


"Aku akan meninggalkan Kota Bandung besok, ini surat kerja manajer departemen High Build Group dengan gaji tahunan sebesar satu miliar, Ini kartu kesehatan gratis dari Pusat Rumah Sakit Rakyat, jadi Agnes akan digratiskan semua biaya pembelian obat, kemudian ini sebuah properti di Distrik Jersey, di mana lingkungannya sangat bagus dan mungkin akan sangat membantu pemulihan penyakit Agnes."


Erwin menyerahkan barang-barang itu kepada Daniel, yang terkejut sekaligus bingung.


“Bro, kamu sudah kaya raya?” Daniel mengambil barang-barang itu dengan tidak percaya, begitu juga dengan Agnes. Barang-barang ini bukanlah sesuatu yang bisa digapai oleh orang biasa.


"Aku dapat apresiasi Tuan Damon dari High Build Group, jadi aku meminta bantuannya." Erwin dengan santai mencari alasan.


"Kamu hebat juga ya, tidak ada yang tidak mengenal Damon Brown di Kota Bandung ini, masa depanmu pasti akan sukses besar karena sudah dapat apresiasi darinya!" Daniel merasa senang sekaligus berterima kasih pada Erwin, dia juga menjadi percaya diri untuk menghadapi masa depan bersama Agnes.


"Ngomong-ngomong, setelah meninggalkan Kota Bandung besok, kamu akan ke mana?"


"Aku akan memulai karir di Kota Santa." Erwin berkata dengan ringan.

__ADS_1


"Itu kota besar kelas satu, kamu pasti akan menghasilkan banyak uang di sana." Daniel sangat berterima kasih pada Erwin, kemudian melanjutkan, "Ayo, kita minum sepuasnya."


"Oke." Erwin mengangguk dan tidak menolak.


Meski hanya restoran biasa, tapi Erwin, Daniel dan Agnes makan bersama dengan sangat gembira, makan bersama kali ini membuat Erwin nostalgia dengan masa-masa kampus yang bebas dan tak punya tekanan.


Keesokan paginya, Erwin mengemasi barang bawaannya dan pergi ke stasiun kereta sendirian. Dia akan berangkat ke Kota Santa dengan kereta api, tapi di ruang tunggu stasiun kereta, Erwin bertemu dengan mantan pacarnya, Leticia.


Mungkin ini yang disebut memulai sebuah permulaan dengan dia dan juga mengakhirinya dengan dia.


Sudah lama tidak bertemu, Leticia terlihat lesu dan kurang sehat, dia membawa koper dan sepertinya juga ingin meninggalkan Kota Bandung.


"Lama tidak bertemu." Erwin menyapa Leticia, baik itu cinta maupun benci, dia sudah tidak lagi memiliki perasaan apapun pada Leticia, jadi ketika bertemu dengannya lagi, suasana hati Erwin sangat tenang, semua yang berlalu biarlah berlalu.


"Lama tidak bertemu." Leticia awalnya terkejut ketika melihat Erwin yang penuh semangat, kemudian ekspresinya menjadi rumit. Setelah kejadian sebelumnya, dia secara bertahap mengerti dan sadar akan identitas Erwin  yang tidak biasa.


Terutama ketika dia melihat nama Erwin yang muncul di surat kabar sebagai salah satu dari sepuluh pemuda teratas di Kota Bandung, dia menjadi semakin yakin tentang tebakan tersebut, karena orang-orang yang dipilih sebagai salah satu dari sepuluh pemuda teratas jelas merupakan orang kaya dengan status tinggi.


Selain itu, setelah pacar kaya Leticia mencampakkannya dan mengambil kembali rumah yang telah diberikan, Leticia sudah mulai menyesal putus dengan Erwin.


"Erwin, aku sudah menonton 'Wilderness Life' musim keduamu, itu film yang bagus dan terlebih lagi menempati peringkat pertama. Selamat ya, kamu akhirnya berhasil mencapai apa yang selalu ingin kamu gapai." Leticia awalnya ingin bertanya tenDarrenbungan Erwin dengan Lina, tapi pada akhirnya menahan diri.


“Terima kasih, kamu mau ke mana?” Erwin bertanya dengan ringan.


"Aku mau pulang ke kampung halamanku, ibuku sudah sakit sejak lama dan kali ini ayahku yang dirawat di rumah sakit, jadi aku harus merawat mereka," kata Leticia dengan suasana hati yang tertekan.


Erwin telah mendengar tentang situasi keluarga Leticia, mungkin karena alasan itulah yang membuatnya ingin mencari pasangan yang kaya raya untuk memperbaiki hidup! Memikirkan hal ini, Erwin mengeluarkan buku cek dari tas, menulis angka 600 juta rupiah di atas dan memberikannya kepada Leticia.


"Aku harap ini bisa membantumu." Erwin meletakkan cek senilai 600 juta ke tangan Leticia, lalu berbalik dan pergi begitu saja. Erwin mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi, semua kenangan bersamanya akan menghilang seperti kepulan asap dan menjadi masa lalu.


"Er… Erwin." Leticia tiba-tiba meraih pakaian Erwin dan berkata dengan emosional. "Aku menyesal, Erwin, aku benar-benar menyesal, hal yang paling kusesali dalam hidup ini adalah kehilanganmu."


"Semuanya sudah berlalu, jadi teruslah hidup dengan benar." Erwin menyeret koper dan langsung berjalan ke tempat pendaftaran, sementara mata Leticia sudah memerah, dia tahu bahwa hal yang paling disesali dan hal terbodoh yang pernah diperbuat dalam hidupnya adalah kehilangan Erwin.


Tak lama kemudian kereta api nyala dan yang menunggu Erwin adalah sebuah dunia baru yang tidak dikenalnya.

__ADS_1


__ADS_2