
Konser Jocelyn semakin dekat, Lina dan Divia juga sangat menantikan konsernya di Kota Santa, bahkan begadang untuk merebut tiket, tetapi sayangnya masih tidak berhasil.
“Divia, kamu dapat?” Lina sedang duduk di sofa dengan piyama putih sambil menatap Divia dengan penuh harap, sedangkan Divia hanya menghela napas. "Sudah rebutan sepanjang malam, tetapi terjual habis dalam sekejap, konser Jocelyn terlalu lalu!"
Popularitas Jocelyn sendiri telah meningkat pesat sejak berpartisipasi dalam musim kedua 'Wilderness Life', sehingga tiket konsernya menjadi lebih sulit untuk didapatkan daripada sebelumnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Atau kita beli dari orang yang ingin menjual kembali tiketnya? Walau harganya sedikit lebih tinggi, tetapi setidaknya kita bisa masuk konsernya," kata Lina setelah berpikir sejenak.
"Aku punya solusi, lihat baik-baik." Divia memutar matanya, lalu memposting di sosial media tentang pembelian dua tiket konser Jocelyn dengan harga tinggi.
“Oke, sekarang tinggal tunggu hasilnya.”
"Divia, kupikir sepertinya kamu harus mengedit ulang konten dan mengubahnya menjadi pembelian tiga tiket konser Jocelyn dengan harga tinggi," kata Lina dengan santai sambil membolak-balik konten yang di posting Divia dengan ponselnya.
"Kenapa tiga? bukannya kita hanya berdua?" Divia tampak bingung.
"Erwin ikut dengan kita, kumohon." Lina meletakkan ponselnya dan menatap Divia dengan genit, yang membuat Divia tidak bisa berkata apa-apa untuk beberapa saat.
"Baiklah, akan kuubah jadi tiga, aku mau nonton konser pun harus jadi nyamuk kalian," kata Divia sambil mengangkat ponsel dan menghapus konten barusan, dan mengubahnya menjadi pembelian tiga tiket konser dengan harga tinggi.
Satu jam kemudian, Divia mendapat balasan dari lima orang yang semuanya adalah pria, mereka semua bersedia memberi Divia 3 tiket gratis, sehingga Divia mengangkat ponsel untuk memamerkannya di depan Lina.
"Lihat, Lina, aku ini sangat populer."
“Kalau begitu pilih tiga kursi yang posisinya di barisan paling depan!” Lina mendekat dengan wajah penuh kegembiraan, dan akhirnya memiliki harapan untuk bisa menghadiri konser Jocelyn.
“Baiklah, kalau begitu pilih yang ini saja, Deen Kuncoro, putra dari Keluarga Kuncoro di timur kota, orang ini selalu berfoya-foya, dan kebetulan punya tiga tiket VIP, dia saja!" Sambil berbicara, Divia menghubungi Deen lewat Whatsapp.
Lina juga menonton dengan penuh harap, tetapi setelah beberapa percakapan, Divia tiba-tiba mengerutkan kening dan berkata, "Deen ini tak mau uang kita, dia bilang cukup temani makan dan nyanyi bersama untuk tiga tiket VIP barisan depan."
"Jangan-jangan orang ini mau menipumu dan melecehkanmu?" Lina juga berkata dengan cemas.
"Tetapi kalau tidak nurut kita tidak bisa dapat tiga tiket VIP ini." Divia berada dalam dilema, dia sangat mengenal Deen, Deen ini adalah seorang pria yang sering mempermainkan perasaan wanita, jadi dia cukup takut dengan Deen yang akan melecehkannya dengan memanfaatkan tiga tiket konser Jocelyn.
"Atau kuminta Erwin untuk pergi bersamamu? Erwin bisa bela diri, jadi Deen mungkin tidak akan berani macam-macam dengan kita!" kata Lina setelah memikirkannya.
"Erwin bisa bela diri?" Divia membuka mulut karena terkejut.
“Iya, Erwin yang mengusir preman di Klub Emgrand waktu itu.” Ketika Lina berbicara, ada sedikit rasa kagum di matanya.
__ADS_1
"Serius?" Divia diseret masuk ke dalam ruangan rahasia oleh wanita berbaju hitam waktu itu, jadi tidak melihat Erwin bertarung dengan mata kepalanya sendiri, tetapi dari apa yang dikatakan wanita berbaju hitam itu, Erwin sepertinya telah mengalahkan seorang ahli seni bela diri, jadi Erwin jelas tidak lemah.
"Tentu saja, untuk apa aku bohong? Cepat buat janji dengan Deen itu, aku akan menelepon Erwin!" Lina sudah tidak sabar, dia sudah tidak bertemu dengan Erwin beberapa hari semenjak pesta pernikahan sebelumnya, itu membuatnya sangat merindukan Erwin.
Saat ini, Erwin berada di Pandora Sports Plaza yang terletak di timur Kota Santa. Konser Jocelyn akan diadakan di sini tiga hari kemudian, dia ingin datang lebih dulu untuk beradaptasi dengan tempat tersebut, sehingga dapat membuat pengaturan dan rencana. Sayangnya, gerbang Sports Plaza sedang ditutup, dan tidak ada yang bisa masuk untuk saat ini.
Tepat ketika dia hendak pergi, telepon dari Lina tiba-tiba masuk, yang memintanya untuk pergi ke Jalan Factor di timur kota untuk menemani mereka menemui seorang pemuda bernama Deen, dan mengambil tiket VIP konser Jocelyn.
"Bisa-bisanya aku lupa hanya punya satu tiket konser, dan aku akan jadi satu-satunya yang bisa masuk, sepertinya memang harus minta lebih banyak tiket dengan Jocelyn, atau dia tidak akan bisa membawa bawahannya."
Menurut Erwin, Jocelyn adalah orang dalam, jadi seharusnya memiliki banyak tiket konser dan tinggal minta dengannya.
Memikirkan hal itu, Erwin menelepon nomor yang telah lama tidak dihubunginya, yaitu nomor ponsel bintang besar Jocelyn, yang jarang diketahui orang luar.
Panggilan itu terhubung dengan cepat, dan suara yang akrab serta lembut terdengar dari ponsel.
"Erwin? Bagaimana pelatihan sepupuku?"
“Nora sudah sangat nurut sekarang, Jocelyn, kamu masih punya tiket konser?” Erwin tidak ingin basa-basi, dan langsung memberitahu tujuannya.
"Seharusnya masih ada, berapa banyak yang kamu mau?" Suara Jocelyn terdengar dari ponsel.
"Seratus tiket?! Aku tidak punya sebanyak itu, paling hanya dua puluh." Jika Jocelyn tidak tahu tentang karakter Erwin, dia hampir mengira Erwin menginginkan tiket sebanyak itu untuk dijual lagi
"Oke, kalau begitu dua puluh," kata Erwin setelah berpikir sejenak, sisanya dia hanya perlu beli dari para calo lagi.
“Kalau begitu pergilah ke Jalan Ford nomor 134 di timur kot, tanteku akan membawa dua puluh tiket, dan menunggumu di pinggir jalan." Jocelyn menutup telepon setelah mengatakan itu, sama sekali tidak ingin berbicara sedikit lebih lama dengan Erwin.
Erwin menghela napas, jika itu adalah Lina, Lina pasti enggan untuk menutup telepon.
Tetapi Jocelyn adalah bintang besar dan tidak memiliki perasaan padanya, bersedia memberikan dua puluh tiket konser secara gratis sudah termasuk sangat baik padanya.
Tepat sebelum Erwin pergi ke Jalan Factor, dia mengunjungi Jalan Ford No.134 di timur kota lebih dulu, lagi pula kebetulan sejalan dan lebih hemat waktu.
Dan di sebuah halte pinggir jalan, tante Jocelyn, Ametta, sedang menunggu di tempat dengan mengenakan masker dan kacamata hitam, dan mengawasi daerah sekitar dengan hati-hati karena takut ketahuan paparazzi.
Setelah memarkir mobil di pinggir jalan, Erwin turun dari mobil sambil membawa sekotak kue lapis yang terkenal di Kota Santa, dia kebetulan beli di tengah perjalanan ke sini, Jocelyn dan Ametta paling suka makanan, jadi cemilan kecil ini bisa dianggap sebagai sedikit oleh-oleh untuk mereka!
"Kak Ametta, maaf membuatmu menunggu," kata Erwin sambil menyerahkan kotak berisi kue lapis, "Kue lapis ini adalah kue lokal yang terkenal, makanlah bersama Jocelyn selagi masih panas."
__ADS_1
"Untung kamu masih punya hati nurani." Ametta menerima kotak kue tersebut, lalu menyerahkan dua puluh tiket konser kepada Erwin. Setelah melirik sekilas, ternyata semuanya tiket VIP, bahkan dua tiket di antaranya adalah VIP barisan terdepan.
Kalau dipikir-pikir, memang wajar Jocelyn memiliki tiket konsernya sendiri.
Erwin memiliki satu tiket VIP yang diberi oleh Jocelyn sebelumnya, jadi totalnya ada tiga tiket VIP barisan terdepan yang dipegang Erwin sekarang.
"Oke, sampai jumpa lagi. Tentang Nora, kerjamu cukup bagus, Jocelyn meninggalkan pesan untukmu, ketika lagu terakhir konser dimulai, dia akan mengundangmu untuk nyanyi bersama di atas panggung, yang bisa dianggap sebagai memenuhi janjinya padamu." Setelah Ametta mengatakan itu, dia langsung pergi secepat mungkin karena takut ketahuan paparazzi.
Erwin ingat pernah membuat janji seperti itu, tetapi itu merupakan suatu hal yang bagus, karena dengan begitu dia bisa melindungi Jocelyn secara pribadi saat naik ke atas panggung.
Setelah mendapatkan tiket konser, Erwin langsung berkendara ke Jalan Factor. Setelah tiba, Lina dan Divia sudah lama menunggunya di sebuah kedai kopi, dan ada juga seorang pemuda yang duduk di hadapan mereka.
"Divia, sahabatmu ini cantik sekali, ya. Ayo kita ke Klub Pribadi Mandala, aku punya kartu keanggotaan di sana, jadi bisa kujamin lebih seru dari bar atau klub malam mana pun, kita bisa bersenang-senang sepuasnya di sana." Ketika Deen berbicara, sepasang mata mesumnya terus melirik Lina dengan niat yang sudah terlihat jelas.
“Deen, mana tiketnya?” Divia tidak mau pergi karena tidak percaya dengan orang ini.
"Akan kukasih setelah kita bersenang-senang dulu di sana, bukannya kita sudah sepakat? Kenapa berubah pikiran?" Deen terus mengajak, dapat dipastikan kedua gadis ini tidak akan bisa keluar lagi setelah masuk ke dalam Klub Pribadi Mandala, Deen yang memikirkan itu semakin bersemangat.
"Kami harus nunggu satu orang lagi." Tanpa Erwin, Lina sama sekali tidak berani pergi ke tempat seperti itu.
"Siapa yang kalian tunggu? Tiketnya akan kukasih orang lain kalau kalian tidak ikut aku ke sana." Deen ingin mengancam, tetapi sebuah suara terdengar saat dia selesai berbicara.
"Maaf, tiket VIP biasa itu terlalu rendahan dan tidak layak untuk dua wanita cantik seperti mereka, setidaknya harus VIP khusus barisan terdepan."
Sambil berbicara, Erwin melemparkan setumpuk tiket konser di atas meja dengan tiga tiket paling atas yang merupakan tiket VIP khusus barisan terdepan, lalu berkata kepada Lina dan Divia sembari berpura-pura tidak kenal sebelumnya.
"Halo dua wanita cantik, mau ikut aku atau dia?"
Saat berbicara, Erwin juga mengisyaratkan dengan kedipan mata agar mereka berdua bisa bekerja sama dalam sandiwara ini.
Lina cepat tanggap, dan segera tersenyum, "Tentu saja ikut kamu yang punya tiket VIP khusus barisan terdepan, untuk apa kita butuh tiket VIP biasa lagi?"
"Kalau begitu aku juga, kami akan ikut ke mana pun kamu pergi," susul Divia.
Keduanya berdiri setelah berbicara, kemudian Lina memeluk lengan Erwin dengan mesra dan wajah penuh menyanjung.
Deen tertekan sekaligus iri untuk beberapa saat, kemudian menunjuk ke arah Erwin dan berteriak, "Bro, mendekati para gadis itu siapa cepat dia dapat, kamu seharusnya tahu itu."
"Siapa bilang? Jelas siapa yang mampu dia yang dapat," kata Erwin sambil mengambil tumpukan tiket konser VIP dan menggoyangkannya di depan Deen dengan sombong.
__ADS_1
Deen terdiam untuk beberapa saat karena tidak dapat membantah sama sekali, hari ini adalah hari yang paling sial dan memalukan dalam hidupnya.